
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Makanan yang sudah dihidangkan mulai dingin. Bahkan Tessa sudah dua kali memanaskan makanan itu. Namun, belum ada tanda-tanda kedatangan Bayu.
Beberapa kali Tessa menghubungi Bayu tapi tidak ada jawaban. Hati Tessa mulai berkecamuk. Mungkinkah suaminya sengaja mengacuhkannya untuk balas dendam karena selama ini dia kurang memberi perhatian dan pulang larut malam.
Tessa menggelengkan kepalanya, menolak semua pemikiran negatifnya. “Bayu tidak mungkin sepicik itu.” Gumam Tessa.
Suara deru mobil sayup-sayup terdengar. tessa mengumpulkan kesadarannya perlahan. Tanpa sadar Tessa tertidur dimeja makan. Tessa bergegas beranjak menuju pintu masuk. Sepintas Tessa melirik jam dinding tepat pukul 1 dini hari.
“Kamu dari mana saja? Kenapa baru pulang? Aku sudah bilang malam ini kamu harus pulang cepat. Aku telpon berkali-kali tidak kamu angkat dan....” Tessa langsung menyambut Bayu dengan pertanyaan bertubi-tubi
“Aku lelah mau istirahat.” Bayu berlalu dan meninggalkan Tessa didepan pintu
“Istirahat?! Kamu tidak sedang bercanda kan?”
Bayu mengacuhkan Tessa dan segera masuk ke kamar. Tessa yang masih tidak terima dengan perlakuan Bayu memilih untuk meminta penjelasan lebih.
Tessa berkacak pinggang di hadapan Bayu yang sedang melepaskan sepatu kerjanya. “Aku sudah masak susah payah buat makan malam kita, semua sudah aku susun sedemikian rupa dan kamu bilang ‘lelah’!”
“Tunggu di bawah, aku akan segera menyusul,” ucap Bayu lirih
Tessa meninggalkan Bayu. Menunggu Bayu di meja makan. Lilin yang telah Tessa siapkan kini sudah padam. Makanan yang tadi terlihat menggoda indra perasa sudah berubah warna karena beberapa kali dipanaskan.
Sekitar lima belas menit. Bayu bergabung dimeja makan. Bayu mengambil beberapa lauk yang sudah tersedia. Tanpa sepatah kata pun.
“Kamu tidak lupa hari ini kita sedang merayakan sesuatu, kan?” tanya Tessa
“Maaf, aku benar-benar tidak bisa pulang tepat waktu karena perusahaan kita mengalami masalah besar hari ini. Hal itu menguras waktu dan pikiranku,” ucap Bayu menyesal.
Semua ini bukan kesengajaan untuk membuat semua rencana Tessa gagal total dan pulang larut malam. Bayu tahu bahwa Tessa sudah menyiapkan makan malam romantis untuk mereka berdua.
“Aku juga minta maaf. Sudah marah dan tidak menanyakan alasan kamu. Aku cuma kecewa saja, semuanya jadi tidak sesuai rencana.”
“Tapi makanan ini tetap enak. Beberapa kali kamu memanaskannya?” tanya Bayu menggoda Tessa
“Sepertinya tiga kali,” jawab Tessa
Setelah makan malam Bayu memilih untuk istirahat. Rasa kecewa Tessa pada Bayu meang belum sepenuhnya hilang. Tessa memilih bungkam karena tidak ingin terjadi pertengkaran di hari bahagia mereka. Tessa yang memilih menemani suaminya berbaring diranjang. Mengenang kembali pertemuan mereka pertama kali.
Walaupun mereka menikah karena perjodohan dan kehendak kedua orang tua. Orang tua Tessa dan Bayu memiliki bisnis bersama dan tentunya keluarga mereka tidak asing dengan satu sama lain. Perjodohan itu juga sudah di rencanakan sejak Bayu dan Tessa remaja.
Bayu saat itu menentang keputusan kedua orang tuannya. Bayu masih ingin melanjutkan studinya keluar negeri dan ingin lebih mendewasakan diri terlebih dahulu. Bayu tidak ingin terikat dengan pernikahan karena masih banyak mimpi yang ingin diraihnya. Namun, tidak banyak yang bisa dia lakukan saat itu.
Berbeda dengan Tessa yang menerima perjodohan itu sejak awal karena memang sudah ada ketertarikan pada Bayu.
Seiring berjalannya waktu Bayu bisa menerima Tessa. Rumah tangga mereka berjalan dengan harmonis. Namun, setelah Tessa memilih untuk melakukan bisnis. Waktunya lebih banyak dihabiskan diluar rumah dan Bayu terabaikan.
“Maaf, selama ini aku terlalu sibuk. Aku lupa akan tugas dan kewajibanku” ucap Tessa penuh penyesalan.
Bayu diam. Dia memilih untuk mengeratkan pelukannya pada Tessa. Seharusnya dirinya yang mengucapkan kata ‘maaf’ pada Tessa karena sudah mengkhianati dan menodai pernikahan mereka. Kini Bayu ingin Tessa seperti dulu. Tessa yang tidak peduli dengan dirinya dan disibukkan oleh perkerjaannya. Jika Tessa seperti ini. Hatinya akan semakin terobang-ambing. Larut dalam penyesalan.
Bayu sangat sadar dengan apa yang telah dia perbuat. Sejak kehadiran Raya di rumah ini. Semunya terasa hidup dan bermakna. Senyuman dan tingkah lakunnya sangat mempesona di mata Bayu. Rumah yang dulu terlihat sunyi dan suram kini berumah menjadi penuh warna.
“Dimana Raya? Apa dia sudah pulang?” tanya Bayu pada Tessa
“Aku minta Randra mengajak Raya jalan-jalan. Sepertinya mereka tidak pulang malam ini."
Bayu melepaskan pelukannya dan duduk di tepi ranjang. “Kemana mereka pergi?” tanya Bayu cemas
Tessa bangkit dan memeluk Bayu dari belakang. “Mereka sudah dewasa. Apa yang kamu takutkan. Randra pasti menjaga Raya dengan baik.”
“Tapi untuk apa mereka sampai tidak pulang. Memangnya mereka sedang camping?”
“Aku yang meminta mereka agar tidak pulang karena aku mau malam ini cuma ada kita berdua dirumah ini.”
Bayu beranjak dan melepaskan tangan Tessa yang sejak tadi memeluknya. “Kamu mengusir Raya. Hanya untuk merayakan hari pernikahan kita. Kamu berlebihan, Tessa!”
“Gampang sekali kamu berkata begitu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Raya!” betak Bayu
“Dimana Raya? Randra membawanya kemana?” tanya Bayu seraya menguncangkan tubuh Tessa.
“Lepas!” Tessa menepis tangan Bayu yang mencengkram kedua lengannya.
“Aku akan tanya Randra supaya kamu puas kalau mereka baik-baik saja!” Tessa mengambil ponselnya lalu menghubungi Randra.
Bayu berkacak pinggang. Berjalan kesana kemari. Sesekali menanyakan pada Tessa. Randra tidak bisa dihubungi begitu juga dengan Raya.
“Kamu lihat sekarang, mereka tidak bisa dihubungi. Kamu puas sekarang sudah mengusir mereka," ucap Bayu kesal
“Kamu berlebihan, mereka sudah dewasa apa yang kam takutkan. Mungkin saja mereka sedang senang-senang dan sengaja menonaktifkan ponselnnya. Kalau kamu punya masalah kerjaan jangan di lampiaskan ke aku!"
Bayu mengcuhkan Tessa. Dia keluar dari kamarnya dan mencari ponselnya. Mencoba menghubungi Raya beberapa kali. Namun, hasilnya sama saja.
“Siapkan mobil, cepat!” Perintah Bayu pada Defin yang sedang berada di ruang kerja Bayu.
Tessa mengikuti Bayu keruang kerjanya “Kamu sebenarnya kenapa? Tidak biasanya kamu begini!”
“Apa yang salah? Aku mengkhawatirkan mereka.”
“Bukan! Kamu hanya peduli pada Raya. Terlihat jelas kamu sangat takut terjadi sesuatu pada Raya. Jangan bilang kamu...” Tessa menggelengkan kepalanya membuang semua pikiran buruk yang menerpa
“Enggak...gak mungkin seperti yang aku pikirkan.” gumam Tessa
Bayu menyadari kecurigaan Tessa. Bayu merasa memang terlalu berlebihan menunjukkan sikapnya dihadapan istrinya. “Ya sudah, kita istirahat saja malam ini. Jika sampai besok pagi Raya belum kembali, aku akan mencarinnya.”
Tessa sedikit tenang melihat suaminya sudah kembali seperti semula. Bayu meminta Tessa kembali kedalam kamar dan menunggunya di sana.
Setelah Tessa keluar dari ruang kerjanya. Bayu kembali menghubungi Defin melalui pesan singkat untuk membatalkan kepergiannya. Namun, Defin tetap mendapatkan tugas mencari keberadaan Raya. Pilihan ini yang terbaik. Jika dia memaksa malam ini mencari Raya maka kecurigaan Tessa semakin besar padannya.
“Cari Raya sampai ketemu. Kabari aku jika kau tahu keberadaannya!”
Sesuai dengan perintah Defin segera mencari keberadaan Raya dan Randra malam itu juga.
Disisi lain Randra sedang bersenang-senang dengan teman-temannya. Raya dan Javier memilih untuk menikmati suasana malam di tepi kolam renang.
Mereka banyak menceritakan banyak hal. Terutama Raya yang menceritakan perihal mimpi yang hampir setiap malam dia alami.
“Bukankah itu bagus. Kamu bisa bertemu ibumu dalam mimpi,” ucap Javier
“Tapi bagaimana jika dimimpi itu membuat aku takut? Itu tidak baik pastinya.”
“Apa kamu memiliki hubungan tidak baik semasa kalian tinggal bersama?”
“Ya, bisa dikatakan seperti itu. Bahkan terkadang aku takut untuk tidur. Di satu sisi aku mencintainya di sisi lain aku membencinya."
Raya mengayunkan kakinya bermain air dan menikmati rasa sejuk yang menenangkan.
"Aku termasuk anak yang gagal. Aku gagal membahagiakan kedua orang tuaku. Aku juga gagal menjaga cinta mereka agar tidak berubah."
"Jangan menyalahkan semua yang sudah terjadi. Jika tersu begitu maka kamu akan semakin tersakiti. Mimpi seperti apa yang kamu alami?” tanya Javier penuh selidik
“Aku tidak ingin menceritakannya untuk saat ini.”
“Tentu, aku akan menunggu. Kapanpun kamu bisa menemui aku.” Javier menepuk bahu Raya.
“Ini.." Javier menyodorkan kartu namanya pada Raya.
"Kamu bisa datang kapanpun kamu mau. Jika kamu butuh ahli untuk mengatasi kecemasan itu aku bisa merekomendasi bebrapa rekan seprofesi."
“OK! Aku segera menghubungi mu, Dok” ucap Raya seraya melemparkan senyum