
Ini bukan modus, tapi strategi..
🔥🔥🔥
"Kayaknya gue beneran merepotkan lo deh kak? Lo jadi harus melakukan banyak hal, sementara gue sebagai cewek malah gak melakukan apapun buat bantu lo."
Kim merasa sedikit bersalah atas ini.
"Ini cuma masalah kecil, Kim. Lagian lo kan tamu, katanya Tamu adalah Ratu, jadi sudah menjadi tanggung jawab tuan rumah untuk memberi pelayanan istimewa untuk my queen."
Kim berusaha mencerna perkataan Sam,
"Setahu gue Raja deh, bukan ratu?"
"Lo itu kan cewek, jadinya ratu dong? Udahlah, kalo lo emang niat bantuin gue, lo tinggal duduk manis sambil nonton tv, terus nunggu gue selesai. Okey?"
Kim mengangguk.
"Yes, sir."
Kim berjalan ke ruang tengah, duduk di sofa dan menyalakan televisi.
Kim memutuskan untuk menonton gosip gosip selebriti tanah air yang belakangan ini hobi membuat sensasi.
Tanpa Kim sadari, entah sejak kapan Sam sudah duduk di sebelahnya. Dan setumpuk buku tentang Manajemen Bisnis juga tergeletak di atas meja.
Kim melihat beberapa sampul buku dengan judul MENGENAL MANAJEMEN BISNIS. DEVINISI , FUNGSI DAN UNSUR MANAGEMEN BISNIS. DASAR MANAGEMEN BISNIS. PELUANG BISNIS, dan bahkan ada yang berjudul PASAR SAHAM..
Kim yang memang belum memiliki skill apapun tentang Manajemen memang pantas di katakan payah.
"Gue udah menghubungi pihak laundry, untuk masalah baju lo, katanya paling cepat nanti malam, gimana?"
Sam menyunggingkan senyum samar.
Mungkin ini memang bukan sesuatu yang baik. Memanfaatkan Kim untuk berada di sisinya untuk beberapa saat membuat Sam tidak mempunyai pilihan lain selain menghubungi pihak laundry untuk mengantarkan pakaian Kim nanti malam.
Dan semakin malam akan semakin baik, tentu ini tidak bisa di katakan modus, tapi ini adalah bagian dari strategi.
Dan Sam juga tidak memanipulasi publik, tapi ini adalah bagian dari memanfaatkan sumber daya manusia.
Maklumlah, anak manajemen memang suka begitu. Mengatasnamakan bisnis untuk urusan pribadi.
"Ya mau gimana lagi? Gue juga gak mungkin pulang ke rumah dalam keadaan kaya gini kan?"
Kim memindai penampilannya sendiri dari ujung kaki sampai batas lehernya yang di rasa memang terlalu vulgar.
"Lo tenang aja, gue juga udah ngasih kabar ke Ken, kalo lo baik baik aja sama gue."
Kim tersenyum.
"Thank you for all, kak."
"Em, kita kan cuma berdua nih, emang lo gak takut gue apa apain?"
Sam menggoda Kim dengan suara sesexy mungkin.
Kim mulai memikirkan ini.
Sebenarnya, Kim sedikit merasa takut, tapi bukan takut di lecehkan sama Sam, justru Kim merasa takut pengendalian diri Kim lepas kontrol. Dan Kim takut jika tindakannya tidak sesuai dengan keyakinannya.
"Ya ampun kak, kenapa gue harus takut? gue yakin kalau lo gak akan berani macam macam sama gue. Dan mengingat status gue, gue juga yakin kalau lo masih mempertimbangkan hubungan persahabatan lo sama Ken, iya kan?"
Sam terdiam,
"Jawaban lo cukup masuk akal sih, tapi kalau melihat penampilan lo kayak gini, malaikat sekalipun bisa berubah menjadi iblis, Kim."
Sam berucap dengan keseriusan, bagaimanapun menahan hasrat kepada seorang gadis berpenampilan sexy di sampingnya, adalah beban paling berat yang harus Sam jalani.
"Inget ya, gue itu cowok normal."
Kim menelan ludahnya, dan Kim merasa sangat gugup sekarang. Kim mulai berkeringat dingin dan menenangkan dirinya agar tidak termakan ucapan penuh hasrat Sam.
Ya, Sam memanglah seorang pria normal dan Kim juga sangat memahami itu.
Kim bahkan dapat melihat sesuatu mulai tumbuh didalam celana Sam. Sesuatu yang seperti,..?
Kim segera menggeleng. Merapatkan pahanya dan menarik kemeja Sam, berharap jika kemeja ini bisa menutupi pahanya. Namun sekuat apapun Kim menariknya, bentuk kemeja masih tetap sama dan tidak akan berubah menjadi lebih panjang mengingat kemeja ini bukan berbahan kaos.
Rasanya Kim ingin mengubur dirinya sendiri kedalam tanah detik ini juga.
"Ya udah, lo baca dulu terus di pahami. Lo bisa pake laptop gue kalo mau mencari pengetahuan manajemen secara online. Gue mau mandi dulu."
"Em, pake password gak?"
Sam mengangguk,
"222002,"
Melihat sosok Sam telah menghilang, Kim bisa bernafas lega sekarang.
Pria memang menakutkan.
"Kira kira, Kak Sam lagi ngapain ya dikamar mandi?"
Kim terkikik geli membayangkan ini.
Sudah jelas bahwa Sam tengah menyalurkan hasratnya dikamar mandi.
Kim merasa bersalah karena telah membangkitkan imajinasi liar seorang Sam dengan penampilan vulgar Kim, dan membuat Sam harus menanggung semua ini dan sebagai penyebab utamanya, Kim sangat menyesal karena tidak bisa membantu apapun.
Kim membolak balik halaman demi halaman buku berjudul MENGENAL MANAJEMEN BISNIS...
Manajemen bisnis terdiri dari perencanaan, pengarahan, pengorganisasian, dan pengawasan.
Projek manajemen âž¡ Design âž¡ Develop âž¡ Analyse âž¡ Evaluate.
Dan bla bla bla.
Setelah beberapa lama, Kim menutup buku dan memutuskan untuk membuka Laptop Sam.
Kim memasukan passwordnya, 222002.
What? 222002?
Kim seperti mengenal huruf huruf ini, bahkan terasa sangat akrab.
Namun,..
Entahlah, Kim sangat malas memikirkan ini.
Dengan iseng, Kim memeriksa file file didalam laptop Sam. Namun tidak ada apapun yang berhasil Kim temukan.
Kemudian Kim membuka file terakhir bernama SECRET LOVE dengan huruf Kapital.
Namun, yang membuat Kim terkejut adalah,..
➡ Visual Kim ⬅
Foto Kim berada didalam file ini?
Ya, sebenarnya file ini hanya berisi satu gambar, dan itu adalah foto Kim.
Kim kembali mengamati gambar itu, namun sebanyak apapun Kim mengamatinya, gambar masih tetap sama.
WTF??
Dan parahnya, foto ini adalah gambar Kim saat masih berambut pendek?
Kim masih ingat dengan sangat jelas, gaun itu? Itu adalah gaun yang Kim kenakan saat Kim mengikuti orang tuanya kesebuah pesta Ulang Tahun pernikahan mitra bisnis papi?
Tapi bagaimana mungkin, Sam memiliki foto ini??
Tiba tiba dering sebuah ponsel membuyarkan lamunan Kim, Kim mencari sumber dering itu.
Ponsel berada di atas meja. Dan itu hanyalah ponsel Sam. So, Kim tidak perlu memperdulikan ponsel itu.
Kim menghitung dering, dan ini sudah ketiga kalinya, dan jika ponsel ini berdering kembali, mungkin ini berarti panggilan penting.
Kim menutup Laptop Sam, mengambil ponsel dan melihat layar.
"Unknown?? Angkat gak ya? Angkat? Tidak? Angkat? Tidak?"
Kim menggeleng.
"No, tapi kalau sekali lagi ponsel ini berdering, gue gak mau tahu lagi, akan gue angkat panggilannya siapapun itu. Bodo kalau Kak Sam marah."
Belum sempat Kim berhenti berbicara dengan dirinya sendiri, Ponsel kembali berdering.