Love Affair

Love Affair
PART 38



Raya membuka matanya dan menatap ke sekeliling ruangan yang tidak asing baginya. Tempat dia melepas lelah dan juga tempat ternyaman baginya


"Ini kamarku."


Raya menghembuskan napas lega. Mimpi buruk beberapa saat lalu sangat menakutkan. Raya beranjak dari tempat tidurnya hendak mencuci wajahnya. Saat melewati lemari yang berisi tumpukan pakaiannya. Raya kembali membisu, kedua bola matanya tertuju pada sebuah cermin besar yang melekat pada lemari itu.


Raya melihat dirinya di pantulan cermin itu. Mendekati cermin itu perlahan dan melihat tubuhnya sendiri dengan seksama.


Pandangannya beralih melihat kedua tangannya yang berlumuran darah. Raya berteriak histeris. Semua yang terjadi bukan mimpi, semua itu nyata terjadi. Amarah Bayu padanya dan ini bercak darah yang berasal dari tubuh Defin.


Masih dengan tubuh gemetar. Raya melepaskan semua pakaian yang dia kenakan saat itu yang penuh dengan bercak kemerahan. Berulang kali Raya menggosok tangan dan tubuhnya yang terkena darah bertujuan untuk menghilangkan semua darah itu. Namun, tanpa sadar Raya malah melukai tubuhnya sendiri.


Setelah kejadian itu Raya memilih mengurung diri. Raya begitu terkejut dan patah hati melihat sikap Bayu yang keji.


Dia bukan manusia. Dia monster. Dia gila. Dia benar-benar pembunuh. Batin Raya bergejolak.


Kejadian traumatis itu terulang kembali. Mimpi buruk dan jeritan Defin terasa sangat nyata di setiap tidurnya. Rasa bersalah menghantui Raya, andai saja dia tidak meminta bantuan Defin, pria itu tidak akan berakhir mengenaskan di hadapannya.


Raya meringkuk menyesali perbuatannya. Raya masih tidak percaya Bayu begitu mudah menyingkirkan orang kepercayaannya begitu saja.


Bayu harus tahu kebenarannya, semua yang terjadi bukan perbuatannya ada pihak lain yang sengaja mengatur agar semua terlihat dirinyalah yang mencoba mencelakainya Tessa dan berusaha menghancurkan Bayu.


"Ya, aku harus segera menemui Bayu dan memberitahunya. Bahwa aku tidak pernah berencana melukainya."


Hal pertama yang Raya lakukan adalah mencari bukti, bahwa rekaman suara itu bukan miliknya dan semua itu hanya rekayasa. Memang tidak mudah, Raya bahkan harus membayar dengan harga yang sangat fantastis kepada sekelompok orang yang memang bisa mengakses apapun secara ilegal.


Sementara itu, Bayu sedang duduk termenung di meja kerjanya. Sesekali menatap ponselnya, menunggu seseorang untuk menghubunginya.


"Sepertinya dia sedang mencari kebenaran rekaman suara itu, Tuan."


Bayu melirik ke orang yang berdiri tegap di sampingnya. Seperti biasa tanpa bicara pun pria itu mengerti apa yang sedang di tunggu Bayu. Ya, orang yang tidak asing lagi. Dia adalah Defin. Defin masih hidup dan masih menjadi tangan kanan Bayu.


"Beberapa hari lalu ada seseorang yang mengakses rekaman suara itu dan mereka berhasil memulihkan, dengan begitu Raya akan membawa bukti itu kepada anda."


"Dari awal kita tahu semua hasil rekayasa seseorang. Ada orang yang sengaja ingin menghancurkan ku melalui Raya. Jalan satu-satunya menjauhkan Raya dariku."


Peristiwa penembakan Defin di hadapan Raya semua rencana Bayu untuk memancing orang yang sengaja ingin mencelakai dirinya untuk keluar. Bayu berharap setelah kejadian itu Raya akan menjauh darinya tapi malah sebaliknya. Raya semakin bertindak jauh untuk membuktikan dirinya tidak bersalah.


Jika Raya terus berada di sampingnya. Raya akan menjadi alasan kelemahannya. Saat ini pilihannya hanya satu, menjauhkan Raya dari dirinya sampai orang di belakang semua masalah ini terungkap.


"Raya akan datang, jangan biarkan dia masuk. Kau juga jangan sampai terlihat olehnya. Semakin Raya membenciku akan lebih baik."


"Dia tidak akan menyerah begitu saja."


"Maka cepat selesaikan pekerjaanmu! Cari tahu siapa yang berusaha mengusik keluargaku. Jangan lepaskan pengawasan mu pada Tessa, bisa saja dia adalah pemeran utama dalam masalah ini."


Raya melangkah dengan pasti menuju rumah Bayu. Beberapa waktu lalu usahanya untuk menemui Bayu di kantornya gagal, karena beberapa pria suruhan Bayu menghalanginya. Raya juga tidak ingin bertindak gegabah dengan membuat keributan di tempat umum. Langkah yang paling tepat menurut Raya adalah menemui Bayu di rumahnya.


Saat tiba di kediaman Bayu. Raya terheran-heran karena melihat begitu banyak orang di sana.


"Apa lagi ini," ucap Raya kesal dengan kehadiran orang-orang di rumah Bayu.


Mereka menatap Raya dengan penuh tanya. Sorot mata para tamu undangan Bayu, seakan menatap hina kepadanya, yang berbeda jauh dalam hal pakaian. Raya yang datang hanya mengenakan dress sederhana dan tidak tampak seperti dari kalangan mereka.


Raya mengabaikan semua tatapan mereka itu. Raya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Bayu. Namun, tidak juga terlihat. Melainkan Tessa yang datang menghampirinya dengan setengah berlari kearah Raya.


"Mana Bayu?!" tanya Raya tanpa basa-basi


"Sayang, kamu pasti lelah seharian bekerja. Sampai kamu lupa jika hari ini kita sedang mengadakan pesta." Tessa berusaha bersikap tenang menghadapi Raya karena beberapa tamu mulai berkomentar dengan penampilan Raya.


"Persetan dengan pesta ini, aku ingin bertemu Bayu. Dimana dia!"


Tessa memegang erat pergelangan tangan Raya dan menariknya menuju ruangan yang dulu menjadi kamar Raya. Penuh amarah Raya membanting pintu kamar itu.


"Raya! Kamu sengaja datang dengan penampilan seperti ini untuk mempermalukan keluarga kita!"


"Lihat! Bukan saja penampilan mu yang tidak berkelas, bahkan sekarang kamu sudah melewati batas. Kamu memanggil nama Bayu dengan sangat lantang!"


"Lalu, aku harus bagaimana? apa aku harus memanggilnya 'kekasihku', kau ingin memanggilnya begitu?" ucap Raya


Plakkk....


Tamparan mendarat di wajah Raya. "Cepat pergi dari sini!" teriak Tessa.


"Tetaplah seperti ini, tutup telinga dan matamu rapat-rapat. Bukankah kekuasaan dan martabat mu yang lebih penting. Ya, semua kecurigaan tante selama ini benar. Ucapan pria malang itu memang sebuah kenyataan, aku adalah wanita yang akan merebut Bayu dari mu."


Tessa terdiam membisu. Tessa memang sudah tahu semuanya. Namun, dirinya tidak menyangka Raya mengucapkan semua itu dengan sangat jelas.


"Itu sebabnya kamu ingin membunuh ku? kecelakaan waktu itu, apa semua perbuatan kamu, Raya!"


"Jika aku ingin membunuh mu, aku akan memilih cara yang lebih kejam bukan kematian mudah seperti supir mu itu. Ah, sudahlah apapun yang aku katakan kau tidak akan percaya karena aku pemeran antagonis di kehidupanmu. Aku hanya ingin bertemu Bayu, karena aku punya bukti bahwa semua itu bukan perbuatan ku."


"Kau memang wanita ******!" ucap Tessa seraya pergi meninggalkan Raya.


Usaha Raya untuk menemui Bayu ternyata sia-sia. Dia sengaja mengatakan semuanya tentang perselingkuhan mereka kepada Tessa agar Bayu menemuinya tapi semua rencananya gagal.


Raya kembali ke cafenya dengan tangan kosong.


Matahari mulai menampakkan cahayanya yang mulai menyusup di antara tirai jendela kamarnya. Raya duduk terdiam di tepian ranjangnya. Tubuhnya terasa tidak berdaya, terasa sangat lelah karena begitu banyak beban yang harus dia pikirkan.


"Raya! Buka pintunya, Raya!"


Suara Intan memecahkan lamunannya. Raya beranjak membuka pintu dan melihat wajah penuh kepanikan dari Intan.


"Raya, ini gawat! Kita hancur, Raya."


"Intan, tenangkan dirimu. Apa terjadi sesuatu?"


Kegaduhan di luar membuat Raya penasaran dan mengambil langkah untuk menuju sumber suara di luar Cafenya.


Intan menahan Raya. "Jangan! Kamu jangan keluar sekarang. Di luar... di luar sana begitu banyak orang yang ingin bertemu kamu."


"Katakan, Intan. Apa yang terjadi, apa ada masalah dengan pelanggan kita?"


Intan mengambil remote kontrol di atas meja kerja Raya dan menyalakan televisi.


"Raya, mereka tahu semuanya. Orang-orang di luar sana tahu tentang hubungan kamu dengan Bayu. Kamu lihat, sejak pagi seluruh siaran televisi menyiarkan kabar itu."


Raya menatap tertegun. Raya segera berlari ke kamarnya dan mengambil ponselnya. Benar saja ponselnya penuh dengan pesan singkat dan panggilan masuk orang-orang tidak di kenal. Akun sosial medianya penuh dengan hinaan dan cacian.


"Raya, cepat hubungi Bayu. Dia pasti bisa mengatasi semua ini."


Raya kembali duduk di tepi ranjang dan berkata lirih.


"Percuma, dia tidak akan melakukan apapun. Bisa saja semua ini memang perbuatannya. Dia sudah menghindari ku, Bayu tidak ingin melihatku."


"Sial! Brengsek!" Intan mengumpat kesal.


Raya tersenyum tipis. "Cepat atau lambat semua ini memang akan terjadi. Aku sudah mendapatkan balasannya."


"Tapi, Bayu tidak bisa membuang kamu dengan cara seperti ini. Mereka hanya menghakimi kamu mereka lupa bahwa Bayu juga bersalah."


Raya kembali membuka ponselnya dan membaca beberapa berita yang memojokkannya.


Intan mengambil ponsel di tangan Raya dan menekan tombol nonaktif.


"Jangan buang waktu mu dengan melihat hal tidak berguna ini. Aku akan menghubungi pihak kepolisian untuk mengusir orang-orang di luar sana. Raya, kamu harus tetap disini. Jangan pergi dari kamar ini walau hanya satu langkah saja."