Love Affair

Love Affair
PART 31



"Bayu! Apa yang kamu lakukan?!" Tessa mendorong dada Bayu dan berhasil membuat tubuh suaminya terdesak di pintu kamar Raya.


"Kamu...." Tessa menahan amarahnya saat melihat suaminya baru saja keluar dari kamar keponakannya itu dengan hanya mengenakan celana tidur dan bertelanjang dada.


"Bukan urusanmu."


Namun, Tessa masih enggan untuk memberikan celah pada Bayu. Tessa masih terus memaksa Bayu untuk memberikan jawaban atas semua pertanyaannya.


"Apa kamu tidur di kamar Raya? Apa yang kalian lakukan!" teriak Tessa


"Terserah apa yang ingin kau pikirkan. Aku tidak peduli."


Bayu meninggalkan Tessa dan masuk ke kamar pribadinya dan membanting pintu di hadapan Tessa lalu menguncinya.


"Bayu! Bayu! Buka pintunya!"


Sementara itu Raya mulai terganggu tidurnya saat mendengar suara keributan di luar kamarnya. Saat hendak keluar Raya mengurungkan niatnya dan memilih untuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Tanpa tahu masalah besar yang sudah terjadi di luar kamarnya.


Raya masih bersiap-siap untuk segera menuju cafenya sambil menikmati lagu favoritnya dan sesekali mengikuti lirik lagu itu dengan suaranya yang lumayan enak di dengar, setidaknya itulah penilaian Raya sendiri.


Raya menyandang tasnya dan berjalan keluar dari kamarnya. Saat hendak menuruni tangga ponselnya berdering. Raya pun membuka tasnya dan mengambil ponselnya untuk menjawab panggilan itu.


Raya mendengarkan dengan seksama semua arahan yang di berikan padanya oleh seseorang melalui panggilan telpon itu.


Pandangannya tertuju kepada dua orang yang sedang duduk di ruang makan.


"Ya, aku mengerti."


Raya memasukkan ponselnya dan kembali ke kamarnya. Beberapa saat kemudian, Raya perlahan keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju meja makan.


Raya menarik bangku tepat di samping Bayu yang juga langsung berhadapan dengan Tantenya.


Tessa masih terdiam tanpa kata. Sedangkan Bayu sedang memakan sepotong roti dan di sibukkan dengan ponselnya.


Raya meminum jus mangga beberapa tegukan. "Seperti biasa jus di rumah ini selalu enak." Raya memulai pembicaraannya.


Tessa tidak menanggapi ucapan Raya. Hanya sebuah lirikan tajam seakan ingin membunuh Raya saat ini juga.


"Tante, apa Raya melakukan kesalahan?"


"Kamu pikir saja sendiri," jawab Tessa acuh.


Bayu meletakkan ponselnya dan membersihkan bibirnya dari sisa roti yang dia makan.


"Raya, jika kamu sudah selesai sarapan kita bisa pergi sekarang," ucap Bayu


"Tunggu, Om. Raya harus tahu apa yang membuat Tante marah." Raya mencegah Bayu agar tidak meninggalkan meja makan.


"Raya, cukup! Kamu tidak perlu menjelaskan apapun."


"Setelah membawa suami Tantemu sendiri keranjangmu, kau bertingkah seakan-akan tidak terjadi sesuatu!"


Raya menundukkan wajahnya. Saat tudingan dan caci maki Tessa kepadanya.


"Tante, sebenarnya tadi malam Raya demam, karena sudah tengah malam dan semua pelayan sudah tidur, Raya meminta Om Bayu untuk membelikan obat saat Om Bayu baru saja pulang."


"Lalu, untuk apa Bayu berada di kamarmu semalaman dan keluar dari kamarmu tanpa memakai pakaian?"


Tessa mendekati Raya dan menarik lengan Raya. Gadis itupun sontak berdiri.


"Kamu pikir aku anak kecil yang bisa kalian bodohi."


"Lepaskan Raya, Tessa." Bayu melepaskan secara paksa genggaman Tessa.


Tessa bangkit dan menggebrak meja makan. "Lalu... kamu mengajak Bayu tidur di kamar mu. Atau yang sakit bukan tubuhmu tapi otakmu, Raya!"


"Tessa! Jaga ucapanmu!" bentak Bayu


"Tante memang berhak marah ke Raya. Om. Ini semua salah Raya."


"Raya, kita pergi sekarang!" Bayu menarik tangan Raya. Namun, Raya menepisnya.


"Semuanya tidak seperti yang Tante pikirkan. Baju Om Bayu terkena muntahan Raya pagi tadi. Maka dari itu Om Bayu tidak memakai bajunya saat keluar dari kamar Raya dan semalaman Om Bayu tidur di sofa kamar Raya."


"Raya! Kamu sedang apa. Katakan yang sebenarnya pada Tessa."


"Tante, bisa melihat langsung di kamar Raya. Di sana masih ada pakaian Om Bayu yang masih kotor."


Tessa masih di selimuti kemarahan dan tidak percaya dengan semua ucapan Raya.


"Baiklah, aku akan membuktikannya sendiri. Jika semuanya tidak sesuai dengan ucapanmu. Kamu akan benar-benar akan mendapat masalah besar, Raya!"


Bayu menarik tangan Raya dengan mencengkram kuat. Raya tidak bisa mencegahnya saat Bayu dengan paksa membawanya masuk ke dalam mobil.


"Jalan!" Perintah Bayu pada Defin yang memang sudah berada di kursi pengemudi sejak tadi.


"Aaauu...." Raya mengusap pergelangan tangannya yang memerah dan terasa nyeri karena cengkraman Bayu.


Bayu menghela napas panjang. Lalu meraih tangan Raya dan mencium pergelangan tangan Raya yang terlihat jelas bekas jari-jemarinya. Dengan kulit putih pucat Raya membuatnya semakin kontras.


"Maaf, aku sudah menyakitimu." Bayu meraih kepala Raya dan membawa ke dalam pelukannya.


"Aku mohon Raya. Kita hentikan semua kebohongan ini dan kita bisa mengakui semuanya. Aku sudah tidak sanggup melihat kamu selalu menerima penghinaan seperti ini." Bayu semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku akan terus mencegah agar Tante tidak tahu hubungan kita."


Bayu menarik napas panjang. Raya terus saja mencegahnya untuk mengatakan yang sebenarnya pada Tessa. Perasaan bersalah semakin menekan batinnya. Raya berhak bahagia dan mendapat pengakuan dari semua orang.


"Sebenarnya apa alasanmu selalu menghalangi aku untuk mengatakan hubungan kita pada Tessa?" Bayu melepaskan pelukannya kemudian memegang kedua bahu Raya menatap mata Raya dalam, seakan menyelami setiap inci yang di pikirkan Raya.


Bayu memberikan sedikit guncangan pada tubuh wanita itu saat belum juga mendapatkan jawaban.


"Aku...aku tidak ingin kehilangan semuanya," jawab Raya lirih


"Raya, aku akan terus bersamamu. Aku tahu badai besar akan datang saat dia tahu hubungan kita. Jadi aku mohon percaya bahwa aku bisa melindungimu."


"Aku percaya itu. Hanya saja aku tidak bisa kehilangan keluarga untuk kedua kalinya. Aku tidak sanggup menghadapi kebencian dari Tante dan terutama dari Randra yang sudah aku anggap seperti saudara kandung."


"Itu sebuah keraguan, Raya. Aku kecewa mendengarnya."


Bayu memerintahkan Defin untuk menghentikan mobilnya. Setelah mobil menepi. Bayu segera keluar dari mobil dan memerintahkan Defin untuk mengantar Raya ke Cafe. Sedangkan dirinya memilih untuk menaiki taksi.


Raya sempat mencegah Bayu agar tidak pergi begitu saja. Namun, tidak berhasil. Bayu tetap pada pendiriannya untuk sementara tidak ingin bertemu dengan kekasihnya itu untuk mengurangi rasa kecewa setelah mendapatkan jawaban yang tidak dia ingin dengar.


Kemudian Defin melajukan mobilnya. Sesuai perintah atasannya dia harus mengantar Raya ke tujuan dan menjemputnya pukul sepuluh malam nanti.


Dalam perjalan Defin dan Raya masih enggan untuk bicara. Raya memang masih kesal dengan perlakuan Defin padanya beberapa waktu lalu. Sedangkan Defin masih merasa canggung untuk memulai percakapan lebih dulu.


Tetapi, dia juga tidak bisa diam saja saat melihat drama kedua pasangan yang memiliki hubungan terlarang pagi ini.


"Berhati-hatilah, jangan terus mempermainkan perasaannya. Kamu bisa saja tidak menyadari kapan hatinya akan berubah," ucap Defin saat membukakan pintu mobil untuk Raya


"Hanya itu yang bisa kau lakukan? Mengancamku seakan kalian berdua orang yang menakutkan. Kalian hanya tidak sadar betapa gilanya seseorang yang tidak memiliki apapun untuk dilindungi."


Raya tersenyum tipis pada Defin. Pria itu terus menatap Raya itu sampai masuk ke dalam Cafe.