
Ponsel yang dia letakkan di nakas menghasilkan suara dengungan saat sebuah pesan masuk. Raya membuka pesan itu dan membacanya sejenak lalu kembali meletakkan di atas nakas.
Sebuah permintaan maaf dari pria yang sore tadi membuatnya berurai air mata.
Kenapa harus berkata seperti itu. Raya masih tidak terima dengan ucapan Defin. Raya memang tidak pernah berharap Defin bersikap baik padanya, hanya saja Raya merasa sangat kecewa. Walaupun pria itu jelas mengatakan bahwa bukan maksud hatinya ingin merendahkan Raya atau menghinanya. Tapi, tetap saja Raya merasa sakit hati dengan ucapan pria itu.
Suara derit pintu terbuka membuat Raya menyudahi lamunannya dan segera mengambil ponselnya dan menghapus pesan masuk beberapa saat lalu.
"Kenapa belum tidur?" tanya Bayu yang menghampiri Raya dan duduk di tepi ranjang.
"Aku belum mengantuk," jawab Raya
"Kamu juga melewatkan makan malam. Kamu ingin sesuatu?"
"Tidak, aku hanya tidak ingin makan malam bersama Tante. Aku baik-baik saja."
Bayu membelai pipi Raya dengan lembut. "Kamu suka dengan hadiahnya?"
"Hmmm.. Tapi aku tidak ingin menerimanya."
Raya beralih meletakkan kepalanya di pangkuan Bayu. Bayu membelai kepala Raya.
"Kenapa? Kamu ingin yang lain?"
"Tante mengira mobil itu untuknya. Jika tahu mobil itu untukku, dia akan kecewa dan marah."
"Kenapa kamu selalu memikirkan dia. Kita sudahi saja rahasia ini dan mengatakan semuanya pada Tessa."
"Jangan! Belum saatnya dia tahu."
Bayu mengerutkan dahinya. Merasa heran dengan sikap Raya yang kini semakin berubah.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
Raya mengangkat kepalanya dan menatap Bayu. "Apa?"
"Kamu sedang merencanakan sesuatu?"
"Sesuatu? Memangnya apa yang aku rencanakan. Aku tidak memiliki rencana apapun."
Raya bangkit dan duduk menghadap Bayu. Bayu tersenyum dan kembali membelai wajah Raya.
"Aku harap begitu. Jangan lakukan apa pun yang bisa membahayakan dirimu sendiri atau orang lain."
"Aku ingin kamu membayar semuanya!" Raya menatap tajam Bayu dengan tersenyum miring.
"Maksud kamu?" Bayu menatap bingung berusaha mencerna perkataan Raya.
Sedetik kemudian Raya tertawa terbahak yang menambah Bayu semakin bingung. Kemudian dia sadar bahwa Raya sedang mempermainkannya.
"Kamu semakin pintar mempermainkan aku." Bayu memeluk erat tubuh Raya sampai wanita itu tidak bisa bergerak.
"Sebaiknya kita tidur sekarang, besok pagi aku akan pergi keluar kota."
"Hmm... kamu tidak akan pulang besok?"
"Entahlah, jika pekerjaan di sana tidak banyak mungkin kita bisa makan malam bersama."
Raya terlelap dalam pelukan Bayu. Namun, Bayu masih terjaga menatap langit-langit kamar Raya.
Beberapa hal mulai mengganggu pikirannya. Bayu tahu satu hal bahwa Defin membawa Raya ketempat yang tidak seharusnya tidak dia datangi. Kecurigaan jelas membuat hati Bayu semakin tidak tenang. Tetapi, saat melihat senyum dan gelak tawa Raya saat bertemu dengannya, rasanya tidak mungkin wanita ini memiliki rencana yang buruk.
Bayu perlahan melepaskan pelukan Raya dan beranjak pergi dari kamar Raya. Bayu menuju taman belakang untuk berbicara dengan seseorang.
"Anda memanggil saya?" Defin menghampiri Bayu yang sedang meminum segelas wine.
Bayu duduk di bangku taman dan meletakkan gelasnya di atas meja.
"Untuk apa kau membawa Raya ke tempat itu? Tidak seharusnya dia berada di sana."
"Anda tenang saja. Nona Raya tidak berpikir macam-macam tentang tempat itu." Defin berusaha untuk tenang agar Bayu mempercayainya.
"Memangnya kau bisa membaca pikiran seseorang? Akan menjadi tanda tanya besar jika Raya sama sekali tidak heran dengan keberadaan rumah itu."
Defin menundukkan kepalanya, menyesali apa yang baru saja dia pikirkan.
"Raya pernah mengalami trauma, membawanya ke tempat seperti itu akan membuka kembali mimpi buruknya."
"Saya akan mengingatnya."
"Satu hal lagi. Jangan pernah lupa kau bekerja untukku dan melakukan apa yang aku perintahkan. Di luar perintah dariku kau tidak berhak mengambil keputusan termasuk membawa Raya."
"Maaf jika saya melewati batas."
"Walaupun Raya mempunyai hak khusus bukan berarti kau bisa memberitahu segala hal tentang pekerjaan kita. "
Defin mengangguk mengerti. Kemudian, Bayu kembali masuk ke rumah.
Sementara itu Raya menyaksikan percakapan mereka dari atas balkon kamarnya. Meskipun tidak terdengar jelas percakapan mereka berdua. Satu hal yang pasti mereka berbicara hal yang penting.
Raya segera kembali ke tempat tidurnya dan menarik kembali selimut dan kembali di posisi awalnya.
Raya merasakan gerakan di tempat tidurnya, Bayu sudah kembali berbaring di sampingnya. Raya menutup matanya rapat-rapat.
"Kamu dari mana?" tanya Raya kepada Bayu.
"Aku hanya mencari udara segar. Tidurlah, ini sudah larut malam." Bayu menarik tubuh Raya kedalam pelukannya.