
Namun, orang yang paling beresiko untuk berhianat adalah orang yang biasanya paling dekat.
🔥🔥🔥
Rick mengangguk.
Damn, hati Kim anjlok seketika.
Seperti jutaan pisau telah menembus di setiap inci lapisan kulit Kim.
Hanya helaan nafas panjang, juga rasa sesal yang mulai menggerayangi hati Kim.
Ini adalah pukulan terberat yang pernah Kim rasakan. Di saat hati mulai bisa menerima kenyataan yang terjadi di depan mata dengan susah payah, namun di saat yang sama pula kenyataan pahit justru menghantam dengan sangat keras.
Membuat Kim terjungkal seketika dalam hitungan detik.
"Kenapa?"
Suara Kim lebih terdengar seperti jenis suara yang tengah menahan emosi.
"Kim, kami sepakat untuk merahasiakan ini karena kami tidak ingin membebankan kamu."
Mami tetap berusaha untuk menenangkan Kim dengan suara lembut khas seorang Ibu.
Kim tersenyum samar,
"Tidak ingin membebankan? Jika kalian tidak ingin membebankan ini, lalu kenapa kalian harus memberitahunya sekarang? Kenapa kalian tidak menyimpan saja semua rahasia ini seumur hidup kalian?"
Ruangan tetap sunyi dan tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Kim.
Seakan semua perkataan Kim memang nyata adanya.
"Kenapa? Kalian tidak bisa menjawab pertanyaan kecil seperti itu?"
Semua masih tetap diam, membiarkan Kim untuk mengeluarkan semua emosinya terlebih dahulu agar membuat perasaan Kim menjadi sedikit lebih baik.
"Apa hanya aku? Hanya aku yang tidak mengetahui ini?"
Kim beralih menatap Ken untuk mencari tahu kebenarannya.
Ken tidak berani menatap Kim sama sekali. Merasa bersalah karena telah bersekongkol untuk membohongi Kim.
Kim sungguh mentertawakan kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa Kim tidak menyadari ini?? Sungguh naif.
"Good, very great."
Kim bertepuk tangan.
"Jadi kalian berpikir aku akan hancur jika mengetahui pacarku sebenarnya adalah kakakku?"
"Maaf, Kim. Tapi kamu masih cukup muda saat itu, dan kami takut itu akan membebani hidupmu kedepannya."
Papi membuka suara.
"Lalu apa bedanya dulu dan sekarang? Ini sama sama memuakkan. Dan pada kenyataannya, bukan Rick yang telah menyakitiku, tapi kalian semua."
Kim mulai memelankan nada suaranya.
Kim tidak pernah merasa sehancur ini dalam hidupnya, namun orang yang paling beresiko untuk berhianat adalah orang yang paling dekat dengan kita. Dan itu adalah kenyataannya.
Kenyataan yang harus Kim terima saat ini.
Dan rasa sakit yang di timbulkan, menjadi berkali kali lipat saat dilakukan oleh orang yang paling dekat dengan kita.
"Kim, mami harap kamu bisa mengerti, terima Rick sebagai kakak kamu, dan maafkan kami semua."
Mami mulai merasa menyesal atas kejadian ini, namun Kim sudah dewasa sekarang, dan Kim pasti bisa mengerti dan juga menerimanya cepat atau lambat.
"Kamu sudah dewasa sayang, papi harap kamu bisa memikirkan ini dengan bijak, dengan hati yang lapang dan juga tenang."
Papi menambahkan.
Kim menghela nafas panjang.
"Okey, aku bisa terima semua ini dan memaafkan kalian semua, tapi aku perlu waktu untuk berpikir dan aku juga perlu waktu untuk sendiri."
Kim berdiri dan segera melangkah pergi ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Kim turun kembali.
"Sudah malam, kamu mau kemana sayang?"
Mami bertanya dengan penuh kekhawatiran.
Kim yang telah terlanjur sangat kecewa dengan keluarganya, membuat Kim tidak menghiraukan pertanyaan Mami dan terus melangkah pergi. Tanpa menoleh kebelakang lagi.
Rick yang melihat Kim pergi, segera berdiri hendak mengejar Kim. Namun rencana untuk mengejar Kim segera di gagalkan oleh Ken.
Ken memberi isyarat agar Rick tidak mengganggu Kim dan membiarkan Kim untuk menenangkan diri terlebih dahulu.
Rick mengangguk mengerti.
Ken segera memencet cepat layar ponselnya, dan beberapa saat kemudian ponsel Ken berdering.
"Kim pergi,"
"......."
"Tolong lo cari Kim, dan dinginkan pikiran Kim kalau sudah ketemu."
"......."
Tut tut tut..
Panggilan terputus.
💫💫💫
Kim sengaja tidak membawa mobil, Kim hanya ingin berjalan dan menghirup udara segar di malam hari.
Tanpa sadar, Kim berjalan menuju halte bus.
Kim tidak tahu harus melakukan apa sekarang, Kim meneteskan beberapa air mata, namun segera menghapus air mata sialan itu dengan tangannya.
Dan begitu melihat sebuah Bus berhenti tepat di depan halte, Kim segera berdiri dan menaiki Bus.
Entah kemana arah tujuan Kim. Kim juga tidak tahu. Kim hanya mengikuti kemana Bus berjalan tanpa tahu kemana Bus itu akan pergi.
Satu jam kemudian, Bus berhenti pada halte yang entah keberapa, Kim segera turun dan mengawasi sekeliling.
Kim mengangkat sebelah alisnya, Kim sedikit bingung dengan posisinya saat ini, Kim bahkan tidak tahu di daerah mana ini?
Namun Kim tidak peduli, ini sudah malam dan Kim juga tidak tahu harus pergi kemana.
Kim terus berjalan, berjalan dan berjalan tanpa memperhatikan apapun di sekelilingnya. Dan sesaat kemudian, Kim dapat mendengar suara deburan ombak dengan sangat jelas.
Mungkin sebenarnya Kim berada tidak jauh dari pantai?
Kim terus melangkahkan kakinya, hingga tanpa Kim sadari, Kim telah berada di tepi pantai.
"Ini sungguh pantai?"
Kim tersenyum dan memejamkan matanya sebentar. Merasakan angin malam pantai yang mulai menembus sampai lapisan terdalam kulit Kim.
Kim merasa menyesal karena tidak mengganti bajunya terlebih dahulu sebelum meninggalkan rumah.
➡ Visual Kim ⬅
Kim sungguh bodoh karena telah meninggalkan rumah dengan kondisi emosi sehingga tidak memperhatikan apapun lagi, dan parahnya Kim bahkan masih mengenakan sandal.
Kim hanya teringat untuk membawa dompet, namun tidak membawa ponselnya, Kim cukup beruntung karena masih mengenakan jam pada pergelangan tangannya.
Kim duduk di atas pasir dan terus memandang ombak untuk waktu yang lama, Kim sungguh menikmati saat saat seperti ini. Terakhir kali Kim pergi ke Pantai adalah saat Kim berada di Sanur.
Tiba tiba Kim teringat Rafael dan merasa sangat merindukan bayi kecil itu. sudah dua tahun berlalu, mungkin sekarang Rafael telah tumbuh besar dan bisa berlarian.
Kim tersenyum mengingat itu.
Udara di sini semakin dingin, membuat Kim merasa sangat kedinginan sekarang, bahkan tubuh Kim mulai mengginggil.
Kim memeluk tubuhnya sendiri. Sepertinya Kim harus mencari hotel atau penginapan untuk malam ini secepatnya sebelum Kim berubah menjadi balok es dan beku sepenuhnya.
Tiba tiba, sebuah jaket menyelimuti tubuh Kim dari belakang, Kim terkejut, segera menoleh, dan mendapati Sam telah duduk disamping Kim.
Kim merasa cukup tenang sekarang, semua tentu karena keberadaan Sam disamping Kim.
"Are you allright?"
Sam bertanya pelan tepat di telinga Kim seraya memberikan satu kaleng minuman beralkohol.
Kim mengangguk dan menerima minuman itu.
"Kenapa lo bisa disini kak?"
"Kalau gue bilang Feeling, lo percaya gak?"
Kim menoleh ke arah Sam, memandang Sam sebentar dan kemudian kembali memandang ombak dihadapannya.
"Kalau feeling mungkin gue gak percaya, tapi kalau kebetulan, Bisa jadi."
"Emang ada kebetulan yang lebih dari sekali?"
Kim mulai memikirkan perkataan Sam,
"Okey, mungkin ini memang bukan suatu kebetulan, anggaplah ini sebagai suatu keberuntungan."
Sam terlihat berpikir sebentar,
"Apa perlu gue bilang ini sebagai jodoh?"
Sam menyeringai.
"No no."
Kim menggeleng,
"Itu lebih tidak mungkin, why? Karena jodoh lo sudah ada dan sudah diatur oleh keluarga lo. Jangan selingkuh dong? Jadi cowok harus setya dan tanggung jawab."
"Okey okey, gue kalah."
Sam mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Sejujurnya gue cuma merasa lo bakal datang kesini malam ini, makanya gue berkendara kesini."
"Terus lo pikir gue bakal percaya?"