Love Affair

Love Affair
PART 42



Masih dengan wajah sayu dan mata yang sembab. Raya menuruni anak tangga melihat sekeliling cafenya. Beberapa karyawan sedang membersihkan meja untuk persiapan buka siang nanti.


Raya melangkah mendekat ke pintu masuk yang menarik perhatiannya. Sebuah coretan dengan bahan pewarna, Raya mengedarkan pandangannya sekeliling tidak hanya satu tapi hampir di setiap dinding kaca Cafenya penuh dengan coretan yang berisi kata-kata cacian dan hinaan.


Intan berlari mendekati Raya dan segera menariknya agar segera kembali masuk ke kamarnya.


"Raya, kamu istirahat saja. Aku akan mengatasi semua ini. Jangan pikirkan apapun."


Namun, Raya tidak bergeming. Mengabaikan ucapan Intan. Seketika tubuhnya terkulai lemas.


"Raya! Raya!" Intan memanggil namanya berulang kali berusaha mengembalikan kesadaran Raya.


Sayup-sayup Raya mendengar suara rintik hujan dan gemuruh yang sesekali di sambut dengan kilat.


Hujan. Raya membuka matanya dan melihat ke arah jarum jam di dinding kamarnya. Ini masih pukul lima sore tapi di luar sana sudah gelap.


"Kamu butuh sesuatu?"


Raya mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar.


Bayu tengah berdiri di sana. Menatapnya dengan penuh kecemasan.


Raya berusaha mengabaikan Bayu. Dia berusaha menarik selimut untuk menutup wajahnya. Namun, tangan kanannya terasa tertahan.


Bukan Bayu yang menahannya. Melainkan sebuah infus sudah terpasang di sana.


"Kamu ingin makan?"


"Tidak, pergilah. Aku hanya butuh istirahat."


Bayu tersenyum dan duduk di tepi ranjang. Dia membelai kepala Raya dengan lembut.


"Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan kamu begitu saja. Di saat buah hati kita sedang menunjukkan kehadirannya."


Raya mencerna sejenak ucapan Bayu. Kemudian Raya tersentak dan segera bangkit dari tidurnya.


Bayu menatap wajah Raya dengan mata berkaca-kaca. Kemudian, memeluk Raya dengan hangat.


"Akhirnya yang selama ini aku nantikan akan terwujud. Kita akan menjadi orang tua."


Raya meraba perutnya yang masih rata. Selama ini dirinya merasa tidak sehat bukan karena sedang sakit tapi melainkan karena hamil.


Raya menangis sejadinya di pelukan Bayu. Rasa bahagia menyelimuti relung hatinya. Saat ini rasanya Raya siap melawan siapapun untuk mempertahankan buah hatinya.


Dalam tangisannya. Raya berjanji untuk terus berusaha menjaga buah hatinya.


"Dokter sudah memeriksanya tapi untuk lebih memastikan kebenaran ini, kita akan ke Rumah Sakit besok," ucap Bayu seraya mencium kening Raya dengan lembut.


"Aku memang belum menstruasi. Aku pikir karena terlalu banyak yang aku pikirkan."


"Besok kita akan tahu. Tapi aku yakin kamu sedang hamil."


Pukul 10 malam. Raya dan Bayu belum beranjak dari tempat tidur. Mereka menikmati setiap rintik hujan di luar sana. Bayu memeluk Raya dan sesekali mencium pundaknya. Saling terdiam namun pandangan mereka satu tujuan. Tetesan air hujan yang mengalir pada kaca jendela kamar Raya.


"Aku tidak bisa menahannya. Aku juga melakukannya perlahan tidak seperti biasanya."


"Kau masih saja mesum," ucap Raya.


"Aku sedang memikirkan nama yang cocok untuk anak kita nanti."


"Astaga, Bayu. Itu terlalu cepat dan berlebihan. Bisa saja aku hanya telat karena stres dan ini hal biasa untukku."


Bayu terus menyangkal. Dia sangat yakin bahwa Raya sedang mengandung. Selain dokter yang memeriksa Raya adalah orang kepercayaannya. Pengalamannya di bidang medis juga tidak bisa di ragukan.


...🌟🌟🌟...


"Apa ini baik untukku?" tanya Raya sembari menunggu Intan meletakkan makanan di wadah makan sekali pakai.


Intan memang setiap harinya membawa makanan yang tidak habis di jual hari itu untuk diberikan ke orang sekitar tempat tinggalnya.


"Tentu, kamu akan sangat di untungkan. Bayu sudah ada di genggaman kamu sekarang."


"Bagaimana jika Kakak dan Tessa tahu. Mereka akan marah. Aku takut mereka akan mencelakai bayiku."


Intan menghela napas panjang. Dia menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan Raya.


"Tidak ada jalan untuk mundur sekarang. Semuanya sudah terlanjur. Kamu tidak mungkin pergi. Satu hal yang harus kamu lakukan, bertahan dan menghadapi semua yang akan terjadi nanti."


Raya mengangguk mengerti, "Aku takut. Bukankah itu aneh, dulu aku sangat berambisi tapi sekarang nyali ku terasa hilang."


"Raya, kamu harus kuat dan percayalah pada Bayu. Dia tidak mungkin mengabaikan kamu begitu saja. Kamu bisa memberikan sesuatu yang tidak pernah dia dapatkan dari Tessa. Kamu unggul sekarang. Bayu juga sedang mengurus perceraiannya."


Intan memeluk sahabatnya itu. Rasa sedih dan iba terpancar di matanya. Hanya dukungan moral yang bisa dia berikan kepda gadis malang yang di buta kan sebuah harapan dan ingin di cintai. Penyesalan juga tersirat, dirinya gagal mengingatkan sahabatnya sebelum ini semua terjadi. Kini, dirinya hanya bisa untuk tetap di sampingnya. Keputusan apapun yang di ambil Raya. Maka dia akan saling mendukung.


"Aku memang sedikit takut akan hal ini. Aku merasa akan ada hal yang tidak terduga akan terjadi. Akhir-akhir ini aku sangat cemas," ucap Raya seraya meneguk jus buah segar yang baru saja di sajikan Intan.


"Ya, pertahankan itu. Mulai sekarang kamu memang harus selalu waspada. Saat ini kamu hidup bukan untuk dirimu sendiri, ada kehidupan yang disini." Intan mengelus lembut perut sahabatnya.


"Bayu, memintaku untuk pindah ke rumah yang sudah dia sediakan. Sampai aku melahirkan nanti. Bayu juga melarang ku menemui siapapun tanpa seizinnya."


"Aku tahu. Ikuti saja perintah Bayu, itu akan lebih baik. Bahaya jika Tessa tahu tentang kehamilan kamu. Jujur aku juga tidak percaya kepada Kakakmu. Kamu juga jangan mengatakan apapun padanya."


Walaupun tidak setuju dengan pendapat Intan mengenai Rendra. Raya tetap diam. Raya masih sangat yakin, bahwa Rendra tidak mungkin menyakiti dirinya. Mereka sudah bersama sejak kecil. Rendra adalah orang yang selalu melindungi dirinya sejak kecil.


Saat ini mereka memang sudah tidak sejalan. Tapi Raya percaya, Rendra tidak mungkin menyakiti dia dan anak yang tengah Raya kandung.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌺🌺🌺🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Terima kasih untuk teman-teman yang masih tetap setiap jadi pembaca Love Affair.


Maaf jika author lama update part baru. Karena memang kesibukan author yang padat, merayap. Tapi author usahakan nyicil satu part bisa sampai 1 bulan😌


Jangan lupa selalu LIKE πŸ‘ & Coment supaya author semakin semangat.


Hmm boleh juga kasih kritik dan saran asal jangan ngarep up cepat ya😁