Love Affair

Love Affair
PART 8



“Kak, bangun ini sudah jam berapa. Coba lihat! Kita harus pulang sekarang sebelum Om Bayu tahu kita disini.”


Raya mendekatkan ponselnya ke wajah Randra. Sudah beberapa kali Raya membangunkan Randra. Namun, dia enggan bergerak dari tempat tidurnya.


“Bentar lagi, Ray. Aku masih mengantuk ini.”


“Teman-teman Kak Randra sudah pulang dari tadi pagi. Gimana kalau Om Bayu tahu kita tadi malam bikin party. Ayo, kita pulang sebelum ketahuan.” Raya menarik tangan Randra agar beranjak dari tidurnya.


"Memangnya sekarang jam berapa?" tanya Randra dengan suara serak khas orang baru bangun tidur


"Jam 2 siang!" jawab Raya


"Papa pasti sudah tahu kita semalam di sini. Jadi mau kita pulang sekarang atau nanti tetap saja ketahuan."


"CK! Ini semua gara-gara Kak Randra mabuk, kalau Kakak minumnya pakai aturan semua tidak akan begini." Raya menepuk punggung Randra yang masih saja berbaring tengkurap.


“Raya.”


Mendengar namanya di panggil, Raya menoleh ke arah pintu kamar Randra.


“Javier... kamu masih disini?”


“Kamu bisa pulang sama aku saja. Rumah kita juga satu arah, kan," ucapnya


Randra melirik Javier, “Iya, kamu pulang sama Javier aja. Nanti aku pulang kalau sudah hilang pusingnya. Bahaya kalau supirnya masih mengantuk, kan.”


Raya menghembuskan napas, “Ya... sudahlah mau gimana lagi.”


Raya bersiap dan pergi bersama Javier. “Aku kira kamu sudah pulang pagi tadi.”


“Gimana ya....” Javier ragu melanjutkan ucapannya


“Kenapa?” tanya Raya


“Mereka merencanakan semuanya.”


“Rencana? Rencana untuk kita pulang sama-sama?”


Javier mengangguk, “Ya, bisa dikatakan begitu. Tapi, kalau kamu keberatan pulang denganku. Kamu bisa pulang pakai mobilku saja dan aku menunggu sampai Randra bangun.”


“Oh ternyata semua ini rencana Kak Randra. Aku tidak masalah jika kita pulang bersama dan kalau kamu menunggu Kak Randra bangun kamu bisa pulang malam.”


Tidak ada pilihan terbaik dari keduanya. Jika meninggalkan Javier dan membuat dia menunggu Randra sampai bangun itu sungguh keterlaluan dan jika Raya menyetir mobil sendiri, maka dia akan tersesat entah kemana. Raya sangat buruk jika harus mengingat jalan.


Raya dan Javier tidak banyak bicara saat dalam perjalanan. Mereka di sibukkan dengan pikiran masing-masing.


Raya memikirkan bagaimana harus menghadapi Bayu saat tiba nanti. Pesan singkat dan panggilan telepon dari Bayu sudah sangat banyak. Raya bukan sengaja untuk mengabaikan Bayu. Sinyal yang buruk dan tidak membawa charger itulah penyebabnya. Saat pagi Raya mencoba menghidupkan ponselnya, ingin membalas pesan Bayu tapi belum sepat terkirim ponselnya sudah mati.


“Siapa ‘B’. Pacar kamu?” tanya Javier


Lamunan Raya buyar saat mendengar pertanyaan Javier. Selain dokter apakah Javier bisa membaca isi hatinya.


“Tadi malam waktu kamu ketiduran. Ada panggilan masuk dan tertulis huruf ‘B’.”


“Oh!...” Raya menghembuskan napas lega.


Raya ingat sekarang bahwa dia menyimpan nomor Bayu dengan huruf ‘B’ saja untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Disaat seperti ini misalnya.


“Dia hanya teman.”


“Tapi dia menghubungi kamu sampai beberapa kali, jadi aku mengangkatnya.”


“Apa?!...” Raya menutup mulutnya, “Kamu bicara dengan orang itu?”


“Maaf jika aku tidak sopan. Tapi, aku pikir itu penting karena begitu banyak panggilan telpon darinya.”


Raya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, “Tamat sudah riwayatku.” gumam Raya


“Apa aku melakukan kesalahan fatal dengan menjawab panggilan dari ‘B’ itu?” tanya Javier penasaran.


“Apa dia mengancam kamu? Atau marah dan ingin menemui kamu?” tanya Raya


Raya menatap Javier meminta jawaban segera. Javier menepikan mobilnya.


“Raya, siapa orang itu sampai kamu ketakutan seperti ini?”


“Takut? Ah, kamu salah paham Javier. Aku hanya ingin tahu apa yang di katakan padamu.” Raya berusaha menyakinkan Javier.


“Lalu...?” kembali rasa penasaran menyerbu hati Raya


“Ponsel kamu mati.”


Raya memejamkan matanya. Sudah tergambar jelas masalah apa yang akan dia hadapi saat pulang ke rumah nanti.


Javier kembali menjalankan mobilnya. Membelah keramaian. Saat sampai di rumah sudah jam tujuh malam. Sebelum pulang Javier dan Raya singgah disebuah rumah makan di pinggir jalan untuk makan malam.


“Kamu gak mampir dulu?” tanya Raya


“Aku langsung pulang saja.” Javier menebarkan senyumnya


“Ok, terima kasih, ya.” ucap Raya seraya


Saat Raya berbalik untuk masuk ke rumah Javier tiba-tiba menarik lengan Raya. Sehingga Raya menabrak tubuh Javier. Tatapan mereka bertemu sesaat lalu Raya segera memalingkan wajahnya.


“Maaf... aku cuma mau kasih tas kamu.” Javier menyodorkan tas Raya yang tertinggal di dalam mobil Javier.


Raya berusaha untuk menghindari rasa canggung antara mereka berdua, “Mmm... ya sekali lagi terima kasih.”


Tanpa disadari pipi Raya memerah. Berusaha mengatur napasnya dan berpikir rasional bawa kejadian tadi hanya kecelakaan tidak di sengaja saja.


Perlahan Raya membuka pintu rumah dan masuk. Terlihat sepi dan sunyi. Sepertinya Bayu dan Tessa tidak sedang di rumah.


Raya memasuki kamarnya dan langsung berbaring di ranjangnya. Rasanya sangat nyaman berbaring setelah menempuh perjalanan jauh. Bahkan untuk menghidupkan penerangan di kamarnya Raya enggan untuk bergerak.


“Wajah memerah, jantung berdetak dan tiba-tiba tidak bisa berkata-kata. Itu biasanya bisa disebut jatuh cinta pada pandangan pertama.”


Raya bangkit dari ranjangnya dan segera menghidupkan lampu kamarnya.


“Om Bayu!” Raya terkejut saat melihat Bayu sudah duduk di sofa kamarnya.


“Bagaimana rasanya saat tidur dengan pria yang seusia denganmu? Bahagia? Puas? Atau....”


“Apa maksud, Om?”


“Kamu tahu maksudku, Raya.”


“Aku dan Javier tidak seperti yang Om bayangkan. Kami hanya teman.”


“Javier? Jadi itu namanya? Kamu mau aku mengurus dia juga, seperti pelayan yang pernah melihat kita berdua?”


Raya menghampiri Bayu dan duduk disampingnya, “Om, tolong jangan bawa Javier ke masalah kita. Dia bahkan tidak tahu apa-apa. Aku hanya menganggap dia sebagai teman dan tidak lebih.”


Bayu menggenggam kedua lengan Raya dan menatap kedua bola mata Raya, seakan-akan ingin masuk dalam  pikiran Raya dan mencari kebenaran.


Raya meringis kesakitan. Luka memar di lengannya masih terasa sakit apalagi genggaman Bayu semakin kuat.


“Teman? Bukankah kita bahkan Paman dan Keponakan, Raya.”


“Aku harus bagaimana menjelaskan agar Om percaya. Kami tidak ada hubungan apapun. Jangan terus bertanya padaku, pertanyaan itu seakan-akan merendahkan harga diriku!” teriak Raya


“Harga diri? Bahkan harga dirimu sudah lama mati!”


Raya beranjak dan melepaskan genggaman Bayu di lengannya.


“Ya! Aku memang wanita tidak punya harga diri. Aku wanita jalang!!!... itu yang ingin Om katakan? Sekarang keluar dari kamarku! Jangan pernah temui jalang mu ini!”


“Ra... Raya. Bukan begitu....”


“Pergi... pergi dari kamarku sekarang juga! Atau Om Bayu ingin aku mengatakan semuanya pada istrimu?” bentak Raya.


Bayu meninggalkan Raya. Bayu menyesali perbuatannya. Seharusnya dia bisa menahan rasa cemburu yang menghantuinya sejak Javier menjawab panggilan darinya.


Jika saja bukan karena Tessa yang terus melarangnya untuk menemui Raya tentunya malam itu juga Bayu ingin membawa Raya kembali ke rumah.


Sementara itu rasa menangis tersedu-sedu. Raya meremas batal disisinya. Menahan tangis. Rasa kecewa di hatinya memuncak. Rasa sakit yang menyesakkan dada.


Ini belum seberapa di bandingkan sakit yang telah dia ukir untuk Tantenya sendiri saat semuanya terbongkar nanti.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


FOLLOW IG AUTHOR : @hanania442 😘