Love Affair

Love Affair
PART 22



"Kamu sudah lama datang?"


Defin menggelengkan kepalanya, "Baru saja."


"Dimana Bayu?"


"Aku tidak datang bersamanya."


"Kenapa? Bukankah kau selalu di sampingnya."


"Apa itu penting? Aku rasa percakapan ini tidak perlu di lanjutkan," jawab Defin angkuh.


Raya meninggalkan Defin dengan ke kecewaan mendalam. Suasana malam ini sangat ramai, tetapi hatinya terus di landa kesepian.


Raya memilih duduk sendirian sambil menikmati segelas minuman dingin.


"Raya, kamu bisa ikut Tante sebentar untuk bertemu orang tuanya Javier. Mereka sudah menunggu kamu sejak tadi."


"Raya di sini saja, Tante."


"Raya, jangan membuat Tante jadi tidak nyaman di hadapan mereka. Setelah bertemu mereka kamu boleh istirahat atau pergi dari acara ini."


Tessa menarik tangan Raya, membawanya menemui orang tua Javier.


Raya di sambut dengan senyuman dan ciuman hangat di pipi Raya oleh Mama Javier.


"Kamu cantik, Raya. Seperti biasa selalu mempesona."


"Ternyata kamu yang selalu menjadi buah bibir Istri dan Putraku akhir-akhir ini," ucap Papa Javier


Raya menanggapi semua pujian itu dengan senyuman. Berusaha keras agar tidak membuat masalah malam ini, sungguh hatinya sudah sangat lelah.


Keinginan untuk meninggalkan kebisingan acara ini semakin membuncah saat mata Raya menangkap kedatangan Sarah.


Sarah menyapa Tessa dan juga berkenalan dengan kedua orang tua Javier.


Javier menatap Sarah beberapa saat, kemudian menyadari mereka pernah bertemu sebelumnya.


"Kamu... sepertinya kita pernah bertemu?" tanya Sarah saat mereka saling berjabat tangan.


"Iya, aku rasa kita pernah bertemu saat kau sedang sibuk merundung seseorang di rumah sakit," ujar Javier seraya menebarkan senyuman miringnya.


Raya tersenyum dalam diam. Setidaknya Javier tidak bersikap sarkastik pada dirinya saja.


"Hmm... itu hanya salah paham, aku dan Raya sangat berhubungan baik."


Sarah menatap Raya meminta pembelaan. Beberapa kali matanya memberikan isyarat pada Raya agar membantunya menjelaskan pada Javier.


Namun, Raya berpura - pura tidak mengerti apa yang di inginkan Sarah.


Sarah menatap kesal dan memilih untuk menyerah. Dia berusaha untuk mengganti topik pembicaraan dengan menanyakan banyak hal kepada Mamanya Javier. Termasuk kesibukan mereka.


"Javier, seorang dokter?" tanya Sarah


Mama Javier mengangguk disertai senyuman.


"Pantas saja Raya dan  Javier terlihat akrab. Pasti Raya termasuk salah satu pasien kamu. Raya lain kali saat kamu ingin konsultasi dengan Javier ajak saja aku." Sarah menyenggol lengan Raya dengan sikunya.


"Memangnya Raya sakit apa?" tanya Papa Javier


Raya terdiam menatap keempat orang itu secar bergantian.


"Kalian tenang saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya kesehatannya saja menurun beberapa hari ini," ucap Tessa berusaha meyakinkan kedua orang tua Javier.


"Sepertinya Tante Tessa lupa satu hal."


"Sarah, lebih baik kamu menemui teman-teman kamu yang baru saja tiba." Tessa berusaha agar Sarah segera meninggalkan mereka.


Namun, Sarah tidak berhenti sampai dia dengan gamblang dan memastikan agar kedua orang tua Javier mendengar dengan jelas setiap perkataannya.


"Gangguan mental?" Kedua orang tua Javier merespon dengan cepat dan bersamaan.


Raya bisa menangkap dengan jelas, kedua orang tua Javier terkejut dan bingung.


"Ah! Itu sudah lama sekali dan saya pastikan Raya baik - baik saja." Tessa kembali memberikan penjelasan.


"Tante, tida baik jika di rahasiakan masalah serius seperti ini. Aku sebagai saudara Raya merasa khawatir jika tidak mendapat penanganan dari orang yang tepat."


"Sarah! Sudah hentikan!" Tessa menarik lengan Sarah agar segera pergi.


"Awalnya Raya itu gadis yang sangat penurut, Om, Tante. Tapi sejak Papanya meninggal dalam kecelakaan, Raya tidak bisa di kendalikan sampai Mamanya juga memilih untuk mengakhiri hidupnya. Tapi, tentunya kami tidak bisa menyalahkan Raya sepenuhnya, semua itu terjadi karena Raya terlalu rapuh dan masih muda saat itu."


Sarah tidak henti - hentinya menyudutkan Raya. Walaupun berulang kali Tessa menggenggam lengannya agar menghentikan semua itu.


Javier menatap Raya. Entah rasa iba atau rasa kecewa karena tidak pernah mengungkapkan semua tentang masa lalu Raya, dia tidak bisa memastikan dengan jelas.


Raya menghela napas panjang. Mengumpulkan keberanian dan kekuatan untuk bicara.


"Papa meninggal karena kecelakaan kemudian Mama memilih untuk mengakhiri hidupnya. Dan masalah gangguan mental yang aku alami itu juga sebuah kebenaran. Tapi, bukan berarti semua yang kamu ketahui adalah kebenaran. Sebaiknya aku segera pergi sebelum aku kambuh dan menggila di acara ini."


Raya meninggalkan mereka yang masih terdiam.


Sedangkan Tessa segera menarik lengan Sarah dan membawanya menjauh dari keluarga Javier.


"Sarah! Kamu keterlaluan, kenapa harus bicara seperti itu pada mereka."


"Aku tahu Tante mau menjodohkan Raya dengan pria tadi. Aku merasa kasihan melihat mereka harus dapat menantu yang gila seperti Raya."


"Tante tidak akan menutupi masalah itu. Cepat atau lambat Tante ataupun Raya pasti akan memberitahu mereka tapi bukan sekarang, ini bukan waktu yang tepat. Kamu seharusnya mendukung Raya bukan malah membuat masalah menjadi runyam."


"Tante seharusnya berterima kasih karena aku sudah berani mengatakan sebuah kebenaran. Coba Tante pikirkan, jika mereka tahu dari orang lain pasti muka Tante yang tercoreng."


Sarah terus membela dirinya. Merasa apa yang di lakukan sudah sangat tepat.


"Dan sekarang kamu sudah mencoreng wajah Tante. Sebaiknya kamu kembali ke rumah sekarang!"


"Tante! Seharusnya yang Tante usir itu Raya bukan aku!"


Tessa memanggil seseorang dan memberikan perintah untuk mengantar Sarah kembali ke rumahnya.


Permintaan maaf berulang kali di ucapkan Tessa atas sikap tidak sopan Sarah yang merupakan keponakannya.


Keluarga Javier menanggapi dengan lapang dada. Namun, tentunya rasa penasaran juga merasuki mereka.


Javier memilih untuk mencari keberadaan Raya. Beberapa kamar sudah dia periksa begitu juga dengan toilet, masih juga tidak dia temukan keberadaan Raya.


Javier keluar menuju halaman depan Villa. Di sana ada beberapa tamu yang baru saja tiba. Pandangannya tertuju pada pria berpakaian serba hitam, bertubuh tegap sedang menyandarkan tubuhnya di sebuah mobil.


"Dimana, Raya?" tanya Javier pada pria itu


"Kenapa bertanya padaku. Tentu saja dia di dalam," jawabnya


"Aku sudah mencarinya tapi Raya tidak ada."


"Malam ini aku tidak di tugaskan untuk menjaganya. Jadi aku tidak tahu dia dimana."


"Tidak berguna!" umpat Javier lalu pergi meninggalkan Defin.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Defin setengah berteriak pada Javier


Javier menoleh kearah Defin. "Bukankah tadi kau mengatakan ini bukan tugasmu!"


"Sial! Dia ingin menguji kesabaran ku!"


Saat Defin ingin mengikuti langkah Javier. Dia melihat anak buahnya membawa Sarah keluar dari Villa itu.


Defin menghampiri mereka. Sarah masuk ke mobil dengan wajah kesal.


"Masalah apa yang sudah dia lakukan?" tanya Defin pada pria yang membawa Sarah.


Pria itu menjelaskan semuanya pada Defin dan meminta izin untuk membawa wanita itu pergi dari villa. Setelah Defin memberikan izin pria itu pergi melajukan mobilnya.


Defin segera masuk ke villa dan mencari keberadaan Raya. Berulang kali Defin menghubungi Raya tapi tidak mendapat jawaban.


"Dia selalu saja membuat masalah. Sekarang malah menghilang."


Defin mencoba melacak keberadaan Raya dengan mudah karena ponselnya masih dalam keadaan aktif. Dirinya yakin Raya masih ada di sekitar Villa karena sejak tadi tidak terlihat ada orang yang keluar dari pengawasannya.


Namun, Raya harus segera ditemukan sebelum dia melakukan hal yang tidak diinginkan.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


Klik ❤️ agar tidak ketinggalan update setiap babnya dan juga jangan lupa 👍 vote & komentar