
Aku memakan sepotong roti yang aku bawa dari rumah pagi ini sambil menyusuri jalanan yang sedikit macet dengan Defin di kursi kemudi.
"Kapan Bayu kembali?" tanyaku pada Defin
"Mungkin lusa," jawabnya
"Tante sudah mulai curiga. Apakah Bayu memerintahkan sesuatu padamu untuk menyelesaikan ini?"
"Hanya perintah untuk mengawasi, agar Istrinya tidak meminta bantuan orang lain untuk menyelidiki siapa simpanan suaminya."
"Seandainya semua terbongkar, menurutmu siapa yang akan di pilih Bayu."
Defi tersenyum tipis kearahku lalu kembali fokus memandang ke depan.
"Aku tidak tahu."
"Kau pasti sudah tahu."
"Mungkin saja, aku hanya bisa menebak. Tapi, jika kamu ingin mengamankan posisimu datanglah padaku. Akan aku berikan cara untuk membuat dia berpaling dari wanita yang selama ini menjadi teman hidupnya."
"Hmm... jadi menurutmu Bayu tidak akan memilihku. Untuk saat ini aku belum menginginkannya bantuan dari siapapun. Saat aku sudah putus asa, aku akan menanyakan itu padamu."
"Aku rasa dalam waktu dekat kamu akan membutuhkan aku."
"Jangan terlalu yakin. Aku masih punya cara lain untuk mendapatkan Bayu."
"Ternyata kamu menikmati permainan berbahaya ini."
"Bukankah ada kamu yang selalu membantu."
"Selama Tuan berada di sisimu, aku juga akan tetap melindungimu tapi jika Tuan sudah berpaling. Aku juga akan melakukan hal yang sama."
"Akan aku ingat kata - katamu itu. Apakah ini ancaman?"
"Anggap saja ini sebuah pengingat untuk kau pikirkan."
"Ya, baiklah."
Sesuai dengan dugaanku selama ini. Defin memiliki sikap yang pasti. Dia hampir berhasil memanipulasi kepercayaanku.
Di satu sisi, dia terlihat seakan peduli padaku dan di sisi lain dia hanyalah seorang bodyguard yang menjalankan perintah dari Tuannya.
Sisi mana yang muncul dari hatinya. Aku tidak tahu pasti. Dia bisa saja menjadi hambatan terbesarku. Memberikan aku sebilah pisau untuk menusuk lawanku atau menusukkan pisau itu padaku.
Bayu memang tidak salah menjadikan Defin orang kepercayaannya.
Orang - orang yang sudah kehilangan banyak hal seperti dirinya tidak akan memiliki keraguan dan ketakutan.
"Kamu takut?" tanya Defin melirikku
"Hah! Bukankah kita sama, jadi untuk apa aku takut."
"Aku juga sempat berpikir begitu tapi setelah kita sering bertemu, aku rasa kau begitu banyak memiliki kelemahan. Sampai kapanpun kau tidak akan bisa menjadi orang sepertiku. Harus banyak rasa sakit dan kehilangan agar kau bisa setara denganku."
Aku mengedikkan bahu, "Bukankah setiap manusia memiliki kelemahan. Suatu saat aku akan menemukan apa yang menjadi kelemahanmu."
Defin mengangguk. Tanpa bicara sepatah katapun.
"Aku sedang bersiap untuk mendapatkan semuanya dan aku harus mendapatkannya. Berbeda dengan dirimu yang bersiap untuk kehilangan segala hal."
Defin tersenyum tipis mendengar pernyataanku. Entah sebuah ejekan atau pujian.
"Aku akan melihat setiap langkahmu. Jika ingin mencapai hal besar, kau harus memberikan pengorbanan yang lebih besar pula, Raya."
Aku membuka kaca pintu mobil. Menikmati setiap angin yang menerpa wajahku.
"Sepertinya angin baik akan segera berhembus padaku. Malam ini aku tidak akan pulang jadi tidak perlu menjemputku."
Aku turun dari mobilnya, mengambil langkah seribu meninggalkan Defin.
Menjadikan dia ada berada di pihakku memang menguntungkan tapi sikapnya yang memiliki peran ganda bisa saja menipuku.
Terkadang dia menjadi orang yang hangat penuh perhatian tapi suatu waktu dia berubah menjadi sedingin es.
Apa yang menjadi tujuan utamanya. Aku tidak tahu, setia pada Bayu atau ada tujuan lain yang dia simpan dengan rapat.
Setelah mengecek laporan keuangan. Aku memilih untuk istirahat di tempat tidur.
Beberapa hari ini aku merasa sangat tidak nyaman pada daerah perutku, napsu makanku juga menurun karenanya.
Sebenarnya hari ini aku tidak ingin ke cafe tapi di rumah sendirian juga membosankan.
Aku menghubungi Bayu melalui pesan singkat. Dua puluh menit kemudian dia membalasnya.
Bayu belum bisa memastikan kapan pastinya dia kembali ke rumah, aku juga tidak memaksa karena rasa duka Bayu sudah cukup menyita waktunya.
🌟🌟🌟
Raya terbangun dari tidurnya. Mengedipkan matanya beberapa kali. Mengedarkan pandangannya ke seluruh isi ruangan itu.
Sekelilingnya di sekat oleh tirai biru muda. Raya turun dari tempat tidur itu.
"Aaaa!" Raya menjerit pelan karena, merasakan sakit di pergelangan tangannya.
Pandangannya jatuh pada selang kecil yang menempel di tangannya. Raya kembali duduk di tepi tempat tidur itu, sambil memegangi perutnya yang terasa semakin nyeri saat dia bergerak tiba - tiba.
"Aku dimana? Apa ini rumah sakit."
Dengan selang penambah cairan intravena yang menancap di tangannya sudah menjelaskan dirinya dimana saat ini.
Ditengah kebingungan dan takut. Ada seorang wanita muda memakai seragam serba putih memakai cap di kepalanya yang berwarna senada menyibakkan tirai di hadapan Raya.
"Kamu sudah siuman, kenapa tidak pencet bel atau memanggil kami." Wanita itu tersenyum ramah.
"Aku baru saja terbangun."
"Berbaringlah aku akan memeriksa kondisimu. Apa kamu merasa pusing?"
Raya hanya menggelengkan kepalanya dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
Kemudian wanita itu meletakkan sebuah nampan kecil yang berisi obat - obatan dan jarum suntik yang sudah berisi cairan berwarna bening.
"Ada keluhan lain?" tanya suster itu lagi, sambil memeriksa tekanan darah Raya.
"Di sini sedikit nyeri saat aku bergerak." Raya meraba daerah perutnya.
"Ini rumah sakit?" tanya Raya pada suster itu.
"Iya. Kamu kehilangan kesadaran beberapa waktu lalu. Setelah keluargamu datang dokter akan menjelaskan kondisi keseluruhannya."
"Tidak perlu menghubungi siapapun. Aku akan menemui dokter itu sendiri."
"Tapi, temanmu mengatakan bahwa suamimu akan segera datang."
Siapa lagi yang mengaku sebagai suamiku. Apakah itu Defin. Batin Raya
"Dimana temanku?" tanya Raya lagi
"Aku akan memanggilnya setelah ini," ucap suster muda itu lalu memasukkan obat - obatan melalui selang infus di tangan Raya.
Tubuhnya masih terasa lemas dan rasa nyeri di perutnya sedikit berkurang perlahan. Mungkin karena obat yang di berikan oleh perawat tadi atau karena Raya tidak melakukan pergerakan.
Terdengar suara tirai bergeser, mengalihkan pandangan Raya.
"Kamu? Bertindak sebagai teman atau suami?" tanya Raya penasaran.
"Aku hanya menjalankan tugas. Saat aku datang ke cafe, kau sudah dalam keadaan pingsan."
Terakhir yang Raya ingat dia berada di ruang kerjanya. Dan hendak turun untuk makan siang, setelah itu mungkin di saat itulah kesadarannya hilang.
"Sebenarnya aku kenapa?"
"Dokter akan menjelaskan saat Tuan Bayu datang."
"Dia sudah kembali?"
"Dia kembali karena aku yang menghubunginya."
"Untuk apa menghubunginya. Aku bahkan tidak dalam keadaan yang buruk. Aku yakin ini hanya karena pola makan yang kacau akhir-akhir ini."
"Bukankah kau senang dia akan datang. Jangan berpura - pura kau tidak membutuhkan dia." Defin tersenyum miring.
Raya memalingkan wajahnya dari Defin. Apa yang di katakan pria itu tidak salah, Raya memeng membutuhkan kehadiran Bayu saat ini.
Memang Raya tidak ingin membuat Bayu khawatir tapi jika dia yang ingin menemuinya tentu dia bahagia.
"Aku akan segera pulih dan kembali ke rumah karena aku baik-baik saja."
"Dalam keadaan baik? Jika kau baik - baik saja untuk apa kau di sini dan mengenakan alat ini." Defin menunjuk infus yang terpasang di tangan Raya dengan tatapan matanya.
"Istirahatlah. Aku akan menunggu di luar," lanjut Defin lalu meninggalkan Raya dan tidak lupa menutup kembali tirai pembatas dengan rapat.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Jangan lupa 👍❤️ vote & comment
Dukungan dari kalian sangat berarti untuk saya🥰🥰