
"Ma, untuk apa semua barang-barang ini? Bukankah ini semua barang milik pria itu." Rendra bahkan enggan untuk menyebut nama pria yang menjadi Ayahnya selama ini.
"Dia... dia meninggalkan Mama, Ren. Mama harus bagaimana? Mama gagal mencegahnya. Dia sekarang akan tinggal bersama wanita gila itu."
Air mata dan rintihan Tessa membuat Rendra semakin marah dan dendam kepada Bayu.
"Ma! Lupakan dia. Sebutkan satu alasan saja yang membuat dia pantas tinggal bersama Mama."
"Mama mencintai Papa mu! Hanya itu Rendra. Hanya itu alasan Mama bertahan selama ini. Semua baik-baik saja sebelum perempuan itu datang dan membuat Papa kamu berpaling dari Mama."
Rendra membawa Tessa kembali ke kamarnya. Berusaha menenangkannya, samapi kapanpun Rendra tidak akan bisa menerim kembali Bayu seperti dulu.
Tessa menggenggam kedua tangan Rendra, memohon agar Rendra mencari keberadaan Raya.
"Rendra, kamu sangat dekat dengan Raya. Kamu pasti tahu dia tinggal dimana sekarang. Mama ingin menemuinya, Mama akan memohon dan jika perlu Mama bisa mencium kakinya, agar dia melepaskan Bayu."
Rendra menggelengkan kepalanya. "Maaf, Ma. Raya tidak pernah menghubungiku semenjak kejadian itu. Aku juga tidak akan mencari tahu tentang mereka."
Tessa semakin menggila. Dia terus memohon kepada Rendra.
"Rendra, Mama mohon. Rendra hanya kamu yang Mama miliki, hanya kamu yang bisa membantu ,Mama."
Hatinya semakin terenyuh melihat tangisan penuh pilu dari Mamanya. Rendra memeluk Tessa, dengan berat hati menyetujui permintaan itu.
"Rendra akan mencari tahu keberadaan Raya. Mama sekarang tenang dan istirahat."
"Kamu janji?"
Rendra mengangguk setuju. "Iya, Mama tunggu saja kabar dariku."
Tessa tersenyum bahagia. Mendengar permintaanya akan segera terwujud. Ucapan terima kasih tidak hentinya dia lontarkan.
"Mama istirahat saja. Jangan sedih dan bertindak gegabah. Rendra akan mengatasi semuanya."
Setelah Rendra pergi. Tessa beranjak dari tempat tidurnya. Dia menikmati segelas wine. Merayakan rencananya yang sudah di pastikan berhasil.
"Kita lihat sampai kapan wanita murahan itu bersembunyi. Dia tidak mungkin bisa menghindar dari Rendra. Semuanya berada di genggamanku saat ini, aku punya Rendra yang akan melakukan apapun untuk ku. Air mata ini tidak akan sia-sia."
Menggunakan Rendra untuk menjadi kaki tangannya, sedikit kejam dan picik. Namun, itu tidak masalah bagi Tessa. Sudah seharusnya Rendra membelanya.
"Setidaknya dia harus balas budi atas kebaikan dan semua hal yang sudah aku berikan selama hidupnya."
Sementara itu Raya masih berusaha mencari-cari berkas milik Bayu yang membuatnya semakin penasaran sampai sekarang.
"Aku yakin itu berkas dari sebuah Rumah Sakit. Sebenarnya dia sedang menyembunyikan apa. Aku bisa gila kalau seperti ini terus. Bagaiman jika itu hasil pemeriksaan kesehatan Bayu, dan Bayu sedang sakit keras."
"Aaa...!" Raya berteriak kesal karena tidak bisa menyingkirkan pikiran buruknya.
Tanpa dia sadari Bayu berdiri di belakangnya.
"Kamu bisa jelaskan, kenapa meja kerjaku begitu berantakan? Bukankah aku sudah meminta wanita itu untuk menatanya dengan rapi."
Beberapa hari lalu Bayu meminta asisten rumah tangga mereka untuk menata semua barang milik Bayu di ruang kerja itu.Raya terdiam.
"Aku... aku yang akan merapikannya. Bukankah semua ini berkas penting, jadi aku rasa lebih baik aku saja yang merapikannya. Bukankah kamu selalu berpesan agar aku tidak mudah percaya kepada seseorang. Lagi pula asisten rumah tangga kita hanya satu orang, masih banyak pekerjaan lain yang dia kerjakan."
Bayu duduk di meja kerjanya. Matanya menelusuri setiap berkas yang bertebaran di mejanya.
"Hmm... Kamu yakin bisa melakukannya? Tapi di sini aku hanya bisa melihat kekacauan."
Raya menghampiri Bayu. Raya duduk di pangkuan Bayu. Kedua tangannya bergelayut manja di pundak Bayu.
Raya mengecup bibir Bayu dengan lembut. "Kamu bahkan tidak menghargai kerja keras ku. Aku sudah sangat berusaha merapikannya."
Bayu mengerutkan dahinya dan tersenyum seraya mencubit lembut pipi kiri Raya. "Kamu bilang ini kerja keras? Ini sangat kacau sayang, kamu bukan merapikannya tapi kamu mencampur semua berkas ini menjadi satu. Katakan saja kamu tidak sanggup melakukannya."
"Mmmm... sepertinya begitu." Raya memeluk manja tubuh Bayu.
"Aku akan meminta Defin untuk membereskan semua kekacauan ini."
"Tidak, aku yang akan melakukannya. Berikan aku waktu 2 hari."
"Mmm, bagaimana jika 3 hari?" Ucap Raya meminta kesepakatan kepada Bayu.
Bayu tertawa gemas melihat tingkah kekasihnya.
"Tiga hari?! Bahkan sekarang aku sudah sangat pusing melihat kekacauan ini." Bayu mengangkat tubuh Raya meletakkannya di atas meja kerjanya. Raya merebahkan tubuhnya menikmati setiap sentuhan demi sentuhan bibir Bayu di tubuhnya.
Ketukan pintu memaksa mereka untuk menghentikan kegiatan intim itu. Bayu menarik kedua tangan Raya agar kembali duduk di pangkuannya. Bayu kembali mengecup bibir Raya sebelum memerintahkan Defin untuk masuk.
"Rapikan semuanya seperti semula," perintah Bayu kepada Defin yang baru saja masuk ke ruang kerja.
"Baik, Tuan." Defin mengangguk.
"Ada hal penting yang harus kita lakukan," ucap Bayu seraya mengedipkan matanya ke Raya.
Bayu menggendong tubuh Bayu. Membawanya ke kamar tidur.
"Aku berat?" tanya Raya
"Tentu, karena aku sedang menggendong dua orang kan."
"Jangan bilang aku gendut!"
"Tidak, aku tidak mengatakan itu."
"Tapi wajah mu mengatakan semuanya!"
Defin menutup pintu ruang kerja setelah kedua pasangan yang sedang di landa rindu itu keluar.
Defin menghela napas panjang saat melihat semua begitu kacau. Berkas yang jatuh di lantai dia ambil satu persatu dan menghempasnya di atas meja.
"Astaga, mereka bahkan melakukan hal itu di sini dan aku yang akan membereskannya."
Walau dengan keluh kesah. Defin perlahan mulai menyusun dengan seksama satu demi satu kekacauan yang di lakukan Raya.