Love Affair

Love Affair
PART 47



"Bu, sudah beberapa kali saya perhatikan. Ibu selalu menolak menemui Rendra saat datang ke sini."


"Aku hanya tidak ingin membuat Bayu semakin marah. Walaupun dia tidak mengatakan apapun tapi aku yakin dia tahu jika selama ini Kak Rendra sering menemui ku."


"Sepertinya hari ini Rendra juga akan datang. Apa perlu saya mengatakan padanya bahwa Ibu tidak ingin bertemu lagi?"


"Tidak perlu. Hari ini suruh saja dia masuk. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan. Siapkan makan malam lebih cepat, Bayu juga akan segera pulang."


Asisten rumah tangga Raya mengangguk mengerti dan segera meninggalkan Raya yang sedang duduk di taman


belakang rumahnya.


Raya memejamkan matanya. Menikmati angin sejuk yang menerpa tubuhnya. Sangat menenangkan. Bahkan Raya sudah tidak ingat lagi kali terakhir bisa menikmati setidaknya sedikit saja rasa tenang dalam hidupnya.


Mungkin akan sangat menyenangkan kembali ke beberapa tahun lalu. Namun, jika di minta memilih pun dia akan tetap mengambil jalan yang sama.


Raya melihat kedua kakinya yang sedikit membengkak. Ini tidak sakit tapi sangat mengganggu saat dia berjalan. Raya kembali mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu. Cepat atau lambat Raya harus memilih terus melanjutkan kehamilannya atau segera mengakhirinya.


Bayu sudah mengurus semuanya. Hari ini mereka akan ke Rumah Sakit untuk memastikan semuanya. Semua sesuai dengan keinginan Raya, dia harus meyakinkan dirinya sendiri sebelum mengambil keputusan.


Terdengar pintu utama di ketuk seseorang. Raya meminta bantuan asisten rumah tangganya untuk membuka


pintu tapi tidak kunjung datang.


“Ke mana dia, sepertinya dia tidak mendengar pintu di ketuk?!”


Perlahan Raya bangkit dari duduknya, berjalan perlahan membuka pintu.


Raya tertegun melihat sosok yang datang. Terkejut dan ini bukan orang yang dia harapkan untuk


menemuinya saat ini.


“Hai...! Bagaimana kabar kalian?” Tessa tersenyum kepada Raya dan seraya tangan kanannya menyentuh perut


Raya. Raya dengan cepat menepis tangan Tessa.


“Jangan menyentuh perut hamil seseorang tanpa izin. Itu tindakan tidak sopan.”


“Izin?! Jangan membuat lelucon. Kamu juga tidak pernah meminta izin dariku saat tidur dengan suamiku.”


“Sebaiknya Tante pergi sekarang. Aku tidak sedang ingin menerima tamu.” Raya menutup pintu, namun


Tessa menahannya.


“Aku hanya ingin menyampaikan sebuah berita. Kamu bisa mendapat jawabannya di sini.” Tessa memberikan


sebuah amplop putih kecil kepada Raya.


Raya mengingat kembali amplop putih dengan kop surat sebuah Rumah Sakit yang pernah dia lihat dulu. Surat


yang Bayu sembunyikan darinya dulu.


“Apa ini termasuk rencana Tante untuk membuat aku dan Bayu bertengkar dan berpisah. Apa pun isi surat ini tidak akan mengubah apa pun.”


“Tentu. Tapi aku sangat yakin kamu akan sangat terkejut dengan hasil pemeriksaan kesehatan milik Bayu. Satu hal lagi, Bayu sudah berencana melakukan Test DNA saat bayi mu lahir nanti.”


Tessa tertawa. “Bagaimana jika dia tidak yakin bahwa itu anaknya?”


Raya membuka amplop putih itu dan membacanya dengan seksama. Di sana tertulis jelas bahwa kemungkinan Bayu bisa memiliki keturunan sangat sedikit. Bisa di katakan hanya mukjizat yang bisa mengubahnya.


“Kamu paham sekarang? Walaupun masih ada kemungkinan Bayu bisa memiliki keturunan tapi bukan itu masalahnya. Intinya Bayu tidak percaya bahwa kamu sedang mengandung anaknya. Test kesuburan dan Test DNA, semua itu tidak akan dia lakukan jika memang dia mencintai kamu, Raya.”


“Silah kan pergi dari sini. Aku sudah cukup muak dengan kebohongan yang Tante rencanakan.”


“Apa pun yang kamu lakukan. Bayi ini akan tetap menjadi anak haram di mata Bayu.”


Raya membanting pintu di hadapan Tessa dan segera menguncinya dengan rapat. Raya meremas secarik kertas


yang membuatnya putus asa dan seketika membuatnya hancur. Hatinya terus membantah dan menolak sebuah kenyataan yang baru saja dia dapatkan.


Raya kembali ke kamarnya meraih ponselnya dan menghubungi Bayu secepat mungkin. “Pulang sekarang! Aku butuh penjelasan dari kamu. Aku tidak peduli sekarang pulanglah!” raya berteriak kesal saat Bayu memintanya untuk menunggu. Raya terduduk lemas di lantai kamarnya.


Kurang lebih lima belas menit kemudian Bayu datang menghampiri Raya. Bayu menghampiri Raya menanyakan


semuanya yang  sudah terjadi. Tangan gemetar Raya mengulurkan secarik kertas yang sudah kusut itu kepada Bayu.


Bayu membuka kertas itu dan membacanya. Bayu meremas kertas itu. “Dari mana? Dari mana kamu mendapatkan ini? Katakan siapa yang memberikan ini padamu?


“Bukan itu yang penting sekarang! Seharusnya aku yang menanyakan semua ini. Bagaimana bisa kamu melakukan ini bahkan kamu berencana melakukan test DNA kepada bayi ini. Kamu tidak mempercayaiku. Kamu berpikir ini anak pria lain? Bahkan aku sangat hina di mata kamu!”


“Aku hanya tidak percaya dengan diriku sendiri. Aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa semua pemeriksaan itu salah.”


“Tapi itu menyakiti perasaanku!”


“Lalu bagaimana dengan perasaanku, Raya! Saat bertahun-tahun aku bersama Tessa kami tidak pernah memiliki


anak lalu tiba-tiba saat dengan kamu semua impianku terwujud. Aku hanya ingin membuat pembuktian. Aku hanya ingin memastikan bahwa semua pemeriksaan dokter itu salah. Aku ingin membuktikan bahwa benar ini memang anak kandungku.”


“Apa semua yang kamu katakan tentang kehamilanku tidak dalam kondisi tidak baik adalah benar? Atau semua ini hanya alasan agar aku mengakhiri kehamilanku?” ucap Raya perlahan.


Walau butuh jawaban yang sejujurnya dari Bayu. Namun, hatinya tidak siap mendengar jawaban yang buruk dari Bayu.


“Jika aku tidak menginginkan kelahiran bayi kita. Aku sudah sangat mudah untuk melenyapkannya bahkan sebelum dia berbentuk gumpalan darah. Raya, aku mohon jangan pernah menyimpan keraguan kepadaku. Jalan yang akan kita tempuh sangat tidak mudah. Banyak hal yang kita lalui akan melanggar moral dan kewajaran. Aku sangat berharap kamu adalah orang pertama yang akan percaya kepadaku. Saat ini kita harus lebih kuat demi calon anak kita.”


“Aku selalu takut, akuselalu ragu atas semuanya. Bahkan aku tidak ragu ingin mengakhiri hidupku. Dulu aku tidak akan pernah takut untuk melakukan apa pun. Tapi sekarang aku takut semuanya akan hilang.”


Bayu memeluk Raya dengan erat. “Apa pun itu aku mohon tetap bertahan dan kuat. Lakukan alasan apa pun untuk bertahan dan hidup.”


“Apa ini semua ulah Tessa? Dia yang memberikan surat ini padamu?” tanya Bayu


Raya mengangguk. “Ya, dia yang memberikan ini.”


“Alasanku tidak ingin kamu bertemu dengan Rendra adalah ini. Tessa akan memanfaatkan Rendra untuk menemukan kamu dan menghancurkan kita. Rendra tidak mungkin bisa menolak keinginan Ibunya.”


“Maaf, selama ini Kakak memang sering menemuiku di sini. Tapi aku yakin dia tidak ada hubungannya dengan semua ini.”


“Aku akan menemui Tessa. Semuanya harus selesai secepatnya.”