Love Affair

Love Affair
PART 11



Sore harinya Bayu kembali ke cafe berniat untuk menjemput Raya, sesuai dengan janjinya bahwa Raya hanya di perbolehkan menginap di cafe untuk tiga hari.


“Om, lagi cari Raya?” tanya Intan yang baru saja tiba, mereka bersamaan masuk ke cafe.


“Ya, aku ingin menjemput Raya untuk pulang bersama.”


Intan meminta salah satu karyawannya untuk memanggil Raya. Sementara itu Intan menemani Bayu dan memberikan satu gelas minuman dingin.


“Om, sudah tahu siapa pacar Raya sekarang?”


Bayu mengerutkan dahinya, “Siapa?”


“Javier. Mereka bahkan sudah dinner romantis di tepi pantai kemarin.”


“Oh, anak itu. Aku rasa mereka cuma berteman tidak lebih.”


“Aku sangat kecewa kalau mereka hanya teman, Om. Tapi mereka berencana untuk bertemu lagi. Kalau sudah begitu Om yakin mereka cuma teman.”


“Ya, pilihan ada di tangan Raya. Aku juga tidak tahu masalah pribadinya.”


“Itu Raya.” Intan menunjuk ke arah belakang Bayu. Raya menghampiri mereka.


“Kita bicara di luar.” Perintah Bayu pada Raya.


Intan melihat wajah Bayu dan Raya bergantian. Apakah aku melakukan kesalahan? Tanya Intan dalam hati.


Raya menatap sahabatnya itu. Raya tahu pasti Intan sudah mengatakan sesuatu pada Bayu, sehingga Bayu teelihat kesal.


"A...aku akan kembali bekerja." Intan segera pergi saat mendapat tatapan tajam dari Raya.


“Aku tidak bisa pulang hari ini.”


“Ingin berkencan dengan bocah itu.”


“Pertemuan ini bukan seperti yang kamu banyangkan.”


“Lalu untuk apa?”


“Aku punya alasan sendiri.”


“Baiklah, kita bisa pergi bersama-sama.”


“Lupakan saja. Kita pulang sekarang,” ucap Raya


Raya memilih mengikuti lebih dulu permintaan Bayu. Jika dia terus memaksa untuk menemui Javier hari ini, hal yang tidak di inginkan akan terjadi.


Raya mengambil handphonenya, mencari nomor Javier lalu melakukan panggilan telepon.


“Javier, maaf sepertinya hari ini aku tidak bisa bertemu denganmu. Aku akan menghubungimu nanti.”


Raya mengakhiri panggilannya dan memasukkan handphone ke dalam tasnya.


“Kau puas sekarang?”


“Baiklah kita pulang sekarang.”


Raya masih di rundung rasa takut dan gelisah. Dia harus mencari cara untuk menemui Javier untuk menjelaskan semuanya. Hanya perlu mempertegas bahwa Raya tidak bisa menerima perasaannya dan alasannya tentu Javier sudah melihatnya dengan sangat jelas.


“Ada masalah?” tanya Bayu saat melihat Raya terlihat melamundan memikirkan sesuatu.


Raya menggelengkan kepalanya dan kembali dalam lamunanya. Jangan sampai Bayu mengetahui jika Javier melihat saat mereka berdua di kamar malam itu. Raya tidak tahu apa yang akan Bayu lakukan pada Javier.


Saat sampai di rumah Tessa langsung menyambut Raya dengan sebuah pelukan.


“Kamu sibuk sekali, ya. Sampai tidak sempat pulang?”


“Maaf tante, aku jadi jarang pulang dan telepon dari tante tidak aku jawab.”


“Iya, Tante tidak masalah yang penting kamu baik-baik saja.”


“Raya ke kamar dulu ya, Tante.”


“Tunggu, Raya.”


Tessa menghentikan langkah Raya. Raya menolehkan wajahnya.


“Nanti malam, kamu temanin Tante maukan?”


“Memangnya Tante mau kemana?”


“Om kamu dapat undangan pesta ulang tahun rekan bisnisnya.”


Sebenarnya Raya tidak ingin berpergian malam ini. dia ingin memanjakan tubuhnya berendam dengan air hangat dan bersantai saja.


“Tapi Tante, akukan tidak di undang.”


“Biarkan Raya istirahat saja. Tidak perlu memaksanya,” ucap Bayu seraya memberikan tas kerjanya pada Tessa


“Ak ingin mengenalkan Raya dengan seseorang. Kebetulan dia juga datang di pesta malam ini.”


“Ck! Terserah kamu saja.” Bayu menaiki tangga melewati Raya dan memberikan tatapan ancaman untuk menolak ajakan Tessa.


“Ok. Sudah di putuskan kamu akan ikut.”


“Tapi Tante, sepertinya Om Bayu tidak senang jika aku ikut.”


“Kamu seperti tidak tahu sifatnya saja. Diakan memang begitu, tapi Tante yakin dia tidak keberatan kalau kamu ikut.”


Raya masuk ke kamarnya. Raya melepas dressnya, hanya menyisakan pakian dalamnya. Tidak ada orang lain di kamar itu jadi tidak ada salahnya lalu Raya langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“Sudahlah hanya sekedar ikut saja, setelah bertemu dengan teman Tante aku akan langsung pulang saja.”


Masih ada waktu sekitar dua jam lagi sebelum ke pesta. Raya memilih untuk memejamkan matanya. Raya tersadar saat merasakan pergerakan di sampingnya.


“Kamu sudah gila. Kita sedang di rumah!” Raya mengumpat saat melihat Bayu sudah di sampingnya.


“Tessa sedang sibuk berdandan. Jadi dia tidak mungkin tahu aku di sini.”


“Lalu kenapa kamu belum siap-siap?”


“Tadinya aku ingin mandi tapi tiba-tiba aku teringat kamu.” Bayu mendekati Raya untuk menciumnya.


“Sana, pergi.”


Raya beranjak dari tempat tidurnya dan segera masuk ke kamar mandi. Saat ingin menutup pintu, Bayu menahannya.


“Mau apa kamu. Cepat kembali ke kamarmu.”


“Aku ingin mandi juga.”


“Astaga. Jangan buat masalah, cepat pergi.”


Sayup-sayup mereka mendengar Tessa memanggil Bayu. Raya setengah berbisik terus meminta Bayu untuk segera keluar dan menghampiri Tessa. Namun, Bayu tetap menolak.


“Tessa sudah berada di depan kamarmu, jika aku keluar dari sini sekarang dia akan curiga. Pilihanya antara kamu ingin kita ketahuan atau mengizinkan aku mandi bersamamu.”


“Baik aku pilih yang pertama. Keluar sekarang dari kamarku, suapaya tante tahu suami seperti apa kamu.”


“Baik. Setelah Tessa tahu, dia akan sangat kecewa sama kamu dan bahkan tidak akan pernah sudi melihat wajahmu.”


“Brengsek!” Raya menarik tangan Bayu agar cepat masuk ke kamar mandi karena jika terlambat satu detik saja akan jadi masalah, karena Tessa sudah membuka handle pintu kamar Raya dan membukanya.


“Raya. Kamu di kamar mandi?”


“Hmm... iya tante. Aku sedang mandi.”


“Kamu lihat Om kamu gak?”


“Om lagi... lagi di garasi mobil, tan.”


“Garasi? Untuk apa dia ke sana?”


“Tadi katanya Bayu mau ngecek mobil yang mau di pakai nanti malam, tan.”


Bayu? Tessa mengerutkan dahinya. Tidak pernah Raya memanggil Bayu hanya dengan nama saja. Tessa merasa heran tetapi dia abaikan itu, mungkin dia salah dengar saja.


“Oh, ya sudah. Jangan lama-lama mandinya. Kita sebentar lagi berangkat, Ray.”


“Iya... iya, tan. Aku sebentar lagi selesai.”


“Aku susah payah meyakinkan Tante dan kamu mengambil kesempatan.”


“Ssstt... kita tidak punya waktu banyak.”


Mereka melanjutkan kegiatan ‘mandi’ yang memilik arti berbeda untuk kedua pasangan selingkuh itu.


🌟🌟🌟


Kami terlambat datang ke pesta itu. Tante Tessa tidak henti-hentinya mengomel karena menurutnya Bayulah penyebabnya. Bayu tidak segera bersiap malah memilih memeriksa mobil di garasi.


“Defin, apa saja yang kamu kerjakan? Tugas kamu sebagai asisten pribadi yang arti harus memperhatikan semua kebutuhan atasanmu, jadi Bayu tidak perlu turun tangan mengurus hal sepele seperti ini.”


“Maafkan saya, Nyonya. Hal ini tidak akan terjadi lagi.”


Tentu saja Defin sudah di perintahkan Bayu untuk diam dan tidak mengatakan apapun pada Tante Tessa. Hanya tatapan matanya padaku melalui kaca spion mobil seolah mengatakan ‘kalian yang bersenang-senang tapi aku yang kena batunya’.


Aku menghindari tatapan mata Defin, seakan-akan tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa.


“Lihat kita jadi terlambatkan. Teman-temanku sudah menunggu sejak tadi.”


“Sudah Tessa. Ocehanmu membuat suasana jadi tidak nyaman,” ucap Bayu yang duduk di samping Defin sedangkan aku dan Tante Tessa duduk di kursi belakang.


"Lagi pula kamu bisa pergi lebih dulu jika tidak ingin terlambat."


"Kamu mudah bicara begitu karena tidak tahu atau pura-pura lupa? Di sana banyak rekan bisnis dan media, jika kita datang secara terpisah akan tersebar berita yang tidak benar."


"Sudahlah, Tessa. Hentikan ocehanmu itu atau kita tidak akan pergi ke sana."


“Kamu terlalu memanjakan Defin. Dia jadi sampai terlena dan melupakan tugasnya."


Bayu menoleh ke arah Tante seakan sudah jengah dengan percakapan itu. Tante memahami itu dan diam seketika.


“Raya, pria yang mau Tante kenalkan adalah pria yang tampan, hidungnya mancung, tinggi, pokoknya cocok sama kamu. Dia pasti juga tertarik sama kamu dan Tante berharap kalian bisa langsung pacaran.”


Defin menginjak rem mobil mendadak dan tante Tessa yang tidak menggunakan safety belt terbentur kursi pengemudi.


“Tante gak apa-apa?” Aku segera membantu Tante untuk kembali ke posisinya.


“Defin!! Kamu baru belajar menyetir?! Kamu sengaja mau bunuh saya! Kamu balas dendam karena saya marahin kamu tadi?”


“Cukup, Tessa!” bentak Bayu


Aku terkejut saat melihat semua ini. Bayu tidak pernah bersikap seperti itu, sampai begitu dia membela Defin. Padahal kesalahan yang satu ini murni perbuatan Defi, atau dia tidak suka dengan apa yang di katakan Tante tentang anak temannya itu.


“Maaf saya tidak sengaja menginjak remnya. Saya akan lebih hati-hati.”


Defin kembali melajukan mobilnya dan Tante Tessa masih mengaduh kesakitan, aku melihat dahinya sedikit memerah karena terbentur kursi mobil.


Sekitar lima belas menit kami sampai di hotel bintang lima yang menjadi tempat di adakan pesta itu. Bayu dan Tessa terlebih dulu masuk bergandengan sedangkan aku bersama Defin.


Tentu saja Defin harus terus berada di sekitar Bayu. Karena bagi pencinta kerja seperti orang-orang di dalam sana, pesta ini hanya sebuah pemanis saja sedangkan yang mereka bicarakan sepanjang pesta hanya pekerjaannya dan bagaimana cara menambah pundi-pundi uang.


“Saya cukup terkejut saat mendengar rencana, Nyonya Tessa. Itulah penyebab kecelakaan kecil tadi,” ucap Defin


“Jangan gunakan bahasa formal padaku. Aku bukan atasanmu.”


“Bukankah anda juga sudah menjadi seorang Nyonya.”


Defin tersenyum simpul. “Senyuman itu harus aku artikan sebagai apa? Ucapan selamat atau hinaan?”


“Anda bisa mengartikan keduanya. Tentu saya tidak keberatan.”


Aku meninggalkan Defin saat Tante melambaikan tangannya memanggilku.


“Raya, kenalkan ini Tante Jeny.”


“Seperti yang kamu bilang ya, Tessa. Keponakan kamu memang cantik, aku saja bisa langsung suka apalagi anakku.” Kemudia Tante Jeny memintaku untuk menunggu sejenak putranya yang sedang ke toilet.


Sambil menunggu aku memilih untuk mengambil minuman yang di sediakan bersama Tante Tessa.


“Raya kenalkan ini putra Tante satu-satunya.”


Aku terperanjat saat melihat siapa yang sedang berdiri di hadapanku.


“Salam kenal. Aku Agam Javier, panggil saja Javier.”


Aku masih diam mematung, tanganku gemetaran saat perlahan aku beranikan diri untuk menjabat tangannya.


“Raya... namaku Raya.”


“Javier benarkan yang Mama bilang. Raya wanita yang sempurna.”


Kami berdua tersenyum satu sama lain dan saling menyadari bahwa senyuman ini palsu.


"Bagaimana jika kalian dansa, ini moment yang tepat.” ucap Tante Tessa


“Ayo, Javier. Ajak Raya ke lantai dansa,” pinta Tante Tessa. "Ayo Javier, kamu tunggu apa lagi," Tante Jeny semakin mendesak Javier.


“Mau berdansa?” Javier menyodorkan tangannya padaku dan aku menerimanya.


Kami berjalan perlahan menuju lantai dansa. Kemudian, Javier meletakkan tangan kanannya di pinggang kiriku, tangan kirinya menggenggam lembut tangan kananku. Perlahan musik di mainkan dan kami mulai berdansa.


Aku dan Javier terpaksa mengikuti keinginan Tante Tessa dan Mama Javier. Aku bahkan tidak tahu bagaiman gerakan dansa. Tetapi di luar dugaan Javier sangat mahir.


Aku susah payang mengimbanginya dan beberapa kali aku menginjak kakinya.


“Javier, aku ingin menjelaskan sesuatu padamu.”


“Dari wajah pucatmu aku tahu kau sangat terkejut melihatku. Anggap saja ini pertemuan kedua kita yang di rencanakan oleh orang yang kita sayangi. Aku sama dengan mu yang terpaksa mengikuti keinginan mereka karena tidak ingin melihat kekecewaan.”


Javier memutarkan tubuhku dan kembali meraih pinggangku. Pandangan kami saling bertemu, Javier semakin mengeratkan pelukannya.


Javier mendekatkan bibirnya di telingaku dan berbisi, "Raya, coba kau lihat wajah Tante Tessa."


Sekilas aku melihat kearah Tante. Dia begitu bahagia bersorak gembira melihat aku dan Javier.


"Perlahan kau akan menghancurkan senyum kebahagiaan itu dan menggantinya dengan kebencian. Aku hanya masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat beberapa hari lalu.”


Setelah musik selesai Javier mengajakku keluar dari ruang pesta. Kami sedang berada di sebuah taman, disana hanya ada beberapa orang saja, rasanya tempat ini tepat untuk kami menyelesaikan masalah.


“Javier, aku minta maaf untuk ke sekian kalinya. Aku tidak bisa menerima perasaanmu.”


“Jadi benar yang aku lihat? Kau bersama suami dari Tante mu sendiri.”


“Lupakan kejadian beberapa hari lalu. Anggap saja kau tidak pernah melihat semua itu.”


Javier mendekap wajahku, dia ******* bibirku dengan kasar. Aku meronta-ronta berusaha melepaskan pagutannya. Akhirnya dia melepaskanku.


Aku melayangkan sebuah tamparan ke pipi kirinya.


"Jangan melewati batasanmu, Javier!"


Javier tersenyum miring seraya mengusap bekas tamparanku.


“Ternyata kau lebih suka menjadi simpanan dari pada menjadi kekasihku. Berapa harga yang harus aku bayar untuk satu kali kencan? Seharusnya aku tidak perlu membawamu makan malam romantis di pantai malam itu, tetapi kita bisa menghabiskan malam di ranjangmu saja.”


“Cukup Javier! Kamu benar-benar melewati batas.”


“Menjijikkan! Apa aku tidak salah dengar, wanita sepertimu mengatakan tentang batasan? Seharusnya kau katakan itu pada dirimu sendiri!”


“Iya! Aku memang menjijikkan, kau menyesal karena pernah menggantungkan perasaanmu padaku? Kau menyesal karena sudah memilihku? Bukankah sudah jelas, malam itu aku menolakmu. Kau ingin tahu alasannya? Ini alasannya, karena aku menjijikkan, aku wanita simpanan dan aku tidur dengan suami tanteku sendiri!”


“Saya rasa pembicaraan sudah selesai Tuan, Javier. Anda bisa pergi sekarang,” ucap Defin yang sejak tadi mengawasi kami dari ke jauhan.


“Ini  tidak ada hubungannya dengan anda, lebih baik pergi dari sini,” ucap Javier kepada Defin


“Anda sebaiknya pergi saat saya memberikan kesempatan.”


Javier menatap Defin penuh selidik. Berpakain formal dan berbicara penuh dengan ke tekanan.


“Oh, aku mengerti sekarang. Tentu saja ‘simpanan’ harus di jaga dengan sangat baik agar tetap menjadi rahasia.”


Setelah Javier pergi aku jatuh terperosok di rerumputan taman yang di basahi embun malam. Hujan turun perlahan, seakan ingin menghapus dosa-dosa yang telah aku lakukan. Air mataku mengalir bercampur dengan hujan yang semakin deras.


Defin masih disana dan memilih duduk di bangku taman. Sedangkan aku masih menangis di rintikan hujan. Mungkin memang sudah tugasnya menjaga anggota keluarga ini tapi tidak seharusnya berada di sini bersamaku.