
"Aku menginginkan sesuatu." Raya meletakkan segelas kopi di atas meja kerja Bayu.
Dia sengaja mengambil nampan berisi kopi untuk Bayu dari tangan seorang pelayan rumah agar dia bisa masuk ke ruang kerja Bayu tanpa di curigai oleh Tessa dan para pekerja di rumah itu.
"Hmm... tidak biasanya kamu meminta sesuatu. Apa yang sangat kamu inginkan?"
"Aku tidak mau bodyguard itu. Dia selalu mengawasi ku."
"Bukankah itu memang tugasnya," ucap Bayu santai
"Tapi aku tidak suka hal seperti itu. Kamu bisa lihat kan, selama ini aku baik-baik saja tanpa mereka."
Bayu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya. Kemudian, menatap Raya.
"Dua kali kamu mencoba mengakhiri hidup. Bisakah itu kamu sebut baik-baik saja."
"Itu masalah diriku sendiri. Ada atau tidak orang yang mengawasi ku, aku bisa melakukannya."
"Kamu bisa mengatakan itu pada Tessa. Karena dia yang memerintahkan pria itu. Dia bukan salah satu anak buah ku." Bayu kembali menegakkan tubuhnya dan melanjutkan pekerjaannya.
"Kamu tahukan, Tante tidak mungkin mau menyingkirkan pria itu. Dia sangat keras kepala."
Raya mulai kesal karena Bayu ternyata terlihat santai menghadapi protesnya, terkesan tidak peduli.
"Atau semua ini perintah dari kamu! Agar kita tidak bisa bertemu lagi. Begitu yang kamu inginkan?"
"Kemari lah," ucap Bayu seraya tersenyum melihat wajah Raya yang mulai cemberut.
Raya mendekat, lalu Bayu menarik tubuh Raya agar duduk di pangkuannya.
"Baiklah, aku akan coba bicara dengan Tessa. Tapi, jangan terlalu berharap hasilnya akan seperti yang kamu inginkan karena dia seperti yang kamu bilang keras kepala."
"Satu lagi, aku ingin Defin yang menggantikan pria itu."
Bayu mengerutkan dahinya. "Tidak, jangan meminta itu."
"Kenapa? Bukankah dia orang yang bisa di percaya dan dia tahu hubungan kita."
"Raya, dia bukan sekedar bodyguard untukku. Jika dia bersamamu siapa yang akan membantu mengurus pekerjaan."
"Dia masih bisa bekerja dengan kamu, dan aku akan membawanya jika perlu saja."
"Kamu bisa minta yang lain, sayang. Aku akan segera mencari orang yang tidak kalah hebatnya dengan dia."
"Tidak. Aku tidak menginginkan siapapun selain Defin."
"Raya, kamu tahu itu tidak mungkin aku berikan."
Ternyata, tidak semudah itu membawa Defin dalam genggamanku. Aku harus mencari cara agar Bayu memberikan Defin padaku.
"Aku akan segera mengurusnya dan kamu bisa memilih sendiri orang yang kamu anggap bisa di percaya."
"Kalau begitu kamu tidak boleh menolak permintaanku yang satu ini."
"Apa yang kamu inginkan, katakan."
"Kamu harus mengizinkan Defin untuk membantuku sesekali. Jika tidak, jangan berharap bisa bertemu dengan aku lagi."
Bayu menggenggam tangan Raya dan mencium lembut jari-jemarinya.
"Itu ancaman untukku?"
"Anggap saja begitu. Jika pria itu di pihak Tante, kita tidak akan punya waktu untuk bertemu." Raya memajukan ujung bibirnya.
Bayu mencium pipi Raya dengan gemas. "Ok, aku akan coba bicara dengan Tessa setelah pekerjaan ini selesai dan jika kamu membutuhkan Defin, kamu bisa langsung menghubungi dia."
Raya tersenyum bahagia dan membalas mengecup pipi Bayu.
"Kenapa masih harus bekerja saat di rumah. Seharusnya kamu istirahat saat ini."
"Sangat banyak pekerjaan yang membutuhkan perhatianku. Bahkan perusahaan Randra masih butuh pengawasan dariku, dia masih sering melakukan kesalahan."
Raya mengangguk mengerti, dan memberikan kecupan singkat di bibir Bayu.
Randra, bagaimana keadaannya sekarang. Pasti masalah ini semakin membuatnya stres. Raya ingin menemuinya tapi dia merasa seperti orang yang sangat kejam. Benar yang di katakan Defin dirinya harus bersikap jelas bukan abu-abu seperti ini.
"Kamu memikirkan Randra?" tanya Bayu
Raya menyudahi lamunannya dan beranjak beralih duduk di meja kerja Bayu.
Raya menghela napas panjang, "Aku harus melakukan apa?"
"Tidak ada yang harus kamu lakukan, karena semua ini bukan salahmu. Jangan memikirkan masalah itu lagi"
"Randra bukan anak kecil, Raya. Dia juga sudah tahu sejak awal bahwa rumah tangga orang tuanya sudah lama hancur."
Bukan hal mudah untuk tidak memikirkan semua itu. Walaupun berulang kali Bayu bicara seperti itu. Raya tahu dirinya tetap bersalah dan penyebab dari semua masalah ini.
"Saat ini yang perlu kamu pikirkan hanya aku dan hanya boleh ada aku di pikiranmu." Bayu tersenyum menggoda kepada Raya.
"Tanpa kamu minta aku selalu memikirkan kamu. Aku akan kembali ke kamarku." Raya beranjak dan melangkah keluar dari ruang kerja Bayu.
Bayu kembali melanjutkan pekerjaannya saat Raya menutup pintu ruang kerjanya.
Raya bertemu dengan Defin yang sudah menunggu ingin bertemu dengan Bayu. Defin bersandar di samping pintu sambil memainkan ponselnya.
"Akhirnya kau keluar juga. Aku hampir saja tertidur menunggu kalian selesai bermadu kasih."
"Jaga ucapanmu! Sedang ada di mana kita sekarang."
"Kau takut? Ya, memang bahkan terkadang dinding memiliki telinga."
Defin menegakkan tubuhnya dan memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Kemudian dia mengibaskan tangannya meminta Raya memberinya jalan untuk masuk.
"Aku punya penawaran bagus untukmu."
Defin melipat kedua tangannya dan tersenyum miring menatap Raya.
"Aku sudah tahu apa yang kau inginkan. Tapi, aku masih belum bisa menebak apa tawaran bagus yang bisa kau berikan."
"Jadi memang benar dinding rumah ini memiliki telinga. " Raya tersenyum pada Defin dan senyuman itu di balas dengan senyuman penuh arti.
"Aku akan mengurus pria itu dan mengganti dengan anak buah ku. Dan kamu tahukan tentunya harus ada keuntungan yang aku dapatkan."
"Apa yang akan kamu lakukan pada pria itu?"
"Jangan terlalu di pikirkan. Kau hanya tunggu berita baiknya."
Raya mengangguk, "Keuntungan yang akan kamu dapatkan kita bisa bicara di lain waktu dan tentunya bukan di sini." Raya mengerlingkan matanya dan beranjak meninggalkan Defin.
Defin mengetuk ruang kerja Bayu dan setelah mendapat jawaban dari pemilik ruangan, dia segera masuk.
Seperti apa yang telah dia dengar dan lihat dari kamera pengawas ruanganan itu. Bayu memintanya untuk mencari orang yang bisa di andalkan untuk mengawasi Raya. Juga kini dirinya harus bersedia membantu Raya jika wanita itu butuh bantuan.
"Raya... bagaimana menurutmu tentang wanita itu?" tanya Bayu
Sontak Defin terkejut dengan pertanyaan Bayu. Pertanyaan itu di tujukan bukan untuk menilai Raya secara fisik atau pun sikap. Jelas Bayu ingin tahu lebih dalam.
"Saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan. Bukankah anda lebih memahaminya dari pada saya."
"Aku hanya merasa ada yang berbeda dengannya kali ini. Dia bukan lagi gadis periang dan manja seperti dulu. Sorot matanya sudah berubah. Bahkan dia meminta kau untuk jadi bodyguardnya."
"Bukankah itu wajar jika sifat seseorang berubah seiring berjalannya waktu. Mungkin Nona menjadi lebih dewasa."
"Ya, sepertinya aku yang terlalu berlebihan. Laporkan setiap orang yang dia temui, jika perlu kau awasi siapa saja yang dia hubungi."
"Tapi mengapa anda memberikan perintah seperti ini?" tanya Defin terus menggali tujuan Bayu yang sebenarnya.
"Hanya untuk berjaga-jaga. Aku tidak ingin ada orang luar atau siapapun yang mempunya keinginan untuk memanfaatkan Raya."
Defin berpikir ini bisa menjadi masalah besar untuk Raya, Bayu bukanlah orang yang begitu mudah merubah kecurigaannya. Tanda bahaya juga berlaku untuknya karena sudah mulai terlibat dengan rencana Raya, atau Raya memang sudah memasukkan dirinya ke dalam perangkap.
Defin belum cukup puas dengan jawaban Bayu. Benarkah hanya tidak ingin ada orang yang memanfaatkan Raya atau ada hal lain, tidak biasanya Bayu bertindak lambat. Ini bukan Bayu yang defin kenal atau mungkin Bayu sedang menutupi sesuatu darinya.
"Bukankah saya harus tetap mengawasi Nyonya Tessa?" Defin mencoba untuk mengalihkan fokus Bayu pada Raya.
"Aku rasa tidak perlu," jawab Bayu tegas.
"Tapi jika kita tidak mengawasinya, bisa saja semua terbongkar dan..."
"Dan dia akan tahu siapa Raya sebenarnya? Itu bukan masalah, cepat atau lambat Tessa akan tahu siapa wanita yang bersamaku."
"Mungkin sebaiknya kita mencegah agar semua itu tidak terjadi terlalu cepat."
Bayu menatap Defin beberapa saat sampai Defin merasa tidak nyaman dengan tatapan itu.
"Maaf, Tuan. Saya akan melakukan sesuai dengan perintah anda."
Defin tahu maksud dari tatapan itu. Agar dia berhenti bertanya dan meragukan perintah Bayu. Patuh dan tidak membantah perintahnya itu yang diinginkan Bayu.
"Anggap saja ini sebuah keraguan dari kinerja burukmu dalam mengurus kecelakaan Raya."
Defin mengangguk dan meninggalkan uruang kerja Bayu. Segera bersiap untuk mencari pengawal pengganti untuk Raya.