Love Affair

Love Affair
PART 46



Raya mengernyitkan dahinya saat mendengar bel rumahnya bunyi.


Raya enggan untuk membukanya. Saat ini dia sedang seorang diri di rumah. Weni, asisten rumah tangganya sedang pergi membeli kebutuhan sehari-hari dan wanita itu tidak mungkin membunyikan bel karena dia memegang semua akses di rumah ini.


"Jangan-jangan itu para Wartawan yang dulu pernah mengusik ku. Tapi Bayu pernah mengatakan bahwa semua sudah dia atasi."


Perlahan Raya menuruni anak tangga menuju lantai satu dan pintu utama.


"Si..Siapa?!" tanya Raya sedikit terbata.


"Tolong pergilah, kau akan menyesal jika terus mengganggu ku!"


"Raya, ini aku. Buka pintunya jangan takut, aku datang sendiri sudah aku pastikan tidak ada satu orang pun yang mengikuti ku."


Raya tersentak mendengar suara itu. Tangan kanan Raya menggenggam erat gagang pintu rumahnya dan tangan kirinya membelai perut hamilnya.


"Kak, Rendra."


"Iya! Ini Kakak, buka pintunya."


"Kak, maaf aku tidak bisa. Bayu melarang kita untuk bertemu. Kakak lebih baik segera pergi sebelum Bayu pulang."


Raya tidak ingin Rendra melihat semua ini. Dia tidak ingin Rendra melihat kondisinya yang sedang hamil. Rendra akan semakin terluka saat melihatnya.


"Pergilah, Kak. Aku mohon, untuk saat ini kakak jangan menemui ku."


"Raya, aku tahu alasan mu tidak ingin kita bertemu. Kakak tahu apa yang kamu khawatirkan percayalah semua akan baik-baik saja. Bukankah kamu terlalu kejam. Kamu sudah merusak hubungan kedua orang tua ku dan saat ini kamu menyiksa ku yang ingin bertemu dengan calon keponakanku." Rendra terus memohon di balik pintu.


Raya membekap bibirnya sendiri dengan telapak tangannya menahan tangis. Pintu itu pun sudah di buka Raya.


Rendra tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang terkejut melihat Raya yang sedang hamil.


"Sepertinya kamu akan segera jadi seorang ibu." Rendra tersenyum menatap Raya.


Raya hanya terisak dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Maaf, Kak!"


"Sttt...! Sudah lupakan itu. Seharusnya aku yang meminta maaf. Semua ini terjadi karena aku gagal menjadi Kakak untuk kamu, Raya."


Renda memeluk Raya. Membelai rambutnya. Tangisan Raya semakin menjadi-jadi. Semua penyesalannya tumpah dalam bentuk air mata.


Namun, berbeda dengan Rendra. Wajah dingin dan dendam yang masih terpancar di matanya sangat jelas. Satu hal yang tidak di sadari Raya saat ini Rendra hanya ingin memastikan bahwa Raya benar tinggal di rumah ini.


Rendra melepas pelukan Raya. Wajah yang ceria dan penuh senyum kebahagiaan dia tunjukkan kembali kepada Raya.


"Kakak, bawa makanan kesukaan kamu. Bagaimana jika kita makan bersama?" tanya Rendra.


"Kak, sebentar lagi Wina akan kembali. Bagaimana jika dia memberitahu Bayu bahwa Kakak ada di sini."


"Hmmm... Wina? Siapa itu?"


"Dia asisten rumah tangga kami di sini." Jawab Raya


"Oh, wanita itu namanya Wina. Aku sudah meminta dia untuk tidak kembali ke sini selama dua jam."


Raya bingung. Bagaimana bisa Wina menurut begitu saja, bahkan mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.


Rendra berbisik di telinga Raya. "Aku sudah membayarnya saat kami bertemu di luar tadi. Ternyata sangat mudah menyingkirkan bawahan Bayu." Rendra melemparkan senyuman tepat di hadapan Raya.


"Kak, jangan tersenyum seperti itu. Kau seperti psiko yang akan membunuh ku!"


Rendra tertawa seraya menggenggam tangan Raya. "Ayo, kita habiskan dua jam ini untuk makan bersama seperti dulu."


Raya dengan sangat lahap memakan semuanya.


"Kak, aku sangat merindukan semua makan ini. Bayu selalu melarang ku untuk makan apa yang aku mau."


Rendra membelai kepala Raya. "Itu karena dia ingin kamu selalu sehat dan calon bayi kalian lahir dengan selamat. Kita akan bertemu dua hari sekali dan Kakak akan bawakan apapun yang kamu mau."


Raya mengangguk setuju.


"Tapi, makanan cepat saji seperti ini sudah cukup membuat mood ku jadi kembali membaik. Kadang ingin sekali pergi untuk membelinya, tapi yang akan terjadi adalah berita utama tentang kehamilan ku yang akan muncul. Semua itu akan merepotkan Bayu dan tentu saja dia akan marah."


"Bukankan sulit mempunyai anak haram. Bagaimana kalau kamu akhiri saja kehamilan ini."


Raya tersedak saat mendengat ucapan Rendra.


Rendra segera mengambil air dan memberikan kepada Raya. "Kakak, bercanda. Kamu tidak perlu takut begitu."


"Jangan membuat ku takut seperti itu. Jika aku tadi mati tersedak bagaimana?"


"Memangnya kamu mau mati dalam kondisi seperti apa?" tanya Rendra


"Kakak! Sudah bercandanya!" Raya memukul lengan Rendra meluapkan kekesalannya.


Rendra tertawa dan sesekali mengacak-acak rambut Raya.


Rendra menepati janjinya untuk bertemu dengan Raya setiap dua hari sekali. Semua berjalan seperti biasa. Mereka menghabiskan waktu bersama seperti dulu. Menonton film, bermain video game dan kadang saling bertukar pikiran.


Raya sangat bahagia dengan kedatangan Rendra. Raya kembali merasakan semua kenangan indah dulu.


✨✨✨✨


"Raya, hei. Kamu sudah sadar?! Syukurlah." Bayu merengkuh tubuh Raya dengan erat.


Raya memegang kepalanya perlahan. Saat dia membuka matanya semua terasa berputar. Rasa tidak nyaman menerpa isi lambungnya.


"Jangan mengguncang tubuhku. Rasanya aku ingin muntah," ucap Raya kepada Bayu yang terus bertanya dan tanpa sadar mengguncang tubuh Raya.


"Aku mendapat kabar kamu tiba-tiba kehilangan kesadaran. Bagaimana?! Apa yang kamu rasakan sekarang?"


"Entahlah, beberapa hari ini aku merasa tubuhku sangat tidak nyaman."


"Aku sudah buat janji dengan Dokter, kita akan ke rumah sakit sekarang."


"Tidak, aku tidak mau. Aku baik-baik saja."


"Jangan membatah, Raya! Kondisi mu tidak baik-baik saja. Wina mengatakan kamu sudah beberapa kali mengalami ini tapi kamu melarang dia untuk memberitahu ku."


"Ini hal wajar yang di alami wanita hamil. Kamu saja yang berlebihan"


Bayu duduk di tepi ranjang. Dia meraih jati jemari Raya. "Raya, aku sudah membawa dokter untuk memeriksa kamu dan dia mengatakan kamu tidak baik-baik saja. Aku mohon kita ke Rumah Sakit sekarang juga."


"Apa aku tidak bisa pilihan? Kau selalu menekan ku seperti ini. Aku hanya lelah itu saja, setelah istirahat semua akan kembali normal."


"Raya, tumbuh mu semakin hari semakin lemah. Sepertinya kita harus segera mengakhiri kehamilan mu."


"Bagaimana mungkin aku sanggup melakukan itu. Aku tidak mungkin bisa."


Raya terdiam. Perlahan dadanya terasa sesak. Terasa sangat sulit untuk sekedar bernapas. Raya memukul dadanya berulang kali. Rasa berat di dadanya semakin menyesakkan.


Bayu menghampiri Raya. Meraih tangan Raya berusaha menenangkannya. Raya mengalami serangan panik yang membuat dirinya sulit untuk mengendalikan diri.


"Raya...Raya, tenanglah. Aku di sini, tenangkan dirimu. Tarik nafas perlahan. Semua akan baik-baik saja. tenangkan diri mu." Bayu memeluk tubuh wanitanya.