
"Aku rasa tidak memintamu datang ke sini. Aku sedang bekerja, jika hanya ingin mengganggu lebih baik kau pergi sekarang."
Defin mengabaikan ucapan Raya yang memang saat ini dia mulai terbiasa dengan ucapan pedas gadis itu.
"Seperti yang kau tahu. Aku bukan hanya menjadi orang yang berada di belakang setiap tindakan Bayu, aku juga mengatur segala hal di rumahnya. Salah satunya keamanan dan segala hal yang berkaitan dengan pekerja di rumah itu."
Raya melirik sejenak ke arah Defin yang sedang duduk santai di sofa ruang kerjanya. Kemudian Raya kembali melakukan pekerjaannya.
"Kau butuh uang untuk membayar gaji? Bayu yang memerintahkan kau melakukan ini? Apa dia sudah bangkrut dan akan jatuh miskin?" Raya tersenyum sini.
"Aku tahu kau bercanda. Kita langsung saja pada permasalahan yang terjadi beberapa jam lalu, antara kau dan pelayan bagian dapur pagi ini."
Raya mulai kesal saat Defin kembali mengingatkannya kepada pelayan kurang ajar itu. Raya meremas lembaran dokumen yang sedang dia periksa.
Defin menyadari itu. Keyakinannya semakin besar dengan melihat gerak gerik Raya yang tidak nyaman saat mereka membahas masalah itu.
"Aku hanya menegurnya karena melakukan kesalahan."
"Kau yakin itu hanya sebuah kesalahan kecil?"
Raya menatap Defin yang duduk santai dengan bersandar di sofa.
"Baiklah, aku mengerti sekarang. Kau berada di sini untuk mengingatkan bahwa aku bukan pemilik atau nyonya di rumah itu. Kesimpulannya aku tidak berhak memarahi pekerja di sana."
Defin tersenyum menanggapi ucapan Raya.
"Aku akan menemui pelayan itu dan meminta maaf. Beberapa nominal mungkin cukup untuk menutup mulutnya."
"Tessa mengatakan kau kesal karena tidak puas dengan kinerja pelayan itu. Tapi, sampai memukulnya, bukankah itu terlalu berlebihan. Seorang Raya yang aku kenal tidak akan membuang waktunya untuk hal kecil seperti itu."
Defin berdiri di hadapan Raya. Kedua telapak tangannya bertumpu di meja kerja Raya. Defin menatap mata Raya.
Raya balik menatap tajam kearah Defin, "Jika kau begitu penasaran, kenapa tidak menanyakan kepada pelayan itu saja? Kenapa harus aku? Bukankah pelayan itu yang menjadi korban."
"Pelayan itu memilih untuk diam. Aku yakin ada hal yang membuat kau sangat membenci wanita itu."
Raya mengambil beberapa dokumen yang baru saja dia periksa. Raya melangkah menuju pintu ruang kerjanya.
"Jangan terlalu ikut campur dengan urusanku. Bukankah Bayu sedang mengawasi kita. Jika kau terlalu sering menemui ku seperti ini, akan berdampak buruk kepada kita berdua."
Sebuah senyuman terbit di bibir Raya dengan mempersilahkan Defin untuk keluar dari ruang kerjanya.
"Sebisa mungkin jangan bertindak tanpa berpikir. Jika kau tidak keberatan aku akan mengurus wanita itu. Cukup ceritakan masalah yang sebenarnya dan terima hasilnya."
"Tidak, terima kasih. Lebih baik kau mencari cara untuk membuat Bayu percaya sepenuhnya padamu. Aku harus bertemu dengan Javier untuk membahas masalah kerja sama kami. Aku juga sudah mendapat izin dari Bayu, jadi kau tidak perlu mengikuti aku."
Saat Defin diambang pintu. Raya kembali menegaskan agar Defin tidak ikut campur lagi dalam setiap tindakan dan rencana Raya. Defin hanya akan membuat semua rencananya menjadi berantakan. Menurutnya tidak ada satu alasan pun yang membuat Defin akan mendukungnya. Apalagi jika menyangkut dengan Bayu.
Defin akan lebih berpihak kepada Bayu di bandingkan dengan dirinya. Raya hanya bisa mempercayai dirinya sendiri saat ini. Semua rencananya akan dia lakukan dengan tangannya sendiri.
...🌟🌟🌟...
"Raya tidak mungkin melakukan itu. Jangan berlebihan menuduhnya."
"Berlebihan, kamu bilang ini berlebihan?!" Tessa melemparkan dokumen di meja Bayu.
"Lihat, dia bekerja sama dengan orang yang sangat kau percaya. Defin akhirnya menancapkan cakarnya padamu. Kamu masih bisa mengatakan semua ini hanya salah paham."
Bayu mengambil gagang telepon dan berbicara dengan sekretarisnya agar segera masuk ke ruangannya.
"Periksa semua dokumen ini, jika ada yang janggal laporkan secepatnya."
"Hanya itu? Bayu, ini masalah serius dan harua segera kita selesaikan. Bagaimana jika Raya mengambil alih semua perusahaan kita!"
"Kau tidak perlu menggurui dan berkomentar apa yang akan aku lakukan. Cukup diam dan nikmati hasilnya."
"Aku tidak ingin Raya sampai mengacaukan semuanya, jika kamu gagal mengatasi ini. Aku yang akan mengurus anak pembawa sial itu."
"Cukup, Tessa! Keluar dari ruangan ku sekarang! Jangan buat aku semakin muak dengan keberadaan mu."
Tessa mendengus kesal dan keluar dari ruang kerja Bayu dengan sengaja membanting pintu dengan keras.
"Apa yang sudah di lakukan Raya, sampai Bayu begitu melindunginya. Aku tidak pernah melihat Bayu begitu menahan diri saat masalah besar terjadi. Bahkan Raya sudah berusaha menghancurkan perusahaannya dan Bayu hanya diam."
Tessa terus tenggelam dalam semua pikirannya. Bayu terlihat terlalu tenang saat dia menyodorkan semua bukti bahwa Raya mencoba untuk mengambil alih semuanya.
"Tidak mungkin Bayu sudah tahu semuanya dan memilih untuk diam. Apa aku melewatkan sesuatu."
Supir pribadi Tessa memberitahu bahwa mereka sudah sampai di tujuan mereka. Sebelum turun dari mobil Tessa memberikan sejumlah uang untuk sebuah perintah yang penting.
"Aku ingin informasi secepatnya. Ikuti Raya kemanapun dia pergi, laporkan siapa saja dan tempat apa saja yang dia kunjungi."
Supir itu enggan menerima uang yang jumlahnya tidak sedikit itu, "Tapi, jika Tuan Bayu mengetahui ini saya akan mendapat masalah besar."
"Pikirkan, tentang adik mu yang sedang membutuhkan biaya besar untuk menyelesaikan studinya. Bukankah adikmu sedang mengerjakan tugas akhirnya. Jangan sia-siakan kesempatan ini."
Tessa sengaja mencari orang baru yang memang tidak di bawah kuasa Bayu. Semenjak pertengkarannya dengan Bayu, Tessa mulai bebas merekrut siapapun untuk bekerja padanya tanpa harus melalui persetujuan Bayu.
Orang seperti inilah yang sangat dia butuhkan. Orang yang mau melakukan apapun demi uang dan orang yang bisa kapanpun dia buang.
"Bagaimana caranya saya bisa mengawasi Nona Raya, ada penjaga khusus yang terus mengikutinya."
Tessa mulai tertarik dengan perbincangan itu dan membatalkan niatnya untuk mengunjungi butiknya.
"Lanjutkan perjalanan, sepertinya cerita mu lebih menarik dari pekerjaanku hari ini."
Supir baru itu kemudian menceritakan apa yang sudah dia ketahui setelah 3 minggu bekerja sebagai supir Tessa.
"Bayu menempatkan dua orang untuk mengawasi Raya diam-diam dan kau tidak di perbolehkan masuk ke rumah utama saat Bayu sudah di rumah."
"Benar, Nyonya. Defin mengatakan bahwa itu aturan yang utama. Tapi, tentang dua orang itu saya hanya tidak sengaja mendengar saat Defin memberi perintah."
"Hmm... tentang pekerja di larang masuk ke rumah utama saat malam memang sudah biasa. Aku tidak terkejut dengan itu."
"Tapi, saya pernah melihat yang tidak seharusnya."
Tessa menatap supir itu penuh penasaran. Lalu, dia semakin mendesak agar pria itu mengatakan apa yang dia lihat.
"Saya, pernah melihat Tuan Bayu masuk ke kamar Nona Raya dan saya pernah mendengar desas desus dari para pekerja rumah tangga bahwa hal itu sudah sering terjadi."
Tessa dia terpaku. Mencoba untuk mencerna kata demi kata dan menerka dengan semua yang sudah terjadi, perubahan sikap Bayu dan prahara rumah tangganya yang terjadi dalam waktu singkat.
Dirinya mulai tersadar bahwa itu semua terjadi setelah Raya tinggal bersamanya.
Tessa meminta untuk supirnya menghentikan mobilnya di depan sebuah mini market. Tessa merasa perlu menyegarkan tenggorokannya yang seakan tercekik.
Setelah beberapa langkah Tessa. Sebuah mobil besar bermuatan batu beton menghantam mobilnya uang terparkir. Tessa terkejut bukan kepalang, tubuhnya gemetar dan kakinya lemas saat melihat kondisi mobilnya yang hancur dan kondisi sopirnya yang mengenaskan.
Tessa terduduk lemas dengan tangis tanpa suara. Lebih tepatnya dia menahan semua gejolak. Orang-orang mulai berkerumun menyaksikan peristiwa tragis yang terjadi begitu cepat. Ini sebuah peringatan bukan kecelakaan biasa.