Love Affair

Love Affair
PART 50



Tubuh yang semakin lemah,  rasa sakit yang sangat sakit yang tidak pernah Raya rasakan selama ini. Raya hanya bisa meneteskan air mata tangis tanpa suara.


“Apakah ini hukuman untukku. Benarkah ini memang pantas untukku.” Batin Raya di sela-sela rintihannya.


“Ya, ini hukuman untukku. Semua yang aku lakukan kepada Bayu dan Tessa dan orang di sekitarku yang hancur karena perbuatanku. Ku mohon Tuhan jangan hukum bayi dalam kandunganku, biarkan dia selamat aku akan sangat berterima kasih.”


Tubuh Raya semakin mati rasa. Bahkan kini pandangannya mulai kabur, indra pendengarnya terasa tidak berfungsi. Sekilas Raya melihat wanita kejam itu pergi menjauh darinya.


Raya mengedipkan matanya perlahan. “Apa ini sudah berakhir, apa wanita itu sudah pergi.”


Raya ingin meminta pertolongan, ingin berteriak dan lari secepat mungkin. Namun, tubuhnya sudah tidak bisa di gerakkan. Di saat detik-detik Raya ingin menyerah. Tubuhnya terasa ringan, sontak Raya kembali membuka matanya, terbesit wajah Rendra di hadapannya.


“Kak Rendra, apa ini kenyataan. Tidak mungkin, ini pasti imajinasiku.” Batin Raya


Kemudian Raya tidak sadarkan diri. Rendra berusaha menyadarkan Raya tetapi tidak berhasil.


“Raya! Raya!” Rendra terus memanggil nama Raya. Rendra membawa Raya ke mobilnya dan segera melaju kencang ke Rumah Sakit.


Dalam perjalanan Rendra meneteskan air mata. Rasa sedihnya tidak terbendung melihat kondisi Raya yang mengenaskan. Tangannya gemetar saat menghubungi Bayu menceritakan semuanya secara singkat.


Rendra terduduk lemas di pintu Ruang Intensif. Rendra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bulir-bulir air matanya terus berjatuhan. Rendra bersumpah  akan membalas perbuatan orang yang sudah membuat adiknya seperti ini.


Petugas medis masih berusaha keras menolong Raya. Beberapa kali mereka keluar masuk mengambil beberapa alat kesehatan.


Rendra bisa melihat dari kericuhan dan kepanikan ini. Bahwa, Raya tidak dalam kondisi yang baik.


“Di mana Raya?” tanya Bayu yang berdiri di hadapan Rendra.


Rendra mendongakkan wajahnya dengan lemah. “Di dalam, kondisinya sangat buruk,” jawabnya


Bayu mengambil posisi tepat di samping Rendra. “Kamu tahu siapa yang melakukan ini?”


Rendra menggelengkan kepalanya.


“Tessa.” Ucap Bayu dengan lemah.


Rendra menolehkan wajahnya ke arah Bayu dengan tatapan tidak percaya. Rendra mengepalkan jari-jemarinya. Mencari kebohongan dari ucapan Bayu baru saja yang dia  dengar.


“Pelakunya sudah tertangkap. Kamu bisa bertanya langsung kepada wanita itu. Dia sudah mengakuinya. Tessa sengaja memilih wanita psikopat itu untuk menghabisi Raya dan calon anakku. Mereka memberi Raya racun bahkan selama ini wanita itu terus mencampurkan racun itu di setiap makanan dan minuman Raya sedikit demi sedikit.”


Rendra beranjak dari duduknya. “Di mana wanita itu? Aku ingin menanyakan semuanya sendiri.”


“Devin akan mengantarkan kamu menemui wanita itu. Jika kamu sudah tahu kebenarannya, aku harap kamu bisa


mengambil langkah untuk menghadapi Tessa.”


**********


Rendra menggenggam erat lengan wanita yang sudah mencelakai adiknya dengan sangat kejam itu keluar dari


rumah kosong tempat wanita itu di tawan oleh Devin.


“Anda tidak bisa membawa wanita ini pergi. Biarkan saya yang akan mengurus wanita ini,” ucap Devin


“Jangan halangi jalanku. Aku akan membuat dia membayar semua perbuatannya. Bosmu sudah menyerahkan masalah ini kepadaku.”


Devin mempersilahkan Rendra pergi membawa wanita itu. Namun, tidak lupa dia melaporkan semunya kepada Bayu. Bayu memintanya tetap mengawasi Rendra dan melaporkan semua yang dilakukan Rendra kepadanya.


Rendra membawa wanita itu ke hadapan Tessa. Rendra mendorong tubuh wanita itu tepat dihadapan Tessa. Tessa terkejut melihat tubuh wanita itu sudah bersimbah darah dan luka lebam di sekujur tubuhnya.


Tessa menggelengkan kepalanya. “Ma..ma tidak mengenalinya. Ren..dra siapa wanita ini dan kenapa kamu


membawanya ke sini. Kondisinya sangat mengerikan, Mama tidak sanggup melihatnya.


“Ma!” Rendra meninggikan suaranya yang sontak membuat Tessa terkejut.


“Bisakah Mama menyudahi semua ini. Aku mohon, Ma. Akui semua perbuatan Mama dan Rendra akan mencari


cara untuk menyelamatkan Mama dari Bayu. Aku mohon, Ma. Kali ini saja, lakukan apa yang Rendra minta.”


“Kamu benar-benar sudah di butakan oleh Wanita murahan itu, Rendra. Mama tidak salah, semua ini pasti


perbuatan Raya agar kamu membenci Mama.”


“Apa mama tahu bagaimana kondisi Raya sekarang?”


“Nyonya, saya...saya sudah berhasil melakukan tugas terakhir yang Anda minta. Simpanan suamimu itu pasti sudah mati sekarang. Hahaha...!”


“Diam!” tamparan mendarat di wajah wanita itu.


“Rendra, dia bohong bukan Mama yang melakukan ini. Bukankah Mama sudah berjanji untuk melepaskan Papamu dan Raya. Rendra semua ini pasti perbuatan Raya.”


Rendra terdiam membisu melihat Ibunya yang terus memohon kepadanya agar percaya dengan semua yang dia


katakan.


“Raya, kemungkinan tidak bisa di selamatkan. Kondisinya sangat buruk, tubuhnya pecat pasi. Hanya keajaiban yang bisa membuatnya hidup. Apakah Mama tidak merasa kasihan. Bahkan bayi yang tidak berdosa juga menjadi korban kekejaman Mama.”


Tessa menghapus air matanya dengan kedua tangannya. “Kasihan? Lalu bagaimana dengan Mama, apa yang dia dapatkan itu sudah sangat pantas. Bayi itu tidak boleh lahir, bayi itu akan membuat kamu terancam, dia akan mengambil semuanya, dia akan menguasai semua yang dimiliki Bayu. Bayu akan memberikan semuanya kepada anak haram itu!”


Tessa menggenggam kedua lengan Rendra. “Dia pantas mendapatkan semua ini, dia pantas mati! Akhirnya wanita kurang ajar itu akan tersingkir dari sisi Papamu selamanya. Kita bisa kembali seperti dulu lagi, kita kembali menjadi keluarga yang bahagia tanpa kehadiran wanita itu.”


“Bahkan Mama sudah tidak memiliki hati nurani. Aku tidak membutuhkan semua itu. Jangan berlindung dari kata semua Mama lakukan untukku. Mama melakukan semua ini hanya untuk diri Mama sendiri.”


“Lalu bagaimana dengan wanita itu?! Apa dia saat merebut Bayu dariku dia lakukan untuk kebahagiaan kita semua. Dia melakukan semua ini untuk dirinya sendiri. Kau dan dia sama saja, kalian anak pungut yang tidak tahu diri. Kalian berdua memang tidak pantas di sayangi, kalian berdua hanya benalu dalam kehidupanku. Kau seharusnya mendukungku, aku yang sudah merawat dan membiayai semua kebutuhanmu sejak kecil sampai sekarang kau bisa berdiri dengan kedua kakimu! Tapi yang kau berikan kepadaku hanya cacian dan kebencian.”


“Aku sangat berterima kasih untuk semua yang sudah Mama berikan. Aku memang tidak akan pernah bisa membalasnya sampai kapan pun.”


Rendra berjalan gontai ke arah pintu keluar. Tangannya menarik perlahan pintu untuk terbuka.


“Kalian sudah mendengar semuanya. Lakukan tugas kalian.” Ucapnya kepada petugas kepolisian dan beberapa awak media yang sudah melihat dan mendengar semuanya.


Petugas kepolisian masuk dan memborgol kedua tangan Tessa dan wanita suruhannya.


Tessa berontak dan terus berteriak mencaci maki Rendra yang sudah melaporkannya.


Rendra berjalan gontai melewati dan mengabaikan semua pertanyaan dari awak media.


Devin segera berlari mendekat ke arah Rendra dan membawanya masuk ke  mobilnya.


“Anda ingin saya antar ke mana?” tanya Devin


Rendra tidak menjawab. Dia diam tak bergeming.


Devin melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Tessa.