
"Raya, ada yang menunggu kamu di bawah," ucap Intan yang tiba-tiba membuka pintu ruanganku.
"Siapa?" tanyaku sambil memasukkan potongan apel ke mulut.
"Seorang pria, bertubuh tinggi dan tampan pula. Orang yang kamu tunggu-tunggu pastinya."
"Aku tanya namanya bukan ciri-cirinya."
"Lihat saja sendiri." Intan menjulurkan lidahnya meledek ku yang kesal karena tingkahnya.
"Baiklah, sebentar lagi aku turun."
"Jangan lama-lama. Kamu tahukan jam segini cafe kita banyak pengunjung anak-anak muda. Nanti dia di culik." Intan mengerlingkan matanya kepada ku.
Aku tertawa melihat tingkah lakunya. Dan Intan juga berhasil membuat aku penasaran dan ingin segera menemui tamunya itu.
Siapa yang Intan maksud. Jika orang itu Bayu, pasti Intan langsung bilang saja. Akhir-akhir ini aku juga tidak mendapat kabar jika ada kenalan yang akan berkunjung.
Aku mengambil satu lembar tisu untuk membersihkan tanganku. Kemudian kembali merapikan riasan wajah dan membubuhkan kembali lipstik yang mulai pudar.
Saat sampai di lantai dasar, aku mencari-cari orang yang sesuai dengan penuturan Intan. Aku melihat sekeliling, sepertinya tidak ada yang sedang menungguku.
Aku berbalik ingin menanyakan pada Intan dimana pria yang dia maksud. Tiba-tiba ada suara pria memanggil namaku.
"Raya." Suara itu berasal dari sebelah kanan pojok, terhalang hiasan ruangan. Pria itu melambaikan tangannya ke arahku.
"Javier?" tanyaku ragu
"Hai... "
Dia tersenyum manis padaku. Siapa saja akan meleh saat melihat senyuman itu. Untuk sesaat jantungku berdenyut.
"Ya, ampun. Apa yang baru saja aku pikirkan, jangan sampai aku merusak hubungan Javier dan kekasihnya," gumamku.
Dia mengatakan kebetulan lewat dan ingat bahwa memiliki janji padaku untuk mencoba makanan di sini. Aku menyambut baik, Javier memberikan beberapa kritik dan saran yang sangat membangun.
"Oh ya, pacar kamu kenapa tidak ikut?"
"Pacar? Siapa?"
Yang benar saja, dia pura-pura lupa atau sedang bercanda.
Javier tertawa setelahnya, "Dia bukan pacar, kok. Dia hanya teman."
Tetapi saat kami bertemu di bioskop. Sikap wanita itu tidak mencerminkan seorang teman. Wanita itu terlihat lebih over protektif dan tidak senang dengan pertemuan tidak terduga itu.
"Tapi, aku rasa dia menganggap kamu lebih dari seorang teman."
"Benarkah? Aku tidak tahu soal itu."
"Ya, kaum pria memang memiliki kepekaan yang rendah. Wajar saja jika kau tidak memahami itu."
"Aku akan peduli jika itu hal yang ku sukai."
"Hmm... jadi Siska tidak masuk dalam 'kepedulian' mu?"
Javier menjawab pertanyaan Raya hanya dengan senyuman. Tersirat bahwa Javier tidak ingin melanjutkan pembicaraan tentang wanita itu.
"Kamu, ada waktu malam ini?"
"Untuk?" tanyaku spontan
"Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat. Kamu juga bisa cari referensi menu di sana."
"Apa aku harus mengatakan 'iya'?"
"Tentu karena ini perjalanan bisnis. Seperti kesepakatan awal kita jika dalam tiga bulan ini prospeknya bagus aku akan menanamkan modal pada cafe ini."
Benar juga yang dikatakan Javier. Aku memang sedang ingin menambahkan menu baru saat ini. Jika aku berhasil meyakinkan Javier menanamkan modal itu juga semakin bagus.
"Bagaimana? Kamu tidak keberatan, kan?"
"Karena aku memang sedang mencari menu baru, sepertinya itu ide bagus."
"Ok, aku jemput jam tujuh. Hanya sedikit info aku tidak akan terlambat."
"Tentu, aku juga orang yang tepat waktu."
Javier menggenggam jari-jemariku. Seraya tersenyum penuh arti. Kemudian dia pamit untuk kembali ke Rumah Sakit tempat dia bekerja, karena jam istirahatnya hanya satu jam.
"HM!... " Intan berdehem keras di sampingku
"Apa yang kamu pikirkan?" tanyaku kepada Intan karena aku paham apa yang akan dia katakan.
"Aku dan Javier hanya sebatas teman tidak lebih. Dia mengajak makan malam hanya untuk mencari referensi menu."
"Apa? Makan malam untuk mencari referensi menu? Aku yakin itu cuma alasan dia saja, supaya kamu menerima ajakannya."
“Hmm... setidaknya aku bisa makan gratis malam ini. Dia juga akan menjadi rekan bisnis kita jika dalam tiga bulan ke depan prospeknya bagus.”
“Terima saja cintanya dan dia tidak akan peduli tentang prospeknya. Maka, dia akan melakukan apapun untuk kamu.”
Intan terus menertawakan aku. Bahkan dia melarangku bekerja. Menurutnya hari ini aku harus ke salon dan melakukan perawatan dadakan. Agar terlihat berbeda nanti malam dan Javier akan terpukau saat melihatku.
Namun, aku memilih untuk tidak terlalu berlebihan. Aku memilih menggunakan baju kaos polos dan celana jeans. Begitu juga dengan Javier yang berpakaian santai.
“Untung saja aku tidak memakai dres seperti anjuran Intan, bisa-bisa aku malu sendiri,” gumamku saat melihat Javier keluar dari mobilnya.
Aku dan Javier makan malam di sebuah restouran di tepi pantai. Semilir angin menerpa tubuhku. Deburan ombak sesekali terdengar.
“Ini tempat yang kamu ceritakan siang tadi?”
Javier mengangguk.
“Aku sudah pesan menu andalan di sini, nanti kamu coba dan mungkin kamu akan mendapatkan menu baru.”
“Suasananya bagus sekali, ya.”
“Kamu suka pantai?”
“Tidak juga, aku lebih suka pegunungan.”
Javier tersenyum tipis padaku sambil menganggukan kepalanya.
“Tapi, pantai tidak buruk juga,” ucapku mencegah kekecewaan Javier karena sudah merasa salah memilih tempat.
Setelah lima belas menit menunggu, makanan yang kami pesan telah terhidang. Makanan di sini di dominasi hidangan laut. Jauh dari ekspetasiku, seorang dokter sepertinya lebih suka makanan seperti ini.
“Aku berpikir kamu tidak akan makan, makanan seperti ini. Aku mengira kamu makan segala hal yang sehat dan mempertimbangkan kandungan gizi dan semacamnya dalam sebuah makanan.”
“Dokter juga manusia, pada dasarnya manusia itu memakan segala.”
“Ah, benar juga. Aku sampai lupa konsep dasarnya.”
Kami tertawa bersamaan, Javier berhasil membuat malamku berbeda. kehadiran Javier membuat hatiku yang tidak menentu menjadi sedikit terhibur.
Setelah selesai makan malam, kami masih menikmati suasana pantai. Cukup ramai pengunjung di sini, yang didominasi oleh pasangan muda tentunya. Ada yang sekedar bercengkram dan ada juga para muda-mudi yang berkumpul di tepi pantai sambil bernyanyi dan memainkan alat musik.
“Kita jangan langsung pulang, ya?” cetus Javier
Untuk beberapa saat kami terhanyut ke dalam lamunan masing-masing.
“Apa ada seseorang yang kamu tunggu?”
“Tidak, aku hanya ingin menikmati suasana ini denganmu.”
“Hanya aku?”
“Lalu, apakah kamu melihat aku membawa orang lain selain kamu sekarang?”
“Siska. Wanita yang kamu anggap teman itu.”
“Sukses dan mampan tidak memiliki kekasih? Pasti ada yang salah.”
“Aku hanya menunggu orang yang menurutku tepat. Jadi tidak terlalu memikirkan hal seperti itu.”
“Di tempat kerja kamu pasti banyak wanita-wanita cantik. Pasti mereka mudah jatuh hati sama kamu.”
“Kalau kamu, gimana?”
“A... aku?”
“Iya, apakah kamu tertarik padaku?”
Aku terdiam mendengar pertanyaan yang di lontarkan Javier. Aku bukan wanita bodoh yang tidak paham maksud dari pertanyaan itu. Namun, satu hal yang pasti. Aku merasa tidak pantas untuk Javier yang terlalu sempurna di mataku.
“Javier, sepertinya aku harus pulang sekarang.”
“Baiklah, kita pulang sekarang.”
Dalam perjalanan pulang kami saling terdiam. Aku bingung harus memulai darimana untuk menolak Javier. Apakah aku harus segera mengatkan keputusanku atau menganggap semuanya tidak pernah terjadi.
“Kita sudah sampai,” ucap Javier yang membuyarkan lamunanku.
“Terima kasih Javier, makanan di sana tadi enak sekali. Dan... sepertinya aku tidak bisa menerima perasaan kamu, aku....”
“Kamu tidak perlu menjawab malam ini. Aku akan memberikan waktu untuk berpikir. Aku sadar ini terlalu cepat dan tiba-tiba, pasti kamu sedang bingung.”
Aku menyetujui permintaanya. Mungkin terlalu kejam jika, aku menolak begitu cepat.
“Bu, diatas sedang ada tamu.”
“Tamu? Malam-malam begini?”
Aku kembali memastikan, melihat kembali jam di tangan kiriku. Ini sudah pukul 11 malam.
“Saya sudah bilang, supaya pria itu menunggu ibu dibawah tapi dia memaksa menunggu di ruang kerja.”
“Ya sudah, kamu lanjut kerja saja. Setelah selesai kamu langsung pulang saja.”
Para pengunjung cafe memang sudah tidak ada, hanya beberapa karyawan yang membersihkan meja dan lantai. Setelah itu mereka akan segera pulang ke rumah masing-masing.
Aku segera menaiki tangga untuk memastika siapa tamu yang mereka maksud.
“Untuk apa jam segini kamu datang ke cafe?” tanyaku saat melihat Bayu sudah berbaring di tempat tidurku
“Kenapa? Apa aku mengganggu kencanmu? Tidakkan.”
“Aku tidak mau karyawan cafe curiga. Satu hal lagi aku makan malam bersama Javier untuk mencari referensi menu saja.”
“Aku hanya ingin bertemu denganmu, Raya.”
“Aku mau istirahat, kamu pulang saja ke rumah.”
Aku berbaring diranjang tepat di sampingnya. Dia memelukku dari belakang, mencium pundakku dengan lembut.
“Aku menginginkan kamu malam ini.”
Aku memejamkan mataku, berharap dia percaya bahwa aku sudah tertidur. Tetapi semuanya gagal saat pertahananku runtuh karena perlakuannya.
Malam yang panjang kami lalui bersama. Aku bahkan berusaha dengan keras menahan desahan agar tidak terdengar sampai ke bawah. Aku meminta Bayu untuk mengunci pintu kamar terlebih dahalu. Tapi, dia enggan melepaskan penyatuan kami, ada rasa cemburu di setiap sentuhannya padaku.
🌟🌟🌟
Sinar mentari menembus melalui jendela. Raya mengusap matanya menajamkan penglihatan.
Aroma wangi sabun menyeruak kamarnya, saat Bayu menghampiri dan mencium kening lembut.
Raya tergoda dengan bentuk tubuh atletis Bayu. Tidak heran walaupun sudah berkepala empat masih tetap terlihat seperti pria muda pada umumnya.
“Pagi, sayang.”
“Jam berapa sekarang?”
“Jam tujuh,” jawab Bayu yang sedang mengenakan pakaiannya.
“Kenapa tidur di sini. Bisa bahaya kalau sampai Intan lihat.”
“Jadi, kamu ingin aku pergi begitu saja. Begitukah yang kamu mau?”
“Awas saja kalau kamu begitu.”
Raya beranjak dari ranjang dan membantu Bayu memasang dasinya. Bayu membelai rambut Raya.
“Kita menikah saja, bagaimana?” tanya Bayu
“Aku tidak mau jadi istri kedua.”
“Tidak kamu akan jadi istriku satu-satunya.”
Raya tersenyum. Lalu kembali fokus merapikan dasi Bayu.
“Kamu tidak percaya?”
Bayu menarik Raya ke dalam pelukannya. Mencium kening Raya.
“Sudah pergi sana, aku mau mandi.” Raya mengabaikan pertanyaan Bayu. Raya tidak ingin membahas hal seperti itu terlalu jauh, bagi Raya membicarakan hal yang tidak mungkin itu akan semakin menyakiti hatinya dan harapannya akan semakin besar.
Harapan untuk menuntut status pada Bayu yang dia takutkan. Biarlah untuk saat ini, dia hanya mendapat status sebagai wanita simpanan Bayu.
“Baiklah, nanti sore kita pulang ke rumah. Batas waktu kamu menginap di sini sudah habis.”
Raya mengantar Bayu sampai ke pintu ruang kerjanya. Raya juga berpesan jika ada yang bertanya, Bayu harus menjawab bahwa dia baru saja datang dan tidak menginap di sini semalam.
Setelah Bayu pergi Raya segera membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk sarapan.
“Dimana ponselku. Terakhir aku memegangnya ketika di pantai bersama Javier. Apa aku meninggalkannya disana.”
Raya segera menuruni tangga, mencari-cari handphonenya, Raya berharap handphonenya masih di sekitar dan tidak hilang. Dia menyapukan pandangannya keseluruh penjuru cafe. Tetapi, tidak di temukan juga.
“Bu, sedang cari apa?” tanya salah satu karyawan
“Kamu ada lihat handphone saya?”
“Sebentar Bu, saya tanya sama yang lain.” Karyawan itu pergi menanyakan pada temannya. Kemudian, dia kembali bersama salah satu karyawan yang menyabutku tadi malam.
“Bu, ini Handphonenya.”
Raya menghembuskan napas lega karena handphonenya di tangan orang yang tepat.
“Untung saja, jatuh di cafe” ucap Raya mengelus-elus dadanya, bersyukur.
“Handphone ini ketinggalan di mobil teman Ibu tadi malam. Jadi dia menitipkannya pada saya."
“Javier?”
“Iya, Bu. Tadi malam Mas Javier sudah naik keatas tapi dia bilang Ibu sudah tidur. Jadi, di titipin ke saya.”
“Kamu yakin dia naik ke atas?”
“Iya, Bu.”
Raya segera mengambil handphonenya dan kembali ke ruang kerjanya. Rasa laparnya hilang seketika.
“Jika Javier semalam ke sini. Pasti dia sudah melihat semuanya. Sial! Aku harus bagaimana menjelaskannya.”
Raya berusaha tenang dan mengatur napasnya. Raya harus segera menemui Javier dan menjelaskan semuanya pada Javier. Sebelum semuanya sampai ke telinga Randra.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Follow ig author: @hanania442