
Tessa mencoba bangkit dari duduknya dan segera menghentikan sebuah taksi agar mengantarnya kembali ke rumah secepat mungkin.
Masih dengan tubuh gemetaran dan jantungnya yang berdegup tidak beraturan. Tessa menyebutkan alamat lengkap rumahnya.
"Apakah anda menyukai hadiah yang mengejutkan hari ini, Nyonya."
Tessa tersentak dan menatap ke arah pengemudi taksi itu.
"Aku... tidak mengerti apa yang baru saja kau ucapkan." Tessa berusaha tenang menanggapi ucapan supir taksi itu.
Namun, senyuman dari pria itu jelas penuh dengan kepuasan dan misteri.
"Bukankah anda pemilik mobil yang baru saja hancur?"
"Siapa kau?!" Tessa sudah tidak bisa lagi menahan gejolak di hati dan pikirannya.
"Aku hanya di berikan tugas untuk mengamati dan memastikan bahwa pesan ini sampai kepada suamimu."
"Aku tidak ada hubungannya dengan semua urusan Bayu! Bahkan aku tidak tahu apa saja yang sudah dia lakukan. Kau pikir bisa menekannya melalui aku, kau salah! Hubungan kami hanya sebatas saling menguntungkan. Maka, cepat hentikan mobil ini! Bayu bukan orang yang bisa kalian ancam dengan hal kecil seperti ini!"
Tessa berteriak memaki pria itu dan meminta menghentikan mobilnya.
Tapi, pria itu malah tertawa riang melihat Tessa yang mulai panik dan ketakutan. "Jadi, semua berita itu benar. Bahwa rumah tangga kalian sedang tidak baik-baik saja."
"Aku mengatakan hal yang sebenarnya. Jadi cepat lepaskan aku!"
"Ya, memang bukan anda target kami, Nyonya. Ini hanya sebuah peringatan, bahwa kami bisa kapan saja menyakiti siapa pun yang dekat dengannya."
Setelah kejadian yang sangat traumatis baru saja terjadi. Tessa berusaha mengurutkan setiap detail peristiwa itu. Namun, dirinya masih enggan percaya dengan apa yang supir barunya ceritakan.
Bisa saja semua itu hanya omong kosong dan rencana orang misterius itu. Sejak awal seharusnya dia tidak mudah menerima siapapun untuk bekerja padanya.
"Tapi, jika semua itu benar artinya selama ini aku memelihara ular berbisa di rumah ini. Raya memang dekat dengan Bayu tapi aku tidak pernah melihat hal yang aneh antara mereka berdua."
Tessa terkejut saat pintu kamarnya berderit dan Raya muncul di sana. Wajah penuh senyum menghampiri dirinya.
"Raya sudah mengetuk pintu tapi Tante tidak menjawab."
"Masuklah," ucap Tessa seraya membalas senyuman keponakannya itu.
"Raya dengar dari asisten tante, pagi ini tante mengalami kecelakaan. Apa tante baik-baik saja?"
Tessa memang meminta asisten pribadinya untuk mengatasi semua masalah yang terjadi pagi tadi. Mengurus jenazah supir barunya dan segera menyingkirkan mobilnya yang sudah hancur. Dirinya cukup terkejut untuk mengatasi semuanya.
Melihat Raya yang segera datang menemuinya disaat seperti ini, sudah cukup membuktikan bahwa apa yang dikatakan pria itu tidak benar.
Pria itu pasti sudah merencanakan semua itu untuk membuatku semakin bingung dengan keadaan ini. Ya, Raya tidak mungkin memiliki hubungan seperti yang pria itu ucapkan. Batin Tessa.
"Karin meminta kamu menemui, tante?"
"Iya, dia mengatakan bahwa tante sangat terkejut dan ketakutan. Aku juga sudah meminta om Bayu untuk segera pulang."
"Untuk apa kamu memberitahunya. Dia tidak mungkin peduli."
Bayu datang tergesa dan segera menemui Tessa."Aku dengar ini bukan kecelakaan biasa, apa benar semua itu."
Tessa dan Raya menoleh bersamaan ke arah Bayu.
"Maksudnya semua ini dilakukan secara sengaja oleh seseorang?" tanya Raya kepada Bayu.
"Raya, kamu bisa tinggalkan tante dengan om saja. Ada yang perlu kami bicarakan." Perintah Tessa dengan mata yang menatap tajam kearah suaminya. Tentu saja dirinya ingin segera melampiaskan kemarahannya.
Raya mengangguk dan menuruti perintah Tessa untuk meninggalkan mereka berdua. Raya menutup pintu kamar Tessa. Raya menempelkan daun telinganya di permukaan pintu itu tetapi percuma saja dirinya tidak mendengar apapun dari balik pintu tebal ini.
"Kebiasaan buruk mu sekarang bertambah."
Raya menatap ke sumber suara itu. "Lalu, kau sendiri sedang apa disini," ucap Raya sinis kepada Defin yang berdiri tepat di belakangnya.
"Untuk mengawasi mu," jawab Defin.
Raya berlalu meninggalkan pria itu dan menuruni anak tangga menuju lantai dasar.
"Bersiaplah, Bayu akan semakin mencurigai mu. Hanya ini yang bisa aku lakukan, untuk kedepannya hanya dirimu sendiri yang bisa mengatasinya."
"Aku memang melakukan apapun sendiri sejak dulu, bukan hal yang mengejutkan jika kau tidak bisa membantuku." Raya mengabaikan Defin dan melanjutkan langkahnya.
Defin terus menatap Raya yang semakin jauh melangkah darinya. Ya, Defin merasa wanita itu akan berjalan menuju ke jurang kehancuran. Dibutakan oleh keegoisan atau sebuah obsesi yang tidak terbatas. Mungkin juga tersimpan sebuah dendam. Kehancuran setiap penghuni rumah ini akan mulai terjadi. Satu persatu mereka akan hancur.
Sementara itu Bayu dan Tessa saling bersitegang. Tessa merasa keselamatannya terancam dan dia sangat yakin bahwa semua itu perbuatan Bayu, sedangkan Bayu merasa tidak melakukan apapun kepada wanita yang masih menjadi istrinya saat ini.
"Aku tegaskan sekali lagi, Tessa. Aku tidak pernah melakukan itu!"
"Baiklah, anggap saja aku percaya dengan ucapan mu. Tapi, apa kau yakin wanita simpanan mu tidak melakukan hal itu. Bahkan pria itu sebelum meninggal dia mengatakan bahwa kau memiliki hubungan dengan Raya!"
"Ya, sebelum kecelakaan itu terjadi dia mengatakan bahwa beberapa kali dia melihatmu menemui Raya diam-diam. Apapun tujuan orang misterius itu, dia hanya ingin menghancurkan keluarga kita. Tapi, bukankah itu hal konyol tidak mungkin kau tertarik kepada wanita setengah gila seperti Raya. Bahkan aku rasanya ingin tertawa jika mengingat ucapan pria itu."
Bayu menarik nafas dalam dan menghembuskan. "Berhenti merendahkan orang lain. Coba lihat, apa kau sudah lebih baik dari Raya." Bayu pergi meninggalkan Tessa dan membanting pintu kamarnya.
"Dia selalu saja membela keponakannya yang tidak waras itu," ucap sinis
🌟🌟🌟
Raya sedang disibukkan dengan pekerjaannya, ponselnya berdering sebuah nomor tidak di kenal menghubunginya. Memintanya untuk segera keluar dan ikut bersamanya.
Tanpa sempat membantah panggilan suara sudah di akhiri. Masih dengan wajah bingung dan akan mengabaikan panggilan itu, sebuah pesan teks muncul. Ternyata Bayu yang meminta pria itu untuk menjemputnya.
Raya bersiap dan segera menuruni anak tangga dan menuju mobil yang sudah menunggunya di depan cafe.
Setelah Raya masuk ke mobil itu dengan cepat membelah keramaian siang itu. Raya mulai sedikit takut dengan kecepatan pria itu mengendarai mobil.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Raya pada pria yang fokus mengemudi itu. Namun, Raya tidak mendapatkan jawaban. Bukan hal yang mengejutkan jika bawahan Bayu tidak ingin bicara dengan orang lain. Mereka seperti robot bernyawa.
"Ya, baiklah terserah kau saja." Raya mengeratkan pegangannya dan tidak lupa menggunakan sabuk pengaman.
Kurang lebih satu jam perjalanan, mereka sampai di sebuah pintu gerbang yang usang. Pepohonan rindang berdiri dengan kokoh di setiap tepi jalan itu. Terlihat di ujung jalan ada sebuah rumah yang letaknya cukup terpencil dan terisolasi dari dunia luar.
Raya keluar dari mobil dan melihat sekeliling. Cukup membuatnya merinding ngeri melihat sekitar rumah itu. Saat matanya menjelajahi setiap sudut rumah itu, Raya melihat Bayu sedang berdiri di balkon lantai dua.
Raya tersenyum bahagia kearahnya dan segera masuk ke rumah tua itu dan berlari menaiki anak tangga. Raya memeluk Bayu dengan erat dan mengecup bibirnya.
Bayu melepaskan pelukan Raya. Dia berjalan ke sebuah meja kecil dan mengambil sebuah dokumen.
"Ini untuk mu."
"Untukku? Apa ini sebuah hadiah?" tanya Raya penuh kebahagiaan.
Raya membaca dokumen itu dengan seksama. Wajah bahagia Raya berubah menjadi penuh tanya.
"Aku tidak pernah meminta semua ini," ucap Raya
"Sudahi saja sandiwara yang sedang kau mainkan. Aku akan mengalihkan semua kekayaan milik Papa mu, dan itu semua akan menjadi milikmu. Jika karena itu kau sampai ingin menghabisi Tessa, maka hentikan semuanya. Semua sudah menjadi milikmu."
"Ya, aku memang meminta seseorang untuk menyelidiki berapa banyak milik Papa yang ada padamu. Tapi, itu semua hanya untuk memuaskan keraguanku. Aku ragu bahwa hubungan kita memang berdasarkan sebuah rasa yang nyata. Aku berpikir semua ini hanya karena materi."
"Maka dari itu, kita akhiri saja. Apapun alasan yang kamu punya tidak bisa membenarkan perbuatan yang kamu lakukan,Raya!"
Bayu memegang erat lengan Raya dan menyusuri jemari Raya.
"Aku tidak ingin tangan lembut ini, menjadi penuh luka dan darah. Walaupun darah orang lain yang berlumuran di tanganmu, bukan berarti kamu tidak terluka."
Raya meneteskan air matanya. Hatinya sakit saat Bayu tidak percaya padanya. Mungkin ini juga yang di rasakan Bayu saat tahu dirinya diam-diam mengungkit kekayaan milik papanya.
"Bayu, aku tidak melakukan apapun pada pria itu. Aku bahkan tidak tahu jika Tessa mengalami kecelakaan itu."
"Cukup, Raya! Hentikan semuanya, aku punya bukti dan berhenti menyangkalnya."
Bayu mengambil ponselnya dan memutar sebuah pesan suara.
'Jangan melukai wanita itu, cukup beri dia sebuah kejutan yang menarik. Habisi supir itu misalnya'
Raya terkejut mendengar semua itu. Bagaimana mungkin suara itu sangat mirip dengan suaranya.
"Bayu, aku tidak melakukan itu. Aku mohon percayalah, semua itu rekayasa."
"Bawa pria itu masuk!" Perintah Bayu
Beberapa saat kemudian dua orang pria bertubuh kekar membawa seorang pria yang penuh luka di wajahnya.
Raya menatap seksama wajah itu..Wajah yang tidak asing baginya.
"De..Defin. Bayu, apa semua ini!"
"Dia sudah mengakui semuanya. Kau yang memintanya melakukan itu!"
"Defin! Katakan bahwa aku tidak pernah melakukan ini semua, katakan pada Bayi!"
"Saya, melakukan semua ini atas perintah Nona Raya," ucap Defin dengan lirih seraya menahan rasa sakit.
Sebuah letusan senjata api memekakkan telinga. Raya melihat dengan sangat jelas di hadapannya. Tubuh Defin tergeletak di lantai dengan darah yang terus mengalir dari dada kirinya.
"Singkirkan mayat pengkhianat ini." Perintah Bayu.
Bayu pergi meninggalkan mereka. Kemudian dua orang pria itu menyeret tubuh Defin dengan darah yang terus mengalir.
Raya terduduk lemas di lantai dan wajah pucat dan menggigil ketakutan. Air mata yang menetes deras tanpa suara. Entah berapa lama tubuhnya kaku dan membisu.