
If you dont know about me, dont JUDGE me.
🔥🔥🔥
Tiba tiba seorang pria berjongkok tepat di depan Kim, serta meneliti kondisi kaki Kim.
"What are you doing here?"
Ucap Kim penuh keterkejutan.
"Seperti yang lo lihat."
"Tapi,..."
"Tapi, kaki lo bengkak."
Kim mengangguk.
"Ini terkilir Kim, mending lo buang jauh jauh deh sepatu lo, gue gak suka lihat lo terluka kayak gini."
Kim mengangguk, bagaimanapun ini memang murni kesalahannya. Anggaplah Kim mendapat karma dari kebohongan kepada orang tua detik itu juga.
Sam memijit kaki Kim dengan pelan.
"Kim, you are beautiful today."
"Oh ya? Thanks."
Sam menangguk.
"Hm, bahkan sangat cantik."
"Gue gak tahu kalo lo bisa nyanyi dan punya suara yang perfect. Dan poin plusnya adalah lo hebat dalam bermain gitar."
Sam tersenyum.
"Kalo boleh jujur sih, sebenarnya gue jarang tampil di depan publik, gak tahu kenapa gue pingin aja bawain lagu itu. Udah mendingan??"
Kim mengangguk dan mencoba menggerak gerakan kakinya, dan terasa jauh lebih baik.
Sam berdiri dan kemudian duduk di sebelah Kim.
"Lo mau duet gak sama gue? Gue yang main gitar, terus lo yang nyanyi, gimana?"
Kim berpikir sebentar.
"Boleh boleh, tapi suara gue gak sebagus suara lo."
"Santai aja, gue tahu lo bosen di acara kayak gini, makanya lo pergi ke sini, iya kan?"
"Maybe yes maybe no."
"Lo tunggu di sini bentar, gue ambil gitar dulu."
Sam berlalu, dan beberapa saat kemudian Sam muncul kembali membawa gitar kesayangannya.
"Lo mau lagu apa?"
"Monita, kekasih sejati?"
"Okey."
Sam mulai memetik gitarnya dengan cekatan. Menghasilkan harmoni yang syahdu dan enak untuk di dengar.
Aku yang memikirkan
Namun aku tak banyak berharap
Kau membuat waktuku
Tersita dengan angan tentangmu
Mencoba lupakan
Tapi ku tak bisa
Mengapa begini...
Oh mungkin aku bermimpi
Menginginkan dirimu
Untuk ada di sini menemaniku
Oh mungkin kah kau yang jadi
Kekasih sejatiku
Semoga tak sekedar harapku
Bila kau menjadi milikku
Aku takkan menyesal telah jatuh hati.
Kim mengakhiri nyanyiannya dengan mendapat tepuk tangan dari Sam.
"Suara lo bagus Kim, menyentuh sampai kesini."
Ucap Sam seraya memegang dadanya.
"Thank you, kak Sam"
"Kenapa lo nyanyi lagu ini? Lo suka? Lagu ini pernah booming di tahun 2007 kan?"
Kim menangguk.
"Ya.. gue suka tapi gak ngefans banget, cuma gak tahu kenapa lagu ini kayak berisi curahan hati gue saat ini, mungkin?"
"Oh ya? Emang apa yang lo rasain sekarang?"
Kim berpikir sebentar.
"Mengharapkan seseorang?"
"Rick??"
Kim menggeleng.
"No, Rick udah mati di hati gue, sekarang dia juga jadi kakak gue. Gak lucu kan kalo gue jatuh cinta sama kakak gue sendiri?"
Sam tersenyum.
"Apa sih yang gak bisa di dunia ini, Kim?"
"Males ah, gue takut di ketawain sama cicak di dinding."
"Bisa dong, cuma lo aja yang gak dengar."
"Lo itu lucu Kim, dan itu juga yang ngebuat gue jadi makin suka sama lo."
Suka??
Kim mengerjapkan matanya, dan mencoba untuk mengartikan makna di balik ucapan Sam.
"Lo tahu gak, kesadaran atas sebuah perasaan adalah ketika lo ngerasa kehilangan."
Kim mengangkat sebelah alisnya.
"Mungkin?"
"Ini bukan sekedar kata kata Kim, ini nyata. Karena gue udah ngerasain itu."
Sam menarik nafas panjang.
"Terserah lo mau kayak gimana lo tetap gak bisa berubah Kim, lo masih sama. Cuma satu yang berubah dari lo,..."
"Apa??"
"Ego, dan keegoisan lo semakin mempersulit semuanya."
"Lo ngomong apa sih? Kenapa juga suasananya mendadak jadi serius kayak gini?"
"Semua karena lo, Kim. Kenapa lo menghindar? Kenapa lo jauhin gue?? Kenapa?"
"Kak Sam, please. Gue gak mau bahas ini. Gak ada apapun di antara kita, okey? Semua hanya kesalahan dan yang perlu di perjelas sekarang adalah lo sama gue tidak mempunyai hubungan apapun."
Sam menghela nafas berat.
"Kim, lo tahu gak apa persamaan antara bintang sama gue?"
Kim menggeleng.
"Bintang akan tetap berada di tempat yang sama, meski siang menutupi cahayanya. Dan gue juga sama kayak bintang, gue akan terus berada di tempat yang sama, meski lo gak pernah menganggap kehadiran gue. Perasaan gue akan sama dan gak akan pernah berubah, Kim."
"Sejujurnya gue gak yakin."
"Kim, banyak hal yang perlu kita konfirmasi di sini. Lo juga gak bisa selamanya hanya berspekulasi. Lo minimal harus usaha buat nyari tahu kebenarannya."
Kim menoleh ke arah Sam, mengawasi Sam lekat lekat.
➡ Visual Sam ⬅
Pandangan Kim berhenti pada jari manis Sam yang juga telah terisi dengan sebuah cincin.
Cincin yang terlihat sama seperti,..
Uups.. Kim menutup mulut dengan tangannya. Merasa terkejut setengah mati.
Tidak mungkin jika cincin itu adalah,...?
Kim menggelengkan kepalanya berulang kali. Namun semakin Kim menyangkal, Kim semakin merasa yakin jika cincin itu memang cincin yang di ciptakan khusus untuk sepasang kekasih.
"Kak Sam,"
Sam menoleh.
"Ada yang salah sama lo Kim, lo itu udah menghakimi gue, tanpa tahu siapa sebenarnya gue."
Kim sama sekali tidak mendengarkan kata kata yang Sam ucapkan, dan tetap bergelayut dengan berbagai macam pertanyaan yang sudah memenuhi sebagian otaknya.
"Kak, apa ini pasangan?"
Kim menunjukan cincin pemberian tante Irena dengan cincin yang Sam kenakan.
Sam mengangguk.
Kim melebarkan mata penuh keterkejutan.
"Seriously??"
"Iya Kim, lo gak perlu bertanya lagi. Karena ini semua seperti yang lo pikirin."
"Ini gak mungkin."
"This is a real definision of love."
"Kak, jangan bilang kalo gadis yang selama ini selalu kak Sam tunggu sebenarnya adalah,.."
"Iya, itu lo dan akan selalu lo sampai kapanpun sampai gue mati."
"Tunggu tunggu tunggu, ada yang masih gak beres di sini."
Kim kembali memikirkan ucapan Papi bertahun tahun yang lalu tentang perjodohan dengan anak keluarga prayoga.
"Jadi anak Om Prayoga yang selalu Papi banggain selama ini, sebenarnya ada di sebelah gue sekarang?"
Sam mengangguk.
"Terus, Mamanya Rafael sebenarnya kak Samantha??"
Sam kembali mengangguk.
"Astaga."
Kim menepuk kepalanya sendiri dan meratapi kebodohannya selama ini.
"Ya ampun kak, kalo gue tahu calon tunangan gue itu lo, gue gak akan melakukan hal bodoh untuk menghindar."
Kim refleks menutup mulutnya sendiri karena keceplosan dengan kata kata bodoh yang baru saja terucap dari bibirnya.
Sam tersenyum melihat ini.
Sejujurnya Sam sangat takut jika Kim akan sangat marah saat mengetahui ini. Namun siapa sangka jika Kim tidak mempermasalahkan hal ini.
Sam mendekat ke arah Kim, dan..
Cup..
Kim terkejut.
Bahkan Kim menggigit bibirnya sendiri saat mendapatkan perlakuan manis seperti ini dari Sam.
Kim tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa Sam adalah seorang pria yang selalu menjadi andalan Papi untuk calon suaminya.
Kim hanya merasa lucu, karena ini bukanlah suatu kebohongan. Sam, Papi, Mami, tente Irena, mereka semua tidak berbohong, mereka hanya memberikan Kim sebuah pelajaran jika sesuatu yang orang katakan, belum tentu sama dengan apa yang terjadi.