Love Affair

Love Affair
PART 14



Raya masih enggan untuk bicara dengan Tessa. Sikapnya masih tetap sama. Mengacuhkan keberadaan Tessa. Jika bukan karena perintah dari Bayu pagi ini Raya akan tetap melewatkan sarapan bersama di meja makan.


Karena sudah bertatap muka langsung dengan Tessa. Raya terpaksa harus bicara.


"Tante.... aku minta maaf karena sudah tidak sopan beberapa hari lalu."


Tessa diam menatap Raya yang masih tertunduk. Kemudian Tessa menaruh sepotong roti di piring Raya. "Makanlah, kamu sudah berapa hari melewatkan sarapan tidak baik untuk kesehatan," ucap Tessa seraya melemparkan senyum pada Raya.


"Aku ingin minta maaf lebih awal tapi aku takut."


Tentu saja itu bohong. Raya memang tidak berniat untuk berbaikan dengan Tessa. Hatinya masih sakit saat melihat mereka berdua bermesraan waktu itu.


"Tante sudah melupakan itu, Raya. Tante malah kesal sama Om kamu yang berlebihan."


"Terima kasih, Tante."


"Kamu masih minum obat rutinkan?"


"Obat... Obat apa yang Tante maksud?"


"Obat untuk penenang. Kamu harus tetap minum obatnya supaya emosi kamu terkendali. Jangan sampai penyakit mental kamu di ketahui orang. Apalagi kamu sedang dekat dengan Javier, dia seorang dokter kamu harus hati - hati. Bisa saja dia tahu dan dia jadi menjauh dari kamu."


Bayu meletakkan gelas yang dia gunakan untuk minum di meja dengan sedikit menghentak. Tessa menoleh cepat ke arah Bayu.


"Aku sudah selesai sarapan. Raya kamu mau ke cafekan, kita bisa pergi bersama."


"Tante, tidak perlu memikirkan itu. Aku masih minum obatku dengan teratur."


"Raya." Panggil Bayu agar Raya segera meninggalkan meja makan dan ikut bersamanya


Raya dan Bayu sudah berada di dalam mobil. Raya memilih untuk duduk di depan dengan Defin yang berada di kursi pengemudi.


"Hentikan mobilnya," perintah Bayu


Defin menghentikan mobilnya di bahu jalan. Raya bertanya - tanya untuk apa berhenti tiba - tiba. Dia berpikir ada barang yang tertinggal sehingga harus mengambilnya dan memutar arah.


"Kemarilah."


Raya masih tetap diam di tempat duduknya sambil memainkan ponselnya.


"Nona, anda di minta untuk duduk di belakang."


Aku menatap Defin lalu beralih ke Bayu.


"Aku tidak mau!"


"Aku tidak bisa menunggu lama, Raya."


"Baiklah!"


Raya turun dari mobil dan menghampiri Bayu. Bayu begeser ke sisi lain untuk mempersilahkan Raya untuk duduk.


"Aku tidak mengatakan bahwa kita akan pergi bersama," ucap Raya lalu meninggalkan Bayu. Dia berdiri di pinggir jalan menunggu taksi.


"Kau sedang mengujiku." Bayu menggerutu melihat Raya mulai bertingkah dan tidak mengikuti perintahnya.


Bayu keluar dari mobilnya dan menarik lengan Raya. Mendorongnya masuk ke mobil


"Lepaskan! Aku tidak mau pergi denganmu."


"Aku sangat sibuk hari ini. Berhenti membuat masalah, diam dan duduk dengan manis sampai di cafemu."


"Aku belum meminum obat mentalku. Kau tidak takut jika aku menjadi gila."


"Hentikan, Raya. Sudah berapa kali aku katakan kau tidak gila."


"Tapi sayangnya orang di sekitarku tidak berpikir begitu."


"Abaikan Tessa dia memang selalu bicara tanpa berpikir panjang."


Raya mendekati wajah Bayu. Sangat dekat, sampai keduanya bisa merasakan hembusan napas masing - masing.


"Lalu kenapa seorang pria yang selalu berhati - hati dalam bertindak ini, menikahi wanita seperti itu? Bukankah itu bertolak belakang dengan seleramu."


Bayu memalingkan wajahnya. Raya masih dalam posisinya, menunggu jawaban dari Bayu.


"Banyak hal yang tidak bisa di jelaskan dengan kata - kata," jawab Bayu seraya meletakkan telapak tangannya di dahi Raya lalu mendorongnya dengan lembut.


Raya kembali ke posisinya. Menatap mata Bayu sekilas lalu mengalihkan pandangannya keluar.


"Papa pernah mengatakan bahwa kalian menikah karena perjodohan. Saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti. Apa akhirnya kau mencintainya?" tanya Raya


"Entahlah," jawab Bayu singkat


"Lalu aku sebagai apa?" tanya Raya lirih


"Nona, kita sudah sampai." Defin menghentikan mobilnya kemudian turun membuka pintu mobil untuk Raya.


Untuk beberap saat Raya masih diam, menunggu jawaban. Dia menghela napas panjang lalu turun dan berlalu meninggalkan Bayu.


Bayu menatap punggung Raya sampai tidak terlihat lagi.


Defin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bayu masih bergelut dengan lamunannya. Yang jelas pertanyaan Raya beberapa saat lalu cukup mengganggunya.


Dia tahu Raya kecewa dengan diamnya. Memilih diam dan mengecewakannya mungkin pilihan yang tepat untuk sekarang.


"Tetap awasi Raya dan laporkan siapa saja yang menemuinya. Beberapa saat lalu aku melihat dia sedang berbincang dengan seorang wanita dan kau tahu sendiri siapa wanita itu. Jangan biarkan mereka terlalu dekat."


"Wanita yang anda maksud istri dari pengusaha yang beberap saat lalu menyewa cafenya?"


"Dia berbahaya. Aku tidak ingin dia menggunakan Raya untuk menekanku. Menghindari masalah dengan orang seperti itu akan lebih baik."


Raya duduk termenung di meja kasir. Dia menggantikan karyawannya yang sedang istirahat.


Pandangannya jauh ke depan. Melihat kendaraan berlalu - lalang di balik kaca dinding kaca cafenya.


Untuk saat ini Raya mengurus cafe seorang diri. Intan, sahabatnya sedang di sibukkan dengan persiapan pernikahannya. Sekitar dua bulan lagi Intan akan melepas masa lanjangnya.


Bahagia tentunya setelah tiga tahun mereka menjalin kasih dan memutuskan untuk menikah.


Raya cukup senang mendengar berita bahagia itu. Tapi, di lubuk hatinya yang paling dalam. Ada rasa iri, dia juga menginginkan seorang yang mencintainya, memahami semua keadaannya.


Hubungannya dengan Bayu hanyalah cinta sepihak. Bahkan pertanyaan gampang yang terlontar di bibir Raya pagi tadi tidak bisa di jawab oleh Bayu. Dan dengan bodohnya Raya masih menunggu.


Setidaknya jawablah walaupun semua itu dusta. Aku akan senang hati menerimanya.


"Kamu sedang memikirkan apa?"


"Hai," seru Raya saat melihat seorang wanita yang menjadi pelanggan VIP-nya beberapa saat lalu.


Bisa di katakan sekarang mereka sudah menjadi teman. Ya, setidaknya Raya berpikir begitu.


Wanita itu mengeluarkan beberapa lembar uang kertas membayar makanan dan minumannya.


"Kembaliannya buat kamu saja."


"Terima kasih."


"Kapan kamu bisa datang ke rumahku?"


"Hmm... sepertinya untuk saat ini aku tidak bisa."


"Pintu rumahku akan selalu terbuka untuk kamu, Raya." Wanita itu melambaikan tangannya dan pergi bersama seorang temannya.


"Dia terlihat sangat bahagia. Punya suami tampan dan kaya di tambah dengan seorang putra."


"Makanya cepat nikah, Bu. Supaya kebahagian Ibu bertambah," ucap karyawan yang sedang berada di samping Raya sejak tadi.


"Ikut campur urusan orang saja!" Raya menyambar bill dan menyodorkan ke karyawannya. "Antar ke meja nomor tiga."


Menegaskan supaya gadis itu pergi dari hadapannya.


🌟 🌟 🌟


Pukul 23.30 aku masih berada di cafe. Hari ini aku memilih menginap di sini. Bayu sedang keluar kota, jika dia tidak berada di rumah, lalu untuk apa aku di sana.


Hujan deras mengguyur, di sertai kilat sesekali menyambar. Aku suka hujan tapi tidak dengan kilat seperti ini, cukup mengerikan.


Ketukan pintu beberapa kali terdengar. Rasanya aku tidak memiliki tenaga untuk beranjak dari tempat tidur ini.


Aku sudah sangat nyaman dengan piyama berbahan satin yang aku kenakan saat ini.


Mungkin saja para karyawan yang membutuhkan sesuatu. Batinku.


"Ahh... sudah berapa kali aku katakan jika butuh sesuatu katakan pada maneger saja dan tidak perlu menemuiku."


Aku membuka pintu dengan raut wajah kesal. Aku mengerutkan dahi, menatap pria itu penuh tanya.


"Cafe kami sudah tutup dan anda salah ruangan di lantai dua ini khusus untuk ruang pribadi."


Pria itu tidak bergeming. Aku mulai takut dengan tatapan matanya yang tajam. Seolah - oleh ingin menghabisiku sekarang juga. Aku segera mundur satu langkah dan menutup pintu ruanganku. Namun, pria itu menahannya dan berhasil mendorong pintu itu dan aku juga ikut terjatuh di lantai.


"Kurang ajar, siapa kau!"


Aku segera beranjak dari lantai dan ingin mengusirnya keluar. Namun, dia lebih dulu mendorong tubuhku sampai terpental ke meja kerjaku.


Tubuhku jatuh terperosot ke lantai lagi. Menahan nyeri di punggungku yang mengenai sisi meja. Beberapa dokumen dan alat tulis milikku jatuh berserakan di lantai.


Dia menekan kedua pundakku dengan kedua tangannya. Menahanku untuk tetap di lantai. Setiap aku meronta pria itu akan semakin mencengkram kedua bahuku dengan sangat kuat.


"Berhentilah meronta dan diam." Pria itu menatap tajam mataku.


"Sa...kit. Apa maumu? Uang? Katakan berapa yang kau inginkan!"


Tidak pria ini tidak seperti seorang perampok, dia jelas bukan menginginkan uang ataupun barang berharga lainya. Dia dengan berani menunjukkan diri tanpa ragu.


"Bukankah kau sudah pernah mendapat peringatan untuk tidak memiliki hubungan dengan seseorang!"


"Hubungan? Siapa yang kau bicarakan."


Pria itu mengambil ponsel di sakunya dan menunjukan sebuah foto. Ya, foto pertemuanku dengan wanita siang tadi di meja kasir. Teman, bukan tamu VIP itu.


"Aku bahkan tidak melakukan apapun padanya. Apakah aku salah berbicara dengan pelanggan cafeku sendiri. Kau gila! Jangan - jangan kau penguntit yang mengikuti kemanapun wanita itu pergi."


"Ini untuk terakhir kalinya aku bicara baik - baik. Jika aku melihat kau bertemu dengan wanita itu lagi, tidak akan ada percakapan seperti ini."


Pria itu melepaskan cengkramannya, namun pandangannya tidak beralih dariku. Aku memegang salah satu pundakku yang masih berdenyut, nyeri.


"Dasar penguntit sialan! Beraninya kau menyentuhku!" bentakku padanya. Perlahan aku mengambil pisau kecil yang biasa aku gunakan untuk memotong kertas.


Dia menghentikan langkahnya dan kembali menghampiriku, dia berjongkok di hadapanku.


"Katakan sekali lagi!" Pria itu merapatkan rahangnya. Menatapku tajam, dengan bola mata membulat.


"Penguntit sialan!" Aku kembali mengumpatnya dan melayangkan pisau itu mengarah padanya. Namun dengan cepat dia memegang tanganku dan mebalikan pisau itu tepat di leherku. Rasa perih terasa, dia benar-benar ingin membunuhku.


Brakkk....


Aku memejamkan mataku sesaat sebelum kepalan tangan pria itu mengenai wajahku.


Hembusan angin menerpa wajahku bertepatan dengan suara pukulan yang melesat di meja kerjaku.


Aku tidak bisa mengontrol rasa takutku lagi. Tubuhku gemetar, keringat mulai bercucuran, kepalaku terasa berputar.


Bahkan aku sulit untuk bernapas, dadaku terasa sesak dengan detak jantungku yang terasa cepat.


Aku perlahan membuka mataku, pertama kali yang aku lihat urat - urat tangan pria itu yang menegang.


"Jika kau masih mendekati wanita itu, benda tajam ini akan menancap di leher mulus ini dan bukan hanya meja kerjamu yang retak."


Pria itu melepaskan tanganku dan mengambil pisau itu lalu melemparnya ke sembarang arah. Dia meraih daguku. Mendongakkan wajahku agar menatapnya. Air mataku menetes, tangis tanpan suara.


"Siapa yang menyangka wanita cantik ini ternyata seekor rubah licik yang akan menggigit orang yang sudah melindunginya. Tapi, kau tidak perlu takut karena aku tidak akan ikut campur masalah pribadimu. Selagi kau menjauhi Nyonya Nara, maka skandalmu itu tidak akan terungkap!"


Pria itu melepaskan cengkramannya dan berlalu pergi meninggalkan aku yang masih gemetar ketakutan.


Bagian bawah meja kerjaku retak dan ada sebercak darah pria itu. Jelas tangannya terluka. Andai saja dia benar memukul wajahku. Pastinya aku harus mengalamai beberapa kali operasi pemulihan.


Bagaimana mungkin seorang Nara yang lemah lembut memiliki hubungan dengan orang yang menyeramkan seperti itu. Ini pasti perbuatan suami Nara.


Suara derap langkah kaki terdengar mendekat ke arahku. Apa dia belum puas dan kembali lagi. Aku dalam bahaya.


Aku ingin berteriak dan berlari dari sini tapi tubuhku lemas tak berdaya.


"Raya!"


Aku menoleh ke pintu. Ada rasa lega menyelimuti ketakutanku saat mengenali pemilik suara itu.


Defin menghampiriku, melihat tubuhku dari atas kepala sampai kaki. Mungkin dia memastikan bahwa anggota tubuhku masih lengkap dan masih pada tempatnya.


Napasnya memburu. Entah karena lelah menaiki tangga atau karena bergegas berlari saat melihat pria itu keluar dari ruanganku.


Aku hanya menangis tanpa suara. Defin segera mengangkat tubuhku dan meletakkan aku di atas tempat tidur.


"Minumlah."


Defin menyodorkan segelas air yang berada di atas nakas. Bahkan air itu sudah sejak pagi berada di sana tanpa penutup. Aku yakin debu sudah bertaburan di gelas berisi air itu.


Namun, aku tetap meminumnya. Untuk menengkan kepanikan yang melanda.


"Dia menyakitimu? Katakan apa yang dia lakukan?" Defin mencecarku dengan banyak pertanyaan. Aku masih tetap tidak bisa bersuara.


Perutku terasa mual, kepalaku semakin berputar. Aku memuntahkan isi perutku, beberapa kali.


Defin tertegun melihatku lalu dia bergegas mengambil handuk kecil yang tergantung di samping meja rias.


Ya, tuhan. Tidak cukup dangan air yang berdebu kini dia menggunakan handuk wajahku untuk membersihkan muntahanku yang tersebar di lantai.


Setelah merasa pusing di kepalaku mereda. Aku beranjak membersihkan tubuhku.


"Apa luka di lehermu tidak dalam?"


"Hmm. Untungnya dia hanya memberikan sedikit goresan."


"Dimana kau menyimpan kain alas tempat tidur. Ini harus di ganti," ucapnya


"Cari saja di lemari bajuku. Paling bawah, berwarna biru."


Defin bergegas membuka lemari dan memasang kembali kain alas tidurku.


Aku duduk di lantai bersandar di pinggiran ranjang. Hujan sudah berubah menjadi gerimis.


Defin menyodorkan segelas minuman padaku. Dan dia langsung meminumnya melalui botol kemasan minuman beralkohol itu.


"Siapa pria itu?" tanyaku setelah meneguk minuman itu sampai setengah


"Dia orang yang memilik profesi sama denganku. Hanya seorang yang menjalankan perintah."


"Bahkan aku tidak bisa memilik seorang teman."


"Kau hanya salah memilih orang untuk menjadikan dia temanmu."


"Memang apa yang aku lakukan sehingga dia sangat takut aku berteman dengan istrinya. Aku tidak menyakiti wanita itu, dia terlihat senang saat kami saling bercerita pengalaman masing - masing."


"Jawabanya hanya satu, orang - orang seperti dia tidak ingin ada skandal apapun yang bisa merugikan mereka."


"Termasuk Bayu?"


"Ya, termasuk 'sugar daddy' mu itu. Saat ada skandal mereka akan melakukan apapun untuk menghapusnya dan tentunya sebelum itu terjadi juga harus segera di cegah."


Defin mengisi kembali gelasku yang sudah kosong.


"Kau sengaja ke sini untuk menyelamatkan aku?"


"Aku ingin memperingatkan kamu tentang mereka tapi karena kesibukanku hari ini jadi belum aku lakukan. Ternyata mereka bergerak cepat sebelum aku ke sini."


"Jadi apakah Nara tahu tentang hubunganku dengan Bayu?"


"Entahlah! Bisa saja dia tidak mengetahui apapun tentang tindakan suaminya."


"Sepertinya dia akan segera tahu dan tidak akan mau bertemu dengan diriku lagi."


"Itu bukan masalah penting. Pikirkan keselamatanmu sendiri dan jangan memancing amarah Revan. Tuan Bayu tidak ingin bersinggungan dengan dia, aku harap kau tidak membuat masalah semakin bertambah."


"Cengkraman pria tadi masih teras di pundakku. Sial aku tidak bisa membalas rasa sakit ini."


"Ada luka di bagian tubuhmu yang lain"


Aku membuka dua kancing piyamaku. Menarik sisinya dan memperlihatkan bahuku. "Yah, sepertinya besok akan terlihat sedikit memar," ucapku


Sekilas pandangn mata Defin bertemu dengan mataku, kemudian dia melihat ke arah bahuku.


"Apakah sakit?"


"Tentu, tapi aku sudah sering mendapatkan luka seperti ini jadi bukan hal yang perlu di khawatirkan."


"Sampai kapan kau akan bertahan?"


"Sampai aku ingin menyerah."


Defin menarik tengkukku, agar mendekat padanya dengan tangan kiri.


"Jika kau menciumku sekarang. Kau akan menjadikan aku wanita paling buruk, lebih buruk dari pada wanita ******. Jangan lupa jika aku masih jadi mainan utama, Tuanmu."


Defin menarik kembali tangannya yang berada di tengkukku. Dia tersenyum miring dan menuangkan kembali minuman di gelasku.


"Tidurlah. Aku akan berjaga di luar."


Ironis sekali, bahkan dia sekarang sudah gila. Dia selalu mengingatkan aku untuk tidak mempersulit Bayu tapi tidak sadar dengan apa yang dia lakukan sekarang.


Defin berbaring di sofa panjang. Pandangannya masih tetap sama, mengarah ke pintu berwarna coklat tua itu.


Yang mana di dalam ruangan itu ada wanita yang tidak henti - hentinya mengusik pikiran dan jiwanya.


γ€€


γ€€


γ€€


γ€€


Jangan lupa πŸ‘β€οΈVote & Comment


Follow IG Author: @hanania442