
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu di ruanganku berhasil menghentikan kegiatan panas kami. Membuat aku dan Bayu seketika saling menatap terkejut dan cemas.
Aku segera memungut piyamaku yang tergeletak di lantai dan mengenakannya. Tatapan kecewa Bayu terpancar jelas di tambah dengan helaan napasnya yang panjang.
Setelah pulang dari luar kota malam tadi, dia langsung menemuiku di cafe dan memilih untuk menginap di sini.
"Siapa yang sepagi ini ingin menemui kamu?"
Aku mengedikan bahu dan kembali merapikan rambutku yang masih setengah kering.
"Cepat pakai bajumu."
"Lihat siapa yang datang. Jika itu karyawanmu, mereka tidak akan masuk ke kamar ini jadi aku tidak perlu sembunyi."
Aku keluar dari kamarku dan menuju pintu masuk.
"Siapa?" tanyaku kepada orang yang berada di balik pintu itu.
"Buka Raya, ini Tante."
"Tante!"
Astaga! Kenapa dia pagi - pagi datang ke sini. Bukankah ini sangat aneh, jangan - jangan dia tahu Bayu bersamaku.
"Raya, buka pintunya."
"Iya, Tante." Teriakku
Kemudian aku berlari ke kamarku dengan cepat.
"Di luar ada Tante Tessa!."
"Apa!?"
"Cepat sembunyi di kamar mandi!"
Aku menyambar pakaian Bayu yang berserakan di lantai dan memberikan padanya. Aku mendorong tubuhnya agar segera sembunyi di kamar mandiku.
Setelah memeriksa kamar tidurku dengan seksama bahwa tidak ada yang mencurigakan, aku segera kembali ke pintu masuk dan membuka pintunya.
"Raya, kamu sedang apa? Kenapa lama sekali buka pintunya."
"Maaf, Tante. Aku baru selesai mandi."
"Oh, Tante pikir kamu belum bangun."
Aku mempersilahkan Tante Tessa masuk. Aku meminta karyawanku untuk memberikan minuman hangat untunya.
"Tante, datang sepagi ini apa ada sesuatu yang ingin Tante bicarakan?"
"Itu karena kamu tidak pulang sudah tiga hari, membuat Tante cemas saja."
"Maaf, Tante." Aku menundukkan kepalaku menunjukkan bahwa aku menyesal telah membuatnya cemas.
"Sebenarnya ada hal penting yang ingin Tante sampaikan. Tante dan Mamanya Javier akan mengadakan party kecil - kecilan di Villa. Jadi kami berdua sepakat supaya kamu dan Javier yang menyiapkan semuanya. Kalian hanya perlu mengurus dekorasi dan makanan saja kok. Kalau susunan acara dan lainya sudah ada yang mengurus."
"Aku sama Javier! Tapi... kenapa harus aku dan Javier? Bahkan Raya tidak punya referensi untuk acara seperti itu, Tante."
Tante Tessa meraih tanganku dan membelainya lembut, "Ini kesempatan bagus supaya kalian semakin dekat. Mamanya sudah setuju jika kamu jadi menantunya, kami hanya tinggal menunggu kalian bilang 'iya' dan kami dengan senang hati meresmikan itu."
Apa lagi yang dia rencanakan. Dia ingin segera menyingkirkan aku dari rumahnya. Batinku.
"Hmm... Sepertinya tante salah paham dengan kedekatan kami. Sejujurnya kami tidak memilik perasaan satu sama lain. Javier tidak tertarik padaku, Tante. Dia hanya menganggap aku sebagai teman biasa tidak lebih begitu juga sebaliknya."
"Aduh, sayang. Javier saja setuju. Jika dia tidak tertarik sama kamu pasti dia sudah menolaknya."
"Tante... Raya tidak ingin pergi bersama Javier. Raya mohon sekali ini saja dengarkan Raya."
Tante Tessa menghela napas panjang. Aku tahu dia paling tidak suka dengan bantahan.
"Sebenarnya kamu ada masalah apa dengan Javier? Bukankah waktu itu kalian sangat dekat."
"Masalahnya Raya tidak memilik perasaan apapun dengan dia."
"Randra mengatakan kepada Tante, jika kalian sudah pernah bertemu sebelumnya dan sangat akrab."
"Itu karena Javier berencana melakukan kerja sama dengan Raya dan semua hanya untuk pekerjaan."
Sampai kapanpun aku menolak permintaannya, akan berakhir sia - sia. Tante Tessa akan terus membujukku dengan kata - katanya.
Akhirnya, aku menyetujui permohonan Tante Tessa. Tiga hari kemudian aku dan Javier akan bertemu untuk meninjau Villa dan merencanakan dekorasi apa yang sesuai dengan lokasinya.
Tantelah yang menghubungi Javier dan langsung mengabarkan padaku kapan waktu kami untuk bertemu.
"Raya, itu kamar kamu?
Tante Tessa menunjuk pintu berwarna coklat yang tertutup rapat tidak jauh dari tempat kami duduk.
"Iya, Tante. Makanya tadi aku lama buka pintunya, soalnya gak terlalu jelas terdengar kalau lagi di kamar."
"Nanti Tante akan meminta Om kamu untuk memasang bel dan kamera CCTV jadi saat ada tamu kamu bisa langsung tahu siapa yang datang."
"Raya rasa tidak perlu, Tante. Raya juga hanya sesekali menginap."
"Tapi kamu akhir - akhir ini malah sering di Cafe. Di saat Om kamu tidak di rumah kamu juga tidak ada."
Aku hanya diam dan melemparkan senyum padanya.
"Tante, mau lihat kamar kamu boleh, ya."
"Jangan!" teriakku seketika membuat Tante Tessa terkejut.
"Maaf, Tante. Kamar Ray sangat tidak rapi dan tempat tidur belum Raya bersihkan."
Tante Tessa melepaskan genggamannya di handle pintu. Aku segera berdiri di depan pintu kamarku, menghalanginya agar tidak masuk.
"Tante, mau lihat saja kok. Masak gak boleh sih."
"Oh, ok! Tante boleh masuk ke kamarku!" ucapku setengah berteriak agar Bayu mendengar dan tetap dalam persembunyiannya.
Tante Tessa merasa sedikit heran pada tingkahku. Namun, dia mengabaikannya dan kembali menunggu aku membukan pintu
Selain tempat tidurku yang kusut dan selimut yang berada di lantai, semuanya terlihat rapi dan ada pada tempatnya.
"Nyaman juga kamar kamu, Ray. Pantes kamu betah."
Aku menjawab dengan senyuman. Kemudian mengambil selimut dan meletakkan di atas ranjang
Tante Tessa duduk di tepian ranjang. Dia memintaku untuk duduk di sampingnya.
Wajahnya berubah menjadi sendu. Dia menggenggam tanganku, lalu setetes bulir bening menetes di punggung tangannya.
"Tante, kenapa menangis?"
Dia hanya diam dan semakin terisak. Aku mencoba menenangkannya.
"Om... om kamu berubah," ucapnya lirih
"Kenapa dengan Om Bayu?"
"Sepertinya dia punya wanita lain."
Aku menarik tanganku dari genggamannya. "Tante, tahu dari mana?" tanyaku penuh penasaran
"Walaupun tidak ada bukti tapi Tante bisa merasakannya. Dia perlahan berubah bersikap dingin dan lebih banyak diam saat bersama Tante."
Ucapan syukur aku panjatkan. Aku sempat berpikir Tante pernah melihat atau mendapatkan bukti perselingkuhan kami.
"Itu hanya perasaan Tante saja. Om Bayu tidak mungkin melakukan itu."
"Seandainya dia memang selingkuh. Tante tidak bisa mengungkapkan itu, semua akan tetap Tante simpan dengan rapat. Tante takut menanyakan kecurigaan ini padanya lalu dia akan meninggalkan Tante."
"Jika itu benar terjadi. Apa yang akan Tante lakukan pada Om Bayu?"
"Tidak ada yang perlu Tante lakukan karena Bayu akan menyingkirkan wanita dengan tangannya sendiri."
Aku mengerutkan dahi. Masih mencerna perkataanya. Bagaimana dia bisa seyakin itu pada Bayu.
"Pasti kamu bingungkan?"
Aku mengangguk dan menatapnya meminta jawaban.
"Prioritas kami adalah pandangan yang bagus dan sempurna di mata orang lain.
Bukankah lebih baik membuang kotoran dari pada membawanya."
Aku menelan ludah, membasahi tenggorokanku yang tiba - tiba mengering.
"Bayu bisa saja saat ini hanya ingin bersenang-senang dengan wanita itu. Tapi, sampai kapanpun Bayu tidak mungkin bisa melepaskan Tante. Begitu juga dengan Tante, sekuat apapun kami ingin berpisah tapi akan berpikir berulang kali demi keuntungan bersama. Tapi, tante tetap manusia yang sakit hati dan kecewa saat di khianati."
Aku kembali ke kamarku setelah mengantar ke pergian Tante Tessa yang sebelumnya aku berikan ciuman pipi kiri dan kanannya tidak lupa juga menyunggingkan senyuman palsuku.
Bayu menghampiriku. Dia memelukku dan mengecup pundakku lembut.
"Apa kau akan membuangku seperti kotoran?"
"Sudah berapa kali aku katakan, jangan mendengar apa yang Tessa ucapkan."
Aku melepaskan pelukannya dan menepis tangannya yang hendak meraih pinggangku.
"Kenapa kamu selalu berkata seperti itu. Kenapa tidak katakan 'Aku tidak seperti yang dia katakan' atau 'Aku akan terus bersama kamu apapun yang terjadi', katakan itu sekali saja walaupun hanya ke bohongan. Aku akan mempercayainya sampai kapanpun!"
"Raya, bukan begitu maksudku. Untuk saat ini aku tidak ingin memberikan janji apapun padamu. Aku tidak ingin kamu semakin putus asa dengan hubungan ini."
"Pergilah. Kembali ke rumahmu!"
Bayu beranjak dari kamarku dan aku segera mengunci pintu itu rapat - rapat.
Aku mencintainya dengan ketulusan dan kebodohan. Aku bahkan tidak berharap lebih untuk memiliknya hanya untuk diriku sendiri.
Sakit. Sangat sakit saat aku tidak mendapat jawaban yang pasti.
Siapa yang ingin terjebak dalam hal seperti ini. Jika aku bisa memilih pada siapa aku jatuh cinta, tentunya tidak akan sesakit sekarang.
Aku mengambil minuman di lemari pendingin. Meneguknya sampai habis. Memang terlalu awal untuk mabuk, tapi hanya ini yang bisa aku lakukan.
Hah! Sejak kapan semuanya berjalan sesuai keinginanku. Tidak ada. Tidak ada satupun di kehidupanku yang berjalan sesuai dengan keinginanku.
Dulu saat di panti asuhan aku selalu memimpiankan memiliki keluarga yang menyayangiku, menjadi anak tunggal dari keluarga kaya. Aku bisa mendapatkan semuanya hanya dengan sedikit merengek dan tatapan memelas. Kemudian, aku mendapatkannya tapi satu persatu hilang dan kembali pada titik terendahku.
Bahkan aku hidup bersama wanita gila yang sebelumnya aku sebut 'Mama'. Dia memperlakukan aku seperti binatang.
Setelah dia meninggal aku bermimpi lagi untuk bertemu dengan pria yang mencintaiku dan juga sebaliknya, memiliki putra atau putri yang lucu dan bahagia selamanya.
Tapi aku berakhir dengan menjadi simpanan pria beristri. Lalu apa yang akan terjadi. Aku terlalu terbuai dan terlalu percaya bahwa semua akan baik - baik saja.
Aku hanya perlu menunggu dimana titik terendahku saat ini dan akhir dari kisahku
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Jangan lupa 👍❤️ Vote & Coment
Follow IG Author: @hanania442
\===