Love Affair

Love Affair
PART 16



Ibu dari Bayu meninggal.


Berita duka itu Raya dapatkan dari seorang kerabatnya. Sesaat setelah dia menyantap sarapannya.


Tetapi, baik Bayu atau Tessa tidak memberitahu berita itu pada Raya. Dimana Bayu sekarang? Raya harus menemaninya, Bayu membutuhkannya.


Berulang kali Raya menghubungi Bayu tapi tidak ada jawaban. Raya memutuskan kembali ke rumah untuk memastikan keadaan Bayu.


Namun sayang, saat Raya sampai di rumah. Bayu sudah pergi bersama Tessa ke rumah sakit, untuk memulangkan jenazah ibunya.


Raya bertanya kepada para asisten rumah tangga, dimana tepatnya rumah sakit yang di kunjungi Bayu tapi mereka tidak tahu soal itu.


Berulang kali Raya menghubungi Bayu tapi tidak juga mendapat jawaban. Kemudian dia berinisiatif menghubungi Defin. Tapi Defin juga tidak menjawab panggilannya.


Apa alasan mereka mengabaikan aku. Setidaknya cukup menjawab telponku saja.


Ponsel Raya berdering, dengan sigap dia mengangkat panggilan itu.


"Kamu dimana?" tanya Raya tergesa-gesa.


Sesaat kemudian dia melihat layar ponselnya.


Ternyata bukan orang yang dia harapkan sejak tadi.


"Maksudku, kakak lagi dimana."


"Kamu di rumah atau di Cafe?" Tanya Randra


"Aku di rumah, tadi aku dapat kabar Oma meninggal. Tapi saat aku sampai di rumah, Om Bayu dan Tante Tessa sudah pergi dan aku tidak tahu rumah sakit yang mereka tuju."


"Tunggu. Aku akan menjemputmu, kita pergi bersama," ucap Randra lalu mengakhiri panggilan telponnya dengan Raya.


Raya segera berlari, menanti kedatangan Randra di pintu gerbang rumahnya.


Dalam perjalanan, Raya sibuk dengan kecemasannya sendiri. Randra menoleh ke arah Raya, sekilas menatap curiga.


Terbesit keanehan yang terpikir oleh Randra. Bukankah saat ini waktunya untuk bersedih jika Raya ingin menunjukkan perasaan dan empatinya. Bukan perasaan cemas seperti sekarang.


"Sejak kapan kamu jadi khawatir begini?"


Raya menoleh dan kembali mengabaikan Randra.


"Bukankah keberadaan kita tidak pernah diakui oleh Nenek tua itu. Mungkin dari pada kita ke rumah sakit, lebih baik kita merayakan kematiannya. Di alam baka sana dia pasti masih mengumpat kedatangan kita."


"Ck! Sudah hentikan, walau bagaimanapun dia juga Nenek kita."


"Ya baiklah. Jika kita tidak datang bersimpati tentunya ini akan menjadi alasan terkuat untuk mereka membenci kita."


Bukan mencemaskan atau sedih atas meninggalnya Neneknya. Raya lebih mencemaskan Bayu, pasti dia sedang terpuruk sekali sekarang.


Rasa duka tentunya juga di rasakan oleh Raya walaupun bukan kenangan menyenangkan dan manis yang terkenang selama Neneknya hidup.


"Kamu tidak ingat terakhir kita menemui wanita tua itu, dia mencaci - maki kita habis - habisan karena kamu memecahkan pot bunga kesayangannya."


"Kalau saja kakak tidak mendorongku, semua itu tidak akan terjadi."


Walaupun Randra mendapatkan kasih sayang penuh dari Bayu dan Tessa, bukan berarti semua keluarga besar kedua orang tua angkatnya menerima Randra dengan senang hati.


Bahkan sepupunya yang lain menganggapnya tidak pernah ada. Ibu kandung Bayu yang paling frontal menolak keberadaannya, menurutnya Bayu dan Tessa hanya akan membuang waktu dengan mengadopsi anak dari sebuah panti asuhan yang anak itu sendiripun tidak tahu jati dirinya.


Menurutnya mereka bisa melakukan program kehamilan yang terbaik. Namun, Tessa dan Bayu memilih cara instan dan mengadopsi Randra.


Begitu juga dengan Raya yang di adopsi oleh kakak Tessa beberapa tahun kemudian.


"Dia selalu mengatakan bahwa kita benalu dan tidak tahu cara berterima kasih."


"Ya dan kita selalu saling menguatkan saat melihat dia menyayangi cucu kandungnya. Rasanya aku ingin sekali melenyapkan mereka."


"Hmm... setuju, aku juga sempat memiliki pemikiran seperti itu."


Karena perasaan saling tidak di terima dengan baik oleh keluarga besar itulah. Randra dan Raya semakin dekat, layaknya saudara kandung.


"Aku menghubungi Om Bayu beberapa kali tapi dia tidak menjawabnya."


"Di saat seperti ini Papa tidak mungkin memikirkan hal lain. Raya, di rumah sakit akan banyak sekali keluarga Papa dan Mama yang akan datang, kamu yakin ingin bertemu mereka."


Raya mengangguk. Lalu tersenyum dengan penuh keyakinan.


"Aku akan pulang lebih awal jika kondisi di sana tidak memungkinkan."


Setelah menyusuri lorong panjang rumah sakit Raya dan Randra sampai di ruang jenazah.


Sesuai dengan tebakan Randra, disana sudah banyak keluarga Bayu maupun Tessa yang datang.


Randra menghampiri kedua orang tuanya, Raya mengekor di belakang.


Sebenarnya Raya tidak ingin menangis tapi saat melihat semua orang berderai air mata.


Dia merasa terbawa suasana kesedihan mendalam ini. Ditambah Bayu begitu terpukul dan duduk terperosok di lantai.


Raya duduk di samping Bayu. Rasanya ingin sekali dia memeluk Bayu sekarang juga, agar kesedihan itu terbagi padanya.


Bayu menyadari kehadiran seseorang di samping. Dia mentap Raya dengan sendu, tanpa sadar Raya mengulurkan jari - jemarinya menghapus air mata Bayu.


"Menangislah, itu akan lebih baik," bisik Raya pada Bayu.


Raya mengusap lembut punggung Bayu. Semua orang mungkin sadar apa yang kami lakukan tapi dalam masa berkabung ini, mereka akan berpikir bahwa semua ini wajar.


Walaupun begitu bukan berarti, mereka bebas meluapkan perasaan masing - masing secara terbuka.


"Lepaskan, mereka akan curiga jika kamu terlalu lama memelukku," ucap Raya seraya menjauhkan tubuhnya dari Bayu.


Kemudian Raya beranjak menghampiri Tessa. Di saat seperti ini, sunggu rasa bersalah semakin besar menghantui Raya.


Setelah proses pembersihan dan administrasi selesai. Bayu membawa ibunya kembali ke kampung halamannya.


"Raya, kembalilah ke rumah. Aku dan Tessa akan pergi mengantar ibu, mungkin kami selama satu minggu akan berada di sana."


"Aku bisa ikut bersamamu," ucap Raya


"Kamu pasti tahu keadaan di sana seperti apa. Semua dalam keadaan duka dan mereka bisa saja melampiaskan kesedihannya kepada kamu. Tetaplah di sini itu akan membuatku lebih tenang."


Raya atap kepergian mereka sampai tidak terlihat. Semoga mereka baik - baik saja hanya itu yang bisa Raya harapkan.


Randra masih belum kembali. Dia sedang menjenguk temannya yang sedang di rawat di rumah sakit yang sama. Raya memilih untuk menunggu di parkiran sambil memainkan game online di ponselnya untuk membunuh waktu.


Tiba - tiba ponselnya di tarik secara paksa oleh seseorang. Raya beranjak dari duduknya dan merebut kembali ponselnya.


Prakk...


Ponsel Raya terjatuh di lantai. Lebih tepatnya sengaja di jatuhkan.


"Ups! Maaf, sengaja!"


Raya mengabaikan wanita itu dan berniat memungut ponselnya. Namun, lengan Raya di tarik dan di hantamkan ke tembok.


Wanita ini adalah Sarah cucu kesayangan Nenek. Apapun yang dia inginkan selalu dia dapatkan dari Nenek.


Wanita inilah yang menjadi sumber kecemburuan Randra dan Raya saat kecil.


"Untuk apa benalu berada di sini. Kamu pikir dia bakal terharu saat kamu datang! Jangan mimpi!"


"Aku tidak ada urusan denganmu," ucap Raya lalu melangkah ingin meninggalkan Sarah.


"Hey, aku belum selesai bicara!" Bentak Sarah dan kembali menarik lengan Raya.


"Apa yang kau inginkan. Aku bahkan tidak menyentuh jasad Nenekmu! Aku datang ke sini karena masih punya hati nurani. Jika kau punya pikiran lain pada niatku, itu bukan menjadi masalah untukku!"


"Jangan coba - coba mengambil hati Om Bayu dan Tante Tessa. Jangan berlagak kau peduli dengan mereka! Sadarlah kau itu bukan siapa - siapa di keluarga ini. Keluarga ini akan bertambah sial saat ada kau!."


Raya mengepalkan tangannya. Menahan amarah yang memuncak. Ingin sekali dia melampiaskan kemarahannya pada Sarah.


"Lalu apa yang sedang kau lakukan sekarang? Kau tidak takut mendapat sial dariku? Bukankah yang meninggal nenek kandungmu, lihat dirimu. Bukankah ini waktu yang tepat untuk mengabaikan masalah pribadimu tapi kau sibuk dengan emosi dan kebencian tidak mendasar."


Sarah menatap tajam ke bola mata Raya. Dia ingin sekali mencongkel mata itu yang berani menantangnya.


"Seharusnya aku yang membencimu. Kau selalu menjadikan aku dan Randra sebagai kambing hitam dari semua kesalahanmu. Kau tertawa girang saat melihat kami berdua mendapat hukuman dari Nenek. Tapi, saat kita sudah tumbuh dewasa aku melupakan semua perbuatan licik yang kau rencanakan karena saat itu kita memang masih tidak bisa membedakan hal baik dan buruk. Karena pertemuan kita ini aku menjadi merubah pandanganku tentang kau selama ini, ternyata kau masih saja tidak berubah!"


"Dasar perempuan jal...."


Sarah melayangkan tamparannya ke Raya. Namun, terhenti oleh seseorang yang menggenggam pergelangan tangannya.


"Apa yang kalian lakukan! Ini rumah sakit, jika ingin jadi jagoan bukan di sini tempatnya!"


Sarah menepis tangan pria itu. Kemudian menatap kesal padanya.


"Ini bukan urusan anda. Lebih baik putar langkah anda dan pergi," perintah Sarah pada pria yang memakai jas putih polos.


"Aku sudah merekam perbuatanmu pada wanita ini. Jika aku menyebarkan video ini, bukankah akan berdampak buruk pada keluarga besar yang kau banggakan itu!"


Sarah menghentakkan kakinya dengan kesal lalu pergi meninggalkan Raya. Dia tidak lupa memberikan kalimat ancaman pembalasan suatu saat nanti pada Raya.


"Terima kasih," ucap Raya pelan lalu mengambil ponselnya di lantai.


"Kau bahkan tidak punya nyali untuk meghadapi wanita labil seperti dia. Lalu bagaimana kau bisa menjalin hubungan terlarang itu?"


"Aku bukan tidak bisa menghadapinya. Aku hanya tidak ingin mengotori tanganku dengan menyentuh tubuhnya, sebuah tamparan darinya tidak akan membuat tubuhku sakit."


"Aku juga kesini bukan karena ingin menolongmu, hanya kebetulan lewat."


"Saat kau melihat aku dalam kesusahan cukup abaikan saja dan tutup matamu," ucap Raya lalu meninggalkan Javier.


Ya, pria yang membantu Raya mengusir Sarah adalah Javier.


Raya ingin sekali pergi jauh dari Javier. Tetapi keadaan selalu mempertemukan mereka.


Bahkan beberapa hari mereka harus bertemu untuk mengatur pesta yang sudah di rencanakan Tessa.


Entah acara akan di batalkan atau tetap berlanjut Raya belum tahu. Mungkin Tessa akan mengundurnya beberapa hari untuk masa berkabung.


Javier juga merasakan apa yang di rasakan Raya. Saat dia ingin melupakan Raya semua kejadian menariknya kembali pada Raya.


Awalnya Javier memang ingin mengabaikan Raya. Tetapi hati nuraninya tidak bisa berbohong jika masih ada rasa yang terpendam untuk Raya di hatinya.