
Baru saja berapa langkah Bayu menginjakkan kakinya di kediamannya. Tessa sudah menghadangnya dengan tatapan tajam penuh amarah.
"Menyingkir lah dari hadapanku." Bayu kembali menegaskan bahwa dirinya tidak ingin di ganggu.
Tessa tersenyum miring dan juga sangat terkejut dengan sikap suaminya.
"Hei, Tuan Bayu yang terhormat! Bisa kau jelaskan apa yang sudah kau lakukan! Kau sungguh tidak moral dan rendahan!"
Bayu berlalu meninggalkan Tessa tanpa sepatah katapun.
"Bayu! Aku masih istri mu! Aku berhak mendapatkan penjelasan atas apa yang kau dan wanita ****** itu lakukan. Aku, aku adalah korban dari perbuatan menjijikkan yang kalian lakukan. Bagaimana bisa kau datang dan pergi dari rumah ini sesukamu. Kau monster, kau bukan manusia! Dimana akal sehat mu, kenapa harus Raya, kau bisa memilih wanita manapun yang kau mau!"
Tessa menampar wajah Bayu dengan keras. Meluapkan semua amarahnya. Memukul tubuh Bayu berkali-kali. Bayu hanya diam tak bergeming. Wajah datar dan tanpa ada pergerakan untuk menahan pukulan Tessa.
"Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Pukul aku sampai kau puas. Tapi, aku akan meminta satu hal. Hentikan semua pemberitaan ini. Aku tidak ingin begitu banyak orang membenci Raya."
Tessa menyeka air matanya yang sempat mengalir deras. Mendengar ucapan Bayu membuatnya semakin panas dan kesal.
"Raya, Raya, Raya! Apa hanya wanita itu yang kau pikirkan! Bagaimana dengan ku? Aku istrimu, aku wanita yang selalu berada di samping mu! Aku bahkan menahan semua ini tanpa mengatakan kepada siapapun. Sekarang kau meminta aku untuk melindungi pelacur itu!"
"Aku yang bersalah, Tessa. Semua terjadi karena aku yang memulainya. Jadi aku mohon cabut semua berita-berita itu. Aku tidak ingin Raya menderita."
Tessa memeluk Bayu dengan erat. Air mata kembali membasahi kedua pipinya.
"Bayu, aku mohon. Aku mohon tinggalkan Raya, kembali padaku. Wanita itu tidak sebanding dengan ku, aku lebih baik darinya. Hanya aku yang bisa bersamamu, hanya aku wanita yang pantas di sampingmu."
Bayu melepaskan pelukan Tessa. "Sejak kapan kau peduli dengan kehadiranku, Tessa! Kau hanya merasa kalah dari Raya, kau hanya ingin semua dalam kendali mu! Kau tidak pernah mencintai siapapun dalam hidupmu, Tessa. Semuanya sudah hancur, kita tidak akan pernah bersama lagi."
"Sial! Aku bahkan sudah menurunkan harga diriku dengan memohon seperti ini. Tapi, kau tidak menghargainya sedikitpun. Baiklah, aku akan menutup mata dari perbuatan kalian! Tapi, satu hal yang aku tidak ingin terjadi, karena berita perselingkuhan kalian aku rugi besar. Bahkan aku tidak bisa keluar dari rumah ini dengan leluasa! Karena wanita gila itu hidupku tidak tenang."
Bayu tertawa mendengar ucapan Tessa. "Sadarlah, Tessa. Kau adalah orang yang sangat di untungkan dalam hal ini. Kau terlihat sebagai korban di sini, begitu banyak dukungan untuk istri yang menjadi korban perselingkuhan. Tapi, bagaimana jika publik tahu siapa kau sebenarnya. Bagaimana dulu kau merencanakan pembunuhan kepada suami kakak mu sendiri. Kau adalah alasan dari semua penderitaan Raya. Kau bilang Raya wanita gila, bagaimana jika wanita gila itu tahu bahwa kau yang merencanakan kecelakaan yang di alami Ayahnya sehingga merenggut nyawanya. Sebelum kau membuka mulutmu ke media, seharusnya kau pikirkan akibat dari semua ini!"
"Sejak kapan?! Aku tanya sejak kapan kau tahu semua ini, Bayu!" Tessa berteriak di hadapan Bayu.
"Ini setimpal dengan perbuatan mu. Kau membunuh Ayahnya dan Raya merebut suami mu."
Bayu mengabaikan Tessa dan masuk ke ruang kerjanya. Bayu menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang berwarna coklat tua itu. Semua terjadi di luar kendalinya. Rasa khawatir merasuk dalam jiwanya. Bayu tidak tenang sejak pemberitaan itu, saat ini dirinya hanya memikirkan Raya. Bagaimana wanita itu bisa menghadapi kebencian orang-orang.
Berbagai cara sudah dia lakukan untuk menghentikan semua ini. Tapi, semua sia-sia. Berita itu terus muncul dengan berbagai kata-kata yang menyakitkan hati. Bayu sangat ingin menemui Raya dan memeluk erat wanitanya. Namun, jika dirinya menemui Raya di saat seperti ini maka semua akan semakin memojokkan Raya tanpa ampun.
...🌟🌟🌟...
Raya menangis tersedu dengan kedua lututnya bertumpu di lantai. Dia menggenggam erat tangan Randra. Kata maaf terus terucap dari bibir adiknya itu.
Rendra menepis genggaman Raya. Hatinya sangat sakit menerima kenyataan ini. Dirinya segera datang menemui Raya saat semua tiba-tiba publik di hebohkan tindakan tidak terpuji yang di lakukan dua orang yang menjadi sumber kebahagiaannya.
"Aku datang untuk mendengar pembelaan mu, Raya. Bukan sebuah pengakuan yang ingin aku dengar." Rendra mengepalkan jari-jemarinya.
Rendra memukul dinding kamar Raya berulang kali. Meluapkan amarahnya, kepalan tangannya penuh luka dan darah tapi tidak dia hiraukan. Kecewa dan amarah bergumul menjadi satu.
Tatapan tajamnya mengarah kepada Raya. Rendra meraih kedua lengan Raya dan memaksanya berdiri. Dia menatap dalam wajah Raya. Terlihat jelas air mata Rendra juga menetes, pandangan mata penuh kekecewaan.
"Kenapa harus Bayu!!? Jawab Raya! Aku bisa mendapatkan pria manapun yang kamu mau, aku kakak mu yang akan melakukan apapun untuk kebahagiaan mu. Tapi, kenapa kau hancurkan semuanya!"
Raya diam dengan bulir air matanya yang masih terus menetes. Dirinya tak sanggup menatap wajah Rendra.
"Lepas! Lepaskan Raya!" Intan mendorong tubuh Rendra agar melepaskan Raya. Lalu, Intan memeluk tubuh Raya mencoba menenangkannya.
"Kau," Rendra menunjuk wajah Intan dengan kemarahan. "Kau mengatakan Raya sahabatmu, lalu saat Raya berjalan di tepi jurang kau mengabaikannya. Bahkan kau mendukungnya untuk semakin jauh melangkah. Apa ini yang di katakan sahabat!"
Intan meninggalkan Raya dan melangkah maju menantang Rendra. "Ya! Aku yang mendukungnya. Lalu apa yang kau lakukan sebagai seorang kakak. Kau tidak pernah tahu apa yang dia alami, kau tidak pernah sadar. Raya melakukan semua ini karena dia hanya wanita rapuh yang membutuhkan sosok seorang yang mencintai dan menyayanginya. Sosok itu telah lama hilang di kehidupan Raya."
Intan bergegas membuka lemari kecil di samping ranjang Raya. Membuka beberapa laci dan menemukan sebuah botol kecil berisi beberapa kapsul obat-obatan.
"Kau lihat ini. Benda ini yang selalu dia konsumsi agar Raya bisa terus melanjutkan hidupnya." Intan memperlihatkan label obat-obatan tersebut. Terlihat jelas bahwa itu obat yang di konsumsi penderita gangguan mental.
"Tapi, semenjak dia bersama Bayu, Raya perlahan bisa lepas dari ini. Aku akan lebih mendukung Raya untuk terus bersama Bayu dari pada aku harus menyaksikan sahabatku mengakhiri hidupnya." Tanpa sadar Intan juga meneteskan air matanya.
"Aku harap kamu mengerti dan berhenti menghakiminya. Dia memang bersalah, tapi aku tidak bisa melihat kau terus menyudutkan Raya."
Intan memeluk Raya dengan erat saat Rendra meninggalkan mereka. Intan mengusap punggung Raya, berulang kali meyakinkan sahabatnya bahwa semua akan baik-baik saja.