
Pertolongan yang tulus tidak akan mengharapkan imbalan kembali..
🔥🔥🔥
Kim mengawasi kepergian mobil Bang Jodi dengan penglihatannya, sampai mobil menghilang dan benar benar tidak terlihat.
Dan sebuah tepukan ringan pada pundak Kim, cukup mengejutkan.
Kim menoleh.
Dan mendapati Tante Irena berdiri di belakang Kim.
Kim berdehem,
"Em, berhubung tugas aku udah selesai, aku mau langsung pamit aja Tante."
Kim meminta izin untuk pulang, karena mobil Tante Irena telah diperbaiki dan diantar ke HRS dengan utuh.
"Jangan terburu buru, Tunggu sebentar lagi, kamu masuk dulu yuk, ada yang ingin Tante bicarakan."
Kim mengangguk,
Dan dengan patuh mengikuti Tante Irena duduk di ruang tamu dan duduk tepat di samping Tante Irena.
Sedangkan Sasa mengikuti dengan diam dan duduk di hadapan kedua wanita yang mulai terlihat akrab.
"Ada apa, Tante?"
"Sebagai rasa terimakasih karena kamu telah menolong Tante, maka tante akan memberikan sebuah hadiah kecil buat kamu."
Tante Irena membuka sebuah kotak, dan terlihat sebuah cincin dengan satu permata besar ditengahnya tergeletak dengan indah didalamnya.
Kim menelan ludah,
"Maksud Tante apa sih? Aku gak ngerti."
"Tante tidak mempunyai maksud apapun, tante hanya ingin berterimakasih atas bantuan kamu."
Kim menggeleng,
"Tidak Tante, aku pikir ini terlalu berlebihan. Aku hanya memberikan sebuah bantuan kecil dan aku tidak layak untuk mendapatkan hadiah yang berharga seperti ini."
Tante Irena terlihat sedikit kecewa dan itu tergambar jelas dari raut wajah Tante Irena yang berubah menjadi sendu dalam seketika.
"Apa ini tidak sesuai dengan selera kamu?"
"Bukan begitu, Tante. Ini sangat indah dan aku juga sangat menyukainya, tapi aku tidak berhak mendapatkan ini."
Kim berusaha untuk tetap menolak pemberian Tante Irena, bagaimanapun Cincin itu masih cukup mahal dipasaran saat ini, dan Kim tidak bisa menerima pemberian orang asing begitu saja hanya karena alasan ingin membalas budi.
Itu jelas bertentangan dengan hati nurani Kim, because a help in sincerity is not a hope repay
Sasa yang sejak tadi hanya memperhatikan, mulai jengah melihat drama yang tercipta dihadapannya yang tidak kunjung usai.
"Udah Kim, terima aja. Anggap aja hadiah ini sebagai salam perkenalan keluarga kami dengan lo. Dan membuat hubungan kita menjadi lebih baik kedepannya."
Mendengar ini, Kim mulai mempertimbangkan untuk menerima cincin ini, dan menganggap ini sebagai salam perkenalan.
"Ya udah, aku setuju, aku akan menerima hadiah ini."
Kim mengangguk.
"Tapi aku mau langsung pulang ke Grand Palace, tidak masalah kan Tan?"
Tante Irena tersenyum dengan penuh kelegaan, dan berharap dapat bertemu dengan Kim kembali di Jakarta.
"Okey, asal kamu berjanji akan selalu memakai cincin ini kapanpun dan dimanapun, kamu tidak di izinkan untuk melepasnya, hm?"
"Yes, i promise."
Kim tersenyum,
"Aku pamit dulu ya Tan?"
Kim meneluk Tante Irena dan kemudian mencium Rafael.
"Tante pulang dulu ya Rafael sayang, kalau tante punya waktu luang, tante janji akan berkunjung dan bermain dengan Rafael."
"Lo hati hati ya, Kim."
Sasa berpesan seraya memeluk Kim erat.
Kim mengangguk.
"Kalau kita ditakdirkan untuk bertemu lagi, kamu harus berjanji untuk mengganti panggilan Tante menjadi Mama, okey?"
Kim sedikit terkejut mendengar ini, namun
Kim mengangguk pada akhirnya.
Boshe VVIP CLUB..
Jam delapan malam, Kim masih berada didalam Hotel, merasa sedikit ragu, antara harus datang atau tidak?
Setelah sekian lama bergulat dengan akal sehatnya, Kim memutuskan untuk datang.
Tidak lupa Kim juga memakai cincin pemberian tante Irena dijari manisnya.
Jam sembilan malam tepat, Kim telah memasuki Boshe, dan disambut dengan ramah oleh pemilik acara.
"Thank you dear, udah mau datang ke acara sederhana gue."
Mendengar ini, Kim menjatuhkan dagunya, Sumpah demi tikus got yang mati kelindes mobil, Kim kehilangan kata kata.
Kikan bahkan menyewa Boshe VVIP Club hanya untuk sebuah acara ulang tahun yang tidak penting dan ini disebut acara sederhana??
AC-A-RA SE-DER-HA-NA??
Kim kembali mengeja kata kata itu berulang kali, namun hasilnya tetap sama, fix yaitu Kikan memang gangguan jiwa.
"Okey, sama sama,"
Kim tersenyum dengan intonasi mengejek,
"Dan acara sederhana lo benar benar mengejutkan."
Kikan meringis.
"Ini belum seberapa dear, gue bakal kasih yang lebih menakjubkan lagi, lo harus enjoy, oke? Dan Lo silahkan pilih tempat duduk yang lo suka. Tapi gue cuma mau ngasih satu saran cantik buat lo, yaitu duduk di depan bartender."
Kim memicingkan matanya penuh kecurigaan,
"Apa?"
"Lo kan Jomblo, inget ya Jom-blo, jadi lo harus bisa dapat pacar malam ini juga. Dan dengan duduk di depan bartender, gue yakin gak akan sampai dua puluh menit, lo juga akan pulang membawa gandengan."
Kikan tersenyum dengan ide absurd yang kekuar dari mulutnya sendiri.
"Rio."
Kim memanggil Rio dengan berbisik, namun masih terdengar cukup jelas oleh Kikan.
"Ada apa Kim?"
Rio tidak melepaskan rangkulannya dari Kikan, hanya sedikit mendekatkan telinga untuk mendramatisis suasana.
"Kayaknya, hari ini Kikan belum minum obat deh, dan sebagai teman yang baik, gue cuma mau mengingatkan Kikan untuk segera meminum obatnya, atau,..."
Rio sedikit penasaran dengan apa kelanjutan kalimat Kim,
"Atau?"
Kim tidak bisa menahan tawa,
"Atau Kikan bisa gila beneran, Kabuuurr."
Kim melenggang pergi meninggalkan sepasang kekasih yang masih terbengong dengan ucapan Kim.
Satu detik,
Dua detik,
Lima detik,
"KIMBERLY FLORIST, GUE LEMPAR LO KE JAHANNAM."
Kim tidak memperdulikan teriakan kesal Kikan, dan Kim memilih untuk duduk disudut agar tidak terlihat.
Kim lebih memilih untuk menyembunyikan dirinya dari keramaian.
Alasannya tentu karena Kim sendirian saat ini. Dan Kim sangat menikmati alunan merdu piano yang tengah di mainkan oleh seorang pianis muda.
Seorang wanita yang cantik dan mungkin seumuran dengan Kim tengah memainkan piano dengan jari jemari yang luwes dan sangat mengagumkan.
Kim kembali mengamati pianis muda lekat lekat,
"Gue kayak pernah lihat dia deh, tapi dimana ya?"
Kim bertanya kepada dirinya sendiri, dan kembali mengingat dimana Kim pernah bertemu dengan sosok itu.
Namun Kim masih belum mengingat apapun bahkan setelah Kim menguras otak hanya untuk memikirkan ini.
Kim menggelengkan kepala dan menolak untuk mengakui bahwa Kim hanya salah mengenali orang.
Tiba tiba Kim melebarkan matanya.
"Vivian? Ya, itu pasti Vivian,"
Lagipula tidak mungkin Kim salah mengenali orang. Dengan daya ingat yang luar biasa, Kim akan mengingat meskipun itu hanya dengan satu lirikan mata.
Kim segera mengambil ponselnya, mencari galeri dan segera menggulirkan. Kim menghentikan percariannya setelah Kim menemukan jawaban atas pertanyaanya.
"Dunia sungguh sempit, Vivian kita bertemu lagi."
Ucap Kim dalam hati.
Kim kembali memperhatikan foto yang terlihat di layar ponselnya dengan sebuah senyum yang tidak sampai pada matanya.