
Tok...tok...tok
Intan mengetuk pintu ruang kerja Raya. Setelah pintu terbuka Intan di suguhkan dengan pemandangan yang tidak biasa dari sahabatnya itu.
Saat melihat Intan datang Raya berjalan perlahan menuju sofa di ruang kerjanya itu. Lalu Raya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Ada yang ingin kamu bicarakan, Intan?" tanya Raya lirih.
Intan segera mendekat dan duduk di samping Raya.
"CK! Kamu ini selalu saja seperti ini."
"Aku baik-baik saja, jangan berlebihan."
"Kita ke Rumah Sakit sekarang!"
Intan menarik lengan Raya dan meletakkannya di atas pundaknya dan bersiap untuk membantu Raya berdiri. Tetapi, Raya kembali menarik lengannya.
"Intan, aku tidak perlu ke Rumah sakit."
"Raya, terakhir kali kamu bilang begitu dan kamu berakhir di Rumah Sakit. Aku tidak ingin itu semua terjadi lagi."
"Percayalah, aku hanya butuh istirahat."
Intan menarik napas dalam dan menghembuskan napasnya perlahan. Menahan rasa kesal kepada sahabatnya yang memang sangat sulit untuk di beritahu.
"Baiklah, tapi izinkan aku membawamu ke kamar untuk istirahat."
Raya mengangguk setuju dan di sambut senyuman olehΒ Intan. Setelah membantu Raya berbaring di tempat tidurnya Intan meletakkan selimut di tubuh Raya.
"Kamu ingin sesuatu?" tanya Intan
"Untuk saat ini aku tidak menginginkan apapun. Kamu menemui ku pasti ada yang ingin di bicarakan."
"Lupakan hanya masalah kecil, aku bisa menyelesaikan sendiri. Tadinya aku ingin memberimu kesibukan saja tapi saat melihat kamu seperti ini aku rasa bukan waktu yang tepat untuk membuatmu sibuk."
Gelak tawa Intan berhasil membuat Raya sedikit merasa lebih baik. Mereka sudah cukup lama bersama , saling berbagi dan menguatkan. Mungkin karena mereka sama-sama memiliki masa lalu yang kelam dan tidak mempunyai keluarga yang utuh semakin mempererat persahabatan mereka.
"Raya, kamu yakin ini hanya karena masalah pencernaan saja? Bagaimana jika aku membawa dokter kemari?" Intan masih berusaha menyakinkan Raya agar segera ke mendapat pengobatan dari ahlinya.
"Tentu, aku sudah meminum obat dan beberapa jam lagi akan berangsur membaik."
"Aku akan kembali bekerja. Kamu bisa panggil aku kapan saja jika butuh sesuatu dan aku akan mengunjungi kamu setiap satu jam sekali."
Raya menarik baju Intan dan berhasil menahan sahabatnya itu untuk pergi.
"Aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Raya lirih.
Intan kembali duduk di tepian ranjang. Menatap wajah sahabatnya itu yang terlihat pucat dan mata yang sendu.
"Kamu ingin mengatakan apa?"
"Aku bukanlah Raya yang dulu. Aku benar-benar sudah menjadi orang yang berbeda. Kesalahan besar sudah aku lakukan."
"Apa ini mengenai kesehatan kamu? Kamu punya penyakit kronis dan mematikan?"
Raya menggelengkan kepalanya. Intan semakin penasaran dan panik karena Raya tidak kunjung mengatakan apa yang sedang sahabatnya risau kan.
"Apa Cafe kita mengalami kebangkrutan? Kamu menggunakan uang itu untuk kepentingan pribadimu. Ah.... Raya cepat jangan membuat aku semakin penasaran, cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi."
Raya berusaha bangun dari pembaringannya. Intan segera meletakkan sebuah bantal di punggung Raya untuk duduk bersandar.
Raya merasa sangat bersalah dengan sahabatnya yang sudah terlalu baik padanya. Tanpa tahu apa yang sudah dia perbuat selama ini.
Raya menceritakan semua yang telah terjadi. Bermula saat dia bertemu Bayu dan rasa itu mulai tumbuh dan kini berubah menjadi sebuah keserakahan.
"Aku merasa tersiksa setiap melihat sikap baikmu tanpa tahu bagaimana besar kesalahan yang sudah aku lakukan."
Intan terdiam terpaku menatap jendela kamar Raya. Tubuhnya terasa kaku dan tidak bisa berkata apapun setelah mendengarkan ucapan sahabatnya itu.
"Aku merasa lega karena telah mengakui semuanya. Kamu bisa pergi meninggalkan aku saat ini juga. Karena sudah tidak ada gunanya kamu terus di sisiku yang akan hanya membawa kehancuran."
Raya menatap punggung Intan yang masih duduk terdiam di tepian ranjang.
Perlahan isak tangis Intan terdengar oleh Raya. Intan mengusap air matanya dan menatap tajam Raya.
"Kenapa... kenapa kamu harus terjerumus ke hubungan seperti itu. Kamu bisa memilih siapapun untuk menjadi kekasihmu tapi kenapa kamu lakuka ini semua, Raya."
"Aku harus melakukan ini. Aku tidak bisa membiarkan semua terjadi begitu saja dan mereka dengan mudah melupakan penderitaan yang telah terjadi."
"Kamu bodoh! Bodoh... aku sangat membencimu..."
Intan semakin menangis menjadi-jadi. Tubuhnya terperosok di lantai kamar Raya. Begitu sebaliknya Raya juga menangis melihat kekecewaan Intan padanya yang begitu mendalam.
Hujan turun dengan derasnya seakan ingin meredam tangisan kedua anak manusia yang sejak lama terus bersama. Berbagi kebahagiaan dan kesusahan. Pertengkaran juga sering terjadi di antara mereka namun tidak pernah berangsur lama.
Sebuah penderitaan dan kekecewaan terhadap keluarga mereka di masa lalu berhasil mempererat pertemanan mereka hingga saat ini.
"Apa yang bisa aku lakukan agar kamu mengehentikan semua ini, Ray?" tanya Intan yang masih sesekali terisak.
"Kamu tidak perlu melakukan apapun karena sudah tidak ada jalan untuk aku kembali seperti dulu."
"Bukan tidak ada jalan. Kamu yang memang tidak ingin semua ini kembali seperti dulu."
"Aku harus melakukan semua ini. Aku tidak akan memaksa kamu untuk percaya atau mendukung semua kesalahan yang aku perbuat."
Raya beranjak dari ranjang dan duduk di lantai tepat berada di samping Intan.
"Raya, aku mohon tinggalkan semuanya. Kita akan pergi jauh dan melupaka semuanya. Aku mohon kita pergi dari sini sebelum semuanya semakin kacau."
Raya menggelengkan kepalanya. Raya tidak mau pergi dari semua ini.
"Mulai saat ini jangan pedulikan apapun yang aku lakukan, Intan. Sebuah kesalahan besar jika kamu menginginkan kita pergi dari tempat ini. Itu tidak adil untukmu."
"Jika kamu terus di sini. Kamu akan semakin hancur. Aku tidak ingin semua itu terjadi."
"Itu bukan ide yang bagus untuk masa depan kamu, Intan. Kamu punya pria yang sangat menyayangimu dan kalian bahkan sebentar lagi akan menikah. Jadi sebuah keegoisan jika kita harus pergi dari sini."
Intan memeluk tubuh Raya dengan erat, air mata mereka kembali membasahi pipi masing-masing. Meratapi semua kesedihan itu bersama.
"Kebahagianmu sudah di depan mata, Intan. Mulai saat ini kamu bisa memilih jalan yang kau impikan selama ini. Memiliki keluarga kecil yang bahagia dan berlimpah kasih sayang."
"Bagaimana dengan kamu Raya? Kenapa harus jalan menyakitkan seperti ini yang kamu pilih."
Raya melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Intan dengan ibu jarinya.
"Karena aku tidak bisa melupakan rasa sakit yang sudah aku terima. Setiap aku melihat wajah Tessa rasa dendam itu semakin menyiksaku."
"Tidak banyak yang bisa aku lakukan. Kamu selalu saja keras kepala, Raya. Tapi, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Walapun besar harapanku agar kamu sadar bahwa dendam dan kebencian dalam hatimu ini akan menghancurkan dirimu perlahan."
Raya mengangguk mengerti. Raya tidak pernah menyangkal bahwa yang dikatakan sahabatnya itu salah. Cepat atau lambat Raya akan mendapatkan balasannya. Namun, setidaknya Raya sedikit lega karena sudah membalaskan dendamnya.
"Tapi jika boleh jujur, aku masih kecewa atas pilihan yang kamu ambil."
"Aku harus mencari jawaban dari semua pertanyaan yang ada dalam benakku. Saat kejadian itu aku masih sangat muda, setelah aku beranjak dewasa. Sepertinya semua itu terjadi karena ada seseorang yang merencanakannya."
Intan terkejut mendengar ucapan Raya. Intan mengusap air matanya dan kembali menatap Raya dengan serius.
"Jadi kamu berpikir bahwa kecelakaan yang menimpah Papa mu adalah sebuah rencana seseorang?"
"Bukan hanya itu saja yang membuat aku terus bertanya-tanya. Banyak kejadian masa lalu yang semakin memicuku untuk terus mencari sebabnya."
"Aku belum bisa menyimpulkan siapa dalang dari kecelakaan itu. Bisa saja Bayu dan Tessa terlibat."
"Tapi, bagaimana kamu yakin bahwa kecelakaan itu adalah sebuah kesengajaan?"
Raya diam enggan untuk menjawab pertanyaan Intan.
"Tunggu, jangan katakan jika semua itu hanya asumsi kamu saja."
"Hmm... bisa di katakan begitu. Tapi, aku akan segera mendapatkan buktinya."
Intan bangkit dari duduknya dan kemudian meneput pundak Raya.
"Baiklah aku tidak mungkin bisa merubah tujuan dan keinginan yang sudah kamu rencakan ini. Tapi, aku harap semua ini bukan hanya rasa penolakan dan sanggahan mu untuk menerima bahwa Papa mu sudah tiada, Raya."
Raya mengerucutkan bibirnya karena Intan tidak percaya. Tapi, memang dari awal Raya menceritakan semua ini bukan agar Intan percaya padanya. Raya menceritakan semua ini agar hatinya tenang dan akan lebih baik jika Intan mendengar darinya langsung.
"Kemarilah." Intan membantu Raya agar kembali berbaring di tempat tidur. Setelah memastikan Raya berbaring dengan posisi yang nyaman, Intan kembali duduk di tepian ranjang.
"Aku bahkan tidak tahu harus marah atau sedih. Tidak bisa aku pungkiri rasa kecewa jiga besar."
"Haruskah aku mengatakan kata 'maaf' saat ini?"
"Kau tidak akan aku maafkan, walaupun sampai bersujud di kakiku."
"Kamu kejam sekal," ucap Raya.
"Walaupun kita tumbuh tanpa kasih sayang dari orang tua. Setidaknya kita bisa berdiri tegap sampai sekarang. Bukankah itu sebuah pencapaian hebat dalam hidup kita."
"Sepertinya begitu."
Intan meninggalkan Raya dan kembali bekerja. Hampir saja dia melupakan rapat penting dengan para pegawainya setelah mendengar cerita Raya yang memilukan.
Intan kembali merapikan riasannya di toilet. Matanya terlihat bengkak dan merah.
"Ya ampun, wajahku terlihat sangat mengerikan."
Intan dengan segera menggunakan make up untuk menutupi kekacauan yang terpampang nyata di wajahnya.
Ponsel Intan berdering. Sebuah pesan singkat masuk.
"Setelah menangis dia jadi lapar."
Pesan singkat itu dari Raya yang merasa membutuhkan asupan makanan setelah menangis.
πππ
"Maaf seharusnya kamu tidak perlu datang ke sini, Javier."
Sudah tiga hari kesehatan Raya semakin menurun. Intan pun terpaksa meminta Javier agar memeriksa Raya, karena dia masih saja tidak mau di bawa ke Rumah Sakit.
"Kenapa harus berpura-pura kiat di saat seperti ini. Kau pikir ini lucu, jangan menganggap kesehatan mu hal kecil. Nyawamu bisa saja tidak tertolong jika keadaan seperti ini terus berlanjut."
Jujur Raya merasa takut mendengar ucapan Javier. Benar, dirinya sudah mengabaikan kesehatannya.
"Kamu harus segera mendapatkan perawatan instensif."
"Apapun itu lakukan saja di sini. Aku tidak ingin ke Rumah Sakit."
"Bagaimana dengan Om Bayu? Dia tahu kondisimu seperti ini?"
"Tidak, dia sedang ke luar kota. Aku juga tidak ingin dia tahu."
Javier pada awalnya memang berniat menemui Raya untuk membicarakan kontrak bisnis yang tertunda beberapa waktu lalu. Awalnya Javier ragu untuk menemui Raya dengan adanya berita bahwa Raya sedang sakit, jiwa rasa ingin menolongnya pun semakin kuat.
Javier juga sudah mulai berdamai dengan keadaan. Dirinya mulai sadar, bahwa tindakan egois jika memusuhi Raya. Javier hanya perlu mengenal Raya seperti pertama kali mereka bertemu tanpa memandang masalah pribadinya.
"Aku akan pergi satu sampai dua jam, untuk mempersiapkan perawatan mu."
"Terima kasih, Javir."
"Tidak perlu ucapakn itu. Setelah kau sembuh aku akan mengirimkan tagihannya."
"Apakah tidak ada potongan harga untukku?"
"Tidak," jawab Javier singkat lalu meninggalkan Raya untuk mengambil beberapa peralatanya untuk memulihkan kesehatan Raya.
Sesuai dengan ucapan Javier. Dia kembali menemui Raya dan seorang asistennya membawa beberapa obat-obatan dan cairan infus untuk Raya. Dengan penuh ketelitian dan sigap Javier memberikan perawatan yang di butuhkan Raya.
"Berhenti meminum ini."
Javier menemukan sebotol minuman keras yang Raya sembunyikan di lamari pakaiannya.
"Padahal aku sudah menyimpannya dengan baik."
"Aku harus tahu penyebabnya agar kamu cepat sembuh."
"Sudah larut malam. Lebih baik kamu pulang."
Javier duduk di sofa kamar Raya. Sepertinya dia sudah mengabaikan perintah Raya.
"Bukankah itu tidak sopan. Mengusir orang yang sudah merawatmu."
"Bukan maksudku untuk mengusirmu. Aku hanya tidak ingin merepotkan."
"Bukankah sore tadi kamu meminta potongan harga."
"Aku bercanda, aku akan membayar penuh untuk semua ini."
Javier menyandarkan tubuhnya. Menatap langit-langit kamar Raya. Mereka saling terdiam.
"Bisakah aku sedikit bercerita?" tanya Javier.
Raya masih terdiam. Apa yang terjadi pada Javier, dia sangat berbeda.
"Terkadang aku iri pada orang-orang seperti kamu. Bisa melakukan apa saja yang kamu inginkan tanpa tekanan dan perintah orang lain."
Raya mengalihkan pandangannya dari Javier. Menatap gelapnya malam melalui celah-celah kain penutup jendela.
"Tapi, tindakan yang aku lakukan bukan hal yang baik. Untukku ataupun orang lain."
"Sejak kecil aku selalu di bayang-bayangi status sosial dan kesuksesan kedua orang tua ku. Mereka membenci kegagalan, begitu juga denganku. Seiring berjalannya waktu aku semakin hancur, ketika aku sadar bahwa tidak ada satu hal pun yang aku lakukan atas dasar keinginanku sendiri."
"Apakah sulit untuk pergi dari semua tekanan itu?" tanya Raya kepada Javier.
"Ya, sangat sulit. Lebih tepatnya aku takut. Takut semua pencapaianku akan hilang, aku takut yang aku lakukan akan memperburuk semua yang sudah aku dapatkan."
"Jika saja aku memiliki pemikiran seperti itu. Semua ini tidak akan aku lakukan. Kita memang harus menjalani ini semua."
"Kadang aku merasa sangat lelah karena semua berjalan atas keinginan orang lain. Kau hebat bisa bertindak sejauh ini tanpa keraguan."
Raya tersenyum dan juga di sambut senyuman dari Javier.
"Kita memiliki jalan yang berbeda, Javier. Tentu saja aku pernah merasakan keraguan. Aku harus menopang diriku sendiri agar tetap berdiri. Berbeda dengan kamu yang memilik orang terpercaya untuk mendukungmu."
"Sepertinya orang tua ku harus berterima kasih karena ucapanmu aku sadar bahwa mereka sangat berjasa untukku dan melupaka semua ambisi yang mereka bebankan kepadaku."
Entah berapa lama mereka berbincang dan Raya sudah tertidur dengan pulas. Javier memeriksa keadaan Raya, setelah memastikan Raya semakin membaik. Dia pergi meninggalkan Raya.