
Matahari bersinar begitu terik siang itu. Kulit putih pucat miliknya terasa terbakar.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Defin pada Raya saat melihat wanita itu sedang berbaring di kursi santai tepi kolam renang.
Raya membuka matanya dan mendengus kesal, aktifitasnya terganggu dengan ocehan Defin.
"Aku sudah berapa lama tidak mendapatkan asupan vitamin D untuk kulitku."
Sepengetahuan Raya sinar matahari sangat bagus untuk kesehatan kulit dan meningkatkan kekebalan tubuh. Berada dua minggu di rumah sakit membuat tubuhnya terasa kaku dan kulit menjadi pucat.
"Kamu pikir ini pukul berapa. Bukan vitamin D yang akan kamu dapatkan tapi kulitmu akan terbakar."
"Itu karena kamu tidak membangunkan aku lebih pagi."
"Aku hanya bertugas menjaga keamanan bukan jadi baby sister. Jika di minta untuk memilih lebih baik aku melakukan pekerjaan di kantor yang membosankan dari pada harus menemanimu di sini."
"Aku juga tidak minta di temani. Bayu saja yang berlebihan."
"Bukan berlebihan, dia punya alasan. Rekan bisnisnya sedang mencoba mencari titik kelemahannya."
Raya mengerutkan dahinya dan menatap Defin.
"Jadi Bayu memberikan villa ini agar aku tetap sembunyi, begitu?"
Defin mengedik kan bahunya dan beralih duduk di tepian kolam renang. Dia merasa bukan itu alasan Bayu membawa Raya ke sini. Lebih tepatnya Bayu menginginkan Raya bisa cepat pulih tanpa harus memikirkan urusan di luar sana.
"Saat istrinya menemui ku di rumah sakit. Satu hal yang pasti dia lakukan agar terlihat bahwa semua dalam keadaan baik dan terkendali."
"Itu juga perintah Bayu. Mereka harus melakukan itu agar kau terlihat anak baik dan penuh dengan kasih sayang dari keluargamu."
Raya tersenyum sini mendengar ucapan Defin, "Aku sudah membaca semua berita itu, ternyata sangat mudah menghancurkan kehormatan orang-orang seperti mereka."
"Lalu kamu puas dengan apa yang kamu dapatkan?" tanya Defin
Raya bangkit dari posisinya semula dan duduk di samping Defin.
"Puas?" Raya tersenyum
"Yang benar saja, bahkan aku belum memulainya. Aku belum mendapatkan apapun, villa seperti ini aku juga bisa membelinya dengan uangku sendiri. Walaupun, membutuhkan waktu beberapa bulan tentunya. Jadi ini belum bisa di katakan sebuah kepuasan," ucap Raya yang sedang mengayunkan kakinya di dalam air.
"Apa sebenarnya tujuan utamamu. Cinta? Kekuasaan? Atau balas dendam?"
Defin mulai tertarik dengan pembahasan ini. Menurutnya Raya adalah orang yang pandai menutupi segala hal dan membahayakan, setidaknya itu yang dia rasakan selama ini.
"Pertanyaan itu untuk dirimu sendiri atau untuk kau laporkan pada Tuanmu?"
"Kamu boleh menjawab atau tidak itu bukan masalah untukku. "
"Jika itu yang ada dalam pikiranmu. Mana yang akan aku pilih?"
"Hmm... entahlah mungkin cinta. Kamu tumbuh di keluarga bahagia awalnya tapi semua sirna."
Raya tertawa terbahak. Namun, Defin tahu tawa itu bukan sebuah kebahagiaan atau tertawa geli karena sebuah lelucon.
"Kita lihat saja, apakah jawaban itu benar."
"Jangan terlalu jauh melangkah sedangkan kamu sendiri tidak tahu apa yang ada di ujung jalan."
Raya terjun ke dalam kolam dan menenggelamkan seluruh tubuhnya beberapa saat. Kemudian kembali ke permukaan.
Raya mendekat ke arah Defin. "Karena aku tidak tahu, maka dari itu aku mencoba. Aku pernah memilih untuk diam dan tidak melangkahkan kakiku tapi sebuah penderitaan yang aku dapatkan. Entah sebuah taman bunga atau sebuah jurang yang aku temui di ujung jalan itu, aku akan tetap melangkah."
"Apa pun yang akan kau temui di ujung jalan itu, akan ada sebuah penyesalan. Kau tahu kenapa?"
Raya mengerutkan dahinya, menatap Defin penuh tanya.
"Karena setiap perjalanan yang kau tempuh. Tanpa sadar kau melukai orang lain dan yang lebih buruk kau menyakiti dirimu sendiri."
Raya diam tak bergeming. Raya berjalan menuju tangga kolam renang dan naik ke permukaan. Lalu mengambil piyamanya dan mengenakannya.
Sebelum pergi Raya kembali menatap Defin dengan sebuah senyuman.
"Aku akan menunggu penyesalan itu."
Defin menghebuskan napasnya perlahan melihat punggung Raya menghilang memasuki villa.
Dia tidak akan mendapatkan apa pun di ujung jalan. Batin Defin
...🌟🌟🌟...
Setelah merasa pulih dari cidera yang dia alamai, Raya memilih untuk kembali tinggal di rumah Bayu.
Semua itu atas permintaan Bayu. Menurutnya jika Raya tinggal terpisah dengannya akan menyulitkan pengawasan.
Raya menerima semua itu dengan senang hati dengan permintaan Bayu akan memudahkan dirinya untuk mencapai tujuannya.
Kini mereka sedang berkumpul di taman belakang. Raya menyibukkan dirinya dengan membaca sebuah novel di handphonenya dan sesekali mencuri pandang ke arah Bayu yang sedang fokus pada laptopnya. Saat mata mereka saling bertemu, Raya menggodanya terus menerus.
Bayu tersenyum dan menggelengkan kepalanya, melihat tingkah kekasihnya itu yang kini semakin berani meluapkan perasaannya.
Mereka sedang menunggu ke datangan Randra. Tessa sengaja mengumpulkan mereka semua untuk membahas masalah keluarga mereka.
Sekitar tiga puluh menit menunggu Randra datang masih mengenakan pakain formalnya.
Raya menatap kagum pada kakaknya itu, sangat berbeda dengan tingkah lakunya.
"Jangan melihatku begitu. Seperti tidak pernah melihat pria tampan saja," celetuk Randra saat melihat Raya menatap kagum padanya.
Raya tersentak tidak setuju dengan pernyataan Randra.
"Hmm... iya ganteng di lihat dari lubang kunci," ucap Raya meledek.
"Kamu harus bersyukur bisa menikmati ke tampanan ini setiap saat."
Tessa meletakkan majalah fashion di atas meja. Kemudian memerintahkan Randra untuk duduk dan mendengarkan apa yang akan dia katakan saat ini.
"Sebenarnya ada masalah apa, Ma? Kenapa tiba-tiba Mama ingin aku ke rumah, padahal aku mau dinner sama klien penting malam ini."
"Ini tidak akan lama, kamu bisa pergi setelah pembicaraan ini selesai." Tessa menyilangkan kakinya dan menatap Bayu yang masih enggan melepas pandangannya di laptop.
Sadar menjadi pusat perhatian, Bayu meletakkan laptopnya yang masih menyala tepat di sampingnya.
"Randra, ada satu hal yang harus kamu tahu. Papa kamu memiliki wanita lain dan dia sudah tergila-gila dengan wanita simpanannya itu."
"Kalian jangan bercanda, apa ini semua? Kalian sedang merencanakan untuk mengerjaiku."
"Ini yang sebenarnya terjadi, laki-laki yang selalu kamu hormati ini tidak lebih dari seorang pengkhianat!"
"Aku punya alasan, Tessa!" Bayu meninggikan suaranya
"Tidak ada alasan untuk perselingkuhan! Aku sudah berusaha sebaik mungkin menjadi istri kamu tapi apa yang aku dapatkan. Sebuah pengkhianatan!"
"Cukup, Tessa. Bukankah hari ini kita sepakat untuk mengatakan ini pada mereka agar kita bisa sama-sama menjaga rahasia ini bukan untuk saling bertengkar."
Randra hanya terdiam. Raya menjulurkan tangannya mengelus punggung kakaknya.
Rasa bersalah mulai merasuki jiwanya. Mungkin dia bisa menjadi kejam dan tidak merasa bersalah di hadapan Tessa tapi, saat melihat Randra terluka seperti ini. Hatinya juga remuk.
"Pa, apa yang sebenarnya Papa inginkan dari wanita itu? Kenapa Papa harus begini?"
Randra terus menuntut penjelesan dari pria yang selama ini menjadi tolak ukur dan panutannya.
"Selama ini kalian selalu bahagia. Aku bahkan tidak pernah melihat pertengkaran di keluarga ini. Pa, aku mohon tinggalkan wanita itu dan kembali pada Mama."
Bayu tidak menjawab pertanyaan putranya. Karena memang dirinya sadar betul bahwa ini sebuah kesalahan besar.
"Hanya kata maaf yang bisa Papa berikan untuk kamu."
"Jangan berharap pada hal yang sudah jelas tidak bisa dia lakukan, Randra. Dia tidak akan pernah meninggalkan simpanannya itu."
"Tessa, berhenti menyalahkan wanita itu. Aku yang bersalah, aku yang menginginkan hubungan seperti ini."
"Papa!" Randra menggeram marah. Randra merasa sangat kesal pada Papanya yang dengan mudah melindungi wanita simpanannya di hadapan istri dan anaknya.
"Aku paham dan akan berusaha memahami Papa, jika Papa tertarik pada wanita yang lebih muda dan cantik. Tapi, aku mohon jangan membela jalang itu di hadapan Mama!"
Raya mencengkram lengan Randra dengan sekuat tenaga, mencoba menenangkan Randra. Pertengkaran hebat akan terjadi jika Randra menaikan suaranya di hadapan Bayu.
"Kak, tenang. Kita dengarkan dulu penjelasan Om Bayu."
"Penjelasan? Apa yang ingin di jelaskan, kamu lihat sendirikan Papa yang selama ini kita hormati ternyata menyimpan sebuah ke bohongan besar."
Tessa menunduk terdiam. Raya melirik sekilas, terlihay jelas Tessa menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Sudah hentikan, Randra. Kita seharusnya tidak membahas ini lebih lanjut. Mama memanggil kamu ke sini, hanya ingin kamu mengabaikan dan membantah jika ada media yang meberitakan tentang keretakan hubungan Mama dan Papa. Kamu juga pasti tahu apa akibatnya, bukan hanya perusahan Papa dan Mama yang akan bermasalah tapi begitu juga dengan perusahan kamu yang baru berkembang itu."
Tessa mentapa Randra dengan mata berkaca-kaca. Lalu, tatapannga kembali beralih ke Raya.
"Dan untuk kamu Raya, kecelakaan itu yang terakhir dan jangan kamu ulangi lagi. Kamu sudah tahu bukan, karena kecelakaan itu media tahu bahwa kamu keponakan Tante. Mulai sekarang setiap apa yang kamu lakukan akan menjadi pusat perhatian."
"Iya, Raya akan mengingat itu."
"Satu lagi, besok akan ada satu orang yang bertugas menjaga dan mencegah agar kamu tidak bertindak di luar batas."
Raya terkejut dan bingung. Raya melirik ke arah Bayu. Namun, Bayu juga terlihat terkejut dan tidak mengerti apa yang di katakan Tessa.
"Tante, Raya rasa itu tidak perlu. Raya janji tidak akan membuat masalah lagi." Raya menatap memohon pada Tessa.
"Raya, sepertinya kamu belum paham betul sekarang kamu tinggal bersama siapa. Tinggalkan semua kebiasaan hidup seorang diri, mulai sekarang kamu harus bisa menjaga nama baik keluarga Om dan Tante."
"Tapi Raya tidak nyaman jika ada ang terus mengawasi aktifitas Raya setiap saat."
Tessa bangkit dari duduknya, "Semua sudah Tante putuskan, kamu tidak bisa menolak. Nyaman atau tidak kamu harus terbiasa. Satu lagi jangan sampai orang lain tahu lebih jauh tentang masa lalumu."
Kemudian Tessa masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Raya yang tidak terima dengan keputusan bahwa mulai besok semua aktifitasnya di awasi dan Randra yang masih tidak bisa menerima bahwa kedua orang tuanya yang sudah memilih untuk berjalan masing-masing bahkan tinggal bersama hanya untuk sebuah formalitas.
"Pa, apakah aku tidak pernah kau anggap sebagai anak?"
Pertanyaan itu sontak membuyarkan lamunan Raya.
"Kak, sudah hentikan. Jangan membuat Om marah," ucap Raya setengah berbisik
"Aku adalah orang pertama yang menginginkan kamu menjadi putraku. Aku bahkan yang terus membujuk Tessa untuk menyetujui proses adopsi waktu itu. Sejak itu semua yang kamu inginkan selalu aku berikan. Bagaimana bisa mengatakan bahwa aku tidak menganggap kamu sebagai anak."
"Lalu kenapa Papa mengkhianati, Mama."
"Aku tidak bisa memberikan jawaban."
"Baiklah, selama Papa masih tetap memilih untuk terus bersama wanita itu. Aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah ini."
Randra beranjak pergi meninggalkan Bayu dan Raya. Suara gaduh terdengar di dalam rumah utama. Para pelayan berlarian menghampiri Randra yang sedang meluapkan ke marahanya.
"Kenapa kamu tidak menjawabnya?" tanya Raya pada Bayu
"Apa yang harus aku jawab. Apa kamu ingin aku mengatakan bahwa aku mencintai kamu?"
"Bukan itu maksudku, kamu bisa memberika alasan lain."
Raya mendengus kesal dan berlari mengejar Rndra yang sudah memasuki mobilnya. Raya memanggil namanya berulang kali tetapi tidak di hiraukan.
Mobil Randra sudah keluar dari pintu gerbang. "Dia pergi bersama supir, tidak perlu mengejarnya."
Defin menghampiri Raya dan berdiri di hadapnnya.
"Berikan aku kunci mobilmu," pinta Raya pada Defin
"Jangan berlagak menjadi malaikat, Raya. Bukankah ini yang kau inginkan. Setelah mengejarnya apa yang ingin kau lakukan? mengakui bahwa kau sumber masalah ini?"
Raya menatap tajam Defin. Dia memang sadar bahwa ini adalah hasil perbuatanya tapi sungguh dia ingin menenangkan Radra di saat seperti ini.
"Lain kali, kau harus berkata sopan di hadapanku. Bagaimana pun aku juga termasuk orang yang harus kamu hormati di rumah ini."
"Kembali ke kamarmu sekarang juga. Siapa yang ingin aku hormati adalah keputusanku sendiri!"
"Raya," Raya menoleh saat Bayu memanggil namanya.
"Apa yang di ucapkan Defin benar. Saat ini kau hanya perlu kembali ke kamarmu. Tidak ada yang bisa kamu lakukan saat ini, biarkan Randra menenangkan pikirannya."
Raya melangkah mendekat ke arah Bayu, "Tapi, aku harus menemuinya."
"Raya, kembali ke kamarmu sekarang!" perintah Bayu
"Bahkan kamu sekarang tidak memberikan aku kebebasan atau kamu yang memberikan ide kepada istrimu agar ada yang teru mengawasi ku?" Raya berlalu meninggalkan Bayu yang memanggil namanya beberapa kali untuk memberikan penjelelasan.