
Raya masih duduk terdiam di kursi kayu berdebu itu saat Defin sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya.
"Aku akan pergi sekarang!" Raya bangkit dari duduknya karena sudah tidak tahan dengan rumah itu.
Keadaan rumah itu kotor dengan tumpukan barang-barang tak terpakai dan menyeramkan membuat dadanya sesak teringat kembali masa lalu yang kelam saat dirinya mendapatkan penyiksaan dari Mamanya.
"Tempat ini tidak seburuk yang kamu lihat." Defin kembali menahan lengan Raya.
"Aku... aku merasa tidak nyaman karena tempat ini mengingatkan kejadian waktu itu." ucap Raya lirih
"Tenanglah, selama kamu bersamaku tidak akan ada yang berani menyakitimu." Defin berusaha menyakinkan Raya
Raya menatap dalam ke bola mata Defin, mencari kebenaran dari ucapan pria itu dan memastikan bahwa tidak ada kebohongan saat ini.
Duk...Duk...Duk...
Suara itu sepontan membuat Raya merapatkan tubuhnya ke Defin mencari perlindungan.
"Mereka datang."
Raya semakin takut. Entah siapa yang Defin katakan. Bayangan buruk sudah memenuhi pikiran Raya. Apa akan ada pertempuran antar mafia atau ada transaksi gelap yang ingin Defin lakukan tapi mengapa Defin harus membawanya.
Defin melangkah menuju kursi kayu yang beberapa saat lalu di duduki Raya. Kemudian dia menggeser kursi itu dan terlihat pintu rahasia di sana.
Defin menghentakkan kakinya dua kali lalu lantai itu terbuka. Ada seorang pria di dalam sana, dia yang membukakan pintu rahasia itu.
"Lama sekali, bukankah aku sudah mengatakan akan ke sini." Defin memarahi pria itu dan dia hanya menunduk terdiam.
"Masuk." Defin mengulurkan tangan kanannya pada Raya.
Walau ragu Raya meraih tangan Defin dan mengikuti langkah pria itu menuju ruang bawah tanah yang hanya di terang dengan lampu bercahaya redup.
Raya menghentikan langkahnya, rasa takut dengan ruangan sempit dan gelap kembali menghantuinya.
Sadar bahwa Raya memilik masalah dengan tempat seperti ini, Defin mengambil ponselnya dan menghidupkan flash untuk menerangi terowongan itu.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan Raya yang masih memegang erat tangan Defin. Sampai mereka bertemu kembali dengan sebuah pintu yang menghubungkan dengan ruangan lain.
Raya tercengang saat melihat ruangan kedua itu. Benar adanya rumah ini tidak seperti yang Raya pikirkan. Mereka di sambut dengan tiga orang yang tidak pernah Raya lihat sebelumnya.
Raya kembali mengeratkan genggamannya di tangan Bayu saat ke tiga orang ith mendekat.
"Mereka bekerja pada Bayu dan hanya akan patuh pada perintahku." Defin menjelaskan.
"Aku rasa kita hanya perlu bicara berdua saja."
"Mereka tidak ingin bertemu dengan kamu, tapi aku. Jadi tunggulah di ruangan itu." Defin menunjuk sebuah pintu di depannya.
Raya menurut dan segera menuju pintu dan membukanya. Ya, ampun begitu banyak kejutan dan rahasia di rumah ini. Setiap ruangan berhasil membuat Raya kebingungan.
Berbeda dengan ruangan sebelumnya. Tempat ini terlihat seperti kamar tidur. lengkap dengan sebuah ranjang berukuran sedang, sebuah lemari dan meja kecil dengan cermin melekat di dinding.
Kamar ini juga memiliki sebuah kamar mandi dan beberapa perlengkapan mandi.
Raya memeriksa seluruh ruangan itu. Walaupun tidak luas kamar ini nyaman untuk di tempati. Apalagi adanya pendingin ruangan membuat udara tetap sejuk.
Raya duduk di tepi ranjang dan terus bertanya-tanya dengan tempat ini.
"Bayu memilik tempat seperti ini tapi dia tidak pernah cerita padaku atau aku memang seharusnya tidak di sini."
Satu jam sudah Raya menunggu di kamar itu. Tapi, Defin belum juga menemuinya. Raya bangkit dan membuka pintu kamar, namun segera di tutup kembali saat semua mata tertuju padanya termasuk Defin yang sedang berbicara dengan anak buahnya.
"Aku menyesal percaya padanya. Orang-orang di luar sana sangat mencurigakan."
Raya kembali ke ranjang dan merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit. Pikirannya melayang jauh ke rumah di mana saat dirinya melihat mobil baru milik Tessa.
"Ck! Wajar jika Bayu membelikan istrinya sebuah mobil, yang tidak wajar jika mobil itu untukku," ucap Raya lirih
"Itu memang untukmu. Tessa hanya salah paham. Malam ini Tuan akan memberikan kuncinya padamu."
"Akhirnya kamu selesai juga. Aku sudah bosan di sini. Aku sudah menduganya, mana mungkin Bayu tiba-tiba berubah." Raya masih enggan bangkit dari ranjang.
Defin memilih duduk di meja kecil di depan cermin yang menempel di dinding.
"Cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan waktu itu."
"Lihat cara bicaramu, seakan kamu yang menunggu lama padahal kamu sendiri yang membuat pembicaraan kita terhambat."
"Apa itu penting sekarang? Bukankah kamu harus kembali sebelum jam makan malam."
Raya mendengus kesal dan mengalah untuk menyudahi perdebatan nya.
Raya mendekatkan dan berbisik di telinga Defin. Mengatakan semua rencananya. Defin tidak terkejut dengan keinginan Raya karena memang sudah terlihat jelas.
"Hanya itu?" Defin mengerutkan dahinya
"Aku juga ingin kamu memihakku."
"Raya, sebaiknya sebelum ingin menyerang musuhmu cari tahu apa kau sanggup menghadapinya."
"Jadi menurutmu aku tidak sanggup melakukannya."
"Bukankah aku sudah pernah mengatakan sesuatu waktu itu."
"Yah, aku masih ingat sangat jelas. Kau tidak akan meninggalkan Bayu dan tidak akan pernah mengkhianatinya."
"Satu lagi aku akan mengingatkan kembali jika kau lupa. Jika Tuan berpaling darimu, aku akan melakukan hal yang sama."
Raya duduk di tepi ranjang dan menyilangkan kakinya.
"Jika rencana ini berjalan dengan lancar, kau bisa meminta apa pun padaku."
"Apa pun?" Defin tersenyum menyeringai lalu menarik lengan Raya dan membuat gadis iti berdiri dan jatuh dalam pelukannya. Tangan kiri Defin merengkuh pinggang Raya dan menarik tubuh Raya agar semakin dekat dengan tubuhnya.
"Kau takut atau gugup? Bahkan aku bisa mendengar detak jantungmu sekarang." Defin berbisik di telinga Raya.
Raya memejamkan matanya. Dirinya pasti terlihat konyol sekarang, Defin telah mempermainkannya.
"Lepas... lepaskan aku!" Raya mendorong dada bidang Defin tapi tidak membuat Defin melepaskan Raya malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau sudah melewati batas!" bentak Raya
"Kenapa? Kau lebih suka ada dalam pelukan pria yang seumuran dengan Papamu."
Plak...
Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Defin. Defin melepaskan lengan Raya.
"Ya, aku memang menjijikkan. Bahkan setiap saat aku terus berpikir untuk mengakhiri hidupku!"
Raya keluar dari kamar itu dan membanting pintu lalu berjalan tanpa peduli lagi dengan tatapan orang-orang yang sempat membuat nyalinya menciut.
"Raya! Raya, dengarkan aku dulu." Defin mengejar Raya dan kembali menarik lengan Raya saat hendak memasuki mobil.
Defin dengan cepat melepaskan tangan Raya. Saat melihat bulir bening mengucur di pipi gadis itu.
"Ma...maaf." ucap Defin lirih
"Aku...aku mau pulang sekarang." Raya masih berusaha menahan suaranya yang semakin bergetar.
"Ya...kita pulang sekarang." Defin segera membuka pintu mobil dan menutupnya kembali setelah Raya duduk di samping kursi pengemudi.
Mereka hanyut dam pikiran masing-masing. Raya yang merasa mendapat penghinaan dari orang terdekatnya, walaupun memamg tidak ada yang salah dalam ucapan Defin. Namun, Raya tidak bisa menerima karena orang yang beberapa saat lalu menyakinkan dirinya untuk percaya sepenuhnya tapi membuat hatinya kecewa. Sedangkan Defin yang merasa sangat bersalah karena mengucapkan hal yang tidak seharusnya dan bahkan Raya masih terisak dalam diam.
Setelah sampai di rumah Raya masih menangis. Dia segera menghapus air matanya sebelum turun dari mobil.
"Raya, maaf aku tidak seharusnya melakukan itu."
"Aku hanya kecewa karena kata-kata itu terlontar dari bibirmu." Raya keluar dari mobil dan segera masuk ke rumah.
"Non, makan malamnya sudah siap. Saya akan panggil Tuan dan Nyonya juga." Seorang pelayan wanita menghampiri Raya yang baru saja ingin menaiki tangga.
"Aku sedang tidak enak badan, aku akan makan di kamar saja."
"Baik...." Sebelum pelayan itu selesai bicara Raya sudah menaiki tangga dengan tergesa-gesa.
"Astaga entah akan seperti apa keluarga ini. Tuan dan Nyonya sudah tidak tidur satu kamar dan sekarang Nona Raya juga sering terlihat sedih. Pasti dia habis menangis."
"Sssttt...! Jangan bicara sembarangan kamu." Salah satu rekannya sesama pelayan menepuk pundaknya saat mendengar keluh kesahnya.