Love Affair

Love Affair
PART 18



Dalam ruangan perawatan yang begitu luas dan di penuhi fasilitas bagaikan hotel berbintang. Raya memandang langit - langit ruangannya dengan tatapan kosong.


Sudah tiga hari dirinya harus menginap di rumah sakit ini. Kondisi kesehatannya yang tidak juga membaik membuat semakin lama harus bertahan di ruangan ini.


Walaupun segala fasilitasnya nyaman tapi tetap saja ini adalah rumah sakit tempat orang - orang memiliki masalah kesehatan berkumpul.


Semuanya tidak sesuai dugaannya. Bayu tidak datang menemuinya. Tidak bisa lebih tepatnya.


Raya mengerti itu, seluruh keluarga besar sedang berduka dan tidak mungkin Bayu pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas.


Sekeras apapun Raya mencoba untuk menerima masih tetap saja rasa kecewa dan sedihnya tidak bisa hilang begitu saja.


"Raya," panggil Randra yang baru saja membuka pintu ruangan Raya dan segera menghampirinya.


"Kakak, untuk apa kesini aku baik-baik saja."


"Baik-baik saja! Kamu sudah tiga hari di rawat tapi tidak mau kasih kabar. Kamu anggap aku apa?"


"Ah, jangan berlebihan. Aku tahu kakak sedang menggantikan Om Bayu di perusahaan dan pasti sudah cukup sibuk dengan memikirkan dua perusahaan yang berbeda."


"Halah! Alasan." Randra mendorong kepala Raya dengan jari telunjuknya.


"Kakak tahu dari mana aku di rumah sakit?"


"Papa yang memberitahu aku pagi tadi." Randra duduk di tepi ranjang Raya.


"Om sudah pulang?" tanya Raya


"Belum. Di sana masih ada acara untuk mendoakan nenek tua itu."


Raya menghela napasnya, kecewa.


"Kamu sedih karena Papa dan Mama tidak di sini?"


"Ah! Untuk apa aku sedih, Kak. Mereka juga sedang berduka."


"Ck! Kamu tidak bisa berbohong. Papa minta aku ke sini dan menjaga kamu."


"Iya, hari pertama aku masuk rumah sakit Om Bayu janji mau pulang. Tapi jika aku kecewa begini malah kelihatan kalau aku egois dan mementingkan diri sendiri."


"Kita keluarga buat apa kamu merasa begitu. Lagi pula Papa sama Mama juga sudah menganggap kamu seperti anak sendiri, aku yakin mereka juga mengkhawatirkan keadaanmu."


Raya bergerak perlahan untuk duduk, Randra dengan sigap membantunya.


"Kak, mintalah kepada dokter agar aku di perbolehkan pulang lebih cepat," bujuk Raya dengan tatapan memohon pada Randra


Randra diam menatap Raya yang terus memohon, "Tunggu, sebelum itu aku ingin tahu. Kamu sakit apa?"


"Cuma sakit lambung saja, Kak. Tidak ada yang serius."


"Kata 'cuma' itu bisa saja menjadi penyakit mematikan jika tidak di tangani dengan benar. Kamu pikir dokter sembarangan mendiagnosa orang. Jika kondisi kamu sudah membaik mereka pasti dengan senang hati memulangkan kamu."


"Aku bayar di sini, jadi mereka pasti senang. Jadi semakin lama aku di rawat maka pundi - pundi uang mereka juga bertambah."


"Tetap saja kamu harus tetap di rawat sampai sembuh."


Raya mengerucutkan ujung bibirnya dan kembali merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Raya, kamu sering minum alkohol? Tidak mungkin hanya karena pola makan kamu."


"Apa peduli, Kakak! Aku bisa mnggurus diriku sendiri." Raya membalikkan tubuhnya membelakangi Randra.


"Jangan marah begitu. Aku hanya mengingatkan jangan terlalu sering minum alkohol di saat kamu minum obat anti depresi, bisa berbahaya. Sekarang pencernaan kamu yang bermasalah bisa saja nanti organ penting yang bermasalah."


Raya membalikkan tubuhnya menatap tajam Randra.


"Lalu yang kakak lakukan tidak membayakan. Kakak bahkan sering memakai obat terlarang..."


Randra membekap mulut Raya dengan telapak tangannya.


"Ssttt! Jangan sembarangan kalau bicara, Raya!"


Raya menepis tangan Randra, "Itu fakta dan aku tahu itu. Jika saja Om Bayu tahu, apa yang akan di lakukan?"


Raya mengetuk - ketuk jari jemarinya di ranjang.


"Ok..ok! Kamu mau aku ketemu dokter dan meminta agar kamu segera rawat jalankan. Tunggu di sini aku akan melakukannya."


Senyum kemenangan terpancar saat Raya menghirup udara kebebasan di luar rumah sakit.


"Kamu puas sekarang!" Randra berkacak pinggang.


"Sangat!" Jawab Raya lalu melemparkan senyum bahagianya pada Randra.


Raya menunggu dengan cemas di ruangannya. Sudah tiga puluh menit tetapi, Randra belum juga kembali. Raya sempat berpikir Kakaknya sudah kabur.


Namun, kecemasan Raya hilang saat melihat Randra datang membawa secarik kertas.


"Kamu boleh pulang sekarang," ucap Randra


"Ayo kita kembali ke rumah," ucap Raya seraya menggandeng lengan Randra menuju mobil Kakaknya yang terparkir tidak jauh dari pintu masuk rumah sakit.


Setelah keluar dari rumah sakit. Raya dan Randra tidak langsung kembali ke rumah. Mereka jalan - jalan ke pusat perbelanjaan terlebih dahulu dan berakhir dengan makan malam di restaurant jepang.


"Kakak, tidak ingin singgah dulu?"


"Aku langsung pulang saja. Besok ada pertemuan di luar kota. Aku sudah meminta Defin untuk menjaga kamu."


Raya mengangguk lalu turun dan melambaikan tangannya pada Randra yang melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah.


Tatapan Defin dan Raya bertemu. Defin sedang membersihkan mobil berwarna hitam yang sangat familiar untuk Raya.


"Bayu sudah pulang?" tanya Raya dengan raut wajah bahagia


Raya berlari menuju rumah utama. Saat akan naik ke tangga, Raya memutar langkahnya saat mendengar desas - desus orang berbicara.


Raya segera menuju taman belakang. Di sana ada Tessa yang sedang duduk di tepi kolam renang bersama Bayu.


Bayu berada di dalam kolam berdiri di hadapan Tessa. Tessa mengulurkan tangannya, menangkup wajah Bayu dan kemudian mengecup bibir Bayu.


Senyuman di bibir Raya seketika menghilang. Raya segera membalikan tubuhnya dan ingin meninggalkan mereka.


Namun, Raya tanpa sengaja menendang kaki meja kecil. Di atas meja itu ada dua gelas kaca berisi minuman dan makan ringan.


Seketika dua gelas itu tumpah dan jatuh ke lantai. Menimbulkan suara gaduh dan berhasil memecah fokus Tessa dana Bayu.


"Raya!" panggil Tessa


Raya masih membelakangi mereka. Hatinya tidak kuat jika harus melihat kedua manusia yang sedang memadu kasih.


Suara langkah kaki menggampirinya.


"Maaf tante, Raya tidak bermaksud mengganggu." Raya segera berjongkok dan mengambil satu persatu pecahan gelas kaca itu.


"Raya, sudah biarkan saja. Nanti tangan kamu luka. Tante akan suruh pelayan saja yang membersihkan ini."


"Raya saja, Tante. Lagi pula ini karena Raya ceroboh."


Raya meletakkan pecahan - pecahan gelas itu di telapak tangannya.


"Raya akan suruh pelayan untuk membuat minuman baru untuk Tante dan Om."


Raya segera meninggalkan Bayu dan Tessa tanpa menatap wajah keduanya.


"Raya sepertinya sangat malu melihat kita bermesraan. Sampai bertingkah seperti itu."


Tessa tertawa melihat tingkah Raya yang tidak berani menatap wajahnya dan Bayu.


Sementara itu Raya masih menggenggam erat pecahan gelas di tangan kirinya.


"Ya, ampun! Nona tangan anda berdarah," teriak salah seorang pelayan yang berada di dapur bersama Raya saat itu.


Pelayan itu segera meraih tangan Raya dan mengambil serpihan kaca dari telapak tangan Raya. Tetapi, Raya masih menggenggam erat pecahan kaca itu.


Pelayana muda itu semakin kebingungan karena Raya semakin mengeratkan genggamannya.


"Nona, tangan anda terluka!"


Raya melepaskan genggamannya dan pelayan itu segera mengambil pecahan kaca itu. Ada satu pecahan yang menancam telapak tangan Raya.


"Nona, kenapa bisa sampai begini. Saya akan ambilkan obat dan perban dulu."


"Tidak perlu. Aku akan membalut lukanya sendiri."


"Tapi...."


Raya meninggalkan dapur dan pelayan itu masih cemas dengan keadaan Raya. Pelayan itu segera mengambil kain pembersih saat menyadari banyak bercak darah di lantai.


"Apa ini?" tanya Bayu pada pelayan muda itu.


"Tuan, tadi tangan Nona terluka dan banyak mengeluarkan darah."


Bayu segera berlari menaiki anak tangga menuju kamar Raya.


Pemandangan tidak jauh berbeda juga terlihat di lantai kamar Raya. Bayu mengikuti ceceran darah itu yang menuju kamar mandi.


"Raya! Buka pintunya!" teriak Bayu


Tidak mendapat jawaban. Bayu mendobrak pintu kamar mandi.


Raya terperanjat, melihat Bayu tiba - tiba berada di hadapannya.


Raya melepaskan earphone yang dia kenakan.


"Kamu ingin bunuh diri!" teriak Bayu di hadapan Raya


"Aku hanya ingin berendam air hangat," jawab Raya


Bayu mengusap wajahnya dengan kasar. Bayu menarik tubuh Raya dari dalam bathtub dan menggunakan handuk untuk menutupi tubuh polos Raya.


Kemudian tubuh Raya di angkatnya dan meletakkan Raya di tempat tidur.


Bayu meninggalkan Raya untuk mengambil kain kasa dan antiseptik. Kemudian, dia kembali ke kamar Raya untuk membalut luka di telapak tangan kiri kekasihnya.


Saat Bayu kembali, Raya sudah duduk menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


"Jangan lakukan ini lagi," ucap Bayu lirih


"Ini tidak sakit."


Setelah selesai membersihkan luka sobek itu Bayu segera membalutnya dengan hati - hati.


"Kamu berhasil membuat jantungku berhenti berdetak, Raya."


"Hatiku lebih sakit."


Bayu membawa tubuh Raya ke dalam pelukannya. Membelai rambut Raya dengan sentuhan - sentuhan lembut, berusaha menenangkan Raya.


"Pergilah aku ingin istirahat," ucap Raya lalu melepaskan pelukan Bayu


"Baiklah. Panggil aku jika kamu butuh sesuatu."


Bayu mengecup lembut dahi Raya sebelum meninggalkan kamar.