
Raya dan Defin masih saling terdiam menatap langit malam.
"Indah bukan," tanya Defin
"Hanya ada kegelapan yang aku lihat."
"Jika kamu melihat satu bintang setelah beberapa saat akan terlihat juga bintang - bintang di sekitarnya."
Memang benar yang di katakan Defin saat Raya memandang satu bintang dengan seksama, satu persatu bintang yang lain terlihat.
"Kamu ingin minum?"
Defin menyodorkan minuman pada Raya.
"Ide bagus," ucap Raya lalu meminum sampai habis.
"Bayu tidak menjadikan kamu anak adopsinya, karena sedang mempersiapkan kamu jadi senjatanya untuk melindungi dirinya."
"Aku tidak masalah dengan itu. Lagi pula Randra memang lebih layak untuk jadi putranya, dia memiliki prestasi yang bagus, mudah bergaul dan selalu optimis. Berbeda denganku yang lebih menyenangi sebuah aksi yang nyata aku tidak bisa berpura-pura hanya untuk membuat orang menyukaiku. Randra lebih pantas jadi wajah penerusnya."
"Dia sudah punya Randra yang bisa meneruskan perusahaannya. Tapi, dia belum memiliki orang yang mau mengorban nyawa untuk dirinya."
"Satu hal yang aku suka dari pekerjaanku."
"Apa?"
"Semuanya ada dalam kendaliku. Tuan Bayu memeberikan akses penuh padaku. Mendapatkan kepercayaan adalah kebahagian terbesarku. Mengetahui apa yang orang lain tidak tahu, kelemahan dan kekuatan setiap orang dalam genggamanku."
Raya tersenyum miring, "Menjadi raja di balik tirai?"
"Bisa di katakan begitu. Aku baru tahu apa yang sebenarnya aku inginkan saat berada di posisi ini. Bukan kekayaan dan hidup mewah, aku mendambagakan kekuasaan."
"Kamu tidak takut aku mengatakan ini pada Bayu? Karena obsesi itu kau bisa menjadi ancaman bagi Bayu. Kamu tahukan dia sekarang sedang ada di pelukanku."
Raya menatap Defin. Defin bangkit lalu mendekati Raya. Berbisik lembut di telinga Raya.
"Jika kau sangat ingin mengatakannya, mari kita coba. Siapa yang akan dia pilih. Aku atau kau!"
"Ck! Tentu saja aku yang akan kalah. Dia akan membuangku saat sudah bosan. Dia hanya menjadikan aku pelampiasan," ucapan Raya melemah saat kata terakhir.
Pria berusia 29 tahun itu tertawa mendengar Raya sudah menyerah. "Apa perlu aku beritahu cara untuk menguasainya?"
"Jadi kau berpikir aku ingin menguasai Bayu? Aku rasa informasi yang kau dapatkan itu keliru. Aku bahkan tidak punya alasan untuk menguasai siapapun."
"Kepuasan! Kau akan mendapatkan kepuasan karena sudah menghancurkan keluarga yang sudah menorehkan trauma mendalam dalam dirimu."
Raya menatap tajam Defin. Senyuman licik tergores di bibir Defin.
"Aku pikir kau selama ini tidak tertarik untuk mengawasiku. Tapi, ternyata aku salah. Kau berhasil membuatku terkejut dan sepertinya banyak hal tentangku sudah kau ketahui."
"Tidak banyak tapi memang cukup mengejutkan. Aku sempat berpikir kamu wanita yang mendapatkan apapun dengan mudah. Kasih sayang melimpah dari orang tuamu manjadi anak tunggal dari seorang pengusaha kaya raya. Menjadi pewaris tunggal setelah Mamamu meninggal."
"Masih pantaskah dia disebut seorang Ibu. Dia bahkan sangat membenciku."
"Dia sudah pergi dan kau sudah mendapatkan semuanya. Lalu untuk apa membawa Bayu ke atas ranjangmu? Kau ingin menghancurkan Tessa?"
Raya tertawa terbahak dan tawa itu berubah menjadi suara isak tangis.
"Aku... aku mencintainya."
"Cinta?!" Defin menertawakan Raya tanpa henti.
"Saat ini kau hanya tidak memahami apa yang sebenarnya menjadi ke inginanmu."
Raya mengusap air matanya dan meminum kembali minuman beralkohol itu sampai habis.
"Aku pernah memohon pada Tessa untuk membawaku bersamanya, aku menangis menceritakan semua perlakuan buruk yang aku dapatkan. Aku bahkan membuka seluruh bajuku menunjukkan luka - luka di tubuhku padanya. Kamu tahu apa yang dia katakan... "
Defin meneguk minumannya lalu melemparkan kaleng kosong itu ke tanah, suara benturan itu memcah keheningan malam.
"Dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya lalu berkata setengah berbisik 'Raya Mamamu memberikan hukuman karena kamu bersalah, dia menyayangimu' aku memohon di kakinya agar dia segera membawa aku pergi tapi dia tidak melakukan apapun."
"Kenapa kamu tidak melaporkan Mamamu pada polisi?"
"Saat aku masih menjadi siswi sekolah menengah pertama. Ada seorang guru yang melihat bekas pukulan di tanganku dia memaksaku untuk bicara dan dia bersedia mendampingiku untuk melaporkan perbuatan mama tapi semua sia - sia.
Mereka telah di bungkam dengan uang, Mama meyakinkan mereka bahwa akulah yang bersalah. Setelah kejadian itu Mama memukulku di tempat yang tidak terlihat."
"Tapi kenapa Tessa tidak menghentikan perbuatan Mamamu?"
"Karena dia tahu Mama mengalami gangguan jiwa setelah kematian Papa. Dia paham betul jika bicara dengan orang gila tidak akan ada gunanya."
Raya menghela napas lalu dia mengambil botol minuman yang ada di genggaman Defin. Raya meringis saat minuman itu tumpah di rongga mulutnya.
"Jangan minum itu, kamu bisa tidak sadarkan sampai besok." Defin mengambil minuman itu tapi Raya mengambil kembali dan meneguknya.
"Hari dimana aku mendapatkan kemerdekaan yang aku impikan saat aku lulus SMA, aku menemukan wanita gila itu tergantung kaku di kamarku."
"Ironis sekali jalan yang dia pilih," sahut Defin
"Aku mengutuknya mencaci maki jasadnya di hadapanku. Tapi, aku merasakan kekosongan di hatiku saat melihat ada bekas air mata yang mengalir di pipinya. Aku mengingat kembali saat - saat dia masih menyayangiku menjadikan aku anak kesayangannya. Aku memeluk kakinya menangis agar dia tidak meninggalkan aku."
"Kamu tidak senang dia pergi begitu mudah?"
"Aku takut karena kehilangan satu - satunya orang yang menjadi keluargaku. Namun, kesedihan yang aku alami hilang saat menemukan sebuah pena di lantai yang bertuliskan perusahaan Bayu. Bukankah sangat aneh, itu kamarku dan aku tahu semua barang - barang miliku jelas sekali pena itu tidak pernah aku miliki."
"Kamu berpikir Tuan Bayu yang melakukan itu pada Mamamu?"
"Aku menolak untuk berprasangka seperti itu. Setelah beberapa bulan Mama meninggal aku memberanikan diri menemui Bayu dan memeberikan pena itu padanya. Dia hanya tersenyum dan berkata 'aku sudah membebaskan kamu dari penderitaan maka hiduplah dengan bahagia' sudah jelas bukan, bahwa Mama tidak bunuh diri tapi sengaja di bunuh."
Defin tersenyum simpul dan meneguk minumannya.
"Mulai saat itu aku mengagumi dia dalam diam, aku menginginkan dia menjadi milikku bahkan aku memimpikan aktivitas erotis bersamanya."
"Aku pikir selama ini sudah menjadi orang yang mengetahui semuanya tentang Tuan Bayu tapi ternyata kamu menyimpan rahasia besar yang aku tidak tahu."
"Aku terkadang merasa takut padanya, kadang aku membencinya karena sudah membunuh Mama tapi terkadang aku berterima kasih karena dia melakukan itu...."
Raya memegang kepalanya yang mulai terasa berputar. Raya kembali berbaring.
Pandangannya terasa kabur beberapa kali dia mengerjabkan matanya. Perlahan Raya merasakan ada sentuhan di bibirnya. Defin menyetuh bibir Raya.
"Kau ingin tidur denganku?" Raya tersenyum menggoda Defin.
"Jika saja kau bukan boneka Tuan Bayu, mungkin saja aku sudah menerkammu sekarang."
Defin berbaring di samping Raya. Raya sudah setengah sadar saat Defin menarik Raya dalam pelukannya.
"Tidurlah lupakan semua kejadian hari ini yang sudah membuat dadamu sesak," ucap Defin lirih
Hangat. Itu yang pertama Raya rasakan saat Defin mendekap tubuhnya. Raya ingin mendorongnya agar pergi tapi rasa nyaman membuatnya terlena dan tertidur.
Pukul 10.40 Raya bangun karena sinar matahari terasa membakar kulitnya. Raya bagnkit dan mengusap wajahnya. Melihat sekeliling dia masih di tempat yang sama.
"Kamu biarkan aku tidur di atas kap mobil semalaman. Sungguh tidak berperasaan."
"Berhenti mengeluh dan pikirkan alasan untuk di berikan pada Tuan Bayu karena kamu tidak pulang semalaman."
"Aku tinggal bilang tidur denganmu semalam. Bukankah dia sangat percaya padamu, menurutmu jika aku berkata seperti itu apakah dia masih percaya padamu?"
"Terserah kau saja." Defin tahu Raya tidak mungkin melakukan itu.
Raya berjalan perlahan masuk ke rumah Bayu sedangkan Defin kembali ke paviliun yang berada di belakang rumah utama tempat tinggal khusus pekerja di rumah itu.
Saat di ambang pintu Raya melihat Bayu dan Tessa sedang berbincang - bicang di ruang tengah.
"Kamu coba cake buatanku, ya. Pasti enak, aku buat khusus untuk kamu."
Tessa menyuapkan sepotong cake coklat pada Bayu. Bayu memakan cake itu.
"Lumayan. Tapi terlalu manis, lain kali kurangi gulanya."
"Tidakkah kamu berniat berbogong saja. Hanya perlu mengatakan cake buatanku enak." Tessa mengerucutkan bibirnya kecewa.
Bayu membujuknya dengan pujian dan mencium pipi istrinya dengan mesra.
Raya menarik napas panjang dan melewati mereka tanpa ingin melihat ini lebih lama lagi. Terasa jengah melihat sandiwara Bayu.
"Raya," panggil Bayu saat melihat Raya berlalu di hadapanya.
"Raya, kamu sudah pulang. Darimana kamu semalaman? Tante tanya ke Intan ternyata kamu tidak ada di cafe. Kamu darimana saja." Tanya Tessa seraya melangkah mendekat kearahnya.
"Bukan urusanmu!" Raya membalikan tubuhnya lalu melangkah ingin meninggalkan Tessa.
Namun, Bayu menarik lengan Raya untuk menghentikan langkahnya. Tercium bau alkohol yang menyengat dari Raya.
"Jaga ucapanmu, walaupun kamu sedang mabuk!"
"Lepas!" Raya meronta ingin melepaskan genggaman Bayu di lengannya. Tessa menghampiri mereka mencoba menenangkan suaminya.
"Sudahlah. Biarkan Raya istirahat dulu dia baru saja pulang." Walaupun Tesss terus berusaha menenangkan Bayu dia masih saja lenggan melepaskan Raya.
"Aku memang tidak bisa menjaga sikapku aku harus banyak belajar darimu untuk menjadi orang yang munafik!"
Plakkk....
Sebuah tamparan mendarat di pipi Raya. Seketika telinga Raya terasa tuli beberapa saat. Raya merasakan ada rasa asin di indra perasanya. Raya menyentuh pinggir bibirnya. Ada bercak darah di sana.
"Terima kasih atas sambutannya, Om." Raya tersenyum miring lalu meninggalkan Bayu yang masih terpaku.
"Bayu! Apa yang baru saja kamu lakukan!?"
Bayu tersadar saat Tessa memanggil namanya dan mengguncang tubuhnya berulang kali.
"Kamu harus bersikap waras saat menghadapi dia, mental Raya belum sembuh total."
"Ra... Raya," panggil Bayu lirih
Kemudian mengejar Raya. Mengetuk pintu kamar Raya berulang kali. Tetapi, Raya tidak juga ingin membuka pintu itu.
Tessa menghampiri Bayu yang masih berdiri di depan pintu kamar Raya. Membawa suaminya pergi agar memberikan waktu untuk Raya sendiri.
Sementara itu Raya sedang di kamar mandi memuntahkan semua isi perutnya, rasa mual yang dia rasakan tidak tertahan lagi. Kepalanya sangat sakit dan berputar.
Aku terlalu banyak minum tadi malam. Tapi, kenapa efeknya begitu kuat, jangan - jangan Defin menaruh sesuatu di minuman itu. Tapi, dia juga minum di botol yang sama denganku dan dia baik - baik saja.
Raya membasuh wajahnya lalu mengeringkan dengan handuk. Raya berjalan gontai ke ranjangnya.
Bahkan untuk menangis saja sudah tidak bisa. Raya mengingat lagi kejadian beberapa menit lalu.
"Dia sama saja tidak ada bedanya," gumam Raya
Tamparan itu memang sakit tapi hatinya lebih sakit. Melihat Bayu bermesraan dengan Tantenya saja sudah pukulan berat yang harus dia terima. Kini dia harus menerima tamparan dari orang yang dia cintai.
Satu minggu sudah berlalu. Raya masih tetap tidak ingin bicara dengan Bayu ataupun Tessa.
Dia biarkan jendela kamarnya terbuka, dan menggunakan lampu redup di kamarnya. Raya memandang kegelapan malam di luar sana dengan tatapan kosong. Seperti hatinya yang sekarang hancur berkeping - keping.
Suara gemercik kunci terdengar di luar pintu kamarnya. Bayu masuk ke kamar Raya. Dia duduk di tepian ranjang membelai rambut Raya dan berhenti di sudut bibir Raya yang masih ada sedikit luka dan memar.
"Maaf," ucapnya lirih
"Kembalilah ke kamarmu."
"Aku ingin di sini."
"Sepertinya aku tahu alasanmu menemuiku."
Raya bangkit dari ranjang dan melepaskan piyama yang menutupi tubuhnya.
"Kau menginginkan tubuhku, bukan. Lakukan dengan cepat lalu kembali ke kamar dan berpura - pura tidak terjadi apapun malam ini."
"Apa yang kamu lakukan?"
"Sudahlah jangan berusaha menahan hasratmu." Raya menangkup wajah Bayu dan mencium bibirnya.
"Raya!" Bayu mendorong tubuh Raya, "Aku ingin minta maaf soal kejadian beberapa hari lalu, aku tidak bermaksud menyakitimu."
Raya menarik Bayu dan kembali mencium bibirnya.
"Raya, cukup! Aku hanya ingin kamu memahamiku dan kita bisa menjalani ini seperti sebelumnya. Jangan acuhkan aku lagi."
"Menjalani semua seperti biasa? Bisa kamu jelaskan maksud dari perkataanmu itu? Setahuku setiap harinya kamu menemuiku diam - diam tengah malam setelah istrimu tidur lalu kamu meniduriku dan kembali pada istrimu."
"Kamu menilai dirimu seperti itu. Apa kamu tidak mempunyai harga diri?"
"Apa aku punya harga diri di matamu? Siapa yang merebut harga diri itu dariku?"
Raya duduk di pangkuan Bayu dan kembali menciumi tubuh Bayu.
"Hentikan! Seharusnya aku tidak menemui dulu."
Bayu melepaskan pelukan Raya dan beranjak dari ranjang. Saat akan membuka pintu langkahnya terhenti saat mendengar suara isak tangis Raya. Hatinya seakan sakit mendengar Raya menangis.
Bayu kembali kepada Raya. Dia memeluk Raya dengan erat. Raya masih dia ada rasa sesak yang menyeruak di dalam dadanya. Rasa itu begitu menyakitkan hingga membuat kedua bola matanya berkaca-kaca dan tangisan Raya pecah di pelukan Bayu.
"Maaf karena sudah membuatmu putus asa, Raya. Maaf juga karena perbuatanku kau mendapat hinaan dari Javier."
"Jangan lakukan apapun padanya. Aku sudah mengatasi Javier. Dia tidak akan pernah mau bertemu dengan aku lagi."
Defin menceritakan semua kejadian yang di alami Raya di pesta malam itu. Sebenarnya dia ingin tetap bungkam, hanya saja saat tahu pertengkaran Bayu dan Raya membuatnya harus bertindak dan memberitahu apa saja yang sudah di lewatkan oleh Bayu.
Tentu saja hal itu berhasil membuat mereka berdua berbaikan dengan begitu Defin tidak di repotkan oleh sikap Bosnya yang berubah menjadi pemarah sejak bertengkar dengan Raya.