Love Affair

Love Affair
PART 41



Sudah cukup lama aku tidak menginjakkan kaki di tempat ini. Mungkin sudah sekitar satu tahun lebih. Semenjak Bayu bersamaku.


Dia lagi yang selalu muncul di pikiranku. Aku ke tempat ini untuk melupakan semuanya. Berada di rumah terasa sangat menyiksa karena setiap sudut mengingatkan aku tentang dia. Hanya di sini aku sejenak melupakannya, karena hanya klub malam ini yang tidak pernah aku kunjungi bersamanya.


"Raya," sebuah suara melengking memekakkan telinga memanggilku. Tangannya melambai memintaku segera menghampirinya. Aku balas melambaikan tangan dan berjalan ke arahnya.


Gia. Nama wanita yang aku kenal sudah hampir satu minggu ini. Aku yang biasanya susah untuk akrab dengan orang baru, entah kenapa kami bisa sedekat ini dalam waktu singkat. Ya, Gia bekerja di klub malam itu sebagai wanita malam. Perkenalan kami di awali saat Gia membantuku mengusir pria yang membuatku tidak nyaman memaksa untuk di temani.


Setelah kejadian itu kami sering bertemu. Rasa penasaran satu sama lain, membuat kami saling bertanya dan menceritakan masalah masing-masing. Saat mendengar ceritaku, dia menertawakan aku dengan sangat puas. Dia mengatakan bahwa aku tidak ada bedanya dengan dirinya.


Aku memberikan tubuhku untuk uang dan kamu memberikan tubuhmu untuk cinta. Itu ucapan Gia yang masih teringat sampai saat ini. Aku cukup tersinggung dengan ucapannya tapi setelah mendengar perjalanan hidupnya, aku memaklumi itu.


"Raya, kamu setiap malam ke sini. Sekalian saja cari pelanggan." Gia tertawa mengejekku.


"Aku tidak semiskin itu sampai menjual diri untuk uang."


Gia menepuk lenganku, "Sial, kamu menyindir aku ya."


Setelah berapa lama berbincang. Gia meninggalkan Raya seorang diri. Gia pergi untuk melayani tamunya. Gia berjanji akan menemui Raya setelah satu jam.


Malam itu ada satu sosok yang penglihatan Raya. Pria itu duduk dengan santai di sofa merah bersama beberapa wanita dan teman-temannya. Kedua tangannya di bentangkan di sandaran sofa. Terlihat jelas pada lengan kanannya terdapat sebuah tato, bukan gambar naga atau ular seperti di film-film. Hanya sebuah tulisan dan Raya tidak ingin tahu apa yang tertulis di sana. Pria itu memakai kaos santai berwarna putih. Sudah terlihat dengan sangat jelas mengawasinya sejak tadi.


Raya berusaha bersikap biasa saja. Padahal Raya sudah mulai risih dengan tatapan pria itu. Raya meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, mengetik pedan singkat kepada Gia bahwa dirinya tidak bisa lebih lama di tempat itu. Raya segera meninggalkan tempat hiburan itu.


Raya segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Merasa aman karena sudah lepas dari pengawasan pria itu. Dirinya mulai teringat dengan ucapan Bayu, bahwa ada orang yang sedang mengusiknya dengan cara mengancam anggota keluarga Bayu.


"Tapi kenapa harus aku. Apa pria itu tidak tahu bahwa aku sudah di campakkan Bayu. Menggunakan aku untuk mengancam Bayu akan sia-sia."


Raya menambah laju mobilnya. Ada rasa kecewa dan amarah di setiap detiknya "Ah, sial. Aku jadi kesal sendiri mengingat Bayu meninggalkan aku begitu saja. Bahkan sekarang kakak tidak mau melihatku lagu," ucap Raya lirih.


Kekesalan Raya berubah jadi ketakutan dan panik saat beberapa pengendara motor terlihat di belakang mobilnya. Dalam hitungan detik mereka sudah mengelilingi kiri dan kana mobil Raya yang masih melaju.


Raya masih tetap melajukan mobilnya. Bahaya jika sampai dia berhenti di jalan yang memang sepi apalagi di saat tengah malam seperti ini.


"Apa lagi ini! Siapa mereka, aku tidak punya waktu untuk ini. Pergilah kalian!" Raya terus berteriak mengusir berandalan itu. Bukan berhenti mengganggu Raya, mereka malah semakin senang melihat perlawanan dari Raya.


Ucapan kotor dan godaan yang menjijikkan juga terlontar dari mulut berandalan itu. Raya sengaja menekan tombol klakson mobilnya agar memancing perhatian orang sekitar. Tapi percuma karena tidak ada satupun yang peduli. Raya terpaksa menghentikan mobilnya dengan sangat tiba-tiba karena di depannya ada pria yang dia lihat di klub malam tadi tengah duduk di atas motornya.


Pria itu berjalan menuju Raya dan mengetuk kaca mobilnya. Raya enggan membuka kaca mobilnya. Pria itu tersenyum melihat Raya yang terlihat ketakutan.


"Keluar dengan suka rela atau dengan paksaan. Kau lihat mereka tidak suka menunggu."


"Cepat pergi!" ucap seorang pria yang baru saja datang dan segera menyerang para berandalan yang sempat mengepung Raya.


...🌟🌟🌟...


Tangan ku masih gemetar saat turun dari mobil dan menuju cafe. Rasa syukur terus aku ucapkan karena selamat dari para berandalan itu.


"Siapapun mereka yang menolongku tadi. Semoga dia selalu bahagia."


Aku setengah berlari saat menaiki anak tangga. Saat di anak tangga terakhir, perut bagian bawahku terasa tegang dan terasa sakit.


"Ah!" Aku memegang perutku dan sedikit menekannya untuk mengurangi rasa sakit yang tiba-tiba muncul.


"Raya, kamu baik-baik saja!"


Sebuah pelukan mendarat di tubuhku. Aku berusaha melepaskan pelukan itu dan mendorong tubuh Bayu.


"Baik-baik saja! Aku hampir mati karena berandalan di jalanan dan kamu duduk dengan sangat santai di sini."


"Ya, aku tahu itu sayang. Maka dari itu aku mengirim orang untuk menolong kamu. Mulai sekarang kamu tidak perlu takut aku akan meminta mereka agar lebih ekstra menjaga kamu."


Ucapan Bayu sempat membuatku lupa akan satu hal. Bahwa kami tidak akan bisa bersama lagi. Aku tidak bisa seperti ini terus menerus.


"Jangan bersikap abu-abu Bayu. Bukankah sudah jelas hubungan kita sudah berakhir. Mulai saat ini jangan pedulikan apapun tentang aku. Akan semakin banyak orang yang akan tersakiti karena hubungan ini. Pergilah hubungan kita sudah selesai."


Aku mendorong keluar tubuh Bayu. Aku masuk ke kamar dan menutup pintu dengan rapat.


"Apa yang baru saja aku katakan. Sial, aku seakan kecewa bahwa bukan Bayu yang menolongku tadi. Seharusnya sejak awal aku mengusirnya."


Aku membenamkan kepalaku dia atas bantal. Mengutuk diriku sendiri yang masih terpesona dengan perhatian dan sosoknya. Rasa bahagia, benci dan entahlah semua tercampur dengan situasi yang membingungkan.


Aku bisa saja mengabaikan Tessa tapi aku tidak bisa mengabaikan Kakak. Jika aku terus memilih jalan ini. Dia bisa saja melakukan hal yang tidak pernah aku bayangkan.


Dia lebih mengerikan dari pada Bayu. Bukan takut aku akan celaka. Tapi, aku takut kakak akan gelap mata dan melakukan hal yang sangat aku takutkan kepada Bayu.


Aku tidak ingin memiliki Bayu tapi aku juga tetap ingin mendapatkan kepercayaan dan kasih sayang kakak seperti dulu.


Aku sangat menjijikkan dan serakah. Sehina itulah kehidupanku.