Love Affair

Love Affair
PART 26



Raya mendengus kesal berulang kali setiap melihat sosok pria berbaju hitam yang terus mengikuti langkahnya.


Tessa tidak main-main dengan ucapannya. Benar saja saat pagi menjelang, sudah ada seorang pria berbadan tegap dan berwajah menyeramkan berdiri di pintu kamarnya. Kemudian pria itu terus mengawasinya.


Pria itu selalu berada lima langkah dari Raya. Berdiri tegak seperti patung hiasan. Namun, matanya terus mengawasi Raya dan sekitarnya.


"Bahkan dia bisa menghitung berapa kali kamu bernapas, Ray." Intan menertawakan Raya yang kesal dengan bodyguard pemberian Tessa.


"Apa yang harus aku lakukan supaya dia pergi?"


"Entahlah, mungkin kamu bisa meminta dia mengganti pakaiannya. Lihat, semua orang melihat kalian berdua."


"Kenapa dia berpakaian seperti bodyguard di film-film. Seharusnya dia melakukan penyamaran dan berbaur dengan orang sekitar agar tidak ada yang mengetahui keberadaannya."


Raya benar-benar sudah cukup frustasi dengan keberadaan pria itu.


"Aku pikir hanya Om Bayu yang over protektif ke kamu. Ternyata Tante kamu lebih parah, ya." Intan kembali tertawa terbahak


"Hentikan, kamu buat aku malu."


"Nikmati saja, kamu lihat kan sosial media sedang di hebohkan dengan berita bahwa kamu keponakan seorang pria sukses dan mapan. Bahkan ke suksesan Om Bayu sudah setara dengan suami temanmu waktu itu. Itu juga keberuntungan untuk cafe kitakan."


"Tapi, aku merasa tidak nyaman. Bahkan aku tidak bisa bebas keluar rumah."


"Tunggu saja sampai satu atau dua minggu lagi, semua akan mereda."


"Lalu jika setelah dua minggu mereka masih menjadikan aku topik utama berita mereka bagaimana?"


"Nikmati saja, selagi mereka tidak membahayakan dan lagi pula siapapun yang ingin membuat berita buruk tentang kamu akan berpikir puluhan kali, karena bodyguard mu itu."


Raya menghela napasnya lagi. Sudah cukup hari ini dia menjadi bahan ejekan sahabatnya itu. Pastinya para pengunjung cafe akan lebih berpikir buruk tentang dirinya.


"Aku cukup kesal saat tidak di perbolehkan menjenguk kamu di Rumah Sakit."


"Siapa yang melarang kamu menjengukku?"


"Pria yang sering bersama Om Bayu itu. Dia bahkan mengusirku!"


Raya sudah bisa menebak siapa yang Intan bicarakan. Defin pasti melakukan itu berdasarkan perintah Bayu.


"Aku juga beberapa kali menghubungi kama tapi dia juga yang menjawab teleponku."


"Sudah jangan dipikirkan, sekarang kita bisa bertemu, kan."


"Ya, hanya saja kita tidak bisa bebas kemanapun kita mau."


Raya merasa harus melakukan sesuatu, agar pria itu bisa pergi darinya.


Raya menaiki anak tangga perlahan dan sesekali melirik ke belakang, dimana pria itu juga mengikutinya.


Ya ampun, bahkan dia tidak bisa membiarkan aku memiliki ruang privasi.


"Aku ingin istirahat, kamu juga istirahat saja di bawah." Raya meletakkan ponselnya di atas meja kerja.


"Saya akan menunggu sampai anda selesai istirahat, tidak perlu mengkhawatirkan saya."


Pria itu memilih berdiri di pintu masuk ruang kerja Raya.


"Ck! Sepertinya aku tidak bisa mengusirmu dari sini."


Raya meraih gagang telepon di atas meja. Menghubungi karyawannya untuk mengantarkan makan siangnya.


Sekitar lima belas menit, terdengar ketukan pintu dengan sigap pria itu membukanya dan menanyakan tujuan pelayan itu. Bahkan tidak perlu di tanya lagi dia seharusnya sudah tahu, seorang pelayan datang dengan dua porsi makanan beserta dua gelas jus orange yang menggugah selera.


Pelayan itu meletakkan makan itu di atas meja kerja Raya dan satu porsi lagi di letakkan di meja tamu.


"Makanlah, kau pasti lapar."


Raya meminum jus itu beberapa tegukan. Namun, pria itu masih dalam posisinya.


"Kau takut aku mencampurkan sesuatu di makan itu?"


"Bukan... bukan karena itu. Saya akan makan setelah tugas saya hari ini selesai."


Pria itu menuruti perintah Raya. Dia melangkah maju dan duduk di sofa lalu mengambil sepiring makanan yang di bawa oleh pelayan dan memakannya sampai habis.


"Aku akan istirahat di kamar. Dua jam lagi kita berangkat. Kau bebas pergi kemana saja dalam waktu itu, karena aku akan aman di sini."


Pria itu segera bangkit dari duduknya dan mengangguk paham saat melihat Raya beranjak menuju kamarnya. Kemudian, dia meminum jus yang masih tersisa sedikit.


Raya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Memejamkan matanya, berusaha untuk terlelap sejenak.


Tubuhnya tidak merasa lelah hanya saja hatinya yang lelah. Mungkin lebih tepatnya merasa bingung memikirkan cara apa yang bisa dia lakukan agar kebebasanya kembali.


Bukan hanya rasa tidak nyaman yang dia dapatkan. Jika pria itu terus mengawasinya akan menyulitkan dirinya untuk bertemu Bayu. Tentu saja dia akan melaporkan pada Tessa dengan senang hati karena Tessa yang membayarnya.


Raya membuka matanya lalu bangkit dan mengambil ponselnya. Mencari kontak Defin.


"Dia bahkan tidak mau menjawab panggilanku." Raya mendengus kesal kemudian keluar dari kamarnya.


Bodyguardnya dengan sigap berdiri tegap saat melihat Raya. Namun, Raya sempat melihat pria itu terduduk dengan wajah lesu. Pasti dia sangat bosan berada di sini sejak pagi hanya mengawasinya setiap saat dan melaporkan keadaan pada Tessa.


"Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Raya pada pengawalnya seraya duduk di meja kerjanya.


"Nona, butuh sesuatu? Apakah ada yang mengganggu pikiran anda?" tanya pria itu bertubi-tubi.


"Aku hanya ingin lebih mengenal siapa kamu dan kamu orang yang seperti apa."


"Apa saya tidak melakukan pekerjaan dengan benar?"


"Bukan begitu tujuan kita bicara, hanya saja karena kamu menjadi pengawal berarti kita harus memiliki sifat saling percaya."


Pria itu mengangguk menegerti. Dia baru sadar bahwa dirinya tidak memperkenalkan dirinya dengan benar kepada Raya. Sehingga wajar saja jika Raya merasa risih saat dia terus saja mengikutinya.


"Maaf, Nona. Saya tidak sadar bahwa saya melakukan kesalahan besar dengan berdiam diri dan tidak tahu yang ada inginkan."


Pengawal itu memperkenalkana dirinya kepada Raya. Dari nama lengkap dan pengalamn kerjanya di bagian keamanan dan bagaimana akhirnya dia mendapatkan tugas dari Tessa. Ada satu cerita yang menarik bahwa perusahaan tempat dia bekerja bukan perusahaan yang besar sehingga ini pasti mempermudah untuk membuat dia pergi dari sisi Raya. Raya mulai bosan mendengar ocehan pria itu. Raya tidak menyangka bahwa ternyata pria ini sangat banyak bicara.


"Cukup!"


Pria itu berhenti bicara seketika saat mendapat perintah dari Raya.


"Kamu sudah memperkenalkan diri dengan baik, aku rasa cukup sampai di sini. Selain kamu yang mengganggu pandanganku, ada satu hal yang ingin aku tanyakan."


Pria itu mengambil sikap siap dan berdiri di hadapan Raya. Siapa mendengar setiap kata yang akan Raya ucapkan. Walapun Raya merasa sikapitu teralu berlebihan tetapi Raya mulai mencoba untuk menerima dan mengabaikan saja.


"Hmmm... apa ada perintah lain dari Tante Tessa selain menjagaku?"


"Saya hanya perlu menjaga anda agar tidak terlibat masalah. Seperti pergi ketempat hiburan malam, terlihat di muka umum tidak boleh lebih dari satu jam dan tidak menerima wawancara dari media."


"Kau yakin Tante Tessa tidak meminta kamu untuk menyelidiki seseorang atau perintah untuk mencari bukti perselingkuhan...."


Raya enggan melanjutkan ucapannya. Raya harus tetap hati-hati jangan sampai ucapannya membuat pengawal itu semakin curiga padanya. Mungkin saja Tessa sengaja memancingnya melalui pengawal ini.


"Lupakan yang baru saja aku katakan. Kita pulang sekarang." Raya mengambil tasnya di meja kerja.


"Bukankah anda ingin menemuin Tuan Bayu?"


"Om Bayu sedang sibuk jadi aku tidak bisa menemuinya sekarang. Lagipula ini bukan masalah penting, aku bisa menanyakan padanya saat di rumah."


Pria itu mengangguk dan segera membuka pintu untuk Raya. Setelah Raya berlalu pria itu juga seger mengikuti langkahnya.


Raya memilih untuk pulang karena Defin dan Bayu tidak memjawab panggilan telponnya. Kemungkinan besar mereka berdua sedang sibuk.


Raya masih bertanya-tanya mengapa Bayu belum mengambil tindakan apapun untuk menyingkirkan pria ini. Tidakkah dia tahu bahwa Raya sangat tidak nyaman dengan perlakuan ini, cepat atau lambat Tessa bisa tahu hubungan mereka jika tidak segera menyingkirkan pengawalnya.


Bukankah hal ini mudah untuk Bayu, seperti dia menutup mulut pegawai cafe waktu itu.


"Apa Bayu ingin membuangku?" gumam Raya


"Nona, anda membutuhkan sesuatu?" tanya pengawal pada Raya yang terlihat cemas dengan tanpa sadar menggigit kuku jarinya


Raya segera tersadar dan menarik tanganya, "Tidak, aku hanya ingin segera sampai di rumah."


Raya mengumpat dalam hatinya. Keberadaan pia ini sungguh menyiksanya, Bayuharus segera mengatasi ini dan memberikan kebebasannya kembali seperti dulu.