
Devin mengemudi dengan kecepatan penuh di keramaian. Mencoba mencari jalan mana pun yang bisa mempersingkat waktu perjalanan mereka.
Devin di kejutkan dengan seseorang yang memotong jalannya dengan tiba-tiba berhenti di depannya.
“Sial!” umpat Devin.
Devin segera keluar dari mobilnya menghampiri mobil sedan hitam depannya yang hampir saja bertabrakan.
Tetapi saat Devin mencoba mengetuk kaca mobil itu. Pengemudi mobil misterius itu segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Abaikan saja. Kita tidak punya waktu lagi.”
Devin kembali ke mobilnya sesuai perintah Bayu.
Sementara itu Bayu masih berusaha menghubungi Raya. Namun, sama saja nomor Raya sudah tidak dapat di hubungi. Masalahnya tidak hanya itu. Di sepanjang perjalanan banyak sekali rintangan salah satunya adalah jalanan yang sangat padat.
“Cepat cari jalan mana pun yang tidak padat. Sudah terjadi sesuatu kepada Raya. Aku tidak bisa menghubungi nomornya sejak tadi,” ucap Bayu kepada Devin yang sedang mengemudikan mobil.
“Saya sudah menghubungi beberapa orang untuk segera menuju kediaman Raya. Tapi, sampai sekarang mereka
belum bisa sampai ke tujuan karena selalu saja ada hambatan di setiap perjalanan mereka. Sepertinya ini semua sudah di rencanakan oleh seseorang.”
“Sial! Tessa pasti sudah merencanakan semuanya. Aku terlalu lengah sampai tidak menyangka dia akan melakukan hal sejauh ini.”
“Bagaimana jika meminta bantuan Rendra?”
“Itu sama saja kau melancarkan rencana Tessa. Anak bodoh itu terlalu lembut kepada Ibunya.”
“Mungkin saja dia memihak kita. Jika memang Rendra berniat buruk sudah sejak lama dia menyakiti Raya.”
Bayu diam. Dia tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Semua kemungkinan terburuk sudah membayangi isi kepalanya. Dia hanya bisa mengumpat kesal.
Devin membuka ponselnya dan menghubungi asisten rumah tangga Raya tetapi hasilnya tetap nihil. Tidak ada satu orang pun yang bisa mereka hubungi untuk tahu keadaan Raya.
“Wanita pekerja rumah tangga itu juga tidak bisa di hubungi. Saya juga sudah meminta orang untuk memeriksa
identitas wanita itu.”
Bayu semakin kalut. Tessa benar-benar membuatnya hancur seketika. Balas dendamnya telah di rencanakan sejak lama.
“Selama ini kau tidak mengawasi wanita itu?!” tanya Bayu kepadda Devin.
Devin terdiam menyesali perbuatannya. Devin merasa sangat menyesal karena dirinya sudah melakukan kesalahan besar dengan cara mengabaikan pekerja rumah tangga itu tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Devin melakukan itu agar Raya tidak merasa diawasi dan tertekan.
“Sudah bertahun-tahun bekerja denganku ternyata tidak membuat kau berpikir dengan cepat dan pintar.”
Mereka masih belu bisa bergerak dengan cepat. Begitu banyak kendaraan yang berhenti di jalanan itu. Devin segera turun dari mobil mencari informasi apa yang membuat jalanan jadi macet. Beberapa saat kemudian Devin kembali.
“Ada beberapa perbaikan jalan dan pohon besar tumbang dan menghalangi jalan. Ini akan memakan waktu lama,” ucap Devin.
Devin mengambil ponselnya kemudian membuka beberapa file yang di kirim oleh orang suruhannya.
“Wanita itu bukan berasal dari Yayasan penyalur pekerja dan ternyata dia menggunakan identitas orang lain yang sudah meninggal.”
“Sial.” Bayu mengumpat kesal.
“Hubungi Rendra. Minta dia segera menemui Raya bagaimana pun caranya. Dia orang satu-satunya yang tidak akan di awasi Tessa.”
Bayu menyerah dan meminta bantuan Rendra untuk segera memeriksa keadaan Raya.
“Halo, Raya.”
Rendra kembali memastikan bahwa Raya yang baru saja meneleponnya. Rendra kembali mencoba menelepon Raya tapi nomornya tidak dapat di hubungi.
"Aneh! Kenapa nomornya tiba-tiba tidak aktif.”
Rendra mengabaikannya. Berpikir bahwa Raya salah menekan nomornya atau mungkin saja ponsel Raya yang sedang bermasalah. Tidak ada kecurigaan sama sekali. Rendra kembali ke pekerjaannya.
Ponselnya berdering beberapa kali. Rendra hanya melirik ke arah ponselnya dan kembali mengabaikan panggilan itu.
“Apa lagi sekarang. Sepertinya anjing ini mendapat perintah dari majikannya untuk mengancamku.” Rendra kembali mengabaikan panggilan telepon dari Devin.
Saat hendak mematikan ponselnya ada sebuah pesan masuk. Rendra membuka dan membacanya. Rendra segera menelepon kembali Devin.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Sekitar satu jam yang lalu aku baru saja menerima panggilan telepon dari Raya tetapi dia tiba-tiba mematikan ponselnya. Aku akan segera menemuinya.”
Rendra segera meninggalkan ruang kerjanya. Berlari secepat mungkin, Rendra semakin frustrasi saat menunggu pintu lift terbuka beberapa kali menekan tombol lift.
Rendra mengurungkan niatnya menggunakan lift dia memilih melalui pintu darurat, tidak peduli saat ini dia berada di lantai lima yang terpenting saat ini adalah dia segera sampai ke lobi. Setelah sampai Rendra mencari mobilnya.
“Sial! Kenapa tiba-tiba aku lupa parkir di mana.” Rendra berlari menyusuri parkiran sambil menekan tombol kunci mobilnya.
Setelah menemukan mobilnya. Rendra kembali di kejutkan dengan kondisi mobilnya yang terhalang mobil lain bahkan ban mobilnya dalam keadaan kempes. Rendra kehabisan kata-kata, bahkan untuk mengumpat saja tidak bisa dia lakukan.
“Selamat siang, Pak.” Seseorang menunduk hormat kepada Rendra.
“Kau bekerja di sini?” tanya Rendra.
“Iya, Pak. Saya kepala bidang market....”
Rendra memotong pembicaraan itu, “Bagus! Pinjamkan aku mobilmu.”
Belum sempat pria itu memberikan izin Rendra sudah merebut kunci mobilnya dan segera membawa pergi mobil karyawannya itu.
“Astaga, untung saja dia atasanku,” ucap pria itu pasrah.
Devin kembali menghubungi Rendra untuk mengetahui keberadaannya.
“Aku tidak bisa datang tepat waktu. Mobilku tiba-tiba bocor dan ada yang parkir sembarangan.”
“Itu bukan kebetulan dan tiba-tiba. Tessa sudah merencanakan semuanya. Mungkin saja saat ini dia sedang mengawasi kita. Tetap berhati-hati, semua bisa terjadi tanpa kita perkirakan.” Devin menyudahi panggilan teleponnya.
“Mama, melakukan semua ini. Aku rasa Devin tidak mungkin mengarang cerita. Tapi apa mungkin Mama bisa melakukan hal yang keji kepada Raya,” batin Rendra.
Sementara itu Raya masih mengerang kesakitan. Raya meringkuk menahan rasa sakit yang teramat sakit di perutnya. Tubuhnya gemetar keringat bercucuran di tubuhnya. Darah segar mengalir deras dari sela-sela paha Raya.
“Sepertinya sebentar lagi bayimu akan lahir. Tapi apakah dia masih hidup? Hahahaha....”
Wanita itu menarik rambut Raya. Meminta perhatian Raya beralih kepadanya.
“Kau ingin tahu mengapa aku melakukan ini? Karena uang, tapi ada satu hal yang membuat aku tertarik. Kau mau tahu?” tanya wanita itu seraya mencengkeram kuat rambut Raya.
“Ah!” Raya menahan sakit.
“Dulu pria yang sangat aku cintai meninggalkan aku demi wanita kotor seperti kau. Dia meninggalkan aku dengan alasan ingin mempunyai anak. Begitu mudah dia meninggalkan aku dengan alasan seperti itu. Seharusnya aku melakukan hal yang sama kepada wanita itu tapi suamiku dengan tanpa perasaan menjebloskan aku ke penjara dan mereka pindah keluar negeri. Balas dendamku tak sampai, kemudian aku bertemu Tessa dia menawarkan hal yang menarik dan yang sangat ingin aku lakukan. Ini semua untuk seorang istri yang kehilangan cintanya karena wanita murahan seperti kau!”
Raya hanya bisa memegang perutnya yang sakit dan tegang. Kondisi yang begitu mengenaskan tidak membuat wanita itu bersimpati kepada Raya.