
Perjalanan panjang menuju villa keluarga Javier sunggu melelahkan.
Tubuh bagian belakangku terasa panas dan kaku. Ingin sekali menurunkan sandaran tempat duduk mobil yang aku duduki saat ini untuk berbaring.
Namun, rasa canggung karena pertengkaran beberapa waktu lalu membuat kami saling tidak nyaman untuk berpergian berdua saja.
Sesekali aku hanya bertanya berapa lama lagi untuk sampai ke villanya. Javier hanya menjawab sebentar lagi akan sampai tapi entah kapan pastinya aku tidak tahu.
"Kamu yakin kita di jalan yang benar?" tanyaku curiga saat sudah hampir dua jam kami belum juga sampai.
"Mmm...ya aku rasa ini jalan yang seharusnya."
"Tunggu. Bukankah seharusnya kamu menjawab 'aku yakin ini jalannya' kenapa harus menjawab 'aku rasa' , jangan bilang kamu buta arah."
"Bagaimana mungkin aku lupa. Aku sering berkunjung ke sini."
Walaupun Javier berkata begitu tetap saja aku tidak yakin. Bahkan sekarang wajahnya terlihat panik.
"Matahari sebentar lagi akan tenggelam tapi kita belum juga sampai."
"Tenanglah, jika kamu seperti ini kita bisa benar - benar tersesat."
Apa yang aku takutkan ternyata terjadi. Kami tersesat sekitar 5 kilo meter dari jarak seharusnya. Beruntung kami bertemu dengan warga sekitar dan menanyakan arah tujuan.
Hampir pukul sepuluh malam kami baru sampai di villa keluarga Javier.
Setelah aku bertanya pada pelayan yang bekerja ternyata Javier memang sudah sangat lama tidak datang, kira - kira tiga sampai empat tahun lalu.
Perubahan yang signifikan menjadi alasan Javier untuk menutupi kesalahannya. Kami langsung di sambut oleh para pekerja di sana.
Aku memilih untuk segera mandi dan beristirahat di kamar. Rasanya sangat nyaman, tubuhku seakan ingin melayang saat bersentuhan dengan kasur yang empuk dan lembut.
Namun, bukan berarti aku senang tinggal berlama - lama di sini. Semua aku lakukan karena permintaan tante dan sudah terlanjur menyetujuinya.
"Setelah tugasku selesai, aku akan langsung pulang. Tidak perlu menunggu lebih lama lagi," gumamku
Ketukan di pintu kamar membangunkan tidurku. Entah ketukan ke berapa yang aku dengar.
Aku bergegas beranjak dari tempat tidur menuju pintu dan membukanya.
Ada seorang wanita paruh baya sedang berdiri di depan pintu, menyambutku dengan senyuman.
"Nona, mari makan malam dulu. Sudah saya siapkan, tuan juga sudah di bawah."
"I...iya, sebentar lagi saya akan turun."
Aku menutup pintu dan menyisir rambutku agar tidak berantakan khas orang baru bangun tidur.
Saat aku menuju ruang makan. Javier sudah tidak berada di sana. Aku melihat dia sedang sibuk dengan laptopnya di taman belakang.
"Bibi, sudah makan?" tanyaku pada wanita paruh baya yang memanggilku beberapa saat lalu.
"Sudah dari tadi, Non. Gara - gara tuan lupa jalan, Non Raya jadi jam segini baru makan malamnya."
"Panggil Raya saja."
"Jangan, masak calon majikan saya panggil nama saja."
"Saya sama Javier cuma teman saja. Kami datang kesini karena..."
"Awalnya memang dari temanan dulu nanti juga jadi istri."
Wanita paruhbaya itu tersenyum menggodaku. Padahal aku mengatakan yang sebenarnya tapi dia berpikir kami memiliki hubungan khusus. Aku hanya perlu mengabaikan saja masalah tidak penting ini.
Setelah menghabiskan makan malam yang lebih tepatnya makan tengah malam. Untuk saat ini aku mengabaikan rasa takut berat badan naik karena makan berat saat malam hari, lambung ku benar - benar kosong karena terlalu lama di perjalanan.
Aku menghanpirinya. Berdiri tepat di belakang Javier, sekilas melihat apa yang sedang di kerjakan Javier.
"Malam ini kamu tidur saja, besok pagi kita mulai bagi tugas karena beberapa temanku juga baru datang besok."
"Itu konsep untuk acara itu?" Mataku tertuju pada layar laptop Javier.
"Hmmm." Javier masih enggan mengalihkan pandangannya.
"Memangnya seberapa besar acara yang akan di buat. Kenapa kita yang harus mengaturnya."
"Bagi orang yang mementingkan dirinya sendiri akan berpikir seperti itu."
Mementingkan diri sendiri. Dia mengatakan aku memikirkan diri sendiri dalam artian aku orang yang egois.
"Bagi pembisnis ini adalah kesempatan untuk saling mengenal dan mengembangkan bisnis mereka. Kamu hanya melihat permukaannya saja."
"Ya, aku memang berpikir dangkal. Kau puas!"
"Hmmm." Dia hanya menjawab dengan gumaman. Tentunya dia sangat puas dengan menghinaku malam ini.
"Aku rasa kamu saja yang terlalu berharap lebih. Aku bisa jamin saat mereka berkumpul, akan ada si sombong si penjilat si penipu, mereka akan saling menyombongkan kekayaan dan hanya berapa persen saja memiliki tujuan untuk saling menjalin hubungan baik."
"Kamu terlalu sering menjadi pemeran antagonis, Raya. Dunia ini luas hal seperti itu pasti ada di antara para tamu yang datang. Anggap saja ini hanya ajang untuk mereka saling menunjukkan keberhasilan mereka."
"Antagonis? Kamu pikir aku tidak berprasaan."
Aku tidak terima dengan ucapan yang di lontarkan Javier. Semakin lama dia semakin bicara tanpa memikirkan perasaanku.
"Lalu? Kamu pikir dengan menjalin hubungan dengan Om Bayu bukan tidakan egois?"
Aku terdiam dan kemudian beranjak dari dudukku dan meninggalkan Javier.
"Raya...." Javier memanggilku.
Javier meletakkan laptopnya di meja dan bangkit dari duduknya. Dia memanggil namaku beberapa kali, aku mengacuhkannya dan kembali ke kamarku.
Memang apa yang di katakan Javier benar tapi aku merasa kesal karena kami tidak sedang membahas masalah itu. Dia yang mengaitkan segala hal tentang keburukanku. Dia bertingkah seperti memiliki hak untuk menghakimiku setiap saat.
Javier mengikuti sampai ke ambang pintu. Dia menahan pintu kamar saat aku hendak menutupnya.
"Maaf... aku sudah berkata tidak sopan padamu, Raya."
"Aku sangat lelah hari ini. Aku ingin segera istirahat."
Javier menyingkirkan tangannya dari daun pintu. "Baiklah, selamat istirahat dan sekali lagi maaf aku sudah mengatakan hal yang tidak baik padamu."
Aku mengangguk dan menutup rapat pintu kamarku dan segera menuju tempat tidur.
"Javier saja bisa begitu kesal dengan perbuatanku. Bagaimana dengan Tante jika dia tahu semuanya. Dia bisa saja langsung membunuhku saat itu juga."
Aku berbaring miring menatap keluar jendela. Sinar bulan masuk ke kamarku melalui celah-celah tirai. Menyinari ruangan yang memang sengaja aku biarkan tanpa cahaya.
Semuanya terasa begitu sulit. Ya, aku yang menambah kesulitan itu dengan menjalin hubungan dengan Bayu. Mungkin saat ini aku hanya bergantung padanya. Hanya dia yang tetap berada di sampingku saat aku terpuruk.
Kadang aku bertanya, benarkah rasa yang aku miliki atau semua ini hanya rasa sementara yang akan hilang dengan seiring berjalannya waktu.
Sungguh ini sangat berlebihan jika aku ingin terus bersamanya. Jika Bayu tetap bersama Tessa, aku harus merelakan itu dan melupakan semuanya tanpa sisa. Ya, itu sebuah keharusan.
Rasa sakit yang teramat dalam. Membayangkan saja rasanya aku tidak akan sanggup.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Jangan lupa tinggalkan jejak ya😉
Klik 👍 & komentar dan masukkan karya author ke daftar favorite klik ❤️ supaya gak ketinggalan UP nya😘
Satu lagi jangan lupa Vote dan kasih rating untuk Love Affair kasih 5 ⭐