Love Affair

Love Affair
Part 43



Raya berusaha bangkit dari duduknya di sebuah kursi taman yang tidak jauh dari kediamannya dengan susah payah dengan kondisi perutnya yang semakin membesar, di usia kandungannya yang sudah menginjak 32 minggu.


Sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi untuk berjalan santai. Mengikuti saran dari dokter kandungan yang setiap bulan datang langsung untuk memeriksa kehamilannya.


Kadang Raya merasa jenuh sudah berbulan-bulan tidak bisa pergi melihat dunia luar. Sekedar mengusir kebosanan berkeliling di pusat perbelanjaan saja di batasi. Untuk sekedar jalan santai di sekitar taman dekat rumah saja baru beberapa minggu ini di perbolehkan setelah beberapa kali Raya meminta dan memohon.


Raya paham betul semua Bayu lakukan demi kebaikannya dan buah hatinya.


"Matahari semakin tinggi, lebih baik kita kembali ke rumah sekarang."


Raya mengangguk setuju dengan ajakan seorang wanita paruh baya yang memang di tugaskan Bayu untuk menemaninya dan mengurus semua kebutuhan Raya selama kehamilan.


Namun, di setiap langkah mereka menuju mobil. Orang-orang yang awalnya sibuk dengan urusan masing-masing, mereka berbalik menatap Raya dengan tatapan yang membuat Raya semakin tidak nyaman.


"Apa mereka tidak pernah melihat orang hamil," ucap Raya setengah kesal.


"Jangan pedulikan mereka, Bu. Mereka hanya iri melihat anda sedang hamil seperti ini tapi tetap terlihat cantik."


"Kamu pandai sekali memuji."


Hanya butuh sekitar sepuluh menit dari taman menuju kediaman Raya. Setelah membersihkan tubuhnya, Raya menghabiskan sarapannya seorang diri. Bayu sangat sibuk dalam satu minggu ini.


Ditengah lamunannya terdengar suara bel rumah berbunyi. Raya segera beranjak dari duduknya menuju pintu. Tapi, Raya ingat satu hal dan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu yang masih tertutup.


Rumah ini tidak pernah di kunjungi siapapun kecuali Bayu dan seorang pelayannya. Mereka berdua tidak perlu menekan bel karena kode akses sudah mereka ketahui.


"Siapa?" tanya Raya


Bel rumah kembali berbunyi yang membuat Raya semakin takut. Namun, rasa penasarannya lebih kuat. Raya membuka perlahan pintu rumahnya.


Seketika kilatan cahaya menerpanya. Raya menghalangi cahaya menyilaukan itu dengan jari jemarinya. Sejurus kemudian pertanyaan demi pertanyaan dari tamu tidak di undang itu bermunculan.


"Wah, ini benar rumahnya. Bayu menyembunyikan selingkuhannya di sini."


"Apa benar anda sedang mengandung anak dari Bayu? Atau bayi itu benar darah daging dari Bayu?"


"Apa benar anda juga memiliki hubungan dengan pria lain?"


"Video dan foto yang sedang beredar beberapa jam lalu, apa semua itu benar."


Raya segera berbalik dan berusaha menutup pintu. Namun, mereka berusaha masuk dan mendorong pintu itu sehingga Raya terjatuh terpental ke lantai.


Melihat Raya terjatuh tidak menyurutkan para wartawan untuk mendapat jawaban dari Raya. Raya berusaha mengusir mereka namun tidak di haruskan. Beruntung pelayannya segera tiba dan mengusir mereka semua.


"Ayo, kita ke kamar. Saya akan segera menghubungi Pak Bayu dan melaporkan mereka. Sekarang anda istirahat lebih dulu."


Pelayan itu membantu Raya bangkit. Raya perlahan menaiki tangga dan menuju kamarnya. Raya segera meraih remote televisi di kamarnya.


"Keponakan pengusaha kaya raya berinisial B kembali berulah. Kini diketahui sedang mengandung buah cintanya dengan pria beristri yang tidak lain Pamannya sendiri. Namun, ada rumor mengatakan bahwa dia mengandung anak dari pria lain. Untuk memperkuat rumor itu kami sudah melakukan wawancara eksklusif dengan istri dari pengusaha berinisial B, dia menyatakan bahwa suaminya tidak pernah bisa memberikan keturunan di karena gangguan kesehatan.


Raya tertegun melihat sebuah siaran eksklusif mengenai dirinya, tidak puas dengan itu Raya mengambil ponselnya. Raya membaca berita online yang penuh dengan berita tetang dirinya.


Ponsel Raya berdering ada panggilan dari nomor tidak di kenal. Raya mengangkat panggilan itu.


"Akhirnya, aku tahu dimana kamu menyembunyikan calon anakku. Aku cukup lama menunggu kemunculan mu, aku terpaksa menyebar kisah pribadi kita agar kamu muncul, dan akhirnya aku berhasil."


"Aku tidak mengenalmu. Apa tujuan mu melakukan fitnah ini."


"Hmm... sepertinya kamu lupa malam indah yang kita pernah lalui. Bagaimana untuk mengembalikan ingatanmu, aku akan mengirim sebuah video singkat di mana kita menghabiskan malam yang sangat indah itu, Sayang."


Panggilan itu berakhir. Ponsel Raya kembali berdering sebuah pesan video masuk. Raya dengan tangan gemetar memutar video itu. Raya terduduk lemas di lantai kamarnya.


Raya masih tidak percaya dengan video asusila yang di kirim pria yang tidak dia kenal itu. Raya berusaha mengingat semuanya, namun tidak pernah merasa melakukan itu. Raya kembali mengambil ponselnya dan kembali memperhatikan video itu.


"Dia... pria ini." Raya mulai mengenali pria itu. Raya pernah melihat pria itu di club malam beberapa bulan lalu. Pria bertato sebuah tulisan di lengan kanannya.


"Gia, ya aku harus menghubungi Gia. Dia pasti tahu informasi tentang pria itu."


Raya berulang kali menghubungi Gia. Seorang teman yang bekerja di club dimana dia pernah melihat pria itu.


"Sial! Kenapa nomornya tidak bisa di hubungi."


Ponsel Raya kembali berdering. Pria itu kembali menghubunginya. Raya mengambil remote televisi dan memindah siaran berdasarkan perintah pria itu. Raya terdiam dan meneteskan air matanya.


"Benar, Raya memang setiap malam menemui ku di club, aku sudah melarangnya untuk datang karena sangat tidak pantas wanita sepertinya berteman denganku. Karena Raya sering mengunjungi ku, akhirnya dia berkenalan dengan pria itu dan mereka menjalin hubungan. Tapi, beberapa bulan ini Raya memblokir semua komunikasi dengan ku, aku dapat kabar bahwa dia sedang mengandung dan aku sangat yakin Raya menggunakan kehamilannya itu untuk mengikat pamannya padahal yang dia kandung adalah anak kekasihnya yang bernama Arion."


"Sayang sekali, Raya. Ternyata teman mu sangat berguna untukku. Dia dengan suka rela menjadi saksi kisah kita."


"Aku tidak mengenal mu dan aku sangat yakin tidak pernah terjadi apapun antara kita. Aku hanya melihatmu dari kejauhan. Kau butuh uang? Katakan berapa yang kamu mau dan hentikan. semua omong kosong ini."


"Aku tidak butuh uang, Sayang. Aku hanya butuh dirimu dan anak kita."


"Cukup!" Raya melemparkan ponselnya sehingga terpisah beberapa bagian di lantai.


Raya berusaha menenangkan emosinya dan mengatur napasnya agar tetap tenang. Raya memegangi perut bagian bawahnya yang terasa sangat nyeri. Raya meringis menahan sakit.


"Bu, tenangkan diri anda. Saya sudah menghubungi Bapak. Beliau akan sedikit terlambat karena para awak media terus berusaha menemuinya jadi sangat sulit untuk menuju kesini. Bapak juga sudah meminta dokter untuk segera kesini."


Raya mengangguk lemah dengan wajah meringis menahan sakit yang semakin kuat.


"Kenapa tiba-tiba begini. Ini belum waktunya aku melahirkan," tanya Raya kepada pelayannya.


Setelah lima belas menit menunggu kedatangan dokter. Raya sudah kembali tenang. Rasa sakit di perutnya juga berkurang setelah meminum obat pemberian dokter pribadinya.


"Jika terjadi sesuatu segera hubungi saya lagi. Bahaya jika hal seperti tadi terjadi berulang kali, akibatnya bisa terjadi kelahiran yang terlalu cepat dan akan membahayakan ibu dan bayinya."


Pelayan itu mengangguk mengerti. Wanita itu menarik selimut dan menutupi tubuh Raya yang sudah mulai terlelap.