
Setelah pertengkarannya dengan Raya pagi tadi. Tessa mencoba menenangkan pikirannya dan berusaha melupakan semuanya. Semua pasti hanya salah paham saja. Begitulah dirinya terus berusaha untuk tenang.
Saat Tessa keluar dari kamarnya, seorang pembantu rumah tangganya baru saja keluar dari kamar Raya membawa pakaian kotor.
"Tunggu," ucap Tessa.
"Nyonya, butuh sesuatu?"
"Ini pakaian Raya pagi ini?" tanya Tessa seraya menunjuk sebuah keranjang berukuran sedang yang sedang dibawa wanita paruh baya itu.
"Iya, Nyonya. Saya perlu segera membersihkan noda di bajunya jika di biarkan terlalu lama bisa saja nodanya tidak hilang."
Tessa kembali mengalihkan pandangannya pada tumpukan pakaian kotor Raya dan benar di sana ada baju Bayu. Seperti yang Raya katakan padanya pagi tadi.
"Pergilah," perintah Tessa kepada pembantu rumah tangganya. Setelah wanita itu pergi, Tessa masuk ke kamar Raya.
Tessa menyapukan pandangannya ke setiap sudut kamar Raya. Tessa menuju meja rias Raya, perlahan dia menarik laci kecil di meja itu. Sebuah kotak perhiasan berwarna biru tua berada di dalam laci itu.
"Sejak kapan Raya membeli perhiasan, aku tidak pernah melihat kotak perhiasan ini sebelumnya."
Tessa mengetahui setiap perhiasan yang Raya miliki karena Raya selalu meminta sarannya jika ingin membeli perhiasan. Biasanya Raya bahkan menyerahkan semua pilihan pada Tessa dan Raya hanya melakukan pembayaran.
Tessa meraih kotak perhiasan itu dan ingin membukanya.
"Nyonya," suara pembantu rumah tangganya sontak mengejutkan Tessa dan kotak perhiasan itu jatuh ke lantai dan perhiasan itu jatuh ke bawah meja rias. Belum sempat dia melihat isi kotak tersebut.
Tessa beranjak dari duduknya dan menatap kesal kepada pembantunya.
"Untuk apa kamu masih di sini. Bukankah aku sudah memerintahkan kamu untuk pergi."
"Maaf, Nyonya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa ada tamu yang ingin menemui anda."
"CK! Lain kali ketuk pintu lebih dulu."
Pelayan itu terdiam, menyesali kesalahannya.
"Bereskan semuanya dan kembalikan kotak perhiasan itu ke dalam laci." Tessa pergi meninggalkan kamar Raya.
"Baik, Nyonya." Pelayan itu mengangguk mengerti dan segera mengambil kotak perhiasan itu.
"Dia mengatakan aku tidak sopan tapi dia sendiri masuk ke kamar Nona Raya tanpa izin," gerutu pelayan itu.
Dia meraih kotak perhiasan itu yang berisi sebuah kalung berliontin hati. Kalung itu adalah pemberian Bayu untuk Raya beberapa waktu lalu yang sempat memicu pertengkaran dengan Tessa.
"Sayang sekali kalung sebagus ini tidak di pakai." Pelayan itu membentangkan kalung itu di telapak tangannya mengaguminya.
"Tapi, untuk apa Nyonya memeriksa perhiasan Nona Raya." Kemudian dia meletakkan kembali kalung itu ke dalam kotak perhiasan dan mengembalikan ketempat semula.
Kali ini Raya masih terselamatkan karena Tessa tidak melihat perhiasan itu. Siapapun tamu yang datang itu dirinya harus berterima kasih karena sudah mengalihkan perhatian Tessa dan juga rasa penasarannya.
...🌟🌟🌟...
"Bukankah aku sudah mengatakan bahwa kau tidak perlu menjemput ku."
Defin mengabaikan ucapan Raya dan melajukan mobilnya. Mereka diam tanpa kata. Rintik hujan mulai membasahi bumi.
"Aku ingin meminta bantuan darimu," ucap Raya membelah kesunyian.
"Pikirkan lagi sebelum semuanya terlalu jauh."
"Aku sudah mengambil keputusan dan kakiku sudah melangkah, bahkan tidak ada jalan lagi untuk kembali."
Defin menghela napasnya. DIa tahu apapun yang diminta Raya adalah hal besar untuk menjalankan rencana wanita itu.
"Aku tidak suka berada dalam situasi seperti ini. Situasi yang menyulitkan dimana aku harus memilih antara kau dan Bayu."
"Seharusnya aku tidak berharap lebih padamu. Tentu saja kau akan melindungi Bayu. Tapi, aku tidak akan menyerah begitu saja."
Defin menepikan mobilnya dan berhenti di badan jalan. Defin menarik lengan Raya agar dia bisa melihat dengan jelas wajahnya.
"Bayu mulai curiga, apa kau tidak tahu itu? Jangan berpikir bisa mengatasi amarahnya hanya dengan senyum manis dan cinta palsu yang kau miliki."
"Karena aku tahu semua itu, saat ini aku sedang melindungi diriku sendiri."
"Hentikan semua dendam dan ambisi yang kau miliki. Pada akhirnya hanya akan ada kehancuran."
"Aku menginginkan Bayu menjadi milikku dan untuk tetap membuatnya tetap di sisiku adalah perusahaannya. Aku harus menjadi pemegang saham terbesar di sana."
"Kau tidak akan bisa mencapai keinginanmu. Karena aku akan memastikan itu tidak akan terjadi."
Raya mencoba membuka pintu mobil untuk turun. Namun, Defin tidak akan menuruti keinginan Raya. Defin tidak ingin Raya pergi dan entah kemana, semua akan semakin menyulitkan pekerjaannya.
"Sampai kapan kau mengatur hidupku! Aku akan melakukan apapun yang aku inginkan."
"Katakan itu kepada Bayu. Katakan semua keinginanmu jangan kepadaku, seperti yang kau tahu aku hanya melaksanakan perintahnya."
Sesampainya di rumah Raya memilih untuk mengurung diri di kamar. Melewatkan makan malam dan tidak menjawab panggilan masuk dari Bayu entah sudah yang ke berapa kali pria itu mencoba menghubunginya.
Raya memilih mengabaikan semuanya dan memilih untuk menikmati angin malam di balkon kamarnya.
Raya menatap langit gelap hanya beberapa bintang terlihat. Seperti suasana hatinya saat ini. Penuh kegundahan. Raya memikirkan semua rencananya untuk menjadi wanita satu-satunya di hati dan mata Bayu.
Semua ini belum cukup baginya. Bayu harus benar-benar berpaling dari Tessa. Wanita yang sudah mengabaikan dirinya saat butuh pertolongan akan segera mendapatkan balasannya.
"Aku harus memberikan rencana terbaik untuk Tante ku tersayang. Aku akan mulai dari merebut seseorang yang sangat dia cintai. Kau akan merasakan bagaimana rasanya diabaikan dan hidup seorang diri."
Suara pintu berderit mengejutkan Raya. Ada seorang wanita berjalan perlahan memasuki kamarnya.
"Nona, saya membawakan makan malam."
"Aku tidak lapar, bawa saja kembali makan itu."
Namun, wanita itu mengabaikan perintah Raya dan meletakkan makanan dalam nampan itu di atas nakas.
"Sudah aku katakan, bawa saja makanan itu."
Wanita itu berjalan mendekat ke arah Raya. Raya menatap kebingungan.
"Nona, saya punya sebuah informasi. Saya rasa anda akan terkejut mendengar ini." Raya dengab jelas melihat wanita itu tersenyum.
"Saya tahu semuanya. Apa saja yang terjadi di rumah ini di saat semua orang terlelap dalam tidur."
"Keluar dari kamarku. Kau sudah tidak sopan masuk ke kamarku."
Wanita itu kembali mengabaikan perintah Raya. Dia melangkah menuju ranjang Raya dan duduk di pinggiran ranjang.
"Karena Tuan Bayu tidak berada di rumah, tempat tidur ini terlihat cukup tertata."
Raya mulai kehilangan kesabarannya kepada wanita itu. Raya mendekati wanita itu dan menariknya agar keluar dari kamarnya.
Saat Raya hendak menutup pintu kamarnya. Wanita itu menahan dengan kaki kirinya.
"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan. Pergilah aku ingin istirahat."
"Tenang Nona, saya akan tetap diam dan seakan tidak melihat apapun. Tapi, jika anda menutup pintu ini dan mengusir saya jangan marah jika Nyonya Tessa tahu perselingkuhan antara suami dan keponakannya ini."
Raya membuka kamarnya dan meminta pembantu rumah tangga itu untuk kembali ke dalam kamarnya.
"Seberapa banyak yang kau tahu?" tanya Raya.
"Semuanya. Bahkan saya tahu awal mula hubungan kalian berdua. Sampai yang baru saja terjadi beberapa hari lalu saat anda merencanakan semua kebohongan untuk menutupi kecurigaan dari Nyonya ." Wanita itu tersenyum licik.
"Cukup! Katakan apa yang kau inginkan."
"Berikan perhiasan di kotak biru tua itu untuk saya dan semua akan saya simpan sampai kapanpun."
"Kau sudah gila. Jangan bermimpi aku akan memberikan itu kepada mu."
"Baiklah anda akan menyesal jika saya sudah membuka mulut."
Raya berpikir sejenak. Kemudian mengambil perhiasan pemberian Bayu dengan berat hati. Raya bukan takut jika semua terbongkar, dia hanya tidak ingin wanita itu menggagalkan semua rencananya.
"Ambil ini! Jangan pernah katakan apapun tentang aku dan Bayu."
Wanita itu membuka kotak perhiasan itu dan menatap kagum.
"Saya pikir akan sulit mendapatkan ini tapi ternyata anda dengan mudah melepaskan perhiasan mahal ini."
"Pergi dari kamarku dan tinggalkan rumah ini untuk selamanya."
"Saya akan memberikan satu informasi kepada anda. Nyonya sudah mulai curiga bahkan dia pagi tadi hendak membuka perhiasan ini. Namun, saya berhasil mencegahnya dan datang di waktu yang tepat. Bukankah anda harus berterima kasih kepada saya."
Raya mendorong wanita itu keluar dari kamarnya. Raya sudah merasa cukup berhadapan dengan wanita licik itu.
Harga kalung itu sudah cukup untuk menutup mulutnya. Dia bisa gunakan uang dari penjualan kalung itu untuk biaya hidupnya.
Tapi, bagaimana jika wanita itu tidak puas dan akan kembali memerasnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang," gumam Raya.