Love Affair

Love Affair
PART 32



🔸Flashback on


"Tessa melihat Bayu keluar dari kamarmu pagi ini."


"Apa!?" Raya sontak terkejut mendengar apa yang baru saja dia dengar dari Defin melalui sambungan telpon.


"Cari solusi jika kamu tidak ingin rencananya berakhir di sini, karena Bayu tidak berniat untuk menutupinya lagi. Cepat lakukan apa saja yang bisa mencegah Tessa tahu tentang hubungan terlarangnya."


Raya berpikir sejenak. Matanya tertuju ke ruang makan dimana Bayu dan Tessa sedang menikmati sarapan. Ya, terlihat hanya Bayu yang menikmati sarapan paginya dengan sangat lahap sedangkan Tessa duduk terdiam dan mengacuhkan makanan yang sudah terhidang.


Raya masih terdiam saat Defin mendesaknya untuk segera melakukan sesuatu.


"Kamu tidak punya rencana apapun?"


Raya hanya menghela napas panjang dan Defin tahu bahwa Raya memang tidak memilik persiapan apapun untuk menghadapi masalah seperti ini.


"Baiklah aku punya rencana. Kamu bisa menggunakannya atau tidak itu terserah padamu."


Tanpa berpikir panjang Raya menyetujui rencana Defin. Pria itu juga menegaskan bahwa keberhasilan tergantung pada Raya saat memainkan perannya.


"Ya, aku mengerti."


Raya memasukkan ponselnya dan kembali ke kamar.


Raya meraih sehelai pakaian Bayu yang tergeletak di lantai kamarnya. Kemudian Raya memasukkan jari jemarinya ke dalam rongga mulutnya tanpa memakan waktu lama, apa yang dia inginkan tercapai.


"Menjijikan," ucap Raya mengeluh saat melihat isi perutnya sendiri keluar dan di tumpahkan di pakaian Bayu yang semalam dia kenakan. Lalu dia menaruh pakaian Bayu dalam sebuah keranjang tempat pakaian kotor di samping pintu kamar mandinya.


Napas Raya terengah-engah dan merasakan perutnya tidak nyaman. Raya segera ke kamar mandi untuk membersihkan tangan dan berkumur beberapa kali.


"Sial! Sebenarnya dia mengerjaiku atau memang hanya rencana seperti ini yang ada dalam otaknya."


Raya kemudian perlahan keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju meja makan.


Perlahan Raya memainkan perannya seperti anjuran Defin. Walaupun dirinya masih kesal dengan pria itu tapi tetap saja pikirannya sangat buntu sekarang. Tidak ada waktu untuk menyusun rencana lain.


🔸Flashback off


...🌟🌟🌟...


"Kau sudah mengantarnya?"


"Sesuai dengan perintah anda." Defin meletakkan beberapa berkas yang harus diperiksa oleh Bayu.


Defin kembali duduk di meja kerjanya yang memang satu ruangan dengan Bayu.


Bayu menghentikan pekerjaannya dan menatap Defin. Sadar dirinya sedang di awasi, Defin segera merespon Bayu.


"Anda membutuhkan sesuatu?" tanya Defin kepada Bayu


"Mmm... kamu...." Bayu sedikit ragu untuk melanjutkan ucapannya.


Defin segera bangkit dan melangkah mendekat ke meja kerja Bayu. Berdiri tegap menunggu perintah.


"Apakah ada tugas yang harus saya selesaikan atau...."


"Tidak. Hanya saja aku sedikit merasa bahwa Raya..." Bayu kembali enggan untuk melanjutkan perbincangan itu.


"Terus awasi dia. Ya, tugasmu saat ini adalah mengawasinya," ucap Bayu terlihat ragu dengan perintahnya sendiri.


Defin menelan ludahnya perlahan. Mengawasi. Mungkin ini sebuah kecurigaan akan sikap Raya. Bisa jadi Bayu sudah mulai curiga dengan keterlibatannya atau memang dia sudah tahu semunya. Tentang Raya yang membujuknya untuk bersekutu.


"Mengawasi Nona Raya? Hal seperti apa yang ingin anda ketahui?" Defin mencoba untuk menggali informasi sejauh mana atasannya itu mengetahui rencana Raya.


"Ini pertama kalinya kau bertanya tentang tugas yang sangat mudah. Tidak seperti biasanya."


"Saya rasa Nona Raya tidak melakukan hal apapun yang mencurigakan."


"Bagaimana kau bisa seyakin ini? Sebenarnya apa yang kau sembunyikan?" tanya Bayu mulai curiga.


"Maaf jika anda jadi salah paham. Saya hanya berpendapat bahwa Nona Raya tidak memiliki indikasi apapun untuk membahayakan anda. Saya rasa anda tidak perlu memikirkan masalah ini."


Bayu meletakkan sebuah pena yang sejak tadi dia gunakan untuk membubuhkan tanda tangannya di beberapa berkas. Kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Kau yakin?" Bayu kembali bertanya meminta jawaban dari Defin.


"Ya, saya yakin. Nona Raya hanya merasa bingung dengan apa yang terjadi disekitarnya jadi hal wajar jika dia sedikit berubah."


Bayu kembali menegakkan tubuhnya. Lalu, mengambil pena itu kembali dan mengetuk-ketuk di atas meja.


Setiap ketukan berhasil membuat tubuh Defin panas dingin. Dirinya hanya tidak ingin dalam posisi yang serba salah dan tidak bisa memihak.


Baginya Bayu sudah dia anggap seperti keluarga sendiri sedangkan Raya, Defin hanya tidak ingin wanita itu berada dalam situasi yang semakin sulit.


"Pergilah ke toko bunga di tempat biasa. Dan berikan bunga itu pada Raya."


Defin menghembuskan napas lega saat keluar dari ruangan Bayu. Namun, Defin sadar betul ini bukan akhir dari kecurigaan Bayu pada Raya. Ini hanya sebuah permulaaan.


Satu hal yang harus dia lakukan saat ini adalah memperingatkan Raya agar dia siap menghadapi kenyataan terburuk.


Bayu tidak akan tinggal diam. Bisa saja saat ini dia sudah meminta orang lain untuk mengawasi dirinya atau Raya. Pria itu akan terus mengejar yang sudah menjadi targetnya.


"Kita perlu bicara," ucap Defin seraya melemparkan buket bunga di ata meja kerja Raya.


"Setidaknya kamu bisa mengetuk pintu terlebih dulu."


Tanpa memperdulikan ketidaksukaan Raya pada dirinya yang sudah menerobos masuk, Defin segera duduk di kursi di depan meja kerja Raya.


"Apa terjadi sesuatu? Ada angin apa kamu membawakan aku bunga."


Raya meraih buket bunga berwarna kuning berkelopak kecil dengan pola garis melingkari setiap helai bunga itu.


"Carnation, dan kenapa harus berwarna kuning?" tanya Raya pada Defin.


"Ini permintaan Bayu. Aku hanya mengantarnya untukmu."


"Rasa kecewa. Itu arti dari bunga Carnation kuning. Dia sedang mengancamku secara lembut." Raya tersenyum miring seraya mengambil satu kuntum bunga itu.


Defin mengerutkan dahinya. "Sampai kapan kamu akan tenang seperti ini? Bayu mulai curiga, aku tidak menjamin bisa meyakinkan dirinya terus menerus."


"Segera dapatkan dokumen yang aku minta, maka semuanya akan dalam kendaliku." Raya menegakkan tubuhnya dan menatap tajam Defin.


"Aku tidak memiliki wewenang untuk itu, Raya. Seandainya aku bisa mendapatkan dokumen itu, kau juga harus mendapat persetujuan dari para pemegang saham."


"Kamu pikir aku percaya. Bahkan Bayu lebih percaya padamu dari pada dirinya sendiri jadi mustahil kamu tidak mengetahui tentang dokumen kepemilikan perusahaan itu."


Defin bangkit dari duduknya dan menatap tajam Raya.


"Satu hal yang harus kau tahu, Raya. Bayu tidak akan tinggal diam  jika tahu kau ingin mengambil alih perusahaan."


"Aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya jadi milikku!" Raya berbalik menatap tajam Defin.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah menguasai perusahaannya? Kau ingin menyingkirkan Bayu dari hidup mu? Apa kau yakin sudah siap melakukan itu. Jangan melangkah lebih jauh jika kau sendiri tidak memiliki tujuan jelas!"


Defin membanting pintu dan pergi meninggalkan Raya.


Raya melemparkan buket bunga pemberian Bayu, bunga itu berserakan di ruang kerjanya.


"Tujuanku sangat jelas. Sangat jelas bahkan setiap malam aku memimpikan saat semuanya terjadi. Aku akan menghancurkan semuanya."