Love Affair

Love Affair
PART 12



"Dimana Raya sejak tadi dia tidak terlihat?" tanya Bayu karena tidak melihat Raya setelah melakukan dansa bersama Javier.


Begitu juga dengan Defin yang sejak tadi tidak terlihat. Apakah Raya sedang bersama Defin atau pergi dengan Javier.


"Tadi aku melihat Raya dan Javier keluar dari sini. Mereka pasti lanjut ke sesi berikutnya. Pesta seperti ini bukan selera mereka," ucap Tessa


"Kita pulang sekarang," Bayu keluar dari hingar bingar suasana perayaan ulang tahun rekan bisnisnya.


"Sekarang? Kamu yang benar saja, kita bahkan belum menyapa orang-orang penting. Padahal kita belum lama di sini."


"Aku sedang tidak enak badan."


Bayu menghubungi Defin agar segera menjemputnya. Sekitar sepulu menit menunggu Defin sampai di lobi hotel dimana Bayu dan Tessa sudah menunggu.


"Kamu sudah mengantar Raya pulang?" Tanya Bayu


"Iya, tuan. Raya meminta saya mengantarnya pulang lebih dulu."


"Aduh, kenapa kamu yang antar Raya pulang. Seharusnya tadi kamu hilang ke aku biar Javier yang antar dia. Rencanaku mau comblangin mereka jadi gagal."


"Jangan memaksakan keinginan konyol itu pada Raya," sahut Bayu


"Raya itu sudah waktunya untuk menikah. Sampai sekarang saja dia tidak punya kekasih. Jangankan pacar teman laki laki saja gak punya. Aku ingin dia cepat dapat pasanagn."


"Lalu setelah dia menikah, kamu dapat apa?"


"Setidaknya aku bisa menebus kesalahanku dulu yang terus menutup mata waktu kakak sering memukuli dia karena penyakit mental kakak. Jika mengingat masa masa itu, aku kasian banget sama Raya."


Bayu tersenyum miring mendengar ucapan Tessa. Menyesal sekarang tidak akan ada gunanya.


"Kamu baru menyesali sekarang? Dimana kamu saat dia menangis memohon untuk kita membawanya kala itu. Sudah jelas terpancar rasa takut untuk tetap tinggal bersama kakakmu, tapi kamu bersikeras bahwa kakakmu tidak bersalah."


"Maka dari itu, sekarang aku meminta dia tinggal bersama kita dan aku bisa menebus kesalahan yang aku lakukan dulu."


"Wanita itu memperlakukan Raya seperti hewan! Mengurungnya di gudang kotor dan gelap sampai berhari hari tanpa makan dan minum."


"Itu sudah jadi masa lalu. Sekarang kakak sudah meninggal dan Raya mewarisi semua kekayaan kakak jadi itu setimpal dengan perbuatan kakakku dulu. Aku rasa Raya juga sudah lupa kejadian itu, jadi untuk apa kita malah berdebat masalah ini."


"Kamu lupa dia pernah mengalami depresi berat sampai harus mendapat penangan dari psikolog. Dia juga pernah mencoba untuk bunuh diri. Kamu tahu apa penyebabnya? Itu karena trauma yang di tanamkan kakakmu pada jiwanya sejak kecil. Sampai sekarang kakakmu selalu datang dalam mimpinya, kamu bilang Raya sudah melupakan itu? Dia tidak pernah melupakan satu detikpun penderitaanya!"


Defin terdiam mendengar pertengkaran kedua majikannya. Sesekali dia melihat Bayu dan Tessa melalui spion. Define cukup terkejut mendengar kisah masa lalu Raya. Dia sempat berpikir Raya gadis yang berlimpah kasih sayang dari keluarganya.


Selama bekerja kepada Bayu. Defin memang tida begitu mengenal Raya karena Raya memang baru kali ini tinggal bersama mereka. Di saat acara keluargapun Defin tidak pernah bertemu Raya.


"Sudah! Aku harus bagaimana? Semua sudah terjadi, Raya saja yang memiliki mental yang lemah. Seharusnya dia senang hanya anak adopsi tapi menjadi pewaris tunggal. Bahkan sebagian saham perusahaan kamu milik suami kakakku yang akan menjadi miliknya juga."


"Bicara dengan kamu memang tidak ada gunanya."


"Ya, aku memang tidak berguna jadi jangan bicara lagi denganku!" sentak Tessa kesal.


Mereka kembali terdiam bahkan ketika sampai di rumah. Tessa terlebih dulu masuk ke rumah sedangkan Bayu masih berada di dalam mobil bersama Defin.


"Apa yang terjadi pada Raya?"


"Raya ingin cepat pulang karena lelah saja, Tuan."


"Terjadi sesuatu di pesta tadi?"


"Saya rasa tidak, Tuan."


Defin memilih untuk tidak menceritakan kejadian beberapa jam lalu, jika Raya ingin Bayu tahu dia bisa langsung mengatakannya.


Bayu melewati kamar Raya yang tertutup rapat. Tidak terlihat pancaran cahaya dari dalam kamarnya, kemungkinan Raya sudah tidur. Bayu memilih untuk masuk ke kamarnya yang dia tempati bersama Tesss.


Sementara itu Raya masih terjaga. Matanya sembah, kepalanya terasa sangat berat karena terlalu lama menangis.


Raya segera bangkit dari ranjangnya. Mengganti pakaian tidur dengan kaos polos dan celana jeans panjang. Membubuhkan sedikit lipstik di bibirnya lalu keluar dari kamarnya.


Raya berjalan dengan cepat agar tidak ada yg melihatnya. Saat di ambang pintu gerbang rumah langkahnya terhenti.


"Kamu mau kemana?" Raya menoleh ke arah suara.


"Bukan urusanmu!"


"Aku hanya ingin menghirup udara segara, sebelum dia bangun aku akan kembali. Aku akan sangat berterima kasih jika kamu tutup mulut dan anggap saja tidak melihatku."


Defin membiarkan Raya keluar dari pintu gerbang dan Defin kembali masuk ke rumah utama.


Dia masuk ke rumah untuk mengambil kunci mobil dan mengejar Raya.


"Masuk."


"Aku ingin pergi sendiri," ucap Raya yang masih terus berjalan kaki mengacuhkan Defin.


"Satu hal yang harus kamu tahu, pekerjaanku sangat banyak jika kamu tidak kembali saat pagi maka semua pekerjaanku akan berantakan karena harus mencarimu."


Raya menuruti perintah Defin. Raya juga tahu Defin tidak akan pergi walaupun dia memohon. Lagi pula terlalu beresiko pergi tanpa arah seorang diri di tengah malam seperti ini.


"Kamu mau kemana?"


"Kemana saja yang membuat dadaku tidak sesak."


Selama dua jam mereka hanya menyusuri jalan tanpa tujuan. Membelah sunyinya malam dalam diam. Defin menghentikan mobilnya di tanah lapang yang lumayan jauh dari keramaian kota.


"Keluar."


Raya menghela napas dan mengikuti Defin keluar dari mobil kemudian mereka berdua duduk di bagian depan mobil.


"Aku dulu hanya seorang anak menyedihkan, dengan pakaian kumal dan kotor. Setiap hari aku mengamati kantor Tuan Bayu. Aku bahkan selalu mengingat kapan saja dia datang dan pulang. Saat dia baru turun dari mobilnya aku langsung membersihkan kaca mobil miliknya dengan bajuku. Awalnya dia mengusirku bahkan supir Bayu pernah membuangku jauh tapi besok paginya aku datang dan melakukan hal yang sama. Entah karena kesal atau sudah menyerah, Bayu mengizinkan aku melakukan itu setiap harinya. Dia sering memberiku uang tapi aku selalu menolaknya berulang kali."


Raya masih terdiam tidak ingin bicara dengan Defin atau menanggapi curahan hatinya.


"Lalu dia menanyakan apa yang sebenarnya aku mau?"


Defin diam sejenak, terpancar kesedihan di matanya.


"Aku menjawab, aku ingin menjadi seperti dirinya. Saat mendengar jawabanku Tuan Bayu tertawa dan kembali menyuruh aku untuk tidak menemuinya lagi."


"Kenapa?" Tanya Raya lirih


"Karena aku ingin setiap orang menunduk hormat dimanapun aku ada, menyambut dengan senyuman bukan dengan cacian atau tatapan menghina. Aku seorang manusia tapi mereka menganggap aku seperti lalat yang menyebarkan penyakit."


"Untuk apa cerita masa lalumu padaku. Aku tidak tertarik."


Raya membenamkan wajahnya di kedua lututnya. Saat ini dia tidak ingin mendengar masalah orang lain.


"Aku masih tetap menunggunya setiap hari dan melakukan hal yang sama. Sampai suatu hari dia membawaku ke suatu tempat. Panti asuhan. Aku juga berulang kali kabur dari panti asuhan itu dan menemuinya. Dengan kesal dia membentakku 'tetap tinggal di sana jika kau ingin jadi seperti diriku', aku menuruti perintahnya setiap hari aku menunggu dia datang tapi, sampai aku lulus sekolah menengah atas dia tidak pernah menemuiku. Hanya orang suruhannya yang datang setiap bulan untuk memberikan donasi."


Defin membaringkan tubuhnya menggunakan kedua tangannya untyk menyanggah kepalanya. Menatap langit malam yang di penuhi bintang.


"Berbaringlah perasaanmu akan sedikit membaik saat melihat langit tapi jika kamu terus menunduk maka air mata yang akan menetes."


Raya mengangkat kepalanya dan menengadah menatap bintang -bintang. Kemudian, berbaring di samping Defin.


"Masih ingin mendengar ceritaku?"


Raya hanya diam. Defin menatapnya sekilas lalu kembali melanjutkan kisahnya.


"Setelah lulus sekolah aku bekerja sebagai petugas kebersihan di suatu perusahaan besar. Sampai satu tahun aku bekerja di sana, aku baru tahu jika pemiliknya adalah Tuan Bayu. Aku sangat senang bisa bertemu dengan malaikat penolongku. Dengan lancang aku masuk ke ruangannya, dia menanyakan apa keinginanku dan jawabanku tetap sama. Lalu dia menanyakan lagi, apa keuntungan baginya jika mengabulkan keinginanku itu. Aku menjawab... dia bisa menggunakan aku untuk apapun."


"Dia langsung memberikan posisi yang sekarang untukmu?"


"Tentu saja tidak, aku harus banyak melalui kesulitan untuk mencapainya. Tidak mudah mendapatkan kepercayaan darinya."


"Bagaimana dengan kamu?"


"Aku... tidak memiliki kisah menyedihkan seperti itu."


Defin menghela napas. Dia mengerti jika Raya belum bisa menceritakan masa lalunya yang menurut Defin lebih menderita daripada hidup di jalanan.


"Bersyukurlah jika kamu memiliki hidup yang indah. Setelah menceritakan ini aku merasa lega. Mungkin kamu bisa melakukanya juga."


"Bagiku yang dulu dan sekarang masih tetap sama. Bahkan aku tidak memilik ketertarikan untuk hari esok."