Love Affair

Love Affair
PART 20



"Raya, katakan yang sejujurnya sama tante..."


Raya terdiam terpaku. Lidahnya terasa kelu, sungguh dalam hati dia ingin berteriak dan mengatakan semuanya di hadapan Tessa.


"Raya cepat katakan! Siapa yang selama ini Bayu temui diam - diam di cafe?" tanya Tessa yang masih memegang kedua lengan Raya.


"Jawab, Raya! Katakan siapa wanita yang Bayu temui di Cafe kamu," bentak Tessa di hadapan Raya.


Bayu menarik lengan Tessa, "Jangan sentuh, Raya!"


Tessa kembali menatap tajam ke arah Bayu.


"Dia..." Tessa mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Bayu.


"Suami yang selama ini aku cintai. Ternyata sudah menjadi pengkhianat! Aku selama ini selalu diam dan berharap dia meninggalkan perempuan itu. Tapi hari ini dia merencanakan liburan dengan perempuan ****** itu!"


Tessa salah memahami semua yang terjadi. Dia tidak tahu bahwa Raya adalah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.


Haruskah dia senang atau kecewa. Kesalah pahaman ini membuat Raya menjadi dilema.


"Lalu, jika kau sudah tahu aku berselingkuh. Apa yang kau inginkan? Cerai?"


"Kamu, bahkan tidak berusaha menyangkalnya. Berarti semua memang benar!"


"Ya, semuanya benar! Aku memang memiliki wanita lain. Sekarang kau puas?!" teriak Bayu


Tubuh Raya masih gemetar, dengan susah payah mencoba menenangkan dirinya sendiri.


"Siapa? Siapa wanita itu, Bayu!"


Raya menoleh dengan cepat ke arah Bayu. Raya menggelengkan kepalanya, memberi isyarat agar Bayu tidak menyebutkan namanya.


"Dia....," ucapan Bayu terhenti saat Raya segera mengalihkan pandangan Tessa


"Tante..." Raya menarik lengan Tessa agar menghadap ke arahnya.


Bayu mengatupkan rahangnya. Menahan amarahnya pada Raya yang mencegah dirinya untuk mengakui wanita yang selama ini sudah menempati hatinya.


"Tante, Raya pikir ini hanya salah paham. Om Bayu, tidak mungkin melakukan itu."


Sial! Bahkan aku tidak siap untuk mengakui semuanya. Raya merutuki dirinya sendiri.


Sementara itu tatapan kemarahan terpancar di wajah Bayu.


"Tante, punya bukti! Ini bukan lagi salah paham, Raya."


Tessa mengusap air matanya kemudian mengambil poselnya. Sekilas Raya melihat itu adalah sebuah potongan gambar, bukti transaksi Bayu membeli sebuah Villa.


"Kamu lihat ini!" Tessa beralih menunjukkan ponselnya kepada Bayu.


"Kamu membeli sebuah villa mewah ini tanpa mengatakan apapun padaku dan satu lagi dua hari lalu kamu membeli sebuah perhiasan kalung berharga fantastis untuk ****** itu!"


Raya menyentuh kalung pemberian Bayu pagi tadi. Dengan sigap Raya menarik paksa kalung itu dari lehernya dan menaruhnya dalam saku belakang jelana jeans yang dia kenakan.


Bayu semakin menatap tajam pada Raya. Kecewa dan kesal Bayu rasakan. Ini saat yang tepat untuk mereka mengungkapkan semuanya pada Tessa tapi yang di lakukan kekasihnya sungguh di luar dugaan.


"Aku sudah memegang semua bukti perselingkuhan kamu, Bayu! Sampai kapan kamu bisa menyembunyikan identitas wanita murahan itu!"


"Cukup! Jangan terus menyudutkan dia!" teriak Bayu.


Tessa tertawa terbahak namun air matanya juga tidak berhenti menetes.


"Kamu lihat, Raya. Dia masih saja memuja wanita yang jelas - jelas tidak memiliki harga diri."


Raya menundukkan wajahnya. Sungguh rasanya sangat sakit tapi semua yang di katakan Tessa adalah sebuah kebenaran.


Dia wanita yang tidak memiliki harga diri, yang dengan tega menghancurkan keluarga yang sudah sangat baik padanya.


"Wanita itu hanya mendambakan kekayaan kamu. Rumah, perhiasan lalu apa!? Dia akan mengambil semuanya dari kamu."


"Cukup, Tessa!"


Bayu melayangkan tangannya hendak menampar Tessa. Namun, Raya menahannya.


"Aku mohon, jangan lakukan itu." Raya menatap mengiba pada Bayu.


"Raya, kamu sadar apa yang sudah kau lewatkan," ucap Bayu lirih


Raya mengelengkan kepalanya. Air matanya juga menetes.


Bayu melepaskan genggaman Raya di pergelangan tangannya. Bayu melemparkan vas bunga di sudut dinding dan semua foto - foto yang terpanjang dengan indah di dinding satu persatu dia ambil dan di lemparkan ke lantai.


"Lihat ini, Tessa. Semua moment kebahagiaan dalam foto ini adalah kepalsuan! Sejak lama rumah tangga kita memang bermasalah. Aku sudah berusaha keras untuk berjuang tapi apa yang aku dapatkan! Aku hanya berjuang sendirian, lalu untuk apa sekarang kamu mengambil posisi sebagai korban dan melimpahkan semua kesalahan padaku di saat aku memiliki wanita lain!"


Bayu kembali mengambil foto pernikahan mereka yang berukuran besar dan menjatuhkan ke lantai.


Pecahan kaca berserakan bercampur dengan bingkai - bingkai kayu.


Setelah semua hancur dan tenaganya terkuras. Bayu duduk terdiam di lantai ruang keluarga tempat dimana perdebatan besar telah terjadi.


Begitu juga dengan Tessa yang masih menangisi kekecewaannya.


"Pada akhirnya kita akan berakhir seperti ini." Bayu menatap Raya dengan sendu lalu pergi meninggalkan dirinya dan Tessa.


Terasa hening setelah semuanya usai. Hanya isak tangis Tessa yang memenuhi ruangan.


Raya ingin menenangkan Tessa, tapi dia mengurungkan niatnya. Semua ini terjadi karena dirinya, bahkan untuk berpura - pura baikpun tidak ada gunanya saat ini.


Raya beranjak dari duduknya. Lalu mengambil koper yang berisi pakaian untuk rencana liburannya dengan Bayu.


"Tante, mulai hari ini Raya akan tinggal di cafe."


Tessa masih saja menangis tapi Raya tahu Tessa mendengar ucapannya hanya saja dia tidak bisa berkata - kata.


Raya menarik kopernya dan melewati setiap pecahan kaca itu. Terdengar gemeretak pecahan kaca yang di injaknya. Walaupun sudah mencoba hati - hati kakinya masih juga terkena pecahan kaca.


Bukankah ini sama dengan kehidupannya. Untuk saat ini rahasia masih tetap tersimpan tapi suatu saat semuanya akan terbongkar.


Raya menatap sekliling sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Bayu.


Lebih baik untuk saat ini dia tinggal terpisah. Sungguh tidak nyaman jika harus terus tinggal bersama Tessa. Rasa cemburu dan bersalah muncul setiap harinya.


🌟🌟🌟


Dua minggu telah berlalu. Setelah pertengkaran besar yang terjadi, Raya dan Bayu tidak bertemu. Raya hanya mendapatkan informasi dari Defin bahwa Bayu memilih untuk tinggal di apartementnya tanpa kembali ke rumah.


'Setidaknya kau sedikit senang sekarang karena tuan tidak kembali ke rumahnya'


Pesan singkat itu berulang kali Raya baca. Berkali - kali pula Raya ingin menghubungi Defin untuk menanyakan keadaan Bayu tapi selalu dia urungkan.


"Apa semuanya berakhir seperti ini?"


Raya membenamkan wajahnya di bantal. Pikirannya terus berkecamuk. Raya sangat ingin bertemu dengan Bayu namun, hatinya bimbang saat mengingat lagi bagaimana kemarahan Bayu ketika itu.


"Seharusnya dia bertanya padaku terlebih dulu. Aku punya alasan karena tidak mengungkap hubungan ini."


"Dia selalu mengatakan bisa mengatasi semuanya. Ck! Memangnya dia superhero. Wajar jika aku masih takut apabila Tante tahu semuanya."


Raya memukul - mukul kasurnya. Lalu duduk dan mengacak - acak rambutnya.


"Seharusnya kamu datang menemui aku, Bayu sialan! Bukan menghilang seperti ini!" teriak Raya


"Sekarang aku harus bagaimana? Hah! Aku juga takut jika harus menghubunginya lebih dulu."


Raya segera berlari ke ruang kerjanya saat ponselnya berdering. Raya dengan sigap mengangkat panggilan masuk itu.


"Hallo...." Napas Raya terengah-engah sangat terdengar jelas di ujung telpon.


"Kamu baik - baik saja?"


Raya memejam matanya. Saat menyadari siapa yang menghubunginya.


"Ya, aku baik - baik saja. Sangat baik."


"Tapi...."


"Aku...aku sedang olahraga. Ya, aku lelah karena baru selesai olahraga."


"Bagus jika kamu berolahraga."


Mereka saling terdiam. Kemudian Raya mengusir keheningan antara mereka berdua.


"Bukankah kamu menghubungi aku karena ada hal penting."


"Satu jam lagi aku akan menjemputmu, kita akan ke villa keluargaku untuk menyiapkan acara yang tertunda waktu itu."


"Apa?! Kenapa begitu mendadak? Aku bahkan belum menyiapkan apapun."


"Tapi aku sudah mengatakan pada Tante Tessa satu minggu lalu. Aku pikir dia sudah menyampaikan padamu."


"Mmm...ya, sepertinya aku yang lupa akan hal itu."


Raya melihat kalender di ponselnya. Hari ini memang tanggal yang di sebutkan Tessa. Hari dimana dia dan Javier harus pergi terlebih dulu dan menyiapkan semuanya.


Hah! Karena terus memikirkan Bayu. Aku sampai lupa semuanya. Sekarang aku harus bersiap dengan sangat terburu - buru, aku sangat tidak suka hal seperti ini. Apapun yang di lakukan dengan tergesa - gesa maka hasilnya tidak akan baik.


Raya mendekatkan wajahnya di cermin besar di kamarnya. Efek kurang tidur membuat wajahnya tidak dalam keadaan baik.


"Lihat kantung mata dan kulit kusam ini. Aku harus bertemu banyak orang dengan kondisi seperti ini."


Sesaat kemudian Raya mengabaikannya. Setelah menyiapkan semuanya aku hanya perlu diam di kamar dan tidur itulah yang di pikirkan Raya.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


Maaf kalau masih banyak typo ya😁


Jangan lupa 👍❤️ vote & comment


Terima kasih 🥰