Love Affair

Love Affair
PART 35



Cahaya matahari berhasil membuat Raya mengernyitkan matanya beberapa kali. Raya perlahan membuka matanya dan menatap ke sekeliling.


Selang infus masih terpasang di tangan Raya. Raya bangkit dari posisi berbaring dan duduk menyandar di sandaran ranjang.


Raya tersenyum melihat posisi tidur Intan yang meringkuk di Sofa.


Raya bangkit perlahan, tangannya bertumpu di tiang penyanggah cairan infus. Kemudian Raya mengambil remote control pendingin ruangan dan menekan tombol off.


Raya membuka jendela kamarnya, agar udara segar masuk dan memberikan sensasi menenangkan. Walaupun tidak seperti ekspetasinya.


Karena Cafe mereka berada di pusat kota. Tentu saja suara bising dan polusi yang akan dia dapatkan.


"Tutup jendela itu. Jangan kamu pikir kita tinggal di pegunungan," celoteh Intan.


"Maaf," ucap Raya dengan segera menutup jendelanya dan kembali menyalakan pendingin ruangan.


Intan bangun sambil mengusap matanya.


"Kamu tidur jam berapa, Intan. Kenapa tidak tidur di sampingku saja. Tempat tidur ini masih sangat cukup untuk kita berdua."


"Itu tidak penting. Aku memang sengaja menginap karena aku tahu tidak akan ada siapapun yang akan menjaga kamu."


Raya tersenyum menanggapi ucapan Intan.


"Terima kasih, Intan yang cantik dan baik hati."


"Ya, aku tahu itu."


"Aku menyesal sudah mengatakan itu."


Intan terkekeh mendengarnya. Bukan Intan namanya jika tidak bisa membuat suasana hati Raya membaik.


"Aku akan pulang ke apartement untuk mandi dan menganti pakaianku. Kamu istirahat saja dan habiskan sarapan yang akan aku antarkan sebentar lagi."


"Ternyata kamu lebih cerewet dari dokter, ya."


Intan menghentikan langkahnya dan berdiri di ambang pintu.


"Bagaimana dengan Om Bayu? Kamu belum mengatakan apapun padanya."


Raya hanya menggelenggkan kepalanya sambil tersenyum terpaksa.


"Oh, tidak. Raya cepat hubungi Om Bayu sekarang. Kamu akan mendapat masalah."


"Tapi, sebelum itu bisakah kamu memanggilnya Bayu saja tnapa ada kata Om? Aku sedikit merasa tidak nyaman."


"Bukankah ak sudah memanggil dengan sangat sopan. Memnggil Om Bayu hanya dengan namanya saja akan aneh untukku.ย  Lalu, kamu memanggil Om Bayu apa? Sayang, Honey, My Hubby. Itu sangat menggelikan."


Intan tertawa terbahak. Sedangkan Raya terdiam membisu tanpa menanggapi candaan Intan. Melihat Raya diam saja semakin Intan ingin menggooda sahabatnya itu.


"Ayo, Raya katakan kamu memanggil sugar daddy mu itu dengan sebutan seperti apa? Aku sudah tidak sabar menertawakan kamu lagi."


"Intan..."


"Hmm, cepat Raya katakan."


"Lebih baik kamu sekarang segera pulang saja."


Intan mendengus kesal karena Raya tidak mau meberitahunya. Lagi pula Intan harus segera berganti pakaian karena akan ada rapat dengan Javier.


"Baiklah, akau akan pergi jaga dirimu." Intan membalikkan tubuhnya dan alangkah terkejutnya saat melihat sosok di hadapanya.


"Ba...ba... Bayu." intan menutup mulutnya dan segera meralat ucapanya beberapa detik lalu.


"Maksud saya, Om Bayu. Sejak kapan Om di sini?"


"Sejak kau bertanya apa panggilan dari Raya untuk ku."


Intan tidak menyangka Bayu berada di belakangnya. Intan mendelik ke arah Raya yang diam saja tanpa memberitahunya.


Pantas saja Raya tidak bicara apapun saat aku meledeknya. Batin Intan


Raya melambaikan tangannya kepada Bayu. Sebuah senyuman Raya suguhkan kepada pria itu. Saat Bayu berjalan ke arah Raya, Intan segera keluar dari kamar Raya.


Intan mengelus dadanya dan berucap syukur karena Bayu tidakย  memperpanjang masalah.


"Aku harus segera pergi dari sini," ucap Intan berjalan tergesa-gesa keluar dari ruangan Raya.


Sementara itu Bayu sedang memarahi Raya yang tidak memberitahu tentang kondisinya.


"Kamu yakin baik-baik saja Aku akan memanggilkan dokter terbaik untuk memeriksamu dan tidak perlu menggunakan bocah itu lagi."


"Javier? Dia juga dokter profesional jangan meremehkan kemapuannya, buktinya aku sudah membaik setelah mendaptkan perawatan darinya."


"Kau terus saja membelanya. Apakah dia terus berada di sini saat kamu sakit!"


"Tidak, dia pergi setelah mengobati aku. Intan yang menemani aku sepanjang malam."


Bayu memeluk Raya dengan erat. Mnegusap rambutnya dengan lembut.


"Aku sangat khawatir. Bahkan waktu terasa sangat lambat, pekerjaanku tidak kunjung ada habisnya."


"Tapi, darimana kamu tahu aku sedang sakit?"


"Ada yang melihat bocah itu keluar masuk dari Cafe ini dan membawa peralatan medis."


Bayu masih saja memanggil Javier dengan sebutan bocah. Jelas terlihat ada kecemburuan karena dia tidak tahu lebih cepat mengenai kondisi Raya.


Tentu saja kekesalan menjadi-jadi sat orang suruhannya sangat lambat memberikan informasi. Orang itu lagnsung di gantikan dengan yang lebih baik, bisa di katakan yang terbaik.


"Hmm... ternyata kamu mengwasi aku setiap saat. Tapi ternyata informasi yang kamu dapatkan sedikit terlambat, ya." Raya terkekeh melihat kekesalan di wajah Bayu.


"Itu tidak akan terjadi. Aku sudah membuang jauh-jauh orang seperti itu."


Bayu mengusap lembut pipi Raya. Pelukan hangat juga Raya dapatkan. Dia meminta Raya untuk tidak menyembunyikan apapun lagi kepadanya.


"Apa dia sudah tahu semuanya?" tanya Bayu.


"Iya," jawab Raya singkat.


"Aku tidak ingin berpura-pura di hadapan Intan, cepat atau lambat dia akan segera tahu. Lebih baik aku mengatakan lebih dulu."


"Kau yakin dia tidak akan menyusahkan kamu?"


"Tentu, kami sudah melewati berbagai masalah bersama. Jika dia ingin meninggalkan aku pasti sudah dia lakukan sejak dulu atau saat aku menceritakan hubungan kita."


Bayu hanya tersenyum, sembari mengusap pucuk kepala Raya. Raya tidak brubah dia selalu saja naif dan terlalu mempercayai orang dengan mudah. Tulus atau tidak bagi Bayu semua orang mencurigakan. Entah sejak kapan dia tidak pernah mempercayai siapapun dengan mudah.


Pengaruh pekerjaan atau karena begitu banyak penghianatan yang sudah terlihat jelas di hadapannya yang membuat Bayuu sulit untuk percaya kepada orang lain.


"Bagimana dengan kamu. Apa aku bisa percaya kepada mu?"


Raya tersenyum menanggapi pertanyaan Bayu. "Mungkin saat ini kamu bisa percaya kepada ku."


...๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ...


Saat ini Raya sudah kembali ke rumah. Melakukan aktifitasnya seperti biasa. Di hari libur ini Raya memilih tetap tinggal di rumah membaca sebuah novel di tepi kolam renang. Menikmati sinar matahari yang menyinari setiap inci tubuhnya.


"Raya,"


Mendengar namanya di panggil, Raya menutup novelnya dan menegakkan posisi duduknya. Senyuman dia lontarkan pada Tessa yang sudah memakai pakian renang.


"Tante, mau berenang juga?" tanya Raya basa-basi.


"Kamu suka membaca novel?"


"Hanya untuk mengusir kejenuhan saja."


Raya tersenyum menanggapi.


"Mungkin."


"Sayang sekali insiden seperti itu sudah menghancurkan sebuah keluarga yang bahagia."


"Jika Tante saja tidak bisa melupakan insiden itu, bagaimana dengan diri ku sendiri. Aku adalah orang yang paling kehilangan saat Papa tiada. Raya harap Tante tidak perlu mengingatkan kisah kelam itu. Karena Raya tahu arah pembicaraan ini."


"Kata-kata yang baru saja kamu ucapkan memang tidak salah. Tapi, bagaimana dengan kematian Mama mu? Saat itu usiamu sudah beranjak dewasa."


"Jadi menurut Tante aku yang membunuh Mama?"


"Hentikan, Raya."


Bayu memang sejak tadi mengawasi Tessa yang tiba-tiba menghampiri Raya.


"Tessa, temui aku di ruang kerja."


Raya memilih untuk kembali ke kamarnya dan mengabaikan apa yang baru saja Tessa ucapkan. Dia berbaring di tempat tidurnya dengan merentangkan kedua tangannya.


"Sepertinya kamu ingin segera mendapatkan balasan dari ku, Tessa." Raya tersenyum licik memikirkan rencana yang akan dia lakukan untuk membuat Tessa menderita.


Sementara itu Bayu sedang menunggu Tessa di ruang kerjanya.


"Dimana wanita itu? Cepat panggil dia jika kalian mendapat penolakan seret dia ke hadapanku."


Bayu mulai kesal karena Tessa tidak kunjung menemuinya. Wanita itu terus saja mengganggu Raya dengan hal yang tidak masuk akal.


Pintu ruang kerja Bayu terbuka. Bodyguardnya sudah membawa Tessa dengan memegang kedua tangannya.


"Lepaskan! Kalian pikir aku siapa!"


Bayu meminta mereka melepaskan Tessa dan meninggalkan ruangan itu.


"Kamu mencoreng wajah ku di hadapan orang-orang rendahan itu, Bayu!"


"Itu karena kau tidak menemuiku saat aku perintahkan. Bukankah sudah jelas ada yg perlu kita bicarakan."


"Jika yang ingin kau katakan hanya mengenai Raya, aku tidak akan mau membahasnya."


Bayu duduk di pinggiran meja kerjanya. Kedua tangannya di lipat di dada.


"Lalu apa masalah mu. Aku melihat kay terus saja mengungkit kematian Kakak mu."


"Itu bukan urusanmu."


Bayu berjalan mendekat dan mencondongkan bibirnya ke arah telinga kiri Tessa.


"Jika kau ingin tahu mengenai saat terakhir Kakak mu. Langsung tanyakan kepada ku, bukan kepada Raya karena sampai kapanpun dia tidak punya jawaban dari semua pertanyaan mu."


Kemudian, Bayu berlalu pergi meninggalkan Tessa yang masih terpaku.


Tessa terbelalak. Jantungnya berdegup kencang dan seketika tubuhnya lemas. Kaki yang sejak tadi menopang tubuhnya agar tetap tegap berdiri menghadapi Bayu kini terasa tidak berdaya dan jatuh terduduk di lantai yang dingin.


"Apa yang baru saja aku dengar? Tidak... tidak mungkin."


Tessa masih tidak percaya dengan kenyataan itu. Hati kecilnya terus menyangkal bahwa Kakaknya bukan bunuh diri tapi melainkan di bunuh dan yang melakukan semua itu adalah suaminya.


"Ke... ke... kenapa dia harus bertindak sejauh ini."


Makan malam pun tiba. Raya bergegas menuruni anak tangga, perutnya terasa melilit karena siang tadi Raya melewatkan makan siang karena terlalu banyak pekerjaan dan berakhir dengan tidur yang sangat nyenyak.


Saat ampai di ruang makan, Bayu dan Tessa belum turun. Hanya ada tiga orang pelayan yang sedang menyiapkan hidangan.


Raya menggambil sepotong buah dan memakannya untuk mengganjal perutnya sembari menunggu Bayu datang.


"Aku tidak sabar untuk memakan semuanya," ucap Raya yang mengedarkan pandanganya ke makanan yang sudah tersaji dengan rapi.


"Nyonya dan Tuan sebentar lagi akan turun. Nona sabar sebentar, ya."


"Silahkan duduk," panggil seorang pelayan sembari menundukkan kepalanya kepada Raya. Lalu, palayan itu menarikkan kursi agar Raya duduk.


Raya menolah dengan cepat ke arah pelayan itu saat dia mengingat siapa pemilik suara itu. Ternyata wanita itu, Raya tidak salah lihat. Bagaimana mungkin dia bisa lupa dengan wajah pemeras yang sudah melakukan trik licik kepadanya.


Kemudian, Raya menarik lengan wanita itu menuju halaman belakang. Dua orang rekannya hanya bisa diam melihat pelayan itu di tarik paksa oleh Raya. Mereka sadar akan kedudukan masing-masing tidak ada gunanya membantu dan ikut campur.


Pelayan itu meronta, ingin membebaskan dirinya dari cengkraman Raya. Raya mendorong tubuh wanita itu dan bagian punggungnya mengenai pot tanaman.


Dia meringis kesakitan. Rasa sakit dan perih dia rasakan di lengan bagian kirinya. Tangannya tergores oleh duri bunga mawar yang menghiasi taman.


"Apa yang kamu lakukan di sini!? Bukankah sudah sangat jelas apa yang aku perintahkan beberapa waktu lalu."


"Saya tidak mengerti apa yang anda katakan." Wanita itu masih terduduk di tanah sembari memegang luka gores di tangannya.


"Jika kamu tidak pergi dari rumah ini, aku bisa melakukan hal yang lebih gila. Anggap saja luka goresan itu sebagai pengingat untukmu!"


Pelayan itu berdiri perlahan dan tersenyum licik kepada Raya.


"Anda kasar sekali, Nona. Bukankah kita bisa bicara dengan santai, mungkin sesekali kita bisa sambil meminum teh hangat di taman ini. Anda tentunya tidak lupa bahwa saya memegang semua rahasia hubungab terlarang itu."


"Kau menguji kesabaranku!"


Pelayan itu tertawa terkekeh mendengar ancaman dari Raya.


"Apa yang bisa di lakukan oleh Nona yang di besarkan dengan penuh harta kekayaan seperri anda? Saya jadi tidak sabar menunggunya."


"Harga perhiasan itu lebih dari cukup untuk menutup mulut licik mu itu."


"Itu menurut anda, Nona. Tapi, bagi saya ini belum cukup. Selama anda masih menjadi simpanan Tuan, saya akan terus di sini."


"Dasar manusia tidak tahu diri!" Raya melayangkan tamparannya kepada wanita itu.


"Raya!" Teriakkan Tessa berhasil mengejutkan Raya.


"Ta...tante."


"Ada apa ini? Kenapa kamu menampar pelayan ini?"


Raya mengepalkan tangannya. Bukan sebuah penyesalan melainkan rasa emosi yang semakin memuncak saat wanita itu mulai merintih dan menangis di hadapan Tessa.


"Raya, katakan kesalahan apa yang sudah dia perbuat sampai kamu menamparnya."


Raya memilih pergi meninggalkan Tessa dan pelayan itu. Raya mengabaikan panggilan Tessa berulang kali. Dia bergegas menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.


Sementara itu di taman belakang. Tessa masih memaksa pelayangnya untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.


"Baiklah, jika kamu tidak mau mengatakannya. Kemasi barang-barangmu dan pergi dari rumah ini."


Pelayan itu segera bersujud di kaku Tessa. Memohon ampun agar dirinya tidak di usir dari rumah ini.


"Nyonya, saya mohon jangan usir saya dari sini. Saya...saya akan menceritakan semuanya."


Setelah mendengar penjelasan dari pelayan itu. Tessa semakin bingung, mungkinkah masalah kecil sepert itu membuat Raya murka.


"Kau yakin hanya karena kamu tidak mencuci pakaian Raya dengan bersih?" tanya Tessa ragu.


"Benar , Nyonya. Itu kesalahan saya kepada Nona Raya."


Tentu saja pelayan itu tidak ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Tessa. Karena dia paham betul belum saatnya rahasia Raya terbongkar. Dirinya masih memerlukan Raya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak.


"Kembalilah bekerja," perintah Tessa.


Wanita itu berjalan santai meninggalkan Tessa sembari memainkan kalung yang dia kenakan yang dia dapatkan dari Raya beberapa waktu lalu.


"Aku harus mendaptkan yang lebih dari ini. Nona manja itu adalah sumber kekayaan ku." Senyum licik terbit di bibirnya.