
Humor is a part of lifestyle..
🔥🔥🔥
Next..
Misi keempat pasang gambar yang lebih ganteng dari si do'i.
"Sekarang kita berangkat ke toko buku."
Ucap nada yang tengah menyetir dan menuju ke sebuah toko buku dengan penuh semangat.
"Ngapain? Tumben tumbenan ngajak ke toko buku?"
"Mau mancing."
Nada menjawab enteng dengan tekanan darah yang mulai naik.
"Kalo mau mancing itu di empang, Nad? Bukan di toko buku."
"Ampun deh ini anak, lama lama gue lempar juga lo ke Antartika. Emosi gue bawaannya."
"Udah udah, jangan berantem mulu. Inget umur dong? Tiap malem juga ngeluh encok, tapi siangnya berlagak kayak anak muda."
Kim menengahi dengan ucapan yang tidak kalah menusuk.
Kim itu sebenarnya anak yang lugu banget, lucu, imut, manis, paling waras di antara orang waras pokoknga, tapi kalo sekalinya ngomong, pedasnya jangan di tanya, level maksimal.
Di dalam toko buku..
Nada memilah milah poster bergambar artis artis ternama. Au buat apaan.
Kim dan dewi malas memikirkan, mereka hanya duduk syantik dengan pandangan yang selalu mengikuti ke manapun sosok Nada melangkah.
Tanpa berniat untuk membantu Nada yang masih bingung menentukan pilihan dan kerepotan membawa beberapa tumpuk poster yang berhasil dipilih.
Beberapa jam kemudian.
Nada telah membawa setumpuk tebal poster artis beken luar negeri. Dan segera membawanya ke kasir.
Di kediaman Kim..
"Nad, sebenarnya buat apa sih lo bawa poster segitu banyak ke rumah gue? Mau lo jual kiloan?"
"Kim, this is part of the plan. Lagian ini juga baru dibeli, sayang banget kalo langsung di kiloin.
Dewi juga satu pemikiran dengan Kim.
"Kayaknya lo cuma buang buang duit deh, Nad? Beli sesuatu yang gak guna sebanyak itu."
"Wi, asal lo tau aja ya, satu satunya yang gak guna disini itu cuma lo."
Ucapan pedas Nada sungguh tertancap dalam hati dan sanubari Dewi.
Dewi berpura pura marah dan merajuk, serta mengerucutkan bibirnya.
Kim sangat bosan melihat kelakuan kedua gadis di sampingnya.
"Stop it."
Bentak Kim pada akhirnya.
"Sebenernya misi keempat adalah, jeng jeng jeng. Pasang gambar yang lebih ganteng dari si do'i, dan pilihannya jatuh pada, Leonardo De Caprio."
Krik.
Krik.
Krik.
Satu detik.
Lima setik.
Dua puluh detik.
Tiga puluh detik.
Kamar masih sunyi, tidak ada seorangpun yang berniat untuk menanggapi kalimat Nada yang baru saja terlontar.
Nada merasa kehadirannya mulai dikacangi dan tidak dianggap.
"Mana ekspresinya? Ngomong dong, ngomong."
Kim dan Dewi tetap tidak merespon apapun.
"Hellow, is there anyone alive?"
Akhirnya Dewi angkat bicara.
Nada meringis pilu dan berusaha menghibur dirinya sendiri.
"Enak lah, lumayan, di kacangi juga bisa bikin kenyang."
Dewi menjulurkan lidah,
"Kasihan amat sih hidup lo, Nad. Gue turut berduka cita deh."
Dengan loading lemotnya, Kim akhirnya bereaksi,
"Idih, apa hubungannya gambar Leonardo DC sama move on sih, Nad? Lagian gue gak begitu ngefans sama Leonardo DC, gue ngefansnya sama Robbert Pattinson."
Kim tidak terima jika Robbert Pattinson kesayangannya di gantikan oleh Leonardo DC. Katanya sih gak rela.
"Udah ah, jangan banyak ngeluh. Waktu masih berada di toko, lo diem aja dan gak mau milih, terus sekarang kenapa lo protesnya sama gue? Lagian, keduanya juga sama gantengnya, Kim."
"Gue tahu, kalo keduanya jelas sama gantengnya, tapi, lo gak tau sih, gimana rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama saat Robbert Pattinson jadi aktor pemeran Edward Cullen? Gila Nad, gantengnya maksimal."
Nada sedikit berpikir, mengingat kembali dimana pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Robbert Pattinson as Edward Cullen and Kristen Stewart as Bella Swan?"
Kim mengangguk.
"Astaga, itu Film udah uzur, Kim. Udah bangkotan, kenapa lo masih ngefans sampai sekarang sih?"
"Suka suka gue dong, lo syirik amat sih jadi orang? Ganggu kebahagiaan gue aja. Inget, dulu lo juga cinta mati sama Edward Cullen, lo bilang gantengnya luar biasa, ngaku lo? Sekarang aja pura pura gak kenal."
"Lha, gue emang kagak kenal, Kim. Lagian dia itu sombong banget sekarang. Kalo ketemu gak pernah nyapa, kebangetan emang itu anak."
"Emang lo ketemu dia dimana sih?"
"Di Tanah Abang, dia nemenin emaknya beli Tuppe*are."
Kim dan Dewi saling berpandangan.
"Bego lo, itu Robbert Alan, Nada. Bukan Robbert Pattinson."
Nada meringis.
"Emang apa bedanya sih? Sama sama Robbert kan?"
Dewi mengelus dada dan mencoba untuk menyabarkan dirinya sendiri.
"Au ah, lama kelamaan kebegoan lo nyaingin gue tau gak sih, Nad."
Nada mengerucutkan bibir mendengar ucapan sarkas Dewi.
"Cukup, back to topic, gue gak mau dengar apapun tentang Vampire vampirean lagi. Udah, Tamat."
Kim mengangguk.
"Okey, okey. Orang waras ngalah. Terus poster ini gunanya buat apa, Nad?"
"Ini buat pengalihan, dengan menatap wajah ganteng Leonardo De Caprio secara rutin selama beberapa menit dalam sehari, eh ralat, maksudnya harus dilihat setiap saat, gue jamin lo bakal lupa selamanya sama ******** itu."
Mereka bertiga mulai menempel disana sini gambar ganteng Leonardo DC. Maksudnya, Nada yang sibuk menempelkan, sedangkan Kim dan Dewi hanya bermalas malasan diatas ranjang.
"Selesai."
Nada mengangguk puas dengan kerja kerasnya. "Coba deh, Kim. Lo kesini, coba mulai memandang dan meresapi gambar ini."
Nada menunjuk sebuah gambar dengan jari telunjuknya.
Kim mendekat, dan berdiri di hadapan gambar Leonardo DC yang menunjukan tubuh toplessnya.
"Ganteng banget, gila gila gila. Gantengnya maksimal."
Kim berucap dengan tingkat kekaguman seratus persen.
"Tuh kan, gak kalah ganteng dari Robbert Pattinson? Tapi ini permulaan yang cukup bagus sih, Kim. Gitu aja tiap hari, dua hari lagi kita kesini buat lihat hasilnya. Sukses atau gaknya tetep Tuhan yang tentuin pake lima persen keberuntungan. Manusia hanya bisa berencana dan Tuhan juga yang pada akhirnya memberi hasil akhirnya."
"Lo cocok banget buat jadi pembicara deh, Nad."
Dewi menimpali ucapan panjang lebar Nada dengan sebuah penawaran.
"Gimana kalo kita buat aliansi? Lo jadi juru bicara dan kerja buat gue? Kalo lo tanda tangan kontrak sama gue, lo dapat asuransi, gaji tinggi, bonus besar, juga kendaraan."
Tawaran Dewi membuat mata Nada menyala terang dalam sekejap.
"Seriously? Cuma buat jadi juru bicara lo doang? Yakin gak ada yang lain?"
"Siapa bilang jadi juru bicara gue? Maksudnya jadi juru bicara kucing gue."
"SIALANNN LO, WI"