
Mengagumi tidak selalu memahami. *Memahami tidak selalu mengerti. D**an membenci tidak selalu harus menyakiti.
Tapi, yang mencintai akan selalu memahami, mengerti, dan tidak akan pernah menyakiti seseorang yang telah berada dalam hatinya*..
🔥🔥🔥
Kim pulang ke rumahnya, dan kedua sahabat gila mengikutinya di belakang.
Sesampainya di kediaman Kim, Kim segera di sambut oleh suara manis dan wajah tampan Ken.
"Hai Kim, ini ponsel baru buat lo. Gue beli jauh jauh ke Singapura khusus untuk hadiah kelulusan paling special dari gue. Syukur syukur ngasih pelukan, kalau gak ya minimal bilang makasih, atau kalo ikhlas nyariin cewek buat gue juga boleh."
Ken tertawa renyah mendengar ucapan absurdnya sendiri.
"Sebelumnya, thanks banget ya kak. Lo baik banget sama gue, sumpah gue jadi terharu."
Ucap Kim terharu seraya memeluk Ken. Namun sedetik kemudian, Kim melepaskan pelukannya,
"Tapi kalo soal nyariin cewek buat lo? Em, gue pikir pikir dulu deh. Soalnya, males gue."
Ken menyentil dahi Kim,
"Eh, dasar adek gak tau di untung lo. Gak ada pedulinya sama sekali sama kakak sendiri. Tapi, gak usah lebay juga kali, gue tau kalo terharu lo itu palsu. Tapi, jujur aja, gue seneng lo udah lulus sekarang. Udah gede. Udah gak putih abu abu lagi."
Kim hanya cengengesan dan memegang dahinya yang tidak sakit sama sekali.
"Iya dong kak, gue udah gede sekarang. So, stop calling me kid. Okey?"
Ken hanya mengangguk.
"Iyain deh, biar cepet. Males gue, berdebat sama lo. Cewek yang selalu merasa benar dengan pemikirannya."
"Cewek memang selalu benar dan tidak bisa di salahkan, sekalipun dia salah, kak Ken."
Kim menampilkan seringai iblisnya.
"Dan itu emang udah kodrat dari sononya."
"Omong kosong lo gak mempan, gak ngaruh buat gue, Kim. Gak bakal gue dengerin. Btw, kenapa kemarin kagak balik?"
"Itu kak, Kim patah hati. Di putusin pacarnya." Sambar dewi sebelum Kim bahkan sempat membuka mulutnya untuk menjawab.
Suasana menjadi hening seketika.
Namun, sedetik kemudian.
"APAAAAA?? Dia mutusin lo?"
Suara keras bin serius Ken bahkan terdengar sampai ke rumah tetangga, dan membangunkan cicak yang tengah tertidur.
Sesaat kemudian, Ken justru tertawa terbahak bahak. Dan itu membuat Kim, Nada serta Dewi tertegun dan saling memberi kode, dengan arti 'Kak Ken kenapa, dia gila?'
"Lo di putusin? Seriously?"
Kim mengangguk, mengiyakan.
Melihat Kim telah membenarkan perkataan Dewi dengan sebuah anggukan. Ken kembali tertawa dan meledek Kim habis habisan.
"Sekarang lo jomblo dong."
Ledek Ken dengan kebahagiaan yang tiada tara.
"Terus aja ledekin adeknya sendiri. Kualat baru tau rasa lo."
Ucap Kim dengan kesal, seraya mendudukan diri pada sofa di depan televisi. Di ikuti Ken yang duduk di sebelah Kim. Serta dua rempong yang duduk di bawah, beralaskan karpet.
"Kak,lo pernah gak sih ngerasain patah hati?" Kim bertanya seraya menyandarkan kepalanya di bahu Ken.
"Patah hati? Ya elah, jangan nanya ke gue, gue mana tau. Gue aja gak pernah pacaran. Jatuh cinta juga gak pernah, apalagi patah hati."
Kim menahan tawa mendengar jawaban Ken. Setahu Kim, Ken memang tidak pernah sekalipun terlihat menggandeng cewek, apalagi pacar.
Maklumlah, a rolling stone gathers no moss itu bukan sebuah mitos, melainkan nyata adanya. Kalo yang namanya lumut, tidak akan pernah berkumpul pada batu yang menggelinding.
Tanya Ken menggunakan mode Kepo 4G LTE.
"Gak tau juga, dia cuma bilang mau ke luar negeri nyusul emaknya, jadi dia gak mau LDRan gitu, kak."
"Cuma gak mau LDR?"
Kim menangguk.
"Alah, palingan itu cuma alesan dia aja. Ngarang banget. Gak mungkin cuma gak bisa LDR terus minta putus. Seberapa jauh antara Indonesia Selandia? Naik pesawat juga gak nyampe dua belas jam."
"Jadi menurut lo, selama ini dia selingkuh? dia punya pacar selain gue?"
"Gak gitu juga kali, Kim. Makanya, jangan kebanyakan nonton sinetron, jadi lebay kan hidup lo."
"Terus?"
"Maksudnya adalah, dia kurang ajar banget. Beraninya dia ninggalin adek gue pas lagi sayang sayangnya? Apa perlu gue lempar ke neraka jahanam, biar dia tau rasa ??"
Ucap Ken mulai menunjukan emosi yang rumit.
"Berani banget dia mutusin adek gue!! bikin malu aja, kalo lo yang mutusin ******** itu, masih mending. Lha ini, malah lo yang di putusin? Payah lo, Kim."
Cerocos Ken dalam satu tarikan nafas tanpa jeda.
"Yee, ujung ujungnya juga lo ngeledek gue, kak Ken."
Gerutu Kim yang merasa tidak di untungkan dalam hal ini.
"Lo bisa simpati dikit gak sih sama gue?"
"Simpati? Lha ini juga termasuk bentuk simpati gue, Kim. Emang gak berasa?"
"Alah, lo sih emang niat banget buat sorak sorai bergembira atas putusnya hubungan percintaan gue."
Ken meringis.
"Tuh kan?"
"Kim, dia itu cuma mutusin lo kan? gak bunuh lo? lo juga sekarang masih hidup kan? jadi apa yang harus di khawatirkan?"
Ken mencoba menenangkan Kim yang tekanan darahnya mulai naik.
"Gini ya, Kim. Membenci itu tidak harus menyakiti, tapi yang mencintai tidak akan pernah menyakiti orang yang berada di dalam hatinya. Jadi kesimpulannya adalah, dia gak beneran cinta sama lo. Kalo dia beneran cinta, dia gak bakal nyakitin lo."
Sejauh ini, Nada dan Dewi hanya menyimak obrolan kakak beradik ini. Dan menyetujui petuah Ken.
Kim menangguk, mengerti maksud Ken yang sebenarnya.
"Lo bener juga sih. Gue pikir setelah pacaran selama dua tahun sama dia, gue ngerasa kalo gue adalah satu satunya orang yang paling paham sama dia. Tapi nyatanya, dua tahun aja gak cukup buat ngerti dia sepenuhnya."
"Nah, bagus lo nyadar. Sifat manusia itu gak bisa konsisten, Kim. Gak bisa stay dalam satu sisi. Karena akan berubah saat sesuatu yang tidak terduga mungkin saja terjadi. Dan sekarang, mumpung belum terlalu basah, mending gak usah nyemplung. Di keringin aja."
"Ngomong doang sih gampang. Lo gak pernah tau sih gimana rasanya jadi gue."
"Kim, yang namanya mengagumi, tidak selalu bisa memahami. Lo dengerin omongan gue deh, coba lo pikirin. Jangan asal manggut manggut dan bilang ngerti doang. Ini juga demi kebaikan lo. Rick gak cocok buat lo. Gue tau dia baik, tapi lo gak bisa menjalin hubungan sama dia lagi. Paham?"
"Iya, iya, gue ngerti. Lagian, gue juga gak pernah mengharapkan dia lagi, kak. Dia udah berani ninggalin gue, jadi jangan harap gue bakal balikan sama dia lagi. Titik."
Ucap Kim seraya berdiri,
"Ke kamar gue yuk girls."
Ken hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya.
Sedangkan Nada dan Dewi mengikuti Kim dari belakang.
Kamar Kim tetap sunyi, tidak ada yang memulai pembicaraan. Semua tetap kalut dengan pikiran masing masing.
Tiba tiba suara Nada memecah kesunyian.
"Daripada diem dieman kayak gini, mending kita lanjut aja ke misi ke dua."