
Raya mengernyitkan dahinya, saat sinar matahari masuk melalui celah-celah tirai jendela kamarnya.
Suara burung berkicau menyambut paginya kali ini. Raya bangkit perlahan dari ranjangnya. Menatap sekeliling kamarnya, tidak ada siapapun selain dirinya.
Raya menghembuskan napasnya. Rasa kecewa menyelimutinya. Bayu tidak datang menemuinya. Raya sudah mencoba menghubunginya beberapa kali tapi tidak ada jawaban.
Berendam dengan air hangat sedikit membantunya merasa lebih baik.
"Selamat pagi, Bu. Syukurlah ibu sudah pulih, saya sangat takut hal seperti kemarin terjadi lagi," ucap pelayan itu sambil menyuguhkan sarapan di hadapan Raya.
"Bayu tidak memberi kabar?"
Pelayan itu menggelengkan kepalnya. "Sepertinya situasi di sana juga sedang sulit, Bu."
"Tapi, aku mengalami hal buruk kemarin. Bisa saja mengancam nyawaku dan bayinya. Bagaimana bisa dia tidak peduli."
Suara deru mobil menghampiri rumahnya. Pelayan Raya segera menuju pintu utama, tidak lupa dia melihat situasi di luar melalui celah jendela. Setelah merasa aman, pelayan itu membuka pintu.
Raya menyudahi makannya saat melihat Bayu datang. Bayu menghampirinya dan hendak memeluk kekasihnya. Tetapi, Raya menepis tangan Bayu dan pergi meninggalkan Bayu.
Bayu tersenyum gemas melihat wanitanya yang sangat terlihat jelas sedang marah kepadanya. Raya kembali ke kamarnya, berdiri di balkon menatap pepohonan hijau dengan hati yang masih berkecamuk. Antara senang dan kesal yang bercampur.
Raya masih berontak saat Bayu memeluknya dari belakang. Bayu memeluk erat tubuh Raya dan meletakkan kepalanya di pundak Raya.
"Sungguh rasanya aku ingin segera menemui mu kemarin, jika saja aku bisa."
"Selesaikan semuanya secepat mungkin, aku tidak memilik kesabaran yang cukup untuk terus menunggu."
"Ya, aku akan segera berpisah secara resmi dengan Tessa."
"Aku bisa menahan semua penghinaan ini, tapi setidaknya saat bayi ini lahir ke dunia dia sudah memiliki orang tua yang lengkap."
Bayu mengangguk. "Aku janji, semuanya akan seperti yang kamu inginkan. Kita akan pergi ke tempat yang jauh dan memulai keluarga bahagia kita di sana."
Saat ini Raya sudah membulatkan tekatnya untuk menjadi wanita yang egois. Raya akan menutup semua rasa keraguannya. Apapun yang terjadi Bayu harus menjadi miliknya.
"Apa semua ini perbuatan Tessa?" tanya Raya kepada Bayu.
Bayu menggelengkan kepalanya. "Aku sedang menyelidikinya, bisa saja dia atau orang lain."
"Orang lain? Siapa? Kamu sedang mengalami konflik dengan orang lain?" Raya semakin penasaran.
"Kecelakaan beberapa bulan lalu yang dialami Tessa ternyata bukan rekayasa. Ada seseorang yang memang sengaja mengancam ku. Saat ini aku hanya bisa menangkap kaki tangannya saja."
"Dulu aku tidak pernah takut apapun. Tapi, sekarang aku sangat takut hal buruk terjadi pada kita."
Bayu memeluk Raya dan mengecup keningnya dengan lembut. Kemudian beralih mengecup perut Raya yang semakin menggemaskan baginya. "Semoga tidak terjadi hal buruk kepada kita."
"Rendra ingin bertemu dengan ku. Beberapa kali dia menghubungi ku. Rasanya sangat tidak pantas jika aku terus menghindar."
"Jangan menemuinya, setidaknya sampai anak kita lahir."
"Kamu takut kakak akan melakukan hal buruk kepadaku? Bayu, aku rasa kamu terlalu berlebihan. Kami sejak kecil tumbuh bersama dia tidak mungkin menyakitiku."
Bayu memilih mengacuhkan bujukan Raya. Menganggap tidak ada percakapan apapun.
"Kamu ingin makan malam apa hari ini? Ada yang kamu sangat ingin makan? Atau kamu ingin sesuatu yang lain?"
"Lupakan, kamu membuat aku tidak napsu makan dan melakukan apapun." Raya kembali ke ranjangnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Raya menyingkap selimutnya. Kemudian meraih jari jemari Bayu. Membelainya dengan lembut. "Maaf karena aku sudah meminta hal yang sulit untuk kamu penuhi. Kadang aku hanya merasa butuh seseorang untuk mendengar cerita ku. Kadang pula rasa penyesalan dan bersalah muncul saat aku seorang diri. Aku berusaha mencari kesibukan agar rasa sesak di dada ini hilang. Tapi..."
Bayu memeluk Raya. Tanpa sadar air mata mereka menetes. Tidak bisa di pungkiri jauh di lubuk hati keduanya ada rasa penyesalan yang semakin hari semakin besar.
Sudah sangat terlambat untuk kembali seperti dulu. Hanya saling menguatkan dan meyakinkan agar terus tegak berjalan untuk buah hati mereka.
Setelah kejadian itu Bayu memutuskan untuk tinggal bersama Raya. Beberapa hari ini mereka di sibukkan untuk merenovasi beberapa ruangan untuk tempat kerja Bayu. Raya membantu menyusun beberapa berkas milik Bayu di lemari kayu yang cukup sederhana.
Raya tidak sengaja menjatuhkan beberapa berkas dan jatuh ke lantai. Raya berusaha mengambil satu persatu berkas itu dengan perut yang sudah besar sangat menyusahkan baginya untuk berjongkok.
Raya meraih sebuah sampul surat berwarna putih. Di sampul surat itu tertulis dengan jelas nama sebuah Rumah Sakit. Ray membuka sampul surat itu.
"Aku akan melakukanya sendiri," ucap Bayu seraya mengambil surat itu dari Raya.
"Aku ingin membacanya. Berikan pada ku." Raya kembali merebut surat itu. Namun Bayu mencegahnya.
"Ini tidak penting untuk mu. Pergilah aku akan merapikan semuanya sendiri." Bayu kembali melipat surat yang belum sempat di baca Raya ke dalam sampulnya.
"Kamu sakit? Aku melihat dari sampul surat itu dari sebuah Rumah Sakit. Bayu, katakan kepada ku."
"Ini hanya pemeriksaan biasa. Kau jangan ikut campur ini bukan hal yang penting."
"Tidak penting untuk ku?! Baiklah simpan semuanya sendiri. Jangan pedulikan aku, aku hanya perlu diam dan bicara sat kau minta. Baiklah itu yang kau mau. Kau selalu seperti ini, kau tidak pernah menganggap ku sebagai pasangan mu. Kau hanya menganggap aku boneka mu!"
"Cukup, Raya! Tidak semua hal harus kau tahu. Kembali ke kamar mu dan istirahatlah."
"Perjalanan kita masih panjang. Tapi kau tidak bisa jujur kepada ku. Kau pikir semua akan berakhir baik. Kejujuran itu sangat penting bagi ku."
"Raya, buang semua pikiran buruk di kepala mu. Ini hanya hal kecil, aku tidak ingin di perpanjang."
Raya pergi meninggalkan Bayu. Membanting pintu ruang kerja Bayu dengan keras. Raya mengumpat Bayu dalam hatinya.
Mata sembab dan hidup berair. Raya keluar dari kamarnya. Perlahan menuruni tangga menuju dapur untuk membasahi tenggorokannya yang terasa sakit karena menangis.
"Bu, mau makan sekarang atau nanti?" tanya asisten rumah tangga Raya yang selalu setia menyapanya.
"Sekarang, aku sudah lapar."
"Bapak pergi sebentar untuk mengambil beberapa barang di kantornya. Bapak malam ini juga tidak bisa pulang karena ada beberapa hal penting yang harus di kerjakan."
"Hanya itu pesan dari Bayu?" tanya Raya
Wanita itu mengangguk. "Oh, ada lagi. Bapak berpesan jika Ibu ingin menyusun ruang kerjanya kembali di perbolehkan."
Raya menghela napas. "Dia pikir aku marah karena itu. Dia membuatku semakin kesal saja." Batin Raya
"Malam ini Bayu tidak akan pulang?" tanya Raya kembali kepada asisten rumah tangganya.
"Iya, Bu. Bapak malam ini tidak akan pulang."
Raya bergegas beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang kerja Bayu. Raya memeriksa satu persatu berkas di meja kerja itu. Laci dan lemari tidak luput dari pencarian Raya.
Raya keluar dari ruang kerja Bayu dan kembali ke meja makan dengan wajah lesu.
"Dia pasti menyimpan surat itu di tempat yang sangat rahasia. Membuat aku semakin penasaran saja."