Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 11 ..



Tidak ada yang namanya mantan terindah. Kalau memang indah, tidak mungkin menjadi mantan..


🔥🔥🔥


"Tuh kan, apa gue bilang? Meski awalnya lumayan bikin illfeel, tapi selanjutnya terasa lebih baik kan? Dan efek positivenya sudah mulai bereaksi."


Ucap Nada seraya menyeruput Greenteanya.


"Setuju, gue gak nyangka aja, kalo tips murahan lo bakalan manjur."


Dewi salah telah meremehkan kemampuan Nada selama ini, dan Dewi memutuskan mengangkat kedua ibu jarinya untuk memuji kehebatan Nada.


"Good job, dear. Gue merasa lebih baik sekarang. Ternyata melepaskan jauh lebih baik daripada terus menahannya."


"Bener banget, Kim. Saat pilihannya hanya ada dua, yaitu mempertahankan atau melepaskan, tentu, melepaskan akan menjadi pilihan paling bijak yang harus lo ambil saat ini. Beda ceritanya, kalo Rick itu satu haluan sama lo, lo wajib mempertahankan dia sampai titik darah penghabisan. Tapi, karena ini beda situasi, melepaskan tentu akan mempermudah hidup lo selanjutnya."


"Kadang, apa yang menurut lo benar, belum tentu cocok untuk di terapkan dalam hidup lo, Kim."


Dewi menambahkan.


"Gak perlu berkecil hati, ambil hikmahnya aja. Karena Tuhan, gak mungkin ngasih cobaan di luar kapasitas lo, Kim."


Kim mengangguk.


"Okey, kalo gitu, untuk kedepannya gue bakal ikutin alur permainan lo."


Mendengar persetujuan Kim, sontak Nada bertepuk tangan untuk dirinya sendiri.


"Yeeee, gue ngerasa tersanjung atas keputusan bijak lo, terimakasih terimakasih."


Dewi berdecak.


"Idih, gitu aja langsung gede kepala."


"Ini tuh, penghargaan terbesar yang pernah gue raih sepanjang hidup gue, Wi. Lo juga harusnya bangga sama kemampuan gue. Kalo misi yang kedua berhasil, kemungkinan ketiga keempat kelima dan kedepannya juga bakal lancar. Di jamin gak bakal nyampe dua ratus lima puluh enam juga Kim udah lupa noh sama si mantan." Nada sangat yakin dengan kemampuan dirinya sendiri dalam menganalisis keadaan dan mengatur strategi yang cocok untuk setiap kondisi yang berbeda.


"Cie, cie, yang udah bisa move on sama mantan terindah, mana suaranya?"


Dewi tetap tidak berhenti meledek Kim.


"Aw, sakit Nad."


Dewi menggosok kepalanya yang tiba tiba mendapat toyoran syantik dari Nada.


"Gue salah apa lagi coba?"


Merasa bahwa Dewi bahkan tidak melakukan kesalahan apapun, namun masih mendapat toyoran dari Nada.


"Gak ada yang namanya mantan terindah, okey? Kalo emang indah, gak bakalan jadi mantan, Dewi."


Nada menaikan level suaranya menjadi pedas maksimal.


Dewi merenungkan perkataan Nada. Kalo di pikir lagi, benar juga sih. Kalo emang indah, gak mungkin putus.


Dewi meringis membayangkan itu.


"Tumben lo pinter, Nad?"


"Gue sih selalu."


Ucap Nada, untuk kesekian kalinya kembali membanggakan dirinya sendiri.


Kim tersenyum lebar menyaksikan keajaiban dunia di hadapannya. Karena dengan mempunyai Nada dan Dewi di sisinya, membuat Kim tidak perlu khawatir tentang kesedihannya.


Jika Satu kesedihan datang kepada Kim, maka seribu tawa akan di datangkan detik itu juga oleh kedua sahabatnya.


Namun, siapa sangka, segalanya terjadi begitu cepat. Kebahagiaan dan kesedihan datang secara bersamaan.


Juga rahasia yang belum menampakan sedikitpun kebenarannya.


Untuk sesaat, Kim cukup yakin akan menemukan jawabannya sesegera mungkin. Tanpa harus bertanya, waktu juga akan berbicara dengan sendirinya.


Dan tidak mudah untuk menjadi seoarang Kim.


Menyadari bahwa Kim juga tetaplah manusia biasa. Dan hati yang rusak memang mencintai kenangan. Walau banyak luka di dalamnya, dan kekecewaan yang tidak pernah bisa di sembuhkan. Tetapi itulah manusia,


Semakin sakit, maka akan semakin di ingat.


Seakan mengerti apa yang tengah Kim pikirkan, Nada segera mengeluarkan suara.


"Rasa kehilangan itu hanya ada kalo lo ngerasa pernah memiliki dia, dan semua juga gak akan selesai hanya dengan setengah jalan, Kim. Cuma lo yang bisa selesein semuanya, karna semua berawal dari lo, maka cuma lo juga yang bisa mengakhirinya juga."


Kim tetap diam dan tidak merespon. Kim malas berpikir untuk sekarang. Memikirkan tentang ini, akan membuat Kim membayar penuh atas dosa yang telah perasaannya perbuat.


"Tumben lo bijak?"


Dewi angkat bicara dan mulai resah dengan diamnya Kim.


"Gue kan ahli di bidang kasih pencerahan, Wi. Makanya, kalo pikiran lo lagi mampet, lo datang aja ke gue. Mumpung masih tahap promosi, gue bakal kasih diskon lima puluh persen deh."


Nada terkekeh dengan ucapannya sendiri. Bagaimanapun, dunia Nada adalah tentang bisnis, bisnis dan bisnis. Menghasilkan uang adalah Motto hidup yang selalu Nada terapkan dalam hidupannya selama ini.


Dewi menjatuhkan rahangnya, dan membulatkan mata tidak percaya atas pendengarannya.


"Heran gue, anak Manajemen Bisnis sejati emang beda ya? Situasi bisa di ubah menjadi strategi, dan apapun bisa di ubah jadi rupiah. Gak kayak gue sama Kim, kita selalu slow respons. Iya gak, Kim."


Kim memutar bola matanya malas.


"Ih, sorry aja nih ya, tapi lo aja, gue kagak."


Dewi berubah menjadi cemberut dalam seketika.


"Cukup deh, ah. Kim, karena lo udah menghargai kerja keras gue, maka lo juga harus ikuti aturan gue. Dan gue udah bikin beberapa list yang mungkin bakal bisa bantu lo."


Nada menunjukan List move on kepada Kim dan Dewi.


Setelah melihat rentetan daftar dari awal hingga akhir, Kim melebarkan mata dan mengerang frustasi.


"Lo mau jadiin gue kelinci percobaan, Nad? Ini tuh apa coba? Ini melanggar Hak Asasi, Nad? Lo tega ya sama gue? Gak, pokoknya gue gak setuju. Ogah gue."


"Kim, gue tanya? Lo mau hidup dalam bayang bayang Rick selamanya?"


"Gak lah."


"Lo masih mau move on??"


"Masih lah."


"Terus, satu satu nya cara yang bisa lo lakuin sekarang adalah,...?"


"Nurut sama lo?"


"Nah, tuh pinter."


Ucap nada menepuk nepuk bahu Kim.


Kim "..."


Nada berbicara pelan di telinga Kim.


"Kim, sekarang lo mesti hati hati, kalo gak lo bisa ketularan gila juga."


"Lo itu dapat analisis dari mana, Wi? Sok tahu banget deh. Asal lo tahu ya, yang namanya penyakit gila itu kagak nular, Dewi."


"Terus?"


"Udah kodrat dari sononya."


Mereka bertiga saling berpandangan, dan sesaat kemudian, mereka mentertawakan kekonyolan diri mereka sendiri.


We are single and we are very happy.


"Karena sekarang kita udah sama sama bahagia, dan misi kedua juga sukses, maka sekarang saatnya kita melangkah ke misi selanjut nya."