
Bayu menatap tajam pada Defin dan secepat kilat dia menghantam wajah Defin dengan kepalan tangannya membuatnya jatuh tersungkur di lantai.
Defin kembali bangkit dan berdiri kembali di hadapan Bayu. Rasa asin mencuat di lidahnya, saat cairan merah itu keluar dari sudut bibirnya.
Entah pukulan ke berapa yang dia terima karena sudah gagal menjalankan tugasnya malam itu.
"Dengan perintah siapa, kau biarkan dia pergi seorang diri!"
"Maaf Tuan, saya pikir malam itu Nona Raya membutuhkan ruang untuk menenangkan dirinya."
"Bukankah kau berada di sana. Kenapa tidak bisa mencegah Sarah itu membuat masalah!"
Defin masih menundukkan kepalanya. Pembelaan apa pun yang dia lakukan tidak akan ada gunanya karena semuanya memang kesalahan fatal yang telah dia lakukan.
"Sungguh mengecewakan!" Bayu pergi meninggalkan Defin yang masih tertunduk di ruang kerja Bayu.
Bayu marah besar saat melihat kondisi Raya di rumah sakit. Raya masih belum sadarkan diri. Operasi kecil pun sempat di lakukan.
"Bangunlah dan katakan apa yang harus aku lakukan pada orang - orang yang sudah membuatmu bersedih malam itu," ucap Bayu seraya mencium tangan Raya.
Mendengar suara ketukan pintu Bayu kembali duduk di sofa sebelum memerintahkan Defin masuk.
"Tuan, dua orang yang berada di tempat kejadian malam itu sepertinya tidak ada hubungannya dengan orang yang kita curigai."
"Jangan lengah, bisa saja mereka sudah merencanakan semua ini. Cepat selesaikan masalah ini dan jika mereka memang tidak terlibat tutup mulut mereka rapat - rapat."
Defin mengangguk patuh.
"Masalahnya bukan hanya itu. Awak media sudah memberitakan kecelakaan malam itu, jangan sampai mereka mengusik keberadaan Raya."
"Saya sudah membersihkan kejadian perkara. Tapi memang beberapa foto dan video sudah menyebar pagi tadi."
"Lihat apa yang sudah kau lewatkan. Bagaimana kau bisa lengah seperti ini. Gunakan orang-orang yang berada di bawah kuasa mu jangan selesaikan masalah ini sendiri."
"Maaf, saya sudah sangat mengecewakan."
Terlalu memikirkan keselamatan Raya akhirnya Defin membuat kesalahan dengan tidak segera membersihkan sisa kecelakaan malam itu. Saat pagi menjelang Defin baru tersadar dan segera menuju lokasi kejadian dan sudah menjadi tontonan orang-orang yang melalui jalan itu.
Walaupun dirinya sudah meminta mereka menghapus apapun yang mereka rekam tapi tetap saja berita itu masih menyebar.
"Obati luka di tubuhmu. Aku tidak akan memaafkan jika kelalaian terjadi dengan alasan kondisi tubuhmu tidak baik."
"Saya baik-baik saja, Tuan."
Pukulan yang Defin dapatkan dari Bayu memang cukup sakit. Tapi, dirinya masih bisa menahan itu semua dan tidak memerlukan pengobatan apapun.
Kemudian Defin meninggalkan rumah sakit menuju markas yang biasa dia gunakan untuk menyelesaikan masalah seperti ini.
Sementara itu Defin menemui kedua orang yang berada di tempat kejadian malam itu.
"Mereka sudah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Defin pada anak buahnya.
"Mereka lalai karena tidak memberikan tanda apa pun saat mobil mereka dalam perbaikan. Tapi, kami sudah melihat lokasi kejadian pagi tadi dan sepertinya memang benar Nona Raya mengemudi dengan kecepatan tinggi sehingga tidak bisa mengendalikan mobilnya."
"Berikan mereka sejumlah uang dan minta mereka untuk tidak mengatakan pada siapa pun tentang kejadian malam itu. Jangan sampai ada kesalahan."
Sesuai perintah, Yon dan Budi di bebaskan. Dua orang kepercayaan Defin mengantar mereka di tempat kejadian malam itu.
Mereka mendapatkan uang yang cukup banyak jika di bandingkan dengan upah mereka sebagai supir pembawa hasil penebangan hutan lindung.
Setelah ke dua orang itu pergi. Yon dan Budi membuka masing - masing amplop yang sudah di berikan.
"Mimpi apa kita semalam, Bud. Uang sebanyak ini untuk tutup mulut," ucap Yon yang menghitung lembar demi lembar uang dalam amplop coklat yang dia pegang.
"Tapi mereka juga membuat kita jadi babak belur seperti ini."
"Ah! Ini bukan masalah di banding dengan uang yang kita dapatkan."
"Tapi kamu tidak penasaran dengan wanita itu?" tanya Budi yang duduk di batang kayu tumbang di pinggiran jalan tidak jauh dari mobil mereka.
"Penasaran atau tidak, kita jangan bahas masalah ini lagi. Satu hal yang pasti mereka bisa berbuat yang lebih kejam dari pada membuat badan kita babak belur seperti ini."
"Tapi, bagaimana kalau ternyata perempuan itu dalam bahaya?" tanya Budi lagi
"Aduh, kamu ini kenapa jadi lemah begini. Itu bukan menjadi urusan kita lagi. Jika mereka berniat jahat pada perempuan itu, mana mungkin dia di rawat di rumah sakit mewah begitu."
"Iya juga. Lebih baik kita perbaiki ini mobil dan cepat antar kayu ke tempat bos. Dia pasti udah marah besar gara - gara kita terlambat."
"Gitu dong dari tadi. Yang penting kita sudah dapat uang banyak jadi jangan pikirin yang bukan menjadi masalah kita."
Tessa menaiki tangga rumahnya dengan tergesa-gesa saat melihat mobil Bayu sudah terparkir di halaman rumah mereka.
Dia berharap segera mendapat jawaban dari Bayu tentang apa yang dia lihat hari ini. Tessa membuka pintu kamar Bayu tanpa permisi terlebih dulu.
Raut wajah kesal terpancar ketika mata mereka saling bertemu.
"Kamu tidak punya tangan untuk sekedar mengetuk pintu," ucap Bayu pada Tessa yang masih berdiri di ambang pintu.
"Kamu pikir aku masih bisa bersikap sopan setelah semua perbuatan kamu."
"Cepat katakan yang kau inginkan. Aku tidak punya waktu mendengar ocehanmu."
"Untuk apa memberikan fasilitas perawatan rumah sakit untuk Raya semahal itu," ucap Tessa dengan melipatkan kedua tangannya di dada.
"Lalu apa kamu merasa di rugikan? Aku bahkan tidak meminta kamu untuk membayarnya."
"Memang kamu tidak pakai uangku. Tapi, itu berlebihan Raya hanya luka ringan tapi kamu mengambil kamar rawat super mewah untuk dia."
Bayu menatap tajam Tessa dan menghampiri wanita yang masih menjadi istrinya sampai saat ini dan menunjuk wajahnya.
"Apa saat bicara kau tidak menggunakan otakmu untuk berpikir?! Kau bisa mengatakan itu luka ringan sedangkan Raya sedang tidak sadarkan diri sampai saat ini."
"Kamu bisa lihat sendiri bagaiman berita di luar sana menyebar. Nama besar keluarga kita jadi tercoreng karena ulah Raya. Aku sudah cukup malu dengan kejadian malam itu di hadapan keluarga Javier."
"Kau masih saja tetap sama, Tessa. Kau hanya terus membela keluargamu yang bahkan tidak memiliki sopan santun seperti Sarah. Bukankah seharusnya kamu menyalahkan keponakan kesayanganmu itu, jika saja dia tidak berulah Raya tidak mungkin mengalami ini semua!"
Perdebatan antara Bayu dan Tessa semakin memanas saat Tessa menyinggung tentang perselingkuhan yang Bayu lakukan.
"Aku ingin kamu memindahkan Raya ke Rumah Sakit lain jika perlu pindahkan dia ke daerah terpecil agar tidak ada satu pun tahu keberadaannya."
"Itu bukan urusan kamu, Tessa. Jika saja Raya sampai tahu sifat kamu seperti ini, dia pasti sedih."
"Sedih?! Aku juga sedih kehilangan kakak kandungku. Selama ini aku mencoba dengan keras supaya bisa memaafkan Raya."
"Berapa kali harus aku jelaskan. Semua itu bukan salah Raya! Dia bahkan tidak pernah menyakiti kakakmu!"
"Sampai kapan pun, aku akan tetap menyalahkan Raya atas meninggalnya kakakku."
"Kamu lihat ini..." Bayu memperlihatkan sebuah berita online di ponselnya pada Tessa.
Tessa membaca judul besar dari berita itu. Lalu menghela napas seraya tersenyum sinis. sudah jelas para media sudah tahu bahwa adalah keponakan mereka.
Bayi melemparkan ponselnya ke atas ranjang. "Mereka sudah tahu identitas Raya. Kamu pikir mereka akan berhenti sampai di sini?! Cepat atau lambat mereka akan menngetahui masalah rumah tangga kita. Bukankah itu juga bukan hal yang menguntungkan untuk bisnis kita masing-masing. Jadi berhenti mencampuri urusanku."
"Bagus! Sekarang dia benar-benar sudah menjadi sorotan, bahkan menjadi berita utama."
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Tessa. Temui Raya besok pagi di rumah sakit dan tunjukkan kepedulianmu pada media."
"Tapi satu hal yang harus kau ingat, Bayu. Cepat atasi kegaduhan ini jika tidak aku akan benar-benar membuat Raya pergi jauh dari kehidupan kita."
Tessa keluar dari kamar Bayu, membanting pintu sekeras mungkin.
Baginya kesalahan semua berada pada Raya. Jika saja kakak iparnya masih hidup maka kakaknya juga tidak akan mengalami gangguan jiwa karena kesedihan mendalam.
Berulang kali Bayu mengatakan bahwa semua itu sudah menjadi takdir untuk mereka berdua. Namun, Tessa masih terus menyangkalnya.
Bayu terpaksa kembali ke rumah itu lagi demi meredam berita yang tidak menentu bertebaran di media. Di tambah dengan kecelakaan yang Raya alamai mengungkap bahwa Raya adalah keponakannya.
Sontak banyak para media mencari tahu asal usul Raya. Dengan mudah mereka mendapatkan informasi setelah mendapatkan informasi dari penduduk sekitar Villa yang mengungkapkan bahwa hanya keluarga Bayu yang mengadakan pesta malam itu.
Bayu duduk di tepi ranjang. Mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Harus berapa lama lagi aku harus bertahan dengan Tessa. Wanita keras kepala dan sama gilanya dengan kakaknya.
"Dia lebih mementingkan uang dari pada kesembuhan keponakannya sendiri," gumam Bayu
Bayu meraih ponselnya dan menghubungi Defin untuk menjaga Raya malam ini.
Pekerjaannya yang menumpuk membuat dirinya tidak bisa menemani Raya malam ini, sudah beberapa hari dirinya mengabaikan masalah kantor.
Bayu duduk bersadar di sofa kamarnya. Bayu meraih poonselnya karena ada sebuah pesan masuk. Beberapa kliennya mulai resah dengan pemberitaan tentang Raya.
Begitu banyak berita yang menyudutkan Raya. Ada beberapa media yang mengatakan bahwa Raya mengalami gangguan jiwa, ketergantungan obat dan pemberitaan utama mmenyatakan bahwa malam saat kecelakaan itu terjadi karena Raya dalam pengaruh alkohol.
Bayu menghela napas panjang dan memejamkan matanya. Kepalanya terasa berat dan pusing. Bagaimana jika Raya bangun dan mengetahui semua ini, pasti dia sangat terpukul dan sedih.
Semua ini belum puncaknya. Jika perselingkuhannya dengan Raya terbongkar, semua orang akan menyalahkan Raya. Bahkan untuk membayangkan semua itu Bayu tidak sanggup.