Love Affair

Love Affair
PART 28



"Pak, saya sudah meminta beliau untuk menunggu tapi...." Misya sekertaris Bayu melakukan pembelaan atas perbuatan istri atasannya yang memaksa masuk ruang rapat.


"Kamu bisa kembali bekerja," ucap Bayu


Orang-orang di ruang rapat saling memandang dan berbisik. Melihat istri atasannya yang menerobos masuk dan sedang menahan kemarahan.


"Karena kita sudah mendapatkan keputusan final, kalian bisa segera membuat laporan sesuai bidang masing-masing dan segera berikan pada saya." Bayu menyudahi rapat dan para karyawannya meninggalkan ruang rapat satu persatu.


"Tessa, sepertinya kamu sudah tidak sabar agar masalah keluarga kita menjadi topik utama." Bayu menghela napas panjang.


"Setidaknya kamu bisa menunggu di ruangan ku saja, itu akan membuat namamu tetap di hormati bawahan ku bukan memaksa masuk seperti ini."


"Kamu pikir aku peduli dengan mereka. Mereka hanya bisa bicara di belakang tanpa menunjukkan wajahnya. Seperti wanita simpanan yang selalu kau lindungi."


Bayu menatap tajam. "Kita tidak sedang membahas itu, Tessa."


"Semua ini karena kamu yang memulainya, Bayu."


"Apa maksud dari perkataan mu?"


"Jangan berlagak bodoh! Kamu tahu pasti kenapa aku begini."


"Aku mengacaukan rencana mu, dengan menyingkirkan mata-mata yang sudah kamu bayar mahal. Benar begitu?"


"Dia bukan mata-mata. Aku lakukan itu agar Raya tetap aman."


"Tessa, aku bukan orang baru di hidupmu. Jangan terus berbohong. Pria itu sengaja kamu tempatkan di sekitar Raya untuk mencari tahu siapa wanitaku."


Bayu melangkah mendekati Tessa yang enggan untuk duduk.


"Bolehkah aku bertanya satu hal. Bagaimana bisa kamu begitu yakin bahwa Raya mengetahui siapa wanita itu, sampai kamu mengawasinya begitu ketat. Bisa saja kekasihku adalah orang yang setiap hari kamu temui."


"Kamu menantang ku? Lihat saja aku akan segera menemukan perempuan itu dan menghancurkannya," ancam Tessa


"Alasan kenapa aku masih bertahan bukan semata karena bisnis tapi memang wanitaku yang tidak ingin menunjukkan dirinya. Temukan dia jika kamu ingin semuanya hancur!" Bayu membuka pintu dan menghentikan langkahnya lalu kembali menatap Tessa.


"Satu hal lagi, kekasihku tidak pernah bicara di belakang. Dia selalu menatap wajahmu saat bicara." Bayu tersenyum kepada Tessa kemudian keluar dari ruang rapat.


"Sial! Aku menemuinya untuk mengancamnya tapi baginya itu hanya isapan jempol." Tessa terus mengumpat suaminya dalam perjalanan pulang.


Belum hilang rasa kesal pada Bayu, kini Tessa kembali di kejutkan dengan sebuah mobil terparkir di halaman rumahnya.


"Mobil siapa ini?" tanya Tessa pada salah satu pelayan yang sedang mengagumi keindahan mobil berwarna merah itu.


"Katanya ini mobil baru Bapak, Bu."


"Bayu membeli mobil?" Tessa semakin bingung karena Bayu bukan orang yang suka mengganti mobilnya.


"Pasti ini di beli untuk Ibu, kan. Karena tidak mungkin Bapak pakai mobil warna merah." Para pelayan tertawa bersamaan.


"Kalian kembali kerja, jangan berkumpul di sini," perintah Tessa


Apa benar dugaan mereka, bahwa Bayu membeli mobil ini untukku. Tapi, kami baru saja bertengkar dan tiba-tiba ada mobil baru di rumah.


"Mungkin saja ini benar untukku." Tessa tanpa sadar senyum-senyum sendiri sambil mengelilingi mobil itu dan menyapukan setiap pandangannya ke setiap sudutnya.


Mungkin ini sinyal baik yang di berikan Bayu bahwa hubungan mereka bisa di perbaiki seperti semula.


"Tante."


Tessa terperanjat saat Raya memanggilnya dan menyentuh pundaknya.


"Raya, kamu membuat Tante kaget saja."


"Maaf, Tante. Aku kira Tante sudah lihat aku datang."


Raya mengikuti arah pandang Tessa yang masih melekat pada mobil itu.


"Wah, Tante baru beli mobil ya? Bagus sekali, Tan." Raya sungguh jujur kali ini mengagumi benda berwarna merah yang terkesan berani dan sexy.


"I...iya, Om kamu yang beli untuk Tante." Tessa tersipu malu.


"Om Bayu?" tanya Raya tidak percaya, "Bukannya Om dan Tante sudah sepakat untuk hidup seperti orang asing. Tapi, kenapa Om masih mau membeli mobil ini untuk Tante."


Tessa tersenyum dan menggenggam jari-jemari Raya.


"Karena Om kamu sudah meninggalkan selingkuhannya itu. Mungkin waktu itu dia sedang bosan saja dan sekarang dia sadar bahwa wanita itu tidak ada apa-apanya di banding dengan Tante."


"Tante yakin, Om Bayu sudah meninggalkan wanita itu?"


"Tentu, dia memberikan mobil ini sebagai permintaan maafnya."


Raya melepaskan pelukannya saat terdengar suara deru mobil mendekat dan berhenti.


"Tante, Raya pergi dulu."


"Kamu sama Defin mau kemana?" tanya Tessa saat melihat Defin yang baru saja tiba.


"Aku minta di ajarain masalah menejemen keuangan cafe sama Om Bayu. Tapi karena Om sibuk jadi Defin yang diminta untuk membantu Raya."


"Baiklah, tapi kamu harus pulang sebelum makan malam. Sudah lama kita tidak makan bersama."


"Raya usahakan pulang cepat. Mungkin saja ada kejutan lain dari Om Bayu untuk Tante."


Tessa tersenyum malu mendengar ucapan Raya. Ucapan Raya berhasil membuat Tessa memiliki ekspetasi yang tinggi terhadap Bayu.


...🌟🌟🌟...


Entah sudah berapa lama aku dan Defin dalam perjalanan. Aku tertidur dalam perjalanan karena kelelahan.


Di saat aku terbangun karena gonjangan dari jalan yang berlubang dan bebatuan, sepertinya masih juga belum sampai di tujuan.


Aku menegakkan tempat duduk dan memijit tengkukku yang sedikit terasa tidak nyaman.


"Sebenarnya kita mau kemana?"


"Lihat itu. Rumah itu tujuan kita." Defin menunjuk sebuah rumah yang keseluruhannya terbuat dari bahan kayu, dan berwarna hitam.


Siapa pemilik rumah itu, kenapa harus di beri warna gelap seperti itu. Bahkan rumah duka tidak di warnai gelap.


"Tempat apa ini?" tanyaku penasaran


"Di sini tempat di mana Bayu menyimpan semua hal yang memang sengaja di sembunyikan."


Aku bergidik ngeri saat kami tiba di depan rumah itu. Sangat menyeramkan dengan pepohonan besar di sekelilingnya dan dedaunan kering yang menumpuk di tanah. Debu yang mulai menebal di kaca jendela rumah papan itu yang semakin menyakinkan bahwa ini rumah tidak berpenghuni.


"Tunggu."


Aku menarik lengan kemeja Defin untuk menghentikan langkahnya.


"Aku akan tunggu di mobil saja." Aku menolak untuk ikut masuk ke rumah itu.


"Bukankah kita ingin membahas masalah penting."


"Kamu ingin kita bicara di dalam? Kita bisa bicara di luar saja lagi pula tidak ada siapapun selain kita di sini."


"Masuk!"


"Tidak! Aku tidak mau masuk ke rumah itu."


Defin menarik lenganku dan membuka pintu rumah itu.


Dari luar atau pun di dalam. Rumah itu memang sudah terbengkalai. Pikiran buruk pun mulai menghantuiku.


Apa Defin menerima perintah dari Bayu untuk membunuhku, karena dia ingin kembali pada Tessa.


"Lepas!" Aku menghentakkan tanganku agar cengkraman Defin lepas.


"Duduk," perintah Defin seraya menunjuk dengan matanya ke sebuah kursi panjang berdebu di ruangan itu.


"Tidak, aku ingin kembali ke rumah sekarang!"


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan, bahwa kita ingin membahas masalah penting."


Aku mengambil ponsel di tas dan bersiap untuk menghubungi siapapun, jika dia menunjukkan gelagat aneh


"Kamu jangan berani macam-macam padaku. Lihat sekarang aku akan menghubungi Bayu dan melaporkan sikap kurang ajar mu ini."


Defin mendekat dan berdiri menantang di hadapanku.


"Baiklah, lakukan. Maka, dia akan semakin curiga dan semua rencana yang ada si kepalamu ini akan lenyap." Defin mendorong dahi ku dengan telunjuknya.


"Jadi, duduk dengan tenang selagi aku menghubungi orang untuk membukakan pintu."


Aku memilih untuk menurut dan perlahan duduk di kursi kayu tanpa berpikir panjang.


Pintu. Pintu mana yang dia maksud, aku hanya melihat satu pintu di rumah ini, yang berada di samping ku saat ini. Bahkan pintu itu masih dalam keadaan terbuka.


Mungkinkah ada pintu rahasia di sini. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan tapi tidak menemukannya.