
“Aku rasa permasalahan kita sudah selesai. Aku juga sudah membagi saham perusahaan sesuai dengan keinginanmu. Bahkan itu lebih dari yang kau minta bahkan sudah lebih dari cukup sebagai syarat perceraian kita. Tapi kenapa kamu selalu mengganggu Raya.”
“Aku hanya mengatakan kenyataannya. Kenapa kau merasa kesal dan keberatan. Itu masalah kalian yang mengagungkan cinta tapi goyah hanya dengan sedikit fakta. Wanita murahan itu sangat mudah terpengaruh, itu aku rasa wajar karena dia mendapatkan kamu dengan cara yang menjijikkan dan sekarang kau ingin aku mengerti dan mengalah. Di mana hati nuranimu.”
“Jangan membohongi diri sendiri. Kita sejak awal memang sudah seharusnya berpisah, kita sejak dulu tidak pernah memiliki rasa yang seharusnya. Kita terus membohongi satu sama lain bahkan kita tidak jujur dengan diri kita sendiri.”
“Tessa aku mohon dengan sangat lepaskan Raya. Dia sedang mengandung anakku. Benci aku dan lampiaskan
kebencian itu hanya kepadaku. Semua ini terjadi karena kesalahanku bukan Raya.”
“Kau memang sangat luar biasa. Semua bisa dalam genggamanmu, tapi tidak hari ini. Saat kau sedang mencoba menekanku di sini, wanita itu juga akan mendapatkan balasannya.” Tessa tertawa, bukan tawa kebahagiaan melainkan tawa yang penuh dengan rasa sakit yang di sertai dengan air mata yang menetes.
Bayu meremas erat kedua lengan Tessa. Tessa sedang merencanakan hal yang tidak akan pernah dia bayangkan. “Apa yang kau lakukan kepada Raya?” tanya Bayu dengan menatap dalam kedua mata Tessa mencoba mencari jawaban.
“Hal yang memang harus aku lakukan sejak dulu. Hal yang terus menghantui tidurku. Hal yang terus aku inginkan sejak aku tahu kau tidur dengannya. Hari ini adalah hari kemenanganku, wanita itu akan pergi selamanya dari dunia ini. Kau akan merasakan kehilangan, sedih dan kecewa. Hari ini kau akan merasakan penderitaan dan penyesalan yang tidak pernah kau rasakan. Wanita kotor dan calon anakmu akan mati!” Tessa kembali tertawa penuh kemenangan.
Tessa melepaskan menepis kedua tangan Bayu yang masih mencengkeram lengannya. Tessa terus tertawa dan
menari-nari seolah-olah ada musik dan lagu yang berkumandang merayakan keberhasilan rencananya.
Wanita itu kembali mendekat ke arah Bayu. Mendekatkan wajahnya ke telinga Bayu. “Nyawa harus di balas dengan nyawa. Kau membunuh kakakku dan aku membunuh kekasih dan bayimu. Bukankah itu sangat setimpal.”
Bayu segera meninggalkan rumah Tessa. Sesegera mungkin untuk segera sampai di kediaman Raya.
Tessa mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. “Dia sudah dalam perjalanan, lakukan apa pun agar dia
terlambat setidaknya dalam waktu satu jam. Tapi satu hal yang harus kalian ingat, pastikan wanita itu tewas sebelum Bayu datang.” Tessa mengakhiri panggilan telepon itu dan kembali menari penuh kemenangan.
Suara ketukan pintu membuat Tessa menghentikan tariannya.
“Masuk,” perintahnya.
“Ma, Mama baik-baik saja?” tanya Rendra penuh dengan kekhawatiran.
“Ya, sayang. Mama baik-baik saja, apa ada masalah?”
“Aku melihat dia baru saja keluar dari rumah ini. Apa dia melakukan sesuatu kepada Mama?”
“Dia itu Papamu. Jangan memanggilnya dengan sebutan ‘Dia’. Mama yang bermasalah dengannya tapi kamu harus tetap menghormati Papamu.”
“Tidak akan pernah! Mama jangan meminta itu dariku. Tapi, apa yang membuat dia datang menemui Mama?”
Tessa memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Rendra. “Itu tidak penting! Hanya membahas beberapa kesepakatan dalam perceraian kami. Tapi kamu tidak perlu khawatir, semuanya akan selesai hari ini.”
“Ma, kenapa Mama menemui Raya beberapa hari lalu? Bukankah Mama sudah berjanji untuk tidak menemui Raya. Raya sedang tidak baik-baik saja, kesehatannya menurun jadi aku harap Mama tidak menemuinya lagi.”
“Mama hanya ingin melihatnya saja tidak ada tujuan apa pun.”
“Tapi, Mama menemuinya dengan membawa surat itu. Bukankah Mama sudah janji untuk tidak membalas Raya.
Mama janji untuk melupakan semua ini.”
Tessa kesal mendengar Rendra yang seakan-akan membela Raya. Tessa dengan marah menampar wajah Rendra.
“Mama pikir kamu mengerti dan menyayangi Mama. Tapi, ternyata kamu sama saja dengan Papamu! Apa kamu juga tidur dengan wanita kotor itu!”
Rendra beranjak dari duduknya.
“Ma! Ucapan Mama sangat keterlaluan.”
Tessa menarik tubuh Rendra dan menyeretnya keluar dari rumah itu. “Pergi! Aku tidak butuh anak sepertimu.”
“Sepertinya selera makan Ibu sudah membaik beberapa hari ini,” ucap asisten rumah tangga Raya.
“Tentu, karena aku dapat kabar yang sangat baik dari dokter kemarin. Walaupun persalinanku akan di percepat tapi dokter sudah menjamin bahwa semua akan baik-baik saja. Aku hanya perlu mempersiapkan diri dan makan dengan baik.”
“Syukurlah saya sangat senang mendengarnya. Bu, saya membuatkan jus buah-buahan dan sangat segar. Ayo,
di minum.”
Raya mengambil segelas jus yang diberikan wanita itu dan meminumnya setengah. “Bu, di habiskan segera nanti jadi tidak enak lagi.”
“Kamu ini selalu saja memaksaku untuk menghabiskan makanan dan minumanku segera.”
“Itu kan untuk kebaikan Ibu juga.”
Raya menghabiskan minuman itu. “Ini, kamu sudah puas sekarang?”
“Saya kan senang kalau Ibu begini. Jadi saya tidak akan di marahin Pak Bayu lagi. Ibu tahu sendirikan Pak Bayu kalau tahu Ibu tidak makan teratur dan tidak memakan makanan yang sehat pasti saya yang di tegur.”
“Iya, Iya! Sudah sana kamu kerjakan tugas kamu yang lain. Aku mau bersantai sejenak di sini.”
Raya mengatur posisinya senyaman mungkin. Suara gemercik air di kolam renang membuatnya seperti sedang
berada di tepi sungai. Raya menengadahkan kepalanya. Menikmati langit sore yang kemerahan. Raya menarik napasnya perlahan agar rileks dan mendapat ketenangan.
Namun, Raya merasakan hal yang aneh bukan merasa rileks dan lega saat dirinya mengatur napas melainkan
terasa sesak dan nyeri bahkan organ pernapasan dan pencernaannya terasa panas dan terbakar. Raya segera membuka matanya, Raya segera menegakkan tubuhnya dengan memegang dadanya yang semakin sesak bahkan sangat sulit untuk bernapas. Raya berulang kali menepuk dadanya. Tubuhnya terjatuh kelantai.
Raya berusaha memanggil Asisten rumah tangganya. Namun, suaranya tidak bisa keluar hanya suara rintihan. Seketika Raya memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Raya kembali memastikan cairan itu. Ya, ini darah.
Pandangannya mulai kabur dengan sisa tenaganya Raya meraba meja dan mencari ponselnya. Setelah mendapatkan ponselnya dengan tangan gemetar Raya mencari nomor siapa pun yang bisa dia hubungi. Namun, dengan kondisi tangan gemetar penglihatan yang semakin berkurang di campur dengan tangannya yang bercampur dengan bercak darah semakin menyulitkan karena ponsel itu sudah tertutup darah.
Raya kembali memuntahkan darah. Akhirnya Raya berhasil menghubungi seseorang. Raya mendekatkan ponsel
itu ke telinganya. Panggilan teleponnya berhasil.
“Halo, Raya...”
Belum sempat Raya meminta pertolongan. Ponsel itu sudah di tarik dari tangannya. Tepat di hadapan Raya, wanita itu menghancurkan ponselnya dengan cara menginjaknya beberapa kali lalu menendangnya ke dalam kolam renang.
Raya memegang kaki wanita itu. Meminta pertolongan. Tetapi wanita itu menepisnya.
“Bagaimana rasanya Jus yang saya buat, Bu? Apakah Ibu menikmatinya?”
Wanita itu duduk berjongkok di hadapan Raya dan menarik rambut Raya. Raya melihat dengan jelas wanita itu adalah asisten rumah tanggganya.
“Too..long aaaku...” ucap Raya terbata-bata.
“Tugasku menyingkirkan kamu wanita ******, bukan menolong.”
Wanita itu melepaskan cengkeramanya di rambut Raya. Dia duduk di mana tempat Raya duduk tadi.
Sisa-sisa kesadaran dan tenaganya Raya gunakan untuk merangkak perlahan meninggalkan wanita itu. Tetapi,
sungguh sangat sulit untuk menggerakkan tubuhnya. Seluruh tubuhnya terasa lemah dan tak berdaya.
“Percuma kau berusaha pergi dari sini. Dalam waktu lima belas menit rasa sakitnya akan semakin terasa. Nikmati saja setiap detik yang berharga ini dengan menyesali seluruh dosa yang sudah kau perbuat.”