Love Affair

Love Affair
PART 23



"Berikan kunci mobil itu padaku," ucap Raya pada Defin yang tengah berdiri di hadapannya.


Defin baru saja menemukan keberadaan Raya setelah hampir setengah jam dia mengelilingi Villa.


Sesuai dugaannya, Raya berada di sebuah jembatan gantung yang tidak jauh dari jalan utama menuju Villa. Defin sempat melihat jembatan itu saat menuju Villa.


Perasaan lega merasukinya saat melihat Raya dalam keadaan 'utuh'. Prasangka buruk sempat menghantuinya saat Raya menghilang dan tidak menjawab panggilan telponnya.


Dia sempat berpikir Raya akan berusaha mengakhiri hidupnya atau apapun itu yang bisa membahayakan.


"Kembali ke Villa. Tessa sedang mencari kamu sejak tadi."


"Berikan kunci mobil padaku!"


Defin tidak berniat sedikitpun untuk mematuhi perintah Raya.


"Kau ingin kabur?"


Defin mendekat ke arah Raya dan menarik lengan Raya menuju Villa.


Wanita itu tidak berontak atau berusaha memaki Defin seperti biasanya. Energinya sudah habis mungkin lebih tepatnya sudah lelah dengan semuanya.


"Jangan membuat tugasku bertambah sulit. Di dalam sana ada istri majikan ku yang harus aku jaga dan menjaga agar tidak ada masalah dalam acara ini."


"Aku tidak pernah meminta agar kau menjagaku. Aku tidak butuh itu maka lepaskan dan biarkan aku melakukan apa yang aku mau."


"Kau lebih bahaya dari pada penjahat sekalipun. Kau ibaratkan bom waktu, kapan saja bisa membahayakan Bayu."


Defin melepaskan genggamannya di lengan Raya. Kemudian memerintahkan Raya untuk kembali ke Villa.


Namun, Raya tidak beranjak dari posisinya. Saat sebuah cahaya menyilaukan mata mereka berdua.


"Bukankah itu mobil milik Bayu juga?" tanya Raya pada Defin saat melihat mobil yang mengantar Sarah baru saja tiba.


Defin hanya mengangguk dan kembali meminta Raya untuk segera masuk ke Villa. Defin tidak melakukan apapun saat Raya melewatinya dan menuju mobil itu.


Mungkin dia akan melampiaskan kekesalannya pada mobil yang sering di kendarai Bayu.


Tetapi, Raya memilih untuk berjalan ke arah mobil itu. Membuka pintu mobil dan menarik keluar pria yang belum sempat mematikan mesin mobilnya.


Pria itu terlihat kebingungan saat melihat Raya mengambil alih mobil yang dia kendarai.


"Kau pikir aku akan bertahan di sini dengan orang - orang membosankan seperti mereka."


Kemudian Raya melajukan mobilnya. Defin mengumpat kesal karena tidak berhasil menghentikan Raya.


"Sial! Dia selalu saja merepotkan."


Defin sudah berada di mobil lainnya dan hendak mengejar Raya. Namun, Tessa muncul dan menghentikannya.


"Biarkan saja. Akan lebih baik dia sendiri dan menenangkan pikirannya."


Begitulah yang di ucapkan Tessa. Defin dengan terpaksa menurut dan kembali berjaga di villa.


Mungkin yang di katakan Tessa ada benarnya. Raya hanya butuh sendiri saat ini, hal seperti ini pasti bukan untuk yang pertama kalinya terjadi. Raya akan bisa dengan mudah mengatasinya.


...🌟🌟🌟...


"Kenapa Papa harus pergi begitu cepat...kenapa! Jika saja Papa masih hidup aku tidak mungkin menderita seperti ini."


Isak tangis Raya dalam kegelapan malam. Raya masih terus mengemudikan mobil dengan keadaan air mata terus mengalir.


"Karena Papa pergi, Mama membenciku. Semua keluarga kalian hanya berucap iba padaku tapi tidak ada satupun yang menyelamatkan aku dari penderitaan. Setiap harinya aku terus menerima pukulan dan cacian dari Mama!"


Raya mengusap air matanya dengan satu tangan yang masih berada di kemudi mobil. Malam gelap tidak membuat dirinya takut, rasa kalut lebih menguasainya.


Jalan yang benar atau tidak, Raya tidak peduli itu. Dia hanya ingin segera pergi dari semua orang - orang yang menatapnya dengan penuh keanehan dan bingung.


"Aku selalu menghadapi semua sendiri tanpa Papa, ini semua salah Papa...seharusnya Papa biarkan aku membusuk di panti asuhan saja!"


"Mama, Nenek, Tante, Sarah...mereka semua tidak menginginkan aku! Aku benci mereka, Pa!"


"Mereka semua pembohong, berlagak simpati dan sayang padaku tapi mereka mencibir dari belakang."


"Nenek selalu membandingkan aku dengan cucu kesayangannya Sarah, aku terus mengalah walaupun tidak bersalah. Bayu, bahkan aku tidak tahu apa yang dia inginkan dariku. Aku benci semua orang yang berada di sekitarku!"


Mata Raya terbelalak saat sebuah mobil besar sudah sangat dekat dengan mobilnya, ketika melewati tikungan tajam.


Dengan cepat Raya mengambil arah kanan untuk menghindari mobil pengangkut kayu bulat berukuran besar.


Mobil Raya berakhir dengan menabrak tebing bebatuan. Suara gaduh seketika terdengar.


Sayup - sayup Raya masih mendengar suara mobilnya perlahan berhenti. Raya ingin bangkit dan keluar dari mobilnya. Tapi, tubuhnya terasa lemas tak berdaya.


Dua orang pemilik mobil besar segera berlari menghampiri Raya dengan kepanikan, mereka satu sama lain saling bertatapan.


"Gawat! Kita harus bagaimana ini. Jika dia mati kita bisa masuk penjara."


"Hush! Jangan bicara sembarangan, kita tidak salah. Dia yang melaju kencang dan tidak melihat mobil kita."


"Bagaimana dia bisa lihat, kita tidak mengunakan tanda apapun jika mobil dalam perbaikan, apaalgi di tengah gelap malam seperti ini."


"Sudah diam! Coba kamu periksa dia masih hidup atau tidak, Bud."


Pria yang di panggil Bud itu sebenarnya bernam Budi tapi rekan - rekannya lebih sering memanggilnya dengan tiga huruf saja. Budi berusaha mengetuk kaca mobil Raya beberapa kali. Tapi mereka tidak mendapat jawaban.


Budi mendekatkan wajahnya ke kaca mobil Raya untuk melihat keadaannya di dalam mobil. Begitu juga dengan temannya yang ikut mengintip.


"Jangan banyak bicara. Cepat cari cara untuk membuka pintu mobilnya."


Pria berjaket hijau itu bergegas menuju mobilnya dan kembali membawa sebuah tongkat besi berukuran setengah meter.


"Coba pakai ini." Pria itu memberikan besi itu pada rekannya.


Dengan sigap Budi memecahkan kaca mobil bagian penumpang dan setelah tangannya bisa masuk. Budi membuka pintu mobil Raya.


"Dia seorang diri. Coba bangunkan mungkin dia pingsan."


"Kenapa kau seenaknya menyuruhku sejak tadi."


"Aku tidak punya keberani memegang mayat, Bud."


"Dasar lemah!"


Budi menepuk pundak Raya. "Mbak...mbak, sadar mbak."


"Apa orang ini masih hidup?"


Budi menarik pundak Raya dan menyandarkan tubuh Raya di sandaran kursi.


"Astaga! Ya, ampun." Rekan Budi memilih untuk memalingkan wajahnya saat sepintas melihat darah bercucuran di wajah Raya.


"Kenapa malam ini kita sial berturut-turut," sambungnya


"Dia masih hidup, Yon."


Yon pun segera melihat kearah wanita itu lagi.


"Kamu yakin dia masih ada nyawanya?"


"Iya, dia masih bernapas dan denyut nadinya masih teraba."


"Ya, sudah kita pergi aja sekarang. Supaya di tolong orang lain, nanti pasti ada yang lewat."


"Tapi, jika dia mati kehabisan darah bagaimana?"


"Lebih baik kita pikirkan nasib kita sendiri. Kalau sampai ada yang lihat kita yang akan di salahkan, Bud."


Budi masih ragu untuk meninggalkan wanita itu sendiri. Namun, yang di katakan Yon ada benarnya. Secara tidak langsung kecelakaan ini terjadi karena kecerobohan mereka yang berhenti di sembarangan tempat dan tidak memberikan tanda atau rambu apapun jika mobil mereka dalam keadaan rusak.


Saat mereka hendak melangkah pergi. Suara ponsel menyalak spontan mengejutkan mereka.


"Sudah cepat kita pergi dari sini, nanti juga ada yang datang."


Yon menarik lengan rekannya untuk kembali memperbaiki mobil dan meninggalkan lokasi kecelakaan itu tanpa jejak.


Budi kembali memegang kunci dan masuk ke dalam kolong mobilnya dengan sebuah senter berada di keningnya.


Suara ponsel Raya terus saja berbunyi, membuat hati Budi semakin tidak karuan. Budi keluar dari kolong mobil dan mencampakkan kunci di tangannya.


"Sial!" Budi berjalan cepat menghampiri mobil Raya dan mencari sumber suara yang terus berbunyi.


Tanpa berpikir lagi Budi menjawab panggilan telepon itu.


"Mas, tolong cepat ke daerah Villa Cemara, yang punya handphone tidak sadarkan diri karena kecelakaan!"


Setelah Budi mengakhiri sambungan teleponnya. Yon mendekat dan memukul kepal Budi.


"Bodoh! Kita bisa dapat masalah."


"Heh! Aku memang bukan orang baik - baik tapi aku masih punya hati nurani. bagaimana kalau keluarga kita yang mengalami hal seperti ini dan kemudian di tinggal begitu saja!"


"Ok! Terserah kau saja, aku tidak akan ikut campur jika terjadi sesuatu."


Sekitar lima belas menit mereka menunggu. Dua buah mobil datang menghampiri mereka.


"Bawa mereka," ucap Defin pada anak buahnya.


Mereka segera membawa Yon dan Budi ke dalam mobil. Sedangkan Defin segera berlari ke arah mobil Raya. Defin cukup terkejut saat melihat keadaan Raya yang memprihatinkan.


Defin segera membawa Raya ke rumah sakit sedangkan Yon dan Budi tetap berada di dalam mobil bersama tiga orang anak buah Defin.


"Mas, tolong lepaskan saya. Saya tidak salah, wanita itu sendiri yang menabrak tebing."


"Iya, benar Mas. Kami tidak melakukan apapun."


"Berisik! Salah atau tidak bukan kalian yang bisa memutuskan," bentak salah satu anak buah Defin.


Sekitar tiga puluh menit mereka menunggu di parkiran rumah sakit. Defin menghampiri mereka.


"Bawa mereka berdua ke tempat biasa, jangan memancing keributan di sini. Setelah selesai aku sendiri yang akan mengurus mereka."


Ketiga orang itu mengangguk dan kembali menutup wajah Yon dan Budi dengan kain hitam.


"Pak! Ampuni saya, saya memang salah tapi saya tidak menabrak wanita itu. Tolong percaya yang saya ucapkan!" Yon terus berteriak dengan panik.


"Diam! Atau kalian tidak bisa melihat matahari besok!" Anak buah Defin kembali memberikan peringatan pada mereka.


Yon masih saja terus meminta mereka melepaskannya. Walaupun akhirnya berhenti saat sebuah senjata api melekat di kepalanya. Berbeda dengan Yon, Budi memilih untuk memahami situasi dan memilih untuk diam.


Siapa perempuan itu sampai bisa berurusan dengan pria - pria mengerikan seperti mereka. Batin Budi