
Raya berlari kecil berusaha mengimbangi langkah Rendra yang semakin menjauh darinya.
"Kak, aku mohon dengarkan aku sebentar saja."
Rendra menghentikan langkahnya dan menghela nafasnya.
"Baiklah, katakan! Apa yang ingin kau jelaskan pada ku."
Raya segera melangkah ke hadapan Rendra. "Kak, aku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Aku sangat yakin hanya Kakak yang bisa membantu aku."
"Bantuan?" tanya Rendra yang mulai penasaran.
"Aku memiliki bukti, bukti bahwa bukan aku yang merencanakan kecelakaan yang menimpan Tante dan supir pribadinya beberapa waktu lalu. Aku mohon berikan ini kepada Bayu." Raya menyodorkan sebuah flash drive.
"Cukup!"
Raya tersentak saat mendengar teriakan Rendra. Rendra menatapnya tajam. Terlihat jelas Rendra menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan pada Raya.
"Kau..." Rendra menunjuk wajah Raya penuh amarah. "Kau menemuiku bukan untuk meminta maaf tapi masih saja melakukan pembelaan!?"
Rendra menarik lengan Raya dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. Keduanya dalam perjalanan terdiam tanpa sepatah kata pun. Sekitar lima belas menit perjalanan. Mereka sampai di sebuah Villa yang sederhana yang tidak jauh dari perkotaan.
Raya masih ragu untuk turun dari mobil Rendra. Tanpa meminta persetujuan Raya, Rendra membuka pintu mobil dan kembali menarik Raya keluar. Membawa Raya masuk ke Villa itu.
Mereka berjalan menaiki tangga dan menuju sebuah pintu.
"Lihat! Lihat dengan jelas apa yang kau lakukan!" Rendra menunjuk kearah ranjang yang di sana sudah terbaring seorang wanita dengan menggunakan beberapa peralatan medis untuk menopang kesadarannya.
Raya mulai mengenali siapa wanita itu. Raya menatap Rendra, meminta penjelasan. Apa yang sudah terjadi kepada Tessa.
"Kau lihat sendiri dengan kedua matamu. Ya, dia ibu ku. Ibu yang sejak kecil merawat dan menyayangiku, sekarang terbaring tidak berdaya. Dia over dosis obat penenang pagi tadi. Jika saja aku tidak datang tepat waktu dia sudah pergi untuk selamanya. Apakah ini yang kau dan Bayu inginkan! Kalian ingin menyingkirkan dia?! Selama masih ada aku, anaknya. Jangan pernah berharap semua itu terjadi."
Raya terdiam. Berusaha menahan air matanya. "Ma...Maaf!" Hanya terucap satu kata dari bibirnya dan Raya segera pergi dari hadapan Rendra.
"Raya," Panggil Rendra.
"Jangan pernah menemuiku ataupun Mama lagi. Jika kau masih punya hati nurani dan rasa malu akhiri hubungan mu dengan Bayu. Mama masih bersedia menerimanya dan memaafkan semua yang sudah terjadi. Pergilah sejauh mungkin dari kehidupan kami. Aku akan sangat berterima kasih jika kau melakukan itu. Anggap saja itu cara agar aku bisa memaafkan mu."
Raya meninggalkan ruangan itu dengan langkah gontai. Kakinya seakan sangat berat untuk sekedar menopang tubuhnya.
Ada apa denganku? Kenapa aku goyah saat melihat Tante Tessa terbaring lemah di sana. Dimana jiwa dendam yang terus menggebu dulu, sebenarnya apa yang aku inginkan saat ini. Seharusnya aku senang melihat lawanku kalah. Tapi kenapa hatiku terasa kosong. Batin Raya terus berkecamuk.
Saat menuruni anak tangga. Raya merasa pandangannya mulai kabur dan kehilangan ke seimbangan. Namun, ada seseorang yang menahan tubuhnya agar tidak jatuh terguling di atas tangga.
"Raya, kau sedang tidak sehat?"
Raya membuka matanya dan berusaha mengembalikan kesadaranya. Setelah berdiri tegap dan sudah bisa melihat dengan jelas siapa yang menopang tubuhnya.
"Kau!" Raya masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Namun, keraguannya mulai hilang saat melihat Bayu berdiri tepat di belakang pria itu.
"Kalian mempermainkan aku." Raya tertawa melihat kenyataan yang baru saja dia saksikan. Defin berdiri tegap dan baik-baik saja. Bahkan mampun berlari dengan cepat menopang tubuhnya saat akan terjatuh beberapa saat lalu.
"Tidak ada yang mati. Penembakan di Villa waktu itu hanya sandiwara. Bodohnya aku percaya sepenuhnya." Raya melemparkan flash drive yang sejak tadi dia genggam.
Defin melangkah menjauh saat Bayu menghampiri Raya.
"Raya, aku memang membohongimu. Semua itu aku lakukan untuk mencari siapa yang sedang mengincar keselamatan keluargaku."
"Lalu, kau menggunakan aku untuk itu?! Ya, aku tahu karena aku bukan siapapun di mata. Aku hanya orang asing tidak berguna!"
Raya mendorong tubuh Bayu. "Aku tidak butuh itu. Kembalilah kepada Tessa. Dia lebih membutuhkan mu."
Raya berlari meninggalkan Bayu. Bayu hendak mengejarnya. Namun, Rendra mengetahui itu dan mencegahnya.
"Berhenti sampai di sini! Jika kau tidak ingin aku melakukan hal yang tidak pernah kau bayangkan pada kekasih mu itu," ancam Rendra kepada Bayu.
Bayu melayangkan pukulannya tepat di wajah Rendra. "Lakukan, jika kau tidak ingin melihat dunia besok!"
Rendra tersenyum miring sambil mengusap pipinya yang terkena pukulan Bayu. "Di mata ku kau hanya seorang pengecut dan sampah! Jangan harap aku akan menghormati mu seperti dulu. Figur Ayah sudah mati saat aku tahu perbuatan menjijikkan yang kau lakukan."
"Jangan pernah libatkan Raya dalam kebencianmu. Kau bisa melakukan apapun kepadaku tidak dengan Raya."
"Ckckck... Sungguh kalimat menjijikan yang pernah aku dengar," ucap Rendra.
Defin segera berusaha melerai pertengkaran itu. Dia tidak ingin kedua orang ini semakin meluapkan emosi satu sama lain karena akan berakhir buruk.
"Anda harus menahannya. Tujuan kita kemari bukan untuk ini," ucap Defin.
Bayu mulai menurunkan emosinya dan kembali menaiki anak tangga menuju kamar Tessa.
"Tunggu di sini," perintah Bayu kepada Defin
Bayu memegang gagang pintu dan membukanya. Lalu dengan keras dia menutup pintu itu kembali.
"Berhenti berpura-pura. Aku dengan jelas melihat kau terkejut saat aku membanting pintu tadi."
Tessa membuka matanya dan melepaskan oksigen mask yang terpasang di hidungnya. Tessa memposisikan tubuhnya setengah duduk bersandar di kepala ranjang.
"Melelahkan sekali. Kau cukup pintar tidak tertipu dengan aktingku. Kau sudah memastikan Rendra pergi, bukan."
"Kau memanipulasi Rendra dengan pura-pura bunuh diri. Kau bahkan lebih picik dari yang aku pikirkan."
"Jangan samakan aku dengan sampah seperti mu. Rendra memang anak yang pintar memberikan julukan 'sampah' pada mu."
Bayu mulai hilang ke sabaran menghadapi Tessa. Bayu meraih leher Tessa dan mencengkramnya dengan kuat. Mata Bayu memerah menatap tajam Tessa. Tessa berusaha melepaskan cekikan di lehernya, meronta-ronta. Bahkan kini tangan Bayu penuh dengan luka cakaran dari Tessa.
"Bukankah kau ingin mati! Aku akan mengabulkannya saat ini juga."
Mendengar keributan di dalam kamar itu. Defin segera masuk dan menyadarkan Bayu untuk tidak membunuh Tessa saat ini.
Bayu melepaskan cekikannya dan memukul cermin di meja rias di samping Tessa. Tessa terbatuk-batuk, berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin. Defin meraih oksigen mask yang tergeletak di tempat tidur dan kembali memasangnya di hidung Tessa.
Tessa mulai bisa bernapas dengan normal setelah beberapa saat. Melihat kondisi Tessa sudah lebih baik, Defin segera membawa Bayu pergi dari Villa itu.
"Anda hampir saja menghancurkan rencana kita. Jika dia mati, kita tidak akan tahu siapa dalang dari semua kecelakaan itu."
Sejak kecelakaan itu terjadi, Bayu terus mendapat ancaman dari berbagai pihak. Bayu beberapa kali mendapat ancaman pembunuhan sampai data-data perusahaannya yang di curi pihak lawan bisnis. Citra bisnisnya hancur perlahan. Semua bisa dia atasi perlahan membaik.
"Dia sekarang menggunakan Rendra untuk melawanku. Rubah licik itu menarik simpati Rendra. Aku yakin dia akan menggunakan Rendra untuk menyakiti Raya."
"Raya dan Rendra, mereka bukan sekedar saudara angkat. Mereka bahkan sudah seperti Kakak dan Adik kandung, Rendra tidak mungkin menyakiti Raya.
"Jangan percaya dengan manusia, Defin. Setiap saat manusia bisa menjadi gila untuk tujuannya. Bukankah kau sudah berulang kali melihat manusia di sekitarmu berubah menjadi iblis untuk mencapai tujuannya."
Defin mengangguk memgerti dengan perumpamaan yang di ucapkan Bayu.