
Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuh Raya. Dahi mengerut dan matanya tetap terpejam.
Sesaat kemudian Raya terbangun dari mimpi buruknya. Napasnya terengah - engah, rasa takut yang seakan masuk keseluruh raganya dalam mimpi itu begitu nyata.
Raya segera beranjak dari tempat tidurnya saat rasa tidak nyaman kembali muncul di perutnya. Raya memuntahkan lagi isi perutnya.
Menjijikkan. Rasa pahit dan bercampur segala hal yang aku makan siang tadi. Batin Raya
Bayu memegang rambut Raya agar tidak mengenai wajahnya.
"Kenapa harus memaksa keluar dari rumah sakit?"
Kemudian Raya membasuh wajahnya dan mengeringkan dengan handuk.
"Aku bosan sendiri di sana. Bahkan kamu tidak berniat untuk menemuiku."
Raya kembali berbaring di tempat tidurnya. Begitu juga dengan Bayu yang berbaring di sampingnya.
"Aku ingin menemuimu sesegera mungkin tapi Randra menghubungi Tessa bahwa kamu sedang bersamanya dan sudah keluar dari rumah sakit."
"Lalu kamu mengambil kesempatan untuk bermesraan dengan dia."
"Raya, kamu tahu sendiri Tessa sudah mulai curiga dengan perubahan sikapku. Sebisa mungkin aku harus menenangkan hatinya."
Bayu memeluk Raya dari belakang kemudian mengecup pipi kiri Raya.
"Besok Tessa akan keluar kota. Bagaimana jika kita menginap di Villa beberapa hari. Kamu mau?"
"Entahlah. Aku masih marah padamu!" jawab Raya
"Iya aku tahu itu. Tidurlah aku akan membangunkan kamu saat sudah pagi."
Raya membalikkan tubuhnya dan memeluk Bayu.
"Bisakah temanin aku di sini? Mimpi buruk itu selalu menghantuiku."
Bayu menjawab dengan sebuah kecupan di pucuk kepala Raya dan mengeratkan pelukkannya.
Dalam benak Raya dia masih mengkhawatirkan jika Tessa tiba - tiba mencari keberadaan Bayu. Tapi, biarlah jika memang harus begitu. Karena sungguh hatinya sudah lelah terus menerus bersembunyi.
Lagi pula jika Bayu menyetujui permintaannya maka sudah di pastikan semuanya bisa dia atasi.
Mungkin saat Raya terbangun keesokan harinya Bayu sudah tidak berada di sampingnya.
Pria memang punya beribu alasan untuk memenangkan hati wanita.
Raya memejamkan matanya. Menikmati setiap rasa aman dan nyaman ini. Deru napas Bayu yang stabil dan aroma tubuhnya sudah cukup membuatnya tidak perlu meminum obat tidur.
🌟🌟🌟
"Raya, kamu yakin sudah baikan?" tanya Tante padaku
"Iya, Tante. Aku cuma butuh istirahat saja."
"Tante, akan keluar kota beberapa hari. Kalau kamu butuh sesuatu bilang saja ke Om Bayu."
Aku mengangguk dan melemparkan senyum padanya. Setelah menghabiskan sarapannya. Tante beranjak pergi. Berbeda dengan biasanya. Tanpa ciuman selamat tinggal untuk Bayu. Tante meninggalkannya begitu saja bahkan tanpa pamit. Jelas mereka sedang tidak ingin berbicara satu sama lain.
Ini berita baik untukku. Bukankah jika mereka terus seperti ini akan menguntungkan. Aku melanjutkan menghabiskan segelas coklat hangat lalu berniat untuk kembali ke kamar.
Namun, Bayu menarik lenganku dan menarikku untuk duduk di pangkuannya. Bayu memegang tengkukku dan ******* bibirku.
"Ini di ruang makan! Jangan sembarangan."
"Baiklah. Kita pindah ke kamar saja." Bayu menggendong tubuhku sampai di pintu kamar.
"Masuklah, aku ingin mengambil sesuatu di kamarku."
Tanpa banyak tanya. Aku masuk ke dalam kamar. Aku menunggu Bayu sambil menikmati semilir angin di balkon kamar.
Pemandangan tak biasa tertangkap oleh mataku. Di taman belakang aku melihat Defin sedang duduk di bangku. Dia memegang sebuah buku.
"Orang sepertinya membaca buku. Buku apa yang dia baca sampai serius begitu."
Aku mencoba mempertajam penglihatanku. Untuk melihat lebih jelas tapi gagal. Aku tidak mendapatkan informasi apapun.
"Ini untukmu."
Bayu memasangkan sebuah kalung di leherku. Kalung berliontin bentuk hati. Aku menyukainya tidak berlebihan dan terlihat sederhana.
Aku berterima kasih padanya dan memberikan kecupan singkat di pipi Bayu. Bayu memelukku dan mencium lembut pundak kanan.
Sekilas pandanganku bertemu dengan Defin. Dia mengalihkan pandangannya kembali ke buku yang dia pegang.
"Dia suka membaca?" tanyaku
Bayu melihat ke arah Defin yang masih duduk di taman.
"Dia memang harus melakukan itu. Agar mempermudah pekerjaannya, segala hal harus dia pelajari."
Aku membalikkan tubuhku dan melingkarkan tanganku di leher Bayu.
"Bukankah kamu terlalu percaya padanya. Jujur saja aku terkadang sedikit takut padanya."
Bayu tersenyum dan mengecup bibirku singkat.
"Kenapa harus takut padanya. Dia tidak mungkin menyakitimu, sayang. Dia hanya sedikit pendiam."
Pendiam? Tapi menurutku dia bukan orang seperti yang Bayu katakan. Bahkan jauh dari kata 'pendiam' yang jelas Defin mengerikan dan misterius.
"Dia pernah berkata padaku. Saat kamu masih menginginkan aku di sisimu maka dia akan menjagaku tapi saat kamu tidak membutuhkan aku lagi, dia juga akan menyingkirkan semua tentang diriku."
Bayu menyibak rambutku dan meletakkan di belakang telinga.
"Kamu takut karena dia bilang begitu? Dia hanya selalu waspada. Karena itu memang tugasnya. Bersiaplah kita akan segera pergi ke Villa."
Bayu keluar dari kamarku. Aku kembali menatap Defin dari balkon kamar. Ya, dia tidak lebih seperti boneka. Apapun yang di perintahkan Bayu dia tidak akan menolaknya.
Semua yang Defin katakan benar adanya. Itu bukan sebuah candaan belaka. Bukankah setiap manusia memiliki impian dan keinginan. Apa mungkin mimpinya hanya menjadi boneka Bayu.
Jika itu benar, bukankah sangat konyol. Bisa saja dia terobsesi dengan menjadi orang yang selalu di andalkan Bayu. Dia juga pernah bilang pekerjaan itu sangat menyenangkan.
Saat kedua mata kami saling bertemu, aku segera mengalihkan pandanganku dan kembali ke kamar seolah -olah tidak tidak terjadi sesuatu.
Ponselku berdering. Aku segera mengambilnya di atas nakas. Sebuah pesan singkat dari Defin.
'Apa maksudmu melihatku seperti itu'
Aku melempar ponselku ke atas tempat tidur. Tanpa berniat membalas pesan singkat itu.
"Semakin di pikirkan, aku semakin takut pada pria itu. Dia yang duduk di sana tapi menyalahkan orang yang melihat."
Bulu - bulu halus di tanganku berdiri seketika. Aku mengusapnya dengan kedua telapak tanganku dan berusaha melupakan pikiranku tentang Defin.
Aku kembali bersiap mengemas beberapa pasang pakaian dan perlengkapan lainnya.
Setelah merasa semua yang aku butuhkan sudah tersusun dalam koper kecil. Aku membawanya turun kebawah.
Bayu masih berkemas di kamarnya. Aku menunggunya sambil mencari - cari siaran di TV, berulang kali mengganti chanel tidak juga aku dapatkan acara yang menyenangkan.
Tiba - tiba pandanganku terhalang oleh sesosok wanita yang berdiri di depanku.
Aku segera beranjak dari duduk dan menjatuhkan remote control di tanganku.
"Tan... tante!"
Ya, wanita itu Tante Tessa. Bukankah dia keluar kota dan kenapa tiba-tiba dia kembali ke rumah secepat ini.
"Dimana Bayu?"
"Om... om Bayu."
"Dimana Bayu, Raya!" seketika jeritan Tante membuatku terkejut. Jantungku berdetak kencang, rasa gugup dan takut bercampur menjadi satu.
"Om Bayu di kamarnya," jawabku lirih.
Tubuhku mendadak menjadi panas dingin. Bagaimana bisa Tante di sini. Dia seharusnya sedang dalam perjalanan keluar kota. Apa semua bohong? Apa ini semua rencananya untuk menjebakku dan Bayu.
Apa yang harus aku lakukan sekarang. Dimana Bayu, kenapa dia lama sekali. Aku berinisiatif untuk menghampiri Bayu tapi Tante melarangku. Dia memintaku untuk menunggu Bayu turun.
Aku duduk dengan gelisah di samping Tante Tessa. Aku sudah berusaha bertanya tapi dia tidak berniat untuk menjawabnya.
Tidak lama kemudian langkah kaki terdengar menuruni tangga. Aku menoleh ke arah tangga.
Ya, itu Bayu sedang menuruni tangga. Aku memberi isyarat dengan mataku menunjuk Tante Tessa yang masih duduk terdiam.
Bayu juga terkejut melihat istrinya berada di rumah. Namun, dia sangat pandai bersandiwara.
Bayu meletakkan kopernya dan dengan senyuman dan sambutan hangat, dia menghampiri Tante.
"Sayang, kamu tidak jadi keluar kota? Apa ada masalah?" tanya Bayu
Tante beranjak dari duduknya dan segera menghampiri Bayu. Tante Tessa melayangkan sebuah tamparan padanya.
"Kenapa kau menamparku, Tessa!"
"Cukup! Jangan bersandiwara lagi!" teriak Tante Tessa
Bayu masih diam dan memegangin pipinya yang masih memerah.
"Aku sudah tahu semuanya! Bahkan rencana liburan kalian!"
"Bagus! Aku sangat senang jika kau sudah tahu semuanya. Aku tidak perlu bersandiwara lagi!"
Tanta Tessa menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan jawaban suaminya. Bahkan raut wajah penyesalan tidak terlihat di wajah Bayu.
"Kamu benar-benar tidak punya hati! Bisa-bisanya dengan bangga kau mengakui perbuatan menjijikan itu!"
"Kau ingin aku seperti apa?! Kau ingin aku memohon bersujud di kakimu dan berbohong bahwa semua itu tidak nyata. Tessa, sejak lama...sejak lama hubungan kita hanya berdasarkan pandangan orang dan kebohongan!"
"Kau pikir hanya kau yang menderita? Kau pikir aku tidak muak dengan pernikahan ini! Tapi, aku terus bertahan untuk keutuhan rumah tangga ini, aku bahkan tidak pernah satu kalipun memikirakn pria lain!"
Perdebatan antara Bayu dan istrinya membuat seisi rumah jadi gaduh. Bahkan semua pelayan dan penjaga ikut menyaksikan pertengkaran kedua manjikan mereka.
Aku memberankan diri untuk berbicara dengan Tante Tessa. Ini saatnya aku harus menghadapi kesalahan yang sudah aku perbuat selama ini.
"Tante!" Aku berlutut di hadapanya.
Tante Tessa terbelalak melihatku.
"Maafkan, Raya. Semua ini salah, Raya."
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Jangan lupa 👍❤️ Vote & Comment
Supaya author semangat up nya😘